NovelToon NovelToon
Ketika Restu Jadi Penghalang

Ketika Restu Jadi Penghalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:23.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muliana95

Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.

Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.

Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Kebenaran Menemukan Jalan

"Dari mana Bagas mendapatkan uang untuk beli emas sebanyak itu? Bukannya, setiap kali panen, orang tuanya mengirimkan uang, untuk anak-anak perempuannya?" gumam Anwar dengan mengeram.

"Apa informasi yang aysh dapatkan, salah ya, yah?" sesal Hesti, dengan nada lirih.

"Tapi aku mendengar sendiri dari mulut Yusuf, dia selalu mengirimkan uang hasil panen untuk ketiga putrinya. Sedangkan Bagas, dia lelaki dan bisa cari sendiri," balas Anwar mengingat sepotong pembicaraan yang pernah di dengar dari Yusuf dua tahun yang lalu.

Flashback ...

Dua tahun yang lalu, ketika hubungan Yusuf dan Anwar terlihat biasa-biasa saja.

Hari itu, Anwar hendak mengambil uang dari tengkulak, yang membeli padinya tempo hari.

Namun, sebelum sampai di depan pintu sayup-sayup, terdengar suara Yusuf yang sedang berbicara dengan sang tengkulak.

"Bisa nih, beli emas, jika uangnya dikumpulkan pak Yusuf," suara tengkulak, terdengar penuh canda.

"Nggak, semua uang hasil panen, aku serahkan pada ketiga putriku," kekeh Yusuf, terlihat sedang menghitung uang di tangannya.

Iya, Anwar mencoba mengintip, siapa saja yang ada di ruangan sana.

"Terus Bagas?"

"Bagas anak lelaki, dia bisa mencarinya sendiri. Bukan mengharap dari kami," balas Yusuf, sesekali membasahi jarinya dengan ludah.

"Jadi, semua uang dari hasil sawah, untuk ketiga putri mu?" sang tengkulak kembali bertanya.

"Iya, kasihan mereka. Selain sudah jauh dari kami, mungkin, kehidupan mereka juga gak sebaik yang di kabarkan pada kami berdua," balas Yusuf tanpa ragu.

"Jadi, Bagas tak mendapatkan apa-apa? Untuk apa juga aku membiarkan anakku menikah dengan anaknya. Jika nanti, ketika panen, dia malah menyerahkan semua uangnya pada putri-putrinya," batin Anwar bergejolak.

Dan tanpa mendengarkan lebih lanjut, Anwar malah melenggang pergi. Melupakan niatnya, untuk mengambil uang dari hasil panen.

Karena sekarang dia membawa berita yang jauh lebih penting di bandingkan hanya uang saja.

Sepeninggalan Anwar. Tengkulak dan Yusuf masih bercengkrama. Dan akhirnya, Yusuf membeberkan jika Bagas malah mendapatkan lebih banyak.

Karena bagaimana pun, yang di berikan untuk putrinya ialah hasil pembagian dari pada penyewa sawah-sawahnya.

Flashback off ...

"Apa jangan-jangan, aku salah dengar waktu itu?" gumam Anwar menelan ludah, pahit.

"Kamu sih, kok dapat informasi salah," Hesti memukul keras punggung Anwar.

Sampai-sampai membuat lelaki itu meringis.

"Tak apa, coba nanti aku carikan info lagi. Bisa saja, perhiasan yang di pakainya itu, emas palsu kan? Sekarang, banyak ibu-ibu yang pakai titanium, berlapis emas kan?" Anwar mencoba menyakini Hesti. Walaupun, kenyataannya, dia sendiri ragu.

✨✨✨

Malam harinya. Bertepatan dengan, dimana mereka melakukan samadiah, di salah satu rumah warga.

Anwar mulai mendekati Bagas. Dia sengaja, duduk di sebekah, lelaki yang tempo hari di bencinya.

Setelah rentetan surah-surah dan doa di bacakan. Akhirnya, mereka semua di jamu dengan minuman, serta kue-kue dari empunya rumah.

"Jaman sekarang, emas semakin hari semakin mahal ya," Anwar membuka percakapan.

"Iya, mau beli, uang gak pernah cukup," timpal seorang lelaki yang umurnya sepantaran Bagas.

