NovelToon NovelToon
ASLAN VALERION

ASLAN VALERION

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Penyelamat / Sistem
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: HUUAALAAA

Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Matahari belum sepenuhnya naik ketika Aslan melangkah menyusuri lorong penginapan yang berbau apak. Kiko berjalan di belakangnya dengan langkah yang tampak ragu. Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu yang hampir lepas dari engselnya.

"Kau yakin dia ada di dalam, Kiko?" tanya Aslan tanpa menoleh.

"Benar, Tuan. Ini adalah tempat persembunyian paling murah yang bisa ditemukan di distrik ini. Jax menghabiskan seluruh uang kemenangannya untuk membeli penawar racun di pasar gelap," jawab Kiko dengan suara rendah.

Aslan mengetuk pintu itu tiga kali dengan pola yang tegas. Tidak ada jawaban dari dalam ruangan. Aslan segera memberi isyarat kepada sistem untuk melakukan pemindaian singkat.

[Sistem: Mendeteksi satu tanda panas di dalam ruangan. Detak jantung subjek tidak stabil. Subjek dalam posisi waspada.]

"Aku tahu kau sudah bangun, Jax. Aku datang bukan untuk bertarung lagi," ucap Aslan dengan suara yang tenang namun berwibawa.

Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan mata tajam Jax yang tampak kelelahan. Ia menatap Aslan dengan rasa tidak percaya. Luka memar dari pertarungan kemarin masih terlihat jelas di wajahnya.

"Si petarung Rave? Bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" tanya Jax dengan nada mengancam.

"Sangat mudah menemukan seseorang yang memiliki tujuan yang jelas. Bisakah kita bicara di dalam? Aku membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada koin emas," ujar Aslan sambil menunjukkan sebuah botol kecil berisi cairan bening.

Jax terdiam sejenak melihat botol itu. Ia akhirnya membuka pintu lebih lebar dan membiarkan Aslan masuk. Ruangan itu sangat sempit dan hanya berisi satu tempat tidur kayu tempat seorang gadis kecil berbaring lemas.

"Apa itu?" tanya Jax sambil menunjuk botol di tangan Aslan.

"Ini adalah ekstrak pemurnian inti sihir. Penawar ini tidak dijual di pasar gelap karena Kael memonopoli distribusinya. Racun militer yang menjangkiti adikmu hanya bisa dinetralkan dengan ini," jelas Aslan dengan lugas.

Jax mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Ia tahu bahwa pria di depannya ini tidak sedang berbohong. Tekanan mental yang dipancarkan Aslan membuatnya merasa sangat kecil.

"Apa maumu sebagai imbalannya? Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan," ucap Jax dengan suara serak.

"Aku tidak butuh uangmu. Aku butuh kesetiaanmu. Aku sedang membangun sesuatu yang akan menghancurkan sistem yang membuat adikmu menderita seperti ini," jawab Aslan sambil menatap langsung ke mata Jax.

"Kau ingin aku menjadi tentaramu? Aku adalah seorang kriminal, Rave. Aku tidak peduli dengan politik kerajaan," Jax mencoba menolak.

Aslan tersenyum tipis dan melangkah mendekati gadis kecil yang sedang tertidur itu. Ia meletakkan botol penawar di meja samping tempat tidur.

"Namaku bukan Rave. Dan ini bukan tentang politik. Ini tentang pembalasan dendam dan masa depan yang lebih baik. Jika kau mengikutiku, adikmu akan mendapatkan perawatan terbaik di wilayah utara di bawah perlindungan Jenderal Elara," kata Aslan dengan nada yang sangat meyakinkan.

[Sistem: Analisis psikologis subjek Jax menunjukkan penurunan pertahanan mental sebesar enam puluh persen. Tingkat kepercayaan mulai meningkat.]

"Kenapa kau memilihku? Ada banyak petarung yang lebih kuat di arena itu," tanya Jax lagi.

"Karena kau bertarung untuk orang lain, bukan untuk dirimu sendiri. Itulah jenis kekuatan yang aku butuhkan dalam unit elitku. Orang yang memiliki sesuatu untuk dilindungi tidak akan pernah berkhianat dengan mudah," jelas Aslan.

Jax menatap adiknya, lalu beralih menatap Aslan. Ia perlahan berlutut di depan pangeran yang sedang menyamar itu. Rasa hormat yang tulus mulai tumbuh di hatinya menggantikan kemarahan.

"Jika kau bisa menyembuhkannya, nyawaku adalah milikmu. Katakan apa yang harus aku lakukan," ucap Jax dengan penuh ketegasan.

"Bagus. Persiapkan dirimu dan adikmu. Kiko akan mengatur keberangkatan kalian menuju perbatasan utara malam ini. Setelah itu, aku memiliki tugas khusus untukmu di Kota Timur," perintah Aslan.

[Sistem: Rekrutmen unit elit pertama berhasil. Status Jax: Loyalitas Terikat. Memulai pemrosesan target selanjutnya: Si Tangan Besi.]

Aslan meninggalkan kediaman Jax dan segera menuju ke bengkel besi di pinggiran dermaga. Suara dentuman palu yang menghantam logam panas terdengar memekakkan telinga. Di sana, seorang pria raksasa dengan lengan mekanis sedang bekerja sendirian.

"Si Tangan Besi. Aku tidak menyangka seorang mantan komandan artileri kerajaan berakhir di tempat kotor seperti ini," sapa Aslan sambil berdiri di ambang pintu.

Pria raksasa itu menghentikan pekerjaannya dan menatap Aslan dengan dingin. Lengan mekanisnya mengeluarkan uap panas saat ia meletakkan palu godamnya.

