NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehamilan Yang Tak Terduga

Matahari pagi tidak menampakkan sinarnya, sehingga mansion Gemilar diselimuti oleh kabut putih yang tebal, membuat dunia di luar jendela tampak seperti kanvas kosong yang belum dilukis. Di dalam kamar mandi utama yang berlapis pualam Italia, Shabiya terduduk di lantai yang dingin. Napasnya pendek-pendek, sementara rasa mual yang hebat baru saja mereda setelah menguras tenaganya di wastafel.

Di tangannya, sebuah benda kecil plastik panjang menunjukkan dua garis merah yang tegas. Simbol itu tampak seperti dua sayatan yang membelah dunianya menjadi dua.

"Tidak... tidak sekarang," bisiknya dengan suara gemetar.

Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan irama ketakutan yang murni. Seharusnya, kabar ini menjadi puncak kebahagiaan bagi sepasang suami istri. Namun, di dalam sangkar emas milik Galen Gemilar, kehamilan ini terasa seperti belenggu baru yang terbuat dari daging dan darah. Shabiya menatap perutnya yang masih rata. Di sana, sebuah kehidupan baru mulai tumbuh. Sebuah kehidupan yang separuh darahnya berasal dari pria yang sedang berusaha menghapus identitasnya.

Pertanyaan-pertanyaan pahit mulai meracuni pikirannya. Apakah Galen akan mencintai bayi ini sebagai anaknya? Ataukah pria itu hanya akan melihat janin ini sebagai pelengkap dari obsesinya? Sebuah cara untuk membuat "Thana" menjadi nyata secara utuh?

"Jika bayi ini lahir, aku tidak akan pernah bisa lari," gumam Shabiya, air mata jatuh membasahi alat tes kehamilan itu.

Dulu ... saat wanita itu baru saja menginjak usia dua puluhan, hal ini selalu terbayang dalam benaknya. Saat itu, ia sudah merasakan bahagia yang tidak terkira ketika membayangkan ada janin yang tumbuh di dalam rahimnya. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda, semuanya berjalan tidak sesuai dengan keinginannya. Dia tidak merasakan kebahagiaan itu.

Shabiya segera menyembunyikan alat tersebut di bawah tumpukan pakaian dalamnya saat mendengar ketukan di pintu. Galen masuk, pria itu sudah berpakaian rapi dengan setelan jas abu-abu arang. Sejak Shabiya mulai berakting patuh pasca konfrontasi mereka, Galen kembali menjadi sosok yang lembut, meski kelembutan itu selalu terasa seperti kain beludru yang menyembunyikan kawat berduri.

"Kau tampak pucat, Sayang," ucap Galen, berjalan mendekat dan meletakkan telapak tangannya di dahi Shabiya. "Apakah kau sakit?"

Shabiya memaksa sebuah senyuman tipis, senyuman yang telah ia latih di depan cermin agar terlihat persis seperti cara Thana tersenyum saat sedang tidak enak badan. "Hanya kurang tidur, Galen. Badai semalam membuatku gelisah."

Galen menatapnya lama, matanya menyisir setiap inci wajah Shabiya. Untuk sesaat, Shabiya takut Galen bisa membaca keberadaan janin itu hanya dengan tatapan mata.

"Arsen akan memanggil dokter pribadi untuk memeriksamu siang ini," kata Galen dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Aku tidak ingin ada yang salah denganmu. Kau adalah harta paling berhargaku."

Shabiya merasakan ironi yang menyesakkan. Harta paling berharga. Bukan sebagai manusia, tapi sebagai wadah memori. Ia bertanya-tanya, jika Galen tahu tentang bayi ini, apakah pria itu akan senang karena akhirnya ia memiliki pewaris, ataukah ia akan semakin gila karena Thana yang asli di dalam ingatannya tidak pernah sempat memberinya anak?

Wanita itu hanya bisa mematuhinya terlebih dahulu, masalah nanti setelah dokter tiba biar ia pikirkan ketika pria yang berstatus sebagai suaminya ini sedang sibuk.

Siang harinya, dokter pribadi Galen —seorang pria tua yang tampak lebih seperti penjaga rahasia daripada tenaga medis— datang memeriksa. Shabiya tidak punya pilihan selain membiarkan dokter itu mengambil sampel darahnya.

Setelah dokter itu pergi untuk memproses hasilnya, Shabiya menyelinap ke balkon, menggunakan ponsel kecil pemberian Rigel. Tangannya gemetar saat menekan nomor tersebut.

