NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ngambek

Beberapa jam kemudian, suasana di kebun kembali tenang seolah-olah tidak pernah ada konflik apa pun. Namun di balik kesenangan itu, Devi sedang merencanakan balasan yang sudah dia siapkan dengan cermat. Dia tahu bahwa Dewi sangat takut pada hewan kecil yang berkaki banyak, terutama cicak. Tadi pagi, saat dia membersihkan diri setelah terjatuh, dia menemukan beberapa ekor cicak yang bersembunyi di balik tempat penyimpanan alat kebun. Tanpa pikir panjang, dia menangkap dua ekor cicak tersebut dan menyimpannya di dalam kantong plastik kecil yang dia bawa.

Saat Dewi sedang fokus memanen sayur mayur yang sudah siap panen, tubuhnya menunduk rendah dengan punggung yang sedikit membungkuk. Tangannya dengan hati-hati memotong batang bayam dan kubis muda, menyimpannya ke dalam keranjang yang diletakkan di sisi kanannya. Dia tidak menyadari bahwa Devi sudah berdiri di belakangnya dengan wajah yang menunjukkan senyum sinis. Rohita sedang berada di ujung lain kebun, sedang merawat tanaman tomat yang mulai berbuah, sehingga tidak menyadari apa yang akan terjadi.

Dengan gerakan yang cepat dan hati-hati, Devi mendekati Dewi dari belakang. Dia perlahan membuka kantong plastik yang berisi cicak, lalu dengan cepat memasukkan kedua ekor cicak itu ke dalam bagian atas celana panjang yang dikenakan Dewi. Setelah itu, Devi langsung mundur beberapa langkah dan berdiri dengan wajah yang tampak seolah-olah sedang sibuk melihat tanaman di sekitarnya.

Tak butuh waktu lama, Dewi merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam celananya, terutama di bagian paha atas. Dia sedikit menggigil, pikirannya langsung terbayang hewan yang dia takuti paling dalam. Dia perlahan-lahan menoleh ke bawah, dan saat dia melihat ada ekor cicak yang mulai keluar dari celananya, wajahnya langsung memucat seperti kain putih. Tubuhnya mulai gemetar hebat, tangannya menjentik sehingga keranjang sayur yang dia pegang terjatuh ke tanah.

“Aaaaaaaaaaarrrrghhh! Ada cicak! Tolong!” teriakan Dewi yang sangat keras hingga membuat burung-burung di sekitar kebun terbang kesana-kemari. Dia mulai melompat-lompat dengan tidak karuan, tangan mencoba menarik celananya untuk mengeluarkan hewan yang membuatnya takut itu. Kakinya terkilir sedikit saat dia terjatuh di atas tanah, tubuhnya terus bergoyang karena ketakutan yang luar biasa. Dia merasa hampir pingsan, pandangannya mulai kabur dan keringat dingin menetes deras dari dahinya.

Devi yang melihatnya hanya berdiri diam dengan wajah yang sedikit menunjukkan kepuasan, namun segera berganti menjadi rasa khawatir saat melihat Dewi yang benar-benar hampir tidak sadarkan diri. Rohita yang mendengar teriakan Dewi langsung berlari ke arah mereka, wajahnya penuh dengan kemarahan karena tahu pasti bahwa ini adalah balasan dari Devi terhadap apa yang dilakukan Dewi tadi pagi...

Malam itu, ketiga gadis itu berkumpul di ruang makan kost untuk menyantap makan malam. Makanan yang ada di atas meja terlihat lezat – sayuran rebus dari kebun mereka sendiri, telur balado, dan nasi putih hangat. Namun suasana di sekitar meja benar-benar jauh dari nyaman. Udara terasa sangat pekat, seolah-olah ada muatan listrik yang siap meledak kapan saja.

Devi dan Dewi duduk bersebelahan namun dengan jarak yang cukup jauh, masing-masing hanya fokus pada piring makanannya sendiri. Wajah mereka penuh dengan ekspresi sinis, mata mereka seringkali saling menyilang dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan dan dendam. Setiap kali pandangan mereka bertemu, kedua gadis itu langsung menoleh ke arah yang berbeda, namun aura permusuhan mereka tetap terasa jelas oleh Rohita yang duduk di depan mereka.

Rohita sudah mencoba beberapa kali untuk memulai pembicaraan agar suasana menjadi lebih hangat, namun kedua temannya hanya menjawab dengan satu atau dua kata saja. “Devi, kamu suka makan sayur bayamnya kan? Coba makan banyak ya,” ucap Rohita dengan suara yang sudah mulai terlihat tertekan. Devi hanya mengangguk tanpa melihat ke arahnya, sendoknya terus masuk ke dalam mulutnya dengan gerakan yang cepat dan kasar.

Sementara itu, Dewi yang melihatnya langsung mengangkat alis dengan nada mengejek. “Jangan terlalu banyak makan saja, nanti badan jadi tambah gemuk,” ucapnya dengan suara yang cukup keras sehingga terdengar jelas oleh Devi.

Devi langsung menghentikan gerakan sendoknya, matanya menyala membara saat menatap Dewi. “Lebih baik gemuk daripada punya hati yang kotor dan suka menyakiti orang lain,” jawabnya dengan nada yang penuh dengan kemarahan.

Dewi tidak mau kalah, dia menatap balik Devi dengan tatapan yang sama menyakitkan. “Hati kotor? Itu lebih cocok untukmu yang suka bermain curang dan menyelinap di belakang orang!” balik Dewi dengan suara yang semakin meninggi.

