Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Bayangan di Balik Dinding
Malam di Dago tidak pernah benar-benar sunyi bagi Maya. Suara jangkrik di luar jendela apartemennya justru terdengar seperti bisikan-bisikan yang menuduh. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap layar ponsel yang gelap.
Pesan terakhir yang ia lihat di ponsel Arlan—foto dirinya yang sedang menyelinap—terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Ada orang di dalam rumah itu," gumam Maya. Tangannya memeluk lutut. "Seseorang yang bukan sekadar pekerja. Seseorang yang ingin kami saling menghancurkan."
Pukul dua dini hari, sebuah notifikasi masuk. Bukan pesan teks, melainkan sebuah kiriman file suara dari nomor anonim yang sama. Maya ragu sejenak sebelum menekan tombol play.
Suara statis terdengar selama beberapa detik, lalu diikuti oleh suara napas berat dan langkah kaki di atas lantai kayu yang berderit. Maya mengenali bunyi derit itu; itu adalah lantai di depan kamar utama rumah tua Dago.
"...aku sudah memberikan semua yang dia minta, Lan. Tapi dia tetap pergi. Jangan jadi bodoh untuk kedua kalinya."
Itu suara Sandra. Tapi lawan bicaranya tidak terdengar jelas, hanya gumaman rendah yang mirip suara Arlan.
"Maya itu racun. Kamu lihat sendiri kan dia menyelinap ke ruang kerjamu? Dia mencari sesuatu untuk dijual lagi, Lan. Sama seperti dia menjual cintamu dulu."
Rekaman itu berakhir. Maya melempar ponselnya ke atas bantal seolah benda itu baru saja mengeluarkan api. Dadanya sesak. Fitnah itu begitu rapi. Sandra tidak hanya ingin memiliki Arlan, dia ingin memastikan tidak ada satu inci pun ruang di hati Arlan yang tersisa untuk kepercayaan pada Maya.
Keesokan paginya, Maya datang ke lokasi proyek dengan mata sembab yang ia tutupi dengan concealer tebal. Ia tidak ingin terlihat lemah. Ia harus mencari tahu dari mana foto itu diambil.
Rumah tua itu tampak sibuk seperti biasa. Namun, suasana antara Maya dan Arlan sudah berubah total. Arlan berada di ruang tengah, sedang meninjau pemasangan ubin kunci bersama beberapa tukang. Begitu melihat Maya masuk, tatapan Arlan mendingin—lebih dingin dari es kutub.
"Maya, ke sini," panggil Arlan. Suaranya datar tanpa emosi.
Maya mendekat, mencoba menjaga jarak aman. "Ya, Pak Arlan?"
Arlan menyerahkan sebuah amplop cokelat besar. "Itu revisi kontrak. Saya menambahkan poin mengenai privasi dan keamanan data perusahaan. Jika ada staf—termasuk desainer—yang memasuki ruangan pribadi saya tanpa izin tertulis, kontrak akan diputus secara sepihak dan kamu harus membayar penalti sepuluh kali lipat."
Maya menatap amplop itu, lalu menatap Arlan. "Sepuluh kali lipat? Kamu benar-benar menganggapku pencuri, Lan?"
Arlan mendekat, membungkuk hingga hanya Maya yang bisa mendengar bisikannya. "Aku nggak tahu kamu pencuri atau bukan, Maya. Tapi aku tahu kamu adalah seorang penghianat. Dan aku nggak akan memberikanmu kesempatan untuk menusukku dari belakang saat aku sedang berusaha membangun kembali hidupku."
"Arlan, dengar..."
"Cukup!" Arlan memotong dengan nada keras hingga beberapa pekerja menoleh. "Kembali bekerja. Dan jangan pernah, sejengkal pun, mendekati ruang kerjaku lagi."
Maya menarik napas panjang, menahan air mata yang mendesak keluar. Ia berbalik dan berjalan menuju lorong tempat ventilasi ruang kerja berada. Ia harus membuktikan sesuatu.
