Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.
Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.
Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.
"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.
Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Denial
"Huek...huek..."
Mungkin, ini sudah menjadi kebiasaan Alissa di pagi hari. Merasa mual hingga memuntahkan isi perutnya. Dan lagi-lagi yang keluar hanyalah cairan bening.
Melelahkan. Alissa rasanya muak merasakan hal seperti ini di setiap paginya. Dari sini, Alissa mulai belajar, bahwa betapa hebatnya seluruh ibu di dunia ini. Bahkan anaknya yang belum lahir saja sudah menyusahkan dan mereka tidak mengeluh.
"Hah...! Sampai kapan aku akan mual terus seperti ini..." desah Alissa merasa lelah.
Dia mencuci wajahnya. Sebelum akhirnya keluar dari kamar. Biasanya Elis sudah membuatkannya susu. Maka dengan inisiatif, Alissa akan menghampiri Elis di dapur.
Perempuan itu mengucek matanya. Memastikan bawah apa yang ia lihat di depan sana tidaklah salah. Seorang Sean Balrick...di dapur dan...memasak?!
Alissa melihat betapa cekatannya laki-laki itu. Dari gerakannya sudah terlihat jika Sean memang bisa memasak. Lihatlah ketika punggung lebar itu terlihat begitu mempesona saat Sean tengah mencuci sayuran.
Eh, apa yang baru saja Alissa pikirkan?! Lagi-lagi dia kembali memuji betapa sempurnanya seorang Sean Balrick. Kenapa sih, Alissa selalu lupa jika laki-laki yang sedang fokus memasak di sana adalah orang yang akan membunuhnya.
"Buat apa tampan jika kelakuannya kaya setan." cibir Alissa pada akhirnya.
Dia jadi malas ke dapur. Padahal harapannya bertemu dengan Elis dan meminum susu buatan pelayan itu.
Saat hendak berbalik pergi, Alissa menemukan Elis tengah membawa ranjang yang berisi buah-buahan segar.
"Elis!" Alissa menghampiri pelayan itu.
Elis yang merasa terpanggil menoleh. Mengetahui siapa yang memanggilnya, dia mendekat pada istri tuannya.
"Ada apa Nyonya? Nyonya membutuhkan sesuatu?"
Alissa menggeleng sebagai jawaban. Justru perempuan itu menanyakan sesuatu yang membuat Elis kebingungan.
"Apa matahari terbit dari barat?"
"Maksud...Nyonya?"
"Seorang iblis seperti Sean memasak. Bukankah itu melawan hukum alam?"
Hampir saja Elis tertawa dengan celetukan Nyonya-nya yang amat di luar nalar. Sejak kapan Nyonya-nya ini suka melawak.
"Maksud Nyonya, Tuan Sean itu iblis?"
"Mungkin saja dia reingkarnasi dari Lucifer." balas Alissa mengendikan bahu acuh.
"Dan Lucifer juga punya cinta Nyonya."
Alissa mengernyitkan kening bingung dengan mendengar jawaban dari perempuan yang lebih tua darinya itu.
"Maksudmu Elis?"
Elis tersenyum menanggapi. "Apakah Nyonya tahu kenapa Tuan memasak?"
Alissa terdiam sejenak untuk berpikir, sampai akhirnya ia menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Tidak. Lagipula itu bukan urusanku."
"Jika, Tuan memasak untuk Nyonya, apakah itu tetap bukan urusan Nyonya?"
Bukannya tersentuh atau terharu, Alissa memutar bola matanya malas.
"Dia?" Alissa menunjuk dapur. "Memasak untukku?" sambungnya dengan senyum sinisnya.
"Bahkan aku lebih percaya alien daripada leluconmu, Elis." dengus Alissa malas.
Elis diam. Mungkin ini bukan ranahnya lagi untuk menjelaskan. Pelayan itu hanya bisa berharap, semoga salah paham antara Tuan dan Nyonya bisa segera usai.
Rasanya tidak menyenangkan kerja dengan memiliki majikan yang tidak akur. Apalagi tuannya itu yang memiliki ego sangat tinggi. Membuat pekerjaan Elis bertambah banyak. Untung saja gajinya sepadan.
"Ya sudah jika Nyonya tidak percaya. Saya bisa apa?" balas Elis pasrah.
"Elis buatkan aku susu." baiklah mari kita sudahi topik pembicaraan ini. Sangat tidak bermutu memang membicarakan Sean sia-lan Balrick.
"Tadi---
"Tidak perlu." suara itu mengintrupsi perhatian Alissa.
Tiba-tiba Sean datang dengan segelas susu di genggamannya. "Aku sudah membuatnya untukmu."
Daripada menerima gelas yang Sean sodorkan, Alissa melengos dengan dengusan sinisnya.
"Aku tidak mau meminum jika itu buatanmu." tolak perempuan itu tanpa basa-basi.
