Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 LATIHAN NERAKA DIMULAI
Pagi pertama latihan dengan Yamamoto dimulai sebelum fajar menyingsing.
"BANGUN! BANGUN! MATAHARI BELUM TERBIT TAPI KALIAN HARUS SUDAH BERLARI!"
Suara keras Yamamoto membangunkan seluruh gubuk. Aku dan Sabo melompat dari kasur dengan mata masih setengah terbuka.
"Cepat! Lima menit untuk siap! Kalau terlambat, tidak ada makan siang DAN makan malam!"
Ancaman itu langsung membuat kami tersadar penuh.
Lima menit kemudian, kami sudah berdiri di luar dengan pakaian latihan—celana pendek dan kaos lusuh. Udara pagi sangat dingin. Napas kami mengepul.
"Bagus. Tepat waktu," Yamamoto berdiri dengan tangan terlipat di dada. "Hari ini kita mulai dengan dasar paling dasar—stamina."
"Stamina?" Sabo bertanya.
"Ya. Sebelum bicara tentang Haki, Devil Fruit, atau teknik apapun—kalian butuh tubuh yang kuat. Tubuh yang bisa bertahan dalam pertarungan panjang. Tubuh yang tidak mudah lelah."
Dia menunjuk jalanan setapak yang menanjak ke gunung.
"Lihat jalan itu? Kalian akan lari bolak-balik. Lima kali putaran sebelum sarapan. Mulai!"
"LIMA KALI?!" Sabo berteriak shock. "Itu jauh sekali!"
"Enam kali kalau kau protes lagi."
Sabo langsung tutup mulut.
"Ace? Kau mau protes juga?"
Aku menggeleng cepat. Bercanda apa? Aku tidak mau tambah putaran.
"Bagus. MULAI SEKARANG!"
Kami berlari.
Putaran pertama masih oke—tubuh masih segar, semangat masih tinggi. Putaran kedua mulai terasa berat. Putaran ketiga kaki mulai pegal. Putaran keempat paru-paru seperti terbakar. Putaran kelima...
Aku hampir pingsan.
"JANGAN BERHENTI! KALAU BERHENTI, ULANGI DARI NOL!" Yamamoto berteriak dari bawah—dia bahkan tidak ikut lari tapi tetap terlihat sadis.
"A-Ace... aku... tidak kuat..." Sabo tersengal-sengal di sampingku.
"Bertahan... sedikit lagi..." aku juga tersengal-sengal parah.
Entah bagaimana—mungkin karena kemauan keras atau karena takut tidak dapat makan—kami berhasil menyelesaikan lima putaran.
Dan langsung kolaps di tanah.
"Bagus. Kalian tidak muntah. Itu bagus untuk hari pertama," Yamamoto berkomentar santai sambil minum air.
"Ba...gus...?" Sabo menatapnya tidak percaya. "Kami... hampir... mati..."
"Kalau cuma begini sudah hampir mati, bagaimana mau jadi bajak laut kuat? Bajak laut lemah cuma jadi umpan monster laut."
Kata-kata kejam tapi benar.
"Istirahat sepuluh menit. Lalu latihan berikutnya."
"MASIH ADA LAGI?!" kami berteriak bersamaan.
"Tentu. Hari masih pagi. Kita punya banyak waktu sampai matahari tenggelam."
Aku menatap langit yang baru mulai terang. Ini akan jadi hari yang panjang.
Latihan berikutnya: push up, sit up, squat, dan berbagai latihan kekuatan dasar lainnya.
"Seratus kali masing-masing! Mulai!"
"SERATUS?!"
"Seratus lima puluh kalau protes lagi."
Kami belajar cepat—jangan protes pada Yamamoto.
Push up masih bisa kulakukan—mungkin dua puluh atau tiga puluh sebelum tangan gemetar. Sit up sedikit lebih mudah. Tapi squat? Kaki langsung menyerah di angka lima belas.