"Siapa kau? Beraninya kau mengungkit masa lalu yang sudah mati," geram Si Tangan Besi.

"Aku adalah orang yang tahu bahwa lengan mekanismu itu membutuhkan pasokan energi yang stabil. Kael memutus suplai suku cadang aslimu agar kau tetap lemah dan bergantung pada suku cadang ilegal yang merusak sarafmu," balas Aslan tanpa rasa takut.

[Sistem: Sinkronisasi saraf 28%. Mengaktifkan tekanan mental pada area sekitar subjek.]

Si Tangan Besi merasakan aura yang sangat menekan keluar dari tubuh Aslan. Ia merasa seolah sedang berhadapan dengan penguasa yang sesungguhnya.

"Kau ingin merekrutku juga? Aku sudah muak dengan peperangan," ujar Si Tangan Besi sambil terduduk lemas.

"Aku tidak menawarkan perang. Aku menawarkan keadilan bagi prajuritmu yang dikhianati Kael di garis depan. Ikutlah denganku, dan aku akan memberikan akses ke bengkel teknologi milik faksi Serigala Perak," tawar Aslan.

Si Tangan Besi terdiam lama sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Ia tahu bahwa kesempatan untuk memperbaiki harga dirinya sebagai prajurit hanya ada di tangan pemuda ini.

"Pimpin jalan, Tuan. Aku akan menjadi perisai dan penghancur di barisanmu," ucap Si Tangan Besi dengan nada penuh tekad.

Aslan beranjak menuju target terakhirnya yang berada di sudut gelap sebuah kedai kopi. Sosok wanita dengan jubah merah tua sedang duduk sendirian sambil menatap kerumunan.

"Bayangan Merah. Aku tahu kau sedang mengamati setiap kurir militer yang lewat untuk mencari informasi tentang pembunuh keluargamu," Aslan memulai pembicaraan dengan santai.

Wanita itu tidak bergerak sedikit pun, tetapi tangannya sudah berada di balik jubah untuk memegang belati.

"Informasimu sangat akurat untuk orang asing, Rave," sahut Bayangan Merah dengan suara tajam.

"Pembunuh itu ada di dalam daftar targetku. Kael mengirim mereka untuk melakukan pembersihan di perbatasan selatan tahun lalu. Aku memiliki nama-nama mereka," lanjut Aslan sambil meletakkan secarik kertas di atas meja.

Bayangan Merah segera menyambar kertas itu dan membacanya dengan cepat. Matanya berkilat penuh dendam.

"Apa imbalannya?" tanya Bayangan Merah singkat.

"Keahlianmu dalam infiltrasi. Aku butuh mata di dalam istana yang bisa bergerak tanpa terdeteksi. Bergabunglah dengan unitku, dan dendammu akan tuntas dengan tanganku sendiri," tawar Aslan.

Wanita itu melipat kembali kertas tersebut dan berdiri. Ia memberikan hormat singkat dengan menyilangkan tangan di dada.

"Aku akan menjadi bayanganmu, Tuan. Selama darah mereka tumpah, aku akan mematuhimu," ucap Bayangan Merah.

Malam itu, di sebuah gudang rahasia di pinggiran kota, Aslan mengumpulkan Jax, Si Tangan Besi, Bayangan Merah, dan Kiko. Mereka semua menatap Aslan yang masih mengenakan topeng penyamarannya.

"Kalian mungkin mengenalku sebagai Rave. Tapi mulai malam ini, tidak akan ada lagi rahasia di antara kita," ucap Aslan dengan suara yang lebih berat.

Aslan perlahan membuka topengnya dan membiarkan rambut serta wajah aslinya terlihat di bawah cahaya lampu minyak yang redup. Mata safir khas keturunan Valerion berkilau dengan megah.

"Aku adalah Aslan Valerion, Pangeran Mahkota Kerajaan Valerion yang sah. Aku adalah orang yang melihat ayahku dibunuh dan takhtaku direbut oleh pengkhianat," lanjutnya.

Semua orang di ruangan itu tersentak kaget. Jax dan Si Tangan Besi segera berlutut dengan penuh rasa hormat, diikuti oleh Bayangan Merah.

"Kami tidak tahu bahwa kami melayani sang pangeran," gumam Jax dengan nada kagum.

"Berdirilah. Aku tidak butuh pelayan. Aku butuh rekan seperjuangan yang siap merebut kembali kerajaan ini dari tangan tirani," tegas Aslan.

Aslan memandang mereka satu per satu dengan tatapan tajam yang penuh visi masa depan.

"Mulai sekarang, kalian bukan lagi kriminal atau petarung bayaran. Kalian adalah ujung tombak perjuanganku," kata Aslan.

"Apakah Anda sudah menyiapkan nama untuk unit ini, Pangeran?" tanya Si Tangan Besi dengan suara rendah.

"Liberator. Itu adalah nama unit kalian. Dalam bahasa kuno, nama ini berarti 'Sang Pembebas'. Tugas kalian adalah membebaskan rakyat Valerion dari rantai penindasan Kael," jawab Aslan dengan penuh wibawa.

[Sistem: Nama unit telah terdaftar. Efek pasif 'Harapan Baru' diaktifkan. Moral unit Liberator mencapai level maksimal.]

"Liberator. Nama yang sangat pantas untuk tujuan kita," sahut Bayangan Merah sambil menundukkan kepala.

Aslan tersenyum puas di balik cahaya remang gudang itu. Masa depan Valerion kini telah memiliki simbol pembebasannya sendiri.

1
anggita
mampir like👍aja Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!