"Emang berapa sih, satu gramnya sekarang?" tanya Anwar, mencoba memancing. Bahkan, dia melirik Bagas, berharap lelaki itu ikut mengobrol dengannya.

"Kurang tahu ... Tapi— coba tanyakan Bagas. Kemarin, istriku gak sengaja melihatnya di toko emas, sama istrinya, kalo gak salah, lagi beli kalung," balas Fadil, lelaki yang sering bekerja di sawah milik Bagas.

Anwar membelalak, niat cari informasi. Malah, hatinya yang di tikam kenyataan.

Merasa namanya disebut, Bagas melirik sekilas dan tersenyum.

Namun, senyum itu lebih seperti belati di mata Anwar.

"Hooh, aku lihat— istrimu juga pakai perhiasan. Apa kamu gak takut?" tanya lelaki yang biasa di panggil dengan pakde.

"Insya Allah gak apa-apa pakde ... Lagipula, sudah kewajibanku, memberinya perhiasan. Karena aku mampu," balas Bagas lirih.

"Tapi, gara-gara itu, istri-istri kami juga meradang," timpal bapak lainnya terkekeh geli.

"Kenapa gak disimpan aja?" pakde bertanya lagi.

"Disimpan lama-lama, nanti harus dibayar zakatnya pakde. Makanya, Allah memberi kemudahan, jika emas yang dipakai sehari-hari tidak terhitung, dalam zakat. Lagipula, istriku masih memakai dalam jumlah yang wajar," terang Bagas, sembari tersenyum lembut.

Orang-orang disana manggut-manggut. Mendengar ucapan Bagas.

"Berarti, kamu sengaja memakaikan istrimu emas, agar tidak membayar zakat? Licik kamu," cibir Anwar menuduh.

"Makanya aku bilang, memakai dalam jumlah wajar," sekali lagi Bagas menegaskan pada orang-orang disana, terutama Anwar, tentunya.

Malam semakin larut, Anwar pulang dengan perasaan dongkol, merasa di perbodohkan oleh keadaan.

Sedangkan Bagas, begitu samadiah selesai, dia langsung kembali ke rumah.

Melihat keadaan Yusuf, yang hanya bisa terbaring, dan duduk di kamarnya.

Untuk kesehari-harinya, Bagas, selalu menggendong ayahnya untuk duduk di gazebo yang baru di buatnya di halaman depan.

Karena disana, merupakan tempat yang tidak terlalu membuat Yusuf bosan. Sebab, selain ada orang-orang berlalu lalang, ada aja orang yang mampir, sekedar berbincang dengan ayahnya.

"Ayah mau buang air gak?" tanya Bagas, meletak ember di bawah ranjang.

Kenapa meletakkan ember? Karena Yusuf, tidak nyaman menggunakan diapres.

"Gak— tidur lah, sudah larut malam," ujar Yusuf, mengusir anaknya secara halus.

"Baru jam sepuluh yah," lirih Bagas sendu.

"Temani istrimu, kasihan dia. Biar ayah, ibu yang jaga," tutur Hayati, yang juga berbaring disamping suaminya.

"Kalo butuh sesuatu, ketuk pintu kamar ku ya bu," pinta Bagas, sebelum menutup pintu kamar orang tuanya.

Hayati mengangguk patuh. Karena bagaimana pun, dia tak kuat untuk membantu suaminya, jika seorang diri.

✨✨✨

Bagas membuka pintu kamar, aroma lembut dari pengharum ruangan langsung menyambutnya.

Begitu masuk, Bagas mengernyit kala menatap Safira yang masih fokus, menatap keluar jendela.

"Dik ..." panggilnya. Namun, Safira tak menoleh. Dia hanya menghela napas berat, terbukti dengan bahunya yang ikut menurun. "Ada apa?"

Syafira menyerahkan benda pipih ke tangan suaminya.

"Kamu hamil?" tanya Bagas, karena tahu benda itu, merupakan tespack.

Namun, Safira menggeleng. Sedetik kemudian, dia terisak.

"Aku belum hamil bang ... Bahkan, diusia pernikahan kita hampir memasuki umur enam bulan," adu Safira.