"JANGAN MENYERAH! TERUS BERGERAK!"
"Tidak... bisa..."
"BISA! Tubuhmu lebih kuat dari yang kau kira! Yang lemah itu pikiranmu! Kalahkan pikiran lemahmu!"
Entah bagaimana kata-kata itu memompa sesuatu dalam diriku. Aku ingat kenapa aku melakukan ini—untuk melindungi Luffy, Sabo, Dadan, dan semua orang yang kusayangi. Untuk mengubah takdir.
Aku tidak boleh menyerah di hari pertama.
Dengan tekad baru, aku memaksa tubuhku terus bergerak. Satu squat. Dua squat. Tiga squat.
Di sampingku, Sabo juga berjuang keras. Wajahnya merah, keringat bercucuran, tapi dia tidak berhenti.
Akhirnya—setelah terasa seperti selamanya—kami menyelesaikan semuanya.
Dan kolaps lagi.
"Lumayan. Tidak seburuk yang kukira," Yamamoto berkomentar. "Kalian punya dasar yang baik. Terutama kau, Ace."
"Eh?" aku mengangkat kepala dengan susah payah.
"Tubuhmu merespons latihan lebih cepat dari normal. Mungkin karena Devil Fruit. Atau mungkin bakat bawaan. Apapun itu—itu keuntungan besar."
Bakat bawaan. Itu karena aku Portgas D. Ace—anak dari Gol D. Roger yang punya genetik luar biasa.
"Istirahat satu jam. Lalu kita mulai latihan Haki dasar."
Akhirnya. Yang kutunggu-tunggu.
Satu jam istirahat digunakan untuk sarapan—nasi, telur, dan daging. Porsi besar untuk recovery. Dadan khusus masak banyak karena tahu kami butuh energi.
"Kalian tidak apa-apa?" dia bertanya khawatir saat melihat kami makan seperti kesetanan.
"Kami... baik..." Sabo menjawab sambil nasi berceceran dari mulut.
"Yamamoto itu keras tapi dia tahu apa yang dilakukan. Dia dulu Marine berpangkat Captain sebelum... yah, dia punya masalah dengan atasan dan kabur."
Mantan Captain? Pantas saja tekniknya terstruktur.
Setelah sarapan, kami kembali ke area latihan. Kali ini Yamamoto duduk di batu besar dengan mata tertutup.
"Duduk di depanku. Bersila. Punggung tegak."
Kami mengikuti instruksi.
"Sekarang tutup mata. Bernapas dalam. Rasakan udara masuk dan keluar dari paru-paru."
Ini... meditasi?
"Haki bukan hanya soal kekuatan fisik. Haki adalah manifestasi dari kehendak. Kehendak yang kuat butuh pikiran yang tenang. Pikiran yang tenang butuh kontrol napas."
Aku sudah pernah melakukan ini—latihan meditasi dari kehidupan lama. Tapi Sabo terlihat kesulitan—tubuhnya gelisah, napasnya tidak teratur.
"Sabo. Tenang. Jangan paksa. Biarkan tubuhmu menemukan ritme sendiri."
Perlahan, Sabo mulai tenang.
"Bagus. Sekarang—sambil mata tetap tertutup—aku mau kalian RASAKAN sekitar kalian. Bukan lihat. Bukan dengar. Tapi RASAKAN."
"Rasakan?" aku membuka mata sebentar.
"Tetap tutup matamu!" Yamamoto menegur. "Ya, rasakan. Setiap makhluk hidup punya 'presence'—keberadaan. Haki Observation adalah kemampuan merasakan presence itu."
Oh. Jadi ini awal dari Observation Haki.
Aku menutup mata lagi. Fokus. Rasakan sekitar.
Awalnya tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan. Suara angin. Suara burung.
Tapi perlahan... ada sesuatu. Seperti getaran samar. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata tapi... ada.
"Aku rasa... ada sesuatu di kiri..." aku berbisik.