"Rigel... aku punya masalah," bisik Shabiya saat sambungan terhubung.

"Shabiya? Ada apa? Kau terdengar sangat ketakutan," suara Rigel terdengar waspada dari seberang sana.

"Aku hamil, Rigel."

Keheningan panjang terjadi di seberang telepon. Shabiya bisa mendengar napas berat Rigel. "Ini mengubah segalanya, Shabiya. Galen tidak akan pernah membiarkanmu pergi sekarang. Dia akan mengurungmu di dalam brankas jika perlu."

"Aku takut, Rigel. Aku takut dia tidak akan melihat bayi ini sebagai bayiku. Dia akan menganggap ini adalah anak yang seharusnya ia miliki bersama Thana. Dia akan mendikte setiap detik pertumbuhan anak ini agar sesuai dengan fantasinya."

"Dengar," suara Rigel memotong dengan tegas. "Jangan katakan padanya sampai aku menemukan cara untuk mengeluarkanmu. Jika dia tahu sekarang, penjagaan di mansion akan menjadi semakin ketat. Kau tidak akan punya celah lagi."

Shabiya menutup telepon dengan perasaan yang lebih berat dari sebelumnya. Ia menatap ke arah gerbang mansion yang dijaga ketat. Anak yang berada di dalam rahimnya ini sekarang adalah tiket sekaligus penjara baginya.

Dengan perasaan yang semakin tidak karuan, wanita itu mencoba untuk biasa saja. Dia kembali menetralkan mimik wajahnya, meski belum ada solusi untuk masalahnya.

Langit telah berganti gelap menandakan malam telah tiba. Galen pulang dengan suasana hati yang luar biasa baik. Ia membawa sebuah hadiah, sebuah kalung zamrud yang besar, warna hijau yang identik dengan warna favorit Thana.

"Dokter sudah mengirimkan laporannya, Shabiya," ucap Galen sambil menuangkan anggur ke gelasnya.

Shabiya membeku. Gelas air putih di tangannya nyaris terjatuh. "A-apa katanya?"

Galen berjalan mendekati Shabiya, meletakkan tangannya di perut Shabiya dengan gerakan yang begitu posesif hingga membuat bulu kuduk Shabiya berdiri. Senyum Galen kali ini sedikit berbeda, menjadi lebih lebar, lebih intens, dan jauh lebih mengerikan.

"Dia bilang ada kehidupan kecil di dalam sini," bisik Galen. Ia berlutut di depan Shabiya, menyandarkan keningnya di perut istrinya. "Terima kasih, Thana. Akhirnya... bagian terakhir dari teka-teki ini telah lengkap. Kita akan memiliki keluarga yang sempurna. Keluarga yang seharusnya kita miliki lima tahun yang lalu."

Shabiya mematung. Air mata mengalir tanpa suara. Galen bahkan tidak menyebut namanya. Di momen yang seharusnya paling manusiawi ini, Galen tetap memanggilnya dengan nama wanita yang telah mati.

"Galen... ini anakku. Anak Shabiya," ucapnya dengan keberanian terakhir yang tersisa.

Galen mendongak, matanya berkilat liar. "Ini adalah anak kita. Dan anak ini akan tumbuh besar dengan mengetahui bahwa ibunya adalah wanita paling luar biasa yang pernah ada. Aku akan memastikan dia tidak mewarisi sedikit pun... 'kebisingan' dari identitas lamamu."

Saat itu, Shabiya menyadari kebenaran yang paling mengerikan. Bayi ini tidak akan pernah dicintai sebagai seorang anak manusia. Bagi Galen, bayi ini adalah proyek reinkarnasi berikutnya. Galen tidak hanya mencuri identitas Shabiya, tapi dia sudah bersiap untuk mencuri masa depan anak yang belum lahir ini.

Shabiya mengelus perutnya dengan protektif. Di bawah tatapan memuja Galen yang gila, Shabiya bersumpah di dalam hatinya bahwa ia mungkin telah kehilangan dirinya sendiri, tapi ia tidak akan membiarkan Galen menghapus jiwa anaknya. Pelarian ini bukan lagi sekadar tentang kebebasannya, tapi tentang menyelamatkan sebuah nyawa dari tangan sang penguasa yang ingin membangun surga di atas fondasi kegilaannya sendiri.

1
Kustri
qu koq benci yo ama galen, obsesi sm egois selangit
👊nggo galen🤭
Kustri
penasaran gmn cara sabyan melawan galen💪
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!