"Kenapa?"
"Bisa saja kau sudah membubuhkan racun di dalamnya." tuduh Alissa asal. Tanpa tahu jika kata-katanya itu telah membuat sebuah hati terluka.
Sia-lan, sakit juga ternyata.
"Aku tidak mungkin meracuni anakku sendiri." balas Sean membantah tuduhan yang Alissa berikan.
"Terserah."
Alissa beranjak pergi. Terlalu malas meladeni tingkah suaminya yang selalu memicu amarahnya.
"Alissa, setidaknya sarapan bersamaku. Aku sudah memasak untukmu."
Alissa tidak jadi pergi. Dia tatap Sean dengan raut tak percayanya. Jadi, benar yang dikatakan Elis.
"Sebenarnya apa maksudmu Sean? Apa rencanamu dengan semua ini?" Alissa sudah tidak tahan untuk bertanya.
Sean menghela nafasnya. "Bukankah semalam sudah aku sudah mengatakannya? Aku akan membuat cinta itu kembali ada."
Mendengar jawaban Sean, Alissa tertawa remeh. "Dan bukankah sudah ku katakan juga? Bawah kau---" Alissa menunjuk dada Sean menggunakan jari telunjuknya.
"Sudah terlambat."
"Percuma kau bersikap manis. Alissa yang dulu, tidak akan pernah kembali." kata perempuan itu yang sebenarnya menyiratkan sebuah arti.
"Dan...mari kita lihat. Seberapa lama kamu akan mengelak dengan perasaanmu sendiri, Alissa."
Sean tatap Alissa dalam sehingga yang ditatap merasa salah tingkah dan mengalihkan perhatiannya.
"Aku tahu, masih ada cinta di dalam hatimu untukku."
"Jangan sok tahu!" Alissa mencoba menyangkal. Sedetik kemudian, perempuan itu tersenyum sarkas.
"Kau ini aneh Sean. Bukankah dulu kau yang selalu mendorongku menjauh? Lalu kenapa sekarang kau membicarakan cinta padaku? Di mana perasaan untuk Stella yang selalu kau agung-agungkan itu?"
Alissa tidak boleh lengah dengan perhatian yang Sean berikan. Bisa saja. Bisa saja laki-laki itu hanya bersandiwara. Lalu ketika dirinya benar-benar luluh, Sean akan kembali mencampakannya dan mengatakan jika Alissa mudah sekali ditipu.
Dia tidak ingin menjadi seperti tokoh Alissa asli. Yang berakhir menyedihkan karena cinta butanya pada iblis seperti Sean Balrick.
Sean terdiam mendengar kalimat Alissa. Benar. Bukankah dia membenci perempuan di depannya ini. Lalu kenapa dia harus repot membuatkan susu untuknya.
Kenapa dia harus rela bangun pagi dan membuat sarapan untuk perempuan yang dia anggap sebagai pela-cur itu. Dan di mana Stella. Kenapa Sean malah melupakan perempuan yang dicintainya.
Sean merasa jika ini bukan dirinya. Sean Balrick tidak seperti ini. Bahkan dia tidak pernah memasak untuk Stella. Tapi Alissa---
Sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu Sean?!
Alissa berdecih melihat diamnya Sean. Perempuan itu beranjak pergi. Meninggalkan sang antagonis dengan segala pemikiran rumitnya.
Sean pandangi gelas yang isinya masih utuh itu tanpa arti. Dia tidak boleh terus seperti ini. Sean harus memastikan sesuatu.
Meletakkan gelas pada meja, laki-laki itu mengejar Alissa. Menarik lengan istrinya hingga menubruk tubuh kekarnya.
"Sean, apa yang kau---
Mata Alissa membulat. Perempuan itu memberontak memberikan perlawanan. Seakan tidak mengijinkan, Sean mengunci pergerakan Alissa dengan mencekal kedua tangan Alissa dan menahannya di atas kepala.
Semakin menghimpit, laki-laki itu dorong Alissa hingga punggungnya membentur kaca yang menjadi pembatas antara dalam rumah dan kolam renang.
Bibir Alissa terasa kebas saat Sean menci-umnya dengan sangat kasar. Memblokir segala perlawanan yang Alissa berikan.
Alissa lemas. Tubuhnya mungkin akan luruh jika saja Sean tidak segera menahan dan menggendongnya ala koala.
Perlahan, ciu-man kasar itu melembut dan penuh perasaan. Seakan menyampaikan hasrat yang terpendam. Sampai Alissa terlena dan...membalas ciu-man itu.
Di sela-sela ciu-mannnya, tanpa disadari, mata Alissa mengeluarkan air mata. Semakin erat dia memeluk leher Sean, semakin deras pula air mata yang keluar.
Alissa...bukankah ini yang kau idam-idamkan selama ini?