"Kamu kenapa? Siapa yang memaksamu untuk hamil? Bahkan, abang pun, tak sekali pun menyinggung tentang hal itu," beruntun Bagas, namun, dia menarik Safira ke pelukannya.

"Apa itu ibu?" tanya Bagas hati-hati.

Safira menggeleng.

"A-aku ke warung, orang-orang menayakan tentang, keadaan ku," ungkap Safira dalam pelukan Bagas.

"A-aku merasa gagal bang. Apalagi, mereka membandingkan aku, dengan orang yang baru menikah dua bulan yang lalu," adu Safira.

Bagas menghela napas.

"Sayang ..." Bagas, menangkup kedua pipi Safira. Memaksa, agar sang istri menatapnya. "Jika memang kamu belum hamil, itu bukan salahmu aja. Aku, sebagai suamimu juga bersalah. Jadi, jangan hiraukan mereka. Apalagi, mereka hanya orang luar. Bukan kerabat, saudara, keluarga, ataupun orang tua kita. Jadi, jangan di pikirkan, ya sayang," nasehat Bagas, kembali menarik Safira ke pelukannya.

"Bagaimana jika aku gak hamil?" tanya Safira menatap manik mata Bagas.

"Dan bagaimana jika, aku yang gak bisa membuatmu hamil?" tanya Bagas balik.

1
Cimol krispy
Nadia. apa kamu seputus asa itu sampai² ingin merusak kebahagiaan Bagas dan safira
@dadan_kusuma89
Bagas, kau tak perlu risau, mencintai itu nggak dosa, asalkan jangan selingkuh aja 😁
Filan
aduuh yang dilihatnya cuma harta doang. syukur dipanas-panasin sama anaknya.
Filan
Nadia ini udah ga peduli ya... berani banget
Filan
tetep mau jadi istri ke-2 ya?
@dadan_kusuma89
Safira, mbok ya dijawab itu pertanyaan malik, katakan apa adanya kenapa kamu nggak dianterin Bagas.
MARDONI
Menegangkan banget ya cerita ini! 😔 Pas Hesti mulai sering menyapa Hayati berharap hubungan membaik, tapi ternyata mereka punya maksud lain – mau mencoba menyatukan Bagas dan Nadia lagi karena Nadia stres. Hayati dan Yusufnya tetap tegas karena sudah pernah dihina tiga kali dan sekarang Bagas sudah bersama Safira. Bahkan mereka bilang gak masalah kalau Safira tidak bisa hamil, yang penting anaknya bahagia. Penasaran banget nih gimana kalau Hesti dan Anwar benar-benar mendekati Bagas – apakah Bagas bakal terpengaruh atau tetap setia sama Safira ya? 😊
Oksy_K
alhamdulilahh akhirnya sah. bahagia selalu bagas. meski banyk cobaan
Oksy_K
lomba aja teros. di jadiin ug kedua gak mau
Oksy_K
cowok sat set kaya gini di tolak? rugi rugii
Oksy_K
norek aku aja bagas, siap menerima tf kapanpun🤭🤭
Three Flowers
baru kali ini aku seneng liat orang nguping😂 Mungkin Hayati bakal ngebela Safira kalo terdesak, tapi nyatanya Safira masih cukup kuat untuk menghadapi si mantan
Three Flowers
Untungnya Safira ternyata wanita pemberani yang tidak mudah ditindas.
Three Flowers
Kok Nadia jadi mirip ibunya? Berarti memang bagus dia tidak berjodoh dengan Bagas yang baik hati.
Three Flowers
Siapa yang menabur kebaikan pasti akan menuai kebaikan. Memang betul itu, bu😍
-Thiea-
mending sama yang lain aja jangan Bagas. ntar banyak yang salah paham kalo bawa dia.
-Thiea-
kenapa rahasianya g dibuka sebelum nikah aja biar sama-sama enak.
-Thiea-
karena dengar punya rumah sama mobil, makanya langsung diterima.🤭
Miu Nuha.
tetap slay y mbk safiraku yg canteqq /Kiss/
Miu Nuha.
safira savage disini buuu,, dia hebat bngt bisa membela diri... habis ini tolong dipeyuk krna aku tau dia pasti lngsung rapuh setelah berjuang berdiri tegak 🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!