Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luna Cemburu
Hanin sampai terhuyung karena dorongan itu, untung dia berdiri di dekat sofa hingga dia jatuh terduduk di sana.
Gadis itu sepertinya adalah Luna. Sekilas terlihat wajahnya begitu mirip dengan Sabrina. Dia marah-marah dan memaki Hanin untuk tidak mendekati ayahnya.
“Beraninya dekati Babaku, kau ini siapa?” sembari mendorong bahu Hanin tak cukup puas setelah membuatnya terjatuh.
Aariz kemudian menarik Luna menjauh dari Hanin.
“Apa sudah cukup marah-marahmu? Atau masih mau diteruskan lagi, silakan Baba dengarkan!” Aariz berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, diam dengan tatapan tajam menunggu reaksi Luna.
“Baba, kenapa memarahiku? Memang siapa dia sampai Baba berani membentakku?” gadis itu mulai menangis manja seakan dirinya yang baru saja teraniaya.
Hanin tersenyum miring, dia langsung bisa menilai seperti apa Luna. Gadis remaja yang pandai berakting untuk mencuri perhatian Aariz. Hanin duduk dengan tenang mendengarkan saat Aariz menasihati Luna.
“Dia itu kakakmu, jaga sikapmu, jangan berani bersikap tidak baik kepadanya karena dia lebih tua darimu.”
“Aku tidak mengenalnya, aku tidak suka punya kakak seperti dia,” bantah Luna.
“Suka atau tidak kau tidak boleh bersikap buruk padanya. Apa selama ini Baba mengajarimu untuk tidak sopan pada orang yang lebih tua?”
Luna menggeleng.
“Kalau begitu jadilah anak yang baik.”
“Tapi aku tetap tidak suka apa lagi kalau dia tinggal di sini!” Luna kemudian berlari pergi masih dengan marah dan menangis. Dia pergi mencari Sabrina.
Aariz terlihat kesal. Hanin beranjak dan menghampirinya.
“Inilah yang Hani takutkan, Ayah. Hani tahu apa yang dirasakan Luna, dia tidak rela ada anak lain yang dekat dengan ayahnya. Hani juga sempat berpikir seperti itu, tapi setelah melihat Luna, sepertinya Hani harus lebih mengalah padanya.”
“Kau sudah cukup dewasa dan lebih mengerti daripada Luna, tapi Ayah tidak mau kau selalu mengalah padanya. Saat salah dia harus tetap ditegur. Kau sudah cukup menderita selama ini, ayah tidak mau kau mengalaminya kembali. Situasi ini awalnya mungkin membuatmu tidak nyaman, asalkan kau mau membagi masalahmu ayah akan selalu mendengarmu.”
“Iya, Ayah.”
“Ayah pergi dulu, beristirahatlah!”
Pertama berada di rumah itu, Hani sibuk di kamarnya menata pakaiannya kemudian beristirahat. Di kesunyian ruangan itu tiba-tiba dia merindukan Miranda, dan semua orang rumah. Rumah itu meskipun mewah, tapi suasananya terasa dingin, tak sehangat di rumah Papa Elvan. Hanin ingin sekali berbicara dengan mereka, tapi hatinya mungkin akan bertambah sedih saat berbicara dengan mereka. Dia masih merasa bersalah dengan kepergiannya yang tanpa pamit. Hanin memutuskan menahan keinginannya itu.
Saat makan malam Zainab mendatangi kamarnya. Wanita berusia lima puluh tahunan itu memanggilnya untuk makan malam.
“Nona sudah ditunggu di ruang makan,” ucapnya.
“Iya, Bik, terima kasih,” sahut Hanin.
Begitu wanita itu keluar, Hanin masih enggan untuk keluar kamar. Malas rasanya bertemu dengan ibu dan adik tirinya itu, pasti ada saja tingkah mereka yang membuatnya tidak nyaman. Demi Ayah Aariz dia pun memutuskan turun menemui mereka.
Begitu tiba di ruang makan, Aariz langsung menunjukkan tempat untuk Hanin duduk, di kursi di samping kirinya. Baru saja Hanin hendak mendudukkan pantatnya Shabrina berkata sesuatu.
“Putri kesayangan Baba sudah datang, Luna, kau jangan bersikap kurang ajar padanya.”
Hanin tahu ucapan itu bukanlah perhatian, tapi bentuk sindiran, yang sengaja dilontarkan untuk membuat Hanin merasa tidak nyaman. Hanin berusaha tak peduli dan mengabaikan ucapan itu.
“Memang seharusnya seperti itu, Luna harus bisa menghormati kakaknya,” ucap Aariz. Entah itu wujud pembelaannya pada Hanin atau bukan, Hanin cukup senang mendengarnya.
Raut wajah Sabrina langsung berubah masam, sementara Luna terlihat kesal.
“Hani, besok ikut ayah ke kantor, di perusahaan ada acara khusus untuk menyambut kedatanganmu. Di sana ayah akan mengumumkanmu sebagai putri ayah di depan semua karyawan.”