"Bagus. Itu seekor tupai di pohon sebelah kiri. Kau merasakannya."
Mata Sabo terbuka lebar—masih tertutup tapi terlihat shock. "Benaran?! Ace bisa rasakan tupai?!"
"Konsentrasi, Sabo! Kalau kau bisa fokus, kau juga bisa!"
Kami latihan seperti itu sampai siang. Duduk dengan mata tertutup, mencoba merasakan sekitar. Awalnya sangat sulit—seperti mencoba melihat dalam gelap total. Tapi sedikit demi sedikit, sensitivitas mulai meningkat.
Aku bisa merasakan Sabo di sebelah kanan. Yamamoto di depan. Bahkan pohon-pohon di sekitar terasa punya 'presence' meskipun sangat lemah.
"Cukup untuk hari ini. Besok kita ulangi lagi. Dan hari berikutnya. Dan seterusnya sampai kalian bisa rasakan bahkan saat mata terbuka dan bergerak."
"Berapa lama biasanya sampai bisa kuasai?" Sabo bertanya.
"Tergantung bakat. Ada yang setahun. Ada yang sepuluh tahun. Ada yang tidak pernah bisa."
Wajah Sabo pucat. "Sepuluh tahun?!"
"Tapi ada juga yang genius—bisa dalam hitungan bulan. Ace sepertinya tipe genius."
Aku menggeleng. "Bukan genius. Cuma... pernah latihan serupa sebelumnya."
Yamamoto menatapku aneh. "Latihan serupa? Kau umur tiga tahun. Kapan sempat latihan?"
Sial. Bicara kebanyakan.
"Ma-maksudku... sering meditasi sendiri. Main-main fokus pikiran gitu..."
"Hmm. Mungkin memang bakat alam. Bagus. Terus asah itu."
Sore harinya, setelah latihan fisik lagi (lari, push up, dan berbagai siksaan lainnya), kami akhirnya diizinkan istirahat.
"Besok kita mulai Armament Haki dasar. Tapi hari ini cukup. Kalian kerja bagus."
Pujian pertama dari Yamamoto. Rasanya seperti dapat medali emas.
Aku dan Sabo berjalan tertatih kembali ke gubuk. Tubuh sakit semua. Otot teriak protes setiap gerakan. Tapi ada kepuasan aneh—kepuasan tahu kau sudah dorong dirimu melewati batas.
"Ace... aku tidak yakin bisa bangun besok..." Sabo mengeluh sambil berjalan seperti zombie.
"Kita harus. Kalau tidak, ulangi dari awal."
"Hikss... kenapa kita memilih hidup susah begini..."
Karena kita mau kuat. Karena kita mau bebas. Karena kita punya mimpi.
Tapi aku tidak bilang itu—terlalu dramatis untuk momen ini.
"Karena kita bodoh," aku menjawab sambil menyeringai.
Sabo tertawa—lelah tapi tulus. "Ya. Kita memang bodoh."
Di gubuk, Dadan sudah siapkan air panas untuk mandi dan makanan hangat.
"Kalian hebat bisa bertahan hari pertama," dia berkata sambil membantu kami duduk. "Banyak orang yang menyerah hari pertama latihan dengan Yamamoto."
"Kami tidak akan menyerah," aku menjawab tegas.
"Aku tahu. Makanya aku tidak khawatir."
Luffy merangkak mendekat dan memeluk kakiku. "Aaa! Aaa!"
"Iya iya kakak pulang," aku mengangkatnya meski tangan gemetar. Luffy tersenyum lebar dan menempelkan kepalanya ke dadaku.
Momen seperti ini yang membuat semua rasa sakit tadi worth it.
Untuk melindungi senyum ini.
Untuk pastikan tidak ada air mata di masa depan.
Aku akan jadi kuat.
Sekuat yang dibutuhkan.
Api takdir terus berkobar.
Dan tidak ada yang bisa padamkan.
BERSAMBUNG