Kedua gadis itu mulai saling menatap tanpa berkedip, wajah mereka penuh dengan kemarahan yang tak kunjung surut. Suasana di ruang makan semakin memanas, bahkan membuat udara terasa sulit untuk dihirup. Rohita yang sudah menahan emosinya selama ini akhirnya tidak tahan lagi. Dia menepuk meja dengan keras, membuat piring dan gelas di atas meja bergetar kencang.

“CUKUP!” teriak Rohita dengan suara yang sangat keras hingga membuat Devi dan Dewi langsung terkejut dan berhenti saling menatap. Wajah Rohita memerah karena kemarahan, matanya merah dan penuh dengan rasa kelelahan yang luar biasa. “Aku sudah tidak tahan lagi dengan pertengkaran kalian berdua! Setiap hari hanya ada masalah, celaan, dan balas dendam! Padahal kita adalah teman, seharusnya kita saling membantu bukan saling menyakiti!” teriaknya lagi, tangannya masih menggenggam ujung meja dengan erat.

Devi dan Dewi hanya terdiam, wajah mereka mulai menunjukkan rasa malu karena menyadari bahwa mereka telah membuat Rohita sangat kesal. Namun tidak ada satupun dari mereka yang mau mengucapkan kata maaf, masing-masing masih memegang teguh kemarahan di dalam hati mereka...

Tak lama setelah Rohita selesai memarahi mereka, terdengar suara ketukan pintu yang lembut namun jelas terdengar di dalam ruangan yang sedang sunyi akibat kesuraman suasana. Rohita dengan wajah yang masih merah karena kemarahan berdiri dan membuka pintu. Di luar sana berdiri Arga, pacar barunya yang beberapa hari yang lalu baru diterimanya karena rasa iri terhadap Devi dan Dewi. Wajah Arga tampak riang, tangannya membawa sebuah keranjang kecil yang berisi bunga dan makanan ringan.

“Halo Rohita... Aku datang mengajakmu berkencan malam ini. Aku sudah pesan tempat makan yang kamu suka dulu,” ucap Arga dengan senyum manis, namun langsung hilang saat melihat wajah Rohita yang tampak tidak senang sama sekali.

Rohita hanya menatapnya dengan tatapan dingin, bibirnya menekuk ke bawah membentuk cemberut yang dalam. “Aku tidak mau pergi. Pulang saja kamu, Arga,” jawabnya dengan suara yang dingin dan tidak memberi ruang untuk pembicaraan lebih lanjut.

“Tapi Rohita, aku sudah mengatur semuanya. Apa kamu sedang tidak enak badan atau ada masalah?” tanya Arga dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran, mencoba untuk mendekati Rohita namun langsung dihalangi dengan tangan yang diangkatnya.

“Aku bilang aku tidak mau! Jangan datang lagi menggangguku!” teriak Rohita dengan suara yang keras, lalu dia langsung menutup pintu dengan sangat kencang di depan wajah Arga. Bunyi pintu yang tertutup dengan keras membuat Devi dan Dewi yang masih duduk di meja makan langsung menoleh ke arah pintu.

Setelah memastikan Arga sudah pergi, Rohita kembali ke tempat duduknya dengan wajah yang semakin muram. Namun sebelum dia bisa duduk, dia mendengar suara tawa dari arah Devi dan Dewi. Kedua gadis itu sedang menahan tawa dengan tangan yang menutupi mulut mereka, namun ekspresi wajah mereka menunjukkan bahwa mereka sedang merasa lucu dengan apa yang baru saja terjadi.

“Waduh, pacarmu itu benar-benar tersinggung ya? Kayaknya kamu terlalu kasar saja, Rohita,” ucap Devi dengan suara yang penuh dengan ejekan, sambil masih tertawa pelan-pelan.

Dewi juga ikut menambah lagi, “Ya dong, dia datang dengan baik hati membawa bunga dan ajakan berkencan. Tapi malah kamu usir begitu saja. Kayaknya hubungan kalian tidak akan bertahan lama ya?” katanya dengan senyum sinis, membuat Devi semakin tertawa keras.

“Benar sekali! Kayaknya kamu memang tidak cocok dengan pacar karena kamu terlalu pemarah dan cuek,” tambah Devi lagi, tawa mereka semakin keras hingga membuat Rohita semakin merasa tersinggung.

Rohita hanya bisa mengerutkan kening dan membuat wajah cemberut yang lebih dalam. Dia menghela napas dalam-dalam, tidak ingin mengucapkan apa-apa karena tahu bahwa jika dia membantah, mereka hanya akan semakin mengejeknya. Dia hanya fokus pada makanan di piringnya, meskipun nafsu makannya sudah hilang sama sekali akibat kejadian yang baru saja terjadi.

1
𝐍𝟏𝐬𝐡𝐢𝐦𝐮𝐫𝐚
ceritanya baguss , tp karna kalimat nya terlalu panjang, dan dialognya yang nempel, bkin ak jadi bingung hehe, semangat thor🙏
Jing_Jing22
Aduh, nyesek banget lihat Dewi nangis sendirian begitu. 🥺 Untung ada Rohita yang lewat. Walaupun awalnya kelihatan galak, ternyata Rohita peduli banget. Semoga Dewi mau cerita masalahnya ya!
Wida_Ast Jcy
do re mi donk🤭🤭🤭 tiga sahabat dipanggil do re mi hehheh
Wida_Ast Jcy
Saran ya thor dialog dengan narasi ada baiknya dipisah lho. 🙏🙏🙏
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!