Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Zivaniel tidak langsung bergerak.
Ia berdiri terpaku di samping pintu mobil, seolah waktu di sekitarnya tiba-tiba kehilangan kebiasaan untuk berjalan. Bibirnya masih terasa hangat—atau mungkin itu hanya ingatan singkat yang terlalu cepat membekas.
Ciuman itu tidak keras.
Tidak mendesak.
Tidak dramatis.
Tapi justru karena itulah, kepalanya terasa kosong.
Cherrin sudah mundur setengah langkah, tangannya menggenggam tali tas ransel seperti sedang mencari pegangan pada sesuatu yang stabil. Pipinya merah, bukan lagi samar—melainkan terang, nyaris menyaingi lampu parkiran yang memantul di aspal basah.
"Cherrin bodoh! Apa yang udah elo perbuat sama tuh cowok.. Aaaa, kok Lo ganas banget sih Cher" Cherrin merutuki kebodohannya. Bahkan ia sudah malu luar biasa saat ini. Sungguh perbuatannya di luar batas.
Ia sudah berpikir yang tidak-tidak, bisa jadi Zivaniel ilfill sama dia karena tingkah lakunya yang di luar batas ini.
"Bukan pacar juga. Cuman saudara tiri. Eh kalau dia anggap gue saudara. Bisa jadi cuman temen aja selama ini. Tapi kan, dia nge gas aja." Rutuk Cherrin.
Ia bahkan berulangkali mengembungkan pipi chubby–nya.
“Aku—” Zivaniel akhirnya bersuara, tapi suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. “Aku nggak nyangka kamu bakal—”
“Jangan di lanjut,” potong Cherrin cepat, meski suaranya gemetar tipis. “Kalau kamu lanjut, aku bisa… bisa pingsan.”
Zivaniel mengerjap.
Itu bukan marah.
Bukan juga penolakan.
Ia menghela napas pelan, bahunya turun satu tingkat. Tapi satu sudut bibirnya tertarik ke atas. “Oke.”
Sunyi kembali turun di antara mereka. Tapi bukan sunyi yang canggung—lebih seperti jeda yang penuh gema.
Cherrin membuka pintu mobil lebih dulu kali ini, masuk ke kursi penumpang dengan gerakan sedikit kaku. Zivaniel menyusul, menutup pintu dengan bunyi lembut yang terasa terlalu keras di telinganya sendiri.
Mesin menyala.
Wiper tidak lagi bergerak. Kaca depan hanya memantulkan cahaya kota malam yang basah dan berkilau.
Mereka tidak langsung bicara.
Cherrin menatap lurus ke depan, tapi pikirannya tidak ada di sana. Jantungnya masih berdetak terlalu cepat, seolah belum menerima kenyataan bahwa barusan ia benar-benar mencium pipi seseorang—dan bukan sembarang seseorang.
Zivaniel memegang setir lebih erat dari biasanya.
Ia tidak tahu harus berekspresi bagaimana. Tapi yang jelas ia sangat – bahagia sekali.
Cherrin–nya menciuminya?
Sesuatu yang di anggap luar dugaan sama sekali. Ia tidak pernah menyangka gadis itu bisa bertindak nakal seperti ini.
Ck, Zivaniel menghela nafasnya kasar. Sisi dalam dirinya terpantik karena gadis itu.
Akhirnya, Cherrin yang lebih dulu memecah keheningan.
“Jangan salah paham,” katanya pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. “Aku bukan… maksudnya aku bukan tipe orang yang gampang—”
“Aku tahu,” potong Zivaniel cepat. Terlalu cepat. Ia lalu menarik napas, menurunkan volumenya. “Aku tahu.”
Cherrin meliriknya sekilas. “Kamu tahu dari mana?”
Zivaniel tidak langsung menjawab. Ia menyalakan lampu sein, lalu melajukan mobil perlahan keluar dari parkiran.
“Dari cara kamu cium aku." Ucap Zivaniel yang bermaksud meledek.
Cherrin melirik sebal, ia mendengus kecil. “Niel! Jangan nyebeln” Ia bahkan menutup wajahnya malu.
Ck, salah ia sendiri yang main nyosor aja.
Zivaniel terkekeh kecil, gemas sekali dengan gadis di sampingnya ini. "Oiya. Aku bahkan dengar sendiri tadi, muaah... Makasih Zivaniel? Makasih ice cream, makasih untuk apa nih?" Goda Zivaniel dengan bicara panjang sekali, dan membuat Cherrin terbelalak dan semakin malu.
"Niel... Jangan rese"
"Aku nggak rese, Cherrin..." Sahut Zivaniel dengan suara beratnya.
Cherrin mendengus, ia malu sekali, sungguh ia tidak bisa berkata-kata.
Jalanan malam terbentang di depan mereka—lebih sepi dari biasanya. Genangan air di pinggir jalan memantulkan lampu toko yang mulai menutup tirainya. Kota seperti sedang menurunkan volume.
Cherrin menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Kamu duluan ya Niel, yang cium aku.” ucap Cherrin sebal.
“Tapi kamu lebih banyak. Aku nggak sengaja”
“Itu bukan jawaban yang bikin aku tenang.”
Zivaniel tersenyum kecil, tapi tidak membantah. “Aku nggak berniat bikin kamu bingung.”
“Masalahnya,” Cherrin menoleh padanya lagi, “kamu berhasil.”
Ia lalu tertawa kecil, tapi tawanya cepat memudar. “Aku nggak pernah tahu harus bereaksi gimana kalau kamu tiba-tiba… hangat.”
Zivaniel terdiam.
Hangat.
Kata itu terasa aneh disematkan padanya. Seumur hidupnya, orang lebih sering menyebutnya dingin. Jauh. Terlalu terkontrol.
Ia tidak yakin apakah ia pantas disebut hangat.
“Aku nggak selalu dingin,” katanya pelan. “Aku cuma… ya kayak gini.”
Cherrin memikirkan itu. Lalu mengangguk kecil. “Iya. Kamu nggak pernah salah.”
Mereka kembali diam.
Tapi kali ini, diam itu terasa berbeda—seperti jalan lurus yang panjang, tanpa belokan mendadak.
Mobil berhenti di depan Mension. Lampu teras menyala redup, memantulkan bayangan tanaman yang bergerak pelan tertiup angin malam.
Zivaniel mematikan mesin.
Mereka masih duduk.
Tidak ada yang terburu-buru membuka pintu.
“Aku harus masuk,” kata Cherrin akhirnya, meski nadanya terdengar tidak sepenuhnya yakin.
“Iya.”
Ia membuka pintu, lalu berhenti. Tangannya masih di gagang, punggungnya setengah berbalik.
“Niel?”
“Iya?”
“Kamu…?”
Zivaniel menatapnya. Lampu dashboard memberi cahaya lembut pada wajahnya, membuat ekspresinya terlihat lebih manusiawi dari biasanya.
"Apa?"
"Hmmm nggak jadi." Cherrin berlari pergi membuat Zivaniel terkekeh melihat gadis itu.
"Lucu."