NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 16

Hari demi hari kembali berganti dan minggu pun telah berganti. Zaidan akhirnya bisa mengendalikan perasaannya, setidaknya untuk beberapa minggu ini.

Tangannya tak lagi bergerak spontan seperti beberapa waktu lalu yang mencari nomor Zahra dan mengirim pesan untuk wanita itu, atau menggerakkan motor sport hitam metaliknya ke arah Toko Happy Mart hanya untuk melihat wanita itu. Ia berhasil menertibkan dirinya sendiri, memaksa kembali pada ritme hidup yang rapi dan terkontrol.

Namun tadi malam, Zaidan akhirnya mengirim satu pesan ke nomor Zahra. Niatnya hanya sekedar mengingatkan jika esok adalah hari terakhir persidangannya.

Terima kasih sudah mengingatkan, Pak. Tadi Pak Jaksa juga sudah mengirim pesan ke saya.

Zaidan menatap layar ponsel itu cukup lama, lalu mendengus pelan.

.

“Ternyata aku kalah cepat dengan jaksa tua itu,” gumamnya, entah pada siapa.

Malam itu ia sempat kembali uring-uringan sendiri di kamarnya. Ia kesal yang tidak jelas arahnya. Perasaan kalah, padahal ia tidak tahu sedang berlomba dengan siapa. Beruntung Elran sudah kembali ke rumah orang tuanya, sehingga Zaidan bisa bebas berekspresi di kamarnya. Kalau tidak, mungkin dirinya sudah dijadikan bahan ejekan dari bocah itu.

Pagi harinya, Zaidan kembali mengenakan seragam lengkapnya. Seragam kebanggan yang akan ia jaga kemurniannya. Setelah merasa sudah cukup yakin dengan penampilannya pagi itu, Zaidan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan dimana Fadi sudah duduk rapi sambil menyeruput teh hangat. Bunga masih mondar-mandir di dapur.

“Udah gagah aja anak Papa,” ucap Fadi ketika Zaidan baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi makan.

“Zaidan memang selalu gagah,” jawabnya enteng sambil terkekeh kecil.

Fadi langsung melirik tajam. “Tuh kan. Tingkat kepedean kamu itu lho, nggak habis-habis. Nggak ada remnya.”

“Namanya juga percaya diri,” balas Zaidan santai. “Lagipula, Papa juga kayak gitu dulu. Bedanya Papa zaman masih rambut tebal,” balas Zaidan yang kembali membuat Fadi menarik napas dalam.

Fadi meletakkan gelas tehnya agak keras di meja. “Eh, jangan bawa-bawa rambut. Rambut Papa gugur karena tanggung jawab, bukan mikirin yang aneh-aneh.”

Zaidan menahan senyum. “Yakin? Atau jangan-jangan karena Mama cerewet?”

Belum sempat Fadi membalas, suara langkah Bunga terdengar mendekat. Ia datang dari dapur membawa mangkuk besar yang berisikan nasi goreng yang masih mengepul.

“Kalian ini tiap pagi ada aja ributnya,” omel Bunga sambil meletakkan mangkuk di tengah meja. “Belum makan udah debat. Ini meja makan, bukan ruang sidang.”

Fadi mendengus kecil. “Mama nih selalu belain dia.”

“Bukan belain. Mama cuma capek denger dua laki-laki keras kepala,” jawab Bunga ringan. Ia lalu menatap Zaidan. “Makan yang bener. Jangan kebanyakan gaya, nanti masuk angin.”

Zaidan tersenyum kecil sambil mengambil nasi goreng. “Siap, Komandan Rumah Tangga.”

Fadi terkekeh pelan akhirnya. “Kalau sama Mama, kamu langsung jinak.”

“Harus dong, Pa. My Flower ini.”

Fadi melotot ke arah sang putra yang terlihat tidak berdosa itu. “Jangan sebut-sebut My Flower. Itu cuma boleh Papa aja yang manggil.”

Zaidan tidak membantah. Ia hanya mengangkat bahu, lalu mulai makan.

Sedang Bunga hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua pria itu.

“Kalau ada Rian, makin puyeng aku,” gumamnya, lalu mulai menyendokkan nasi goreng itu untuk sang suami.

*

*

*

Ruang sidang itu hening. Bahkan kipas angin di sudut ruangan terdengar lebih keras dari biasanya.

Zahra berdiri dengan tangan gemetar. Ia tidak menunduk, tapi juga tidak menantang. Matanya kosong layaknya mata seseorang yang telah terlalu lama menyimpan luka, lalu meledak di waktu yang salah.

Hakim ketua menatap berkas di hadapannya lama sekali. Lalu ia menghela napas.

“Pengadilan memahami,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang tapi berat, “bahwa terdakwa tidak berdiri di sini sebagai penjahat murni.”

Zahra menelan ludah.

“Yang terdakwa lakukan adalah perbuatan yang salah,” lanjut hakim itu. “Merebut senjata api petugas negara adalah tindakan berbahaya. Itu fakta. Dan hukum tidak boleh menutup mata.”