Ia memperhatikan sudut ventilasi itu. Letaknya cukup tinggi, tersembunyi di balik ukiran kayu dekoratif. Maya mengambil tangga lipat milik tukang cat dan memanjatnya. Di sana, di sela-sela ukiran, ia menemukan sesuatu yang berkilau kecil.
Sebuah kamera mata-mata nirkabel berukuran sebesar kancing baju.
Jantung Maya berdegup kencang. Ia tidak mengambilnya. Jika ia mengambilnya, si pemasang akan tahu. Ia hanya mencatat posisi dan sudut pandangnya.
"Sedang cari apa di atas sana, Mbak Maya?"
Maya hampir jatuh dari tangga. Sandra berdiri di bawah, menatapnya dengan senyum manis yang mengerikan. Wanita itu memegang segelas jus jeruk, tampak sangat santai di tengah debu renovasi.
"Hanya memeriksa detail ukiran, Sandra," jawab Maya sambil turun dengan perlahan.
"Oh, rajin sekali," Sandra mendekat, aroma parfumnya yang manis menyengat hidung Maya. "Tapi hati-hati ya, kalau terlalu tinggi memanjat, jatuhnya bisa sakit. Apalagi kalau jatuhnya tepat di depan orang yang sudah nggak percaya lagi sama kamu."
Sandra mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan pergi menuju arah Arlan.
Maya mengepalkan tangannya. Ia sekarang yakin seratus persen bahwa Sandra-lah pelakunya. Tapi bagaimana cara membuktikannya pada Arlan? Arlan yang sekarang sudah menutup telinga dan hatinya rapat-rapat.
Sore harinya, saat badai kembali mengguyur Bandung, listrik di rumah itu tiba-tiba padam. Suara petir menggelegar, membuat suasana rumah tua itu menjadi mencekam. Para pekerja sudah pulang lebih awal karena cuaca buruk. Hanya tersisa Maya yang sedang merapikan alat ukurnya di area dapur, dan Arlan yang masih berada di ruang kerjanya.
Maya mendengar suara pecahan kaca dari arah depan.
"Lan? Arlan?" panggil Maya panik.
Tidak ada jawaban. Maya menyalakan senter ponselnya dan berlari menuju ruang tamu. Di sana, ia melihat pintu depan terbuka lebar, angin kencang membawa masuk dedaunan kering.
Dan di tengah ruangan, Arlan berdiri mematung. Di tangannya, ada sebuah surat kaleng yang baru saja dilemparkan seseorang melalui jendela yang pecah.
Maya mendekat, cahayanya menerangi surat itu. Isinya hanya satu kalimat pendek yang ditulis dengan potongan huruf dari majalah:
"Tanyakan padanya tentang malam di Hotel Braga, lima tahun lalu."
Wajah Arlan yang tadinya marah kini berubah menjadi pucat pasi. Dia menoleh pada Maya dengan tatapan yang sangat asing—sebuah tatapan yang penuh dengan kengerian.
"Maya..." suara Arlan bergetar. "Apa maksud surat ini?"
Maya membeku. Malam di Hotel Braga. Itu adalah rahasia paling kelam yang ia simpan. Rahasia yang bahkan ia pikir tidak diketahui oleh ibunya sendiri. Rahasia yang menjadi alasan sebenarnya kenapa ia harus lari dan menghilang.
"Aku... aku bisa jelaskan," bisik Maya, suaranya hilang ditelan suara guruh.
"Jelaskan sekarang!" Arlan mencengkeram bahu Maya, mengguncangnya. "Apa yang terjadi di sana? Apa benar kamu menjual dirimu untuk membayar utang ayahmu pada malam itu?!"
Dunia Maya seolah runtuh. Rahasia itu akhirnya terkuak di depan pria yang paling ia cintai dengan cara yang paling menjijikkan.