“Apa itu tidak terlalu terburu-buru, kau tidak khawatir kalau kehadirannya justru akan membuat gosip buruk tentangmu,” ujar Sabrina tak senang.
“Hani ini anak sah, bukan hasil perselingkuhan atau apa pun. Aku menikah dengan Nissa secara resmi,” jelas Aariz.
“Tapi selama ini tidak ada yang tahu kau punya seorang putri lain selain Luna, mereka pasti berpikir seperti itu.”
“Siapa yang berani berkata buruk tentangnya, dia akan berhadapan denganku.”
“Dengan apa kau akan menjelaskan pandangan banyak orang. Mereka pasti juga menuduhmu sebagai ayah yang tidak bertanggungjawab.”
“Cukup, Sabrina! Aku tidak ingin memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk seperti yang ada dalam pikiranmu itu. Saat gosip kelahiran Luna di usia pernikahan kita yang baru tujuh bulan, awalnya begitu merebak, tapi seiring waktu berjalan isu itu memudar. Jadi kau tidak perlu mencemaskannya.”
“Kau masih berpikir kalau Luna itu bukan...,”
“Aku tidak ingin membahasnya, aku hanya mengingatkanmu, itu saja. Lagi pula kau selalu beralasan saat aku meminta Luna untuk tes DNA, sampai aku lupa memikirkan masalah itu.”
Aariz berubah tak bersemangat saat makan. Hanin kemudian menambahkan lauk di piring ayahnya untuk menyemangatinya.
“Ayah harus banyak makan makanan bersayur,” ujar Hanin.
“Terima kasih, Hani, kau juga makan yang banyak.”
“Tentu saja.”
Sikap Hanin yang sedikit Perhatian dengan Aariz sukses membuat Sabrina tidak suka dan Luna cemburu. Di kamar Luna usai makan malam, Hanin mendengar pembicaraan mereka tengah menggunjing dirinya dan Aariz. Mereka benar-benar kesal.
“Bagaimana ini, Mama, Hanin ini sangat menyebalkan. Bisa-bisanya dia berani perhatian dengan Baba, seharusnya Mama yang bersikap seperti itu tadi,” kata Luna.
“Biarkan saja, ingat dia itu kakak yang lebih tua, kamu harus bersikap baik padanya di depan Baba, jangan membuat Baba marah padamu.”
“Baru juga datang sudah bolak-balik membuatku kesal. Apa maunya dia yang sebenarnya?”
“Apa lagi kalau bukan untuk merebut Babamu.”
Ucapan Shabrina seketika membakar hati Luna hingga membuatnya marah.
“Tidak bisa!” teriak Luna spontan. Sabrina langsung membungkam mulut Luna supaya tidak bicara keras-keras.
“Kau ini tidak bisa ya jadi anak yang sabar. Jangan selalu dikit-dikit masalah langsung dihadapi dengan emosi dan marah. Itu akan semakin membuat Baba marah dan kesal denganmu.”
“Aku memang tidak bisa tenang, apa lagi menyangkut Baba.”
“Pokoknya Mama minta kamu harus bersikap baik dan sopan saat ada Baba, masalah lainnya biar mama pikirkan dan cari jalan keluarnya. Kita ini harus bermain cantik.”
Hanin tidak tahu apa yang sedang Sabrina dan Luna rencanakan. Hanin kemudian pergi dari depan kamar Luna setelah tak mendengar dua orang itu berbicara.
••
Esok harinya Daniyal datang pagi-pagi sekali. Dia bahkan sempat ikut sarapan pagi bersama di rumah itu. Sekitar pukul tujuh mereka baru berangkat.
Melihat Hanin mengenakan pakaian biasa, Aariz baru sadar dia belum memberikan pakaian bagus untuk putrinya.
“Nanti setelah kau mengantarku, kau langsung bawa Hani ke butik terbaik, pilihkan gaun untuknya.” Perintah Aariz pada Daniyal.
“Baik, Tuan.”
“Kau tidak membelikan juga untuk Luna? Apa setelah ada anak baru kau lupa dengan anak lainnya?” tanya Sabrina.
“Tidak perlu, Luna sudah terlalu banyak gaun, dia bisa pakai yang sudah ada. Lagi pula aku tidak memintanya untuk datang ke acara untuk apa dia ikut.”
“Dia perlu datang, Aariz, kalau tidak orang akan lupa dia juga putrimu.”
“Ini acara untuk Hani, bukankah Luna harus pergi ke sekolah?”
“Ba, aku ingin ikut, sekali ini saja bolos sekolah,” rengek Luna yang sudah dengan baju pestanya berwarna merah muda.
“Tidak akan! Kau ganti pakaianmu dan pergi sekolah bersama Amaan!” perintah Aariz tegas tidak ingin dibantah. Dia langsung berjalan menuju mobil diikuti Daniyal dan Hanin meninggalkan Luna yang masih marah-marah dibujuk Sabrina.