Palunya belum diketuk dan semakin membuat Zahra berdebar.

“Tapi hukum juga tidak boleh menutup hati.”

Beberapa orang di ruang sidang terdiam. Bahkan jaksa terlihat menurunkan pandangannya.

“Pengadilan mencatat,” suara hakim mengeras sedikit, “bahwa terdakwa adalah korban pelecehan seksual. Luka itu tidak terlihat, tapi nyata. Trauma itu tidak tercatat di kepolisian saat itu, tapi hidup di dalam diri terdakwa setiap hari.”

Zahra menggigit bibir. Matanya pun mulai basah.

“Ketika terdakwa melihat orang yang pernah menghancurkan harga dirinya dibawa oleh petugas… emosi terdakwa runtuh. Bukan karena niat jahat, bukan pula karena keinginan membunuh. Tapi karena luka terdakwa yang tidak pernah sembuh.”

Hakim berhenti sejenak.

“Dan ketika diberi kesempatan untuk terus melangkah ke arah yang lebih gelap… terdakwa berhenti. Senjata itu dikembalikan. Tidak ada tembakan yang terjadi dan juga tidak ada darah.”

Palunya akhirnya diketuk satu kali.

“Pengadilan menyatakan terdakwa bersalah secara hukum, namun layak mendapatkan belas kasih.”

Zahra memejamkan mata. Air matanya pun jatuh tanpa suara.

“Menjatuhkan pidana penjara selama enam bulan,” ucap hakim, lalu menatap langsung ke arah Zahra yang masih menundukkan kepalanya.

“dengan ketentuan… pidana tersebut tidak perlu dijalani, selama terdakwa tidak mengulangi perbuatannya.”

Suara palu terdengar lagi.

“Terdakwa diperintahkan menjalani pendampingan psikologis, agar luka yang pernah membuatnya kehilangan kendali… tidak lagi memaksanya mengambil senjata di masa depan.”

Tok

Tok

Tok

Palu diketuk tiga kali. Sidangpun dinyatakan selesai.

Zahra masih berdiri di tempatnya beberapa detik, seolah belum percaya. Ia memang tidak bebas sepenuhnya, karena Zahra masih harus melakukan wajib lapor selama enam bulan ini.

Zahra melangkah keluar dari ruang sidang dengan langkah pelan. Kakinya terasa ringan, namun dadanya justru terasa berat. Suara pintu yang menutup di belakangnya seolah menjadi penanda bahwa satu babak hidupnya baru saja dilewati dengan susah payah.

Ia belum sempat menarik napas panjang ketika seorang perempuan paruh baya menghampirinya. Wajah wanita itu tampak lelah, namun matanya berkaca-kaca. Tanpa banyak kata, perempuan itu langsung meraih Zahra dan memeluknya erat, seolah sudah lama mengenalnya.

“Terima kasih sudah bertahan selama ini, Nak,” ucapnya lirih, suaranya bergetar. “Kamu hebat. Kamu kuat.”

Zahra membeku beberapa detik. Ia bahkan tidak tahu siapa wanita ini, dari mana datangnya, atau kenapa kata-katanya terasa begitu tepat menghantam hatinya. Namun justru karena itu, pelukan itu terasa tulus.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh. Zahra membalas pelukan itu dengan ragu, lalu semakin menguat.

“Terima kasih, Bu…” gumam Zahra pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Perempuan itu melepaskan pelukannya perlahan, lalu menepuk punggung Zahra lembut. “Ibu sejak awal mengikuti sidang kamu. Selamat, ya. Nah sekarang jaga diri baik-baik, ya.”

Wanita itu lalu berlalu, menyisakan Zahra yang masih berdiri terpaku di koridor pengadilan. Ia mengusap sudut matanya, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum dunia kembali menuntutnya untuk kuat.

“Zahra.”

Suara itu membuatnya menoleh. Zaidan berjalan menghampirinya, wajahnya tenang namun sorot matanya penuh perhatian. Ia berhenti beberapa langkah di depan Zahra, seakan memberi ruang agar Zahra tidak merasa terdesak.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan.

Zahra mengangguk, meski matanya masih basah. “Iya, Pak. Saya lega. Setidaknya saya tidak harus ditahan, Pak. Hukuman apapun itu akan saya terima.”

Zaidan mengangguk paham. “Sidang hari ini berjalan cukup baik. Seperti kata hakim tadi, kamu hanya perlu menjalani pendampingan saja sekarang ini. Nanti akan ada pihak PPA yang menghubungi kamu.”

Zahra menunduk sebentar, lalu menatap Zaidan kembali. “Terima kasih, Pak. Karena sudah ada di sini… dari awal.”

Zaidan tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis yang jarang ia perlihatkan.

“Eh atau aku konsulkan dia ke Kak Jelita aja, ya?” gumamnya.

...****************...

Yakin nih mau minta ke Jelita? Nggak takut di ceng cengin nantinya sama Rian? 😄😄

Btw jangan lupa ya tekan like nya, komen juga. Eh sesajennya juga jangan lupa ya ❤️❤️

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!