"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Kehidupan Pertama?
Sirine polisi dan ambulan saling bersahutan. Keduanya tampak menjalankan tugasnya masing-masing. Saat para polisi mengamankan tempat kejadian perkara, petugas dari rumah sakit mulai mengangkat para korban masuk ke dalam ambulan.
Termasuk Kanaya. Perempuan itu sudah tak sadarkan diri. Darah terlalu banyak keluar dari tubuhnya. Namun, satu hal yang harus disyukuri, dadanya masih menunjukkan adanya pernafasan, meskipun lemah.
Melaju kencang, mobil putih itu membunyikan sirine tanda darurat. Meminta pengertian para pengguna jalan agar dapat menyingkir. Mencoba memberitahu jika di dalam mobil, terdapat nyawa yang harus diselamatkan.
"Siapkan bangkar!! Bawa korban ke IGD!"
Keadaan semakin menegangkan, saat para perawat membawa ranjang khas rumah sakit dengan tergesa. Menimbulkan suara nyaring karena gesekan roda besi dengan lantai.
"Panggil dokter Pram. Katakan ada pasien gawat darurat yang harus ditangani."
Salah satu perawat mengangguk lugas. Menekan tombol khusus di ruang IGD, untuk memanggil dokter yang bersangkutan.
"Pasang infus. Suntikkan kritaloid sesuai kadar."
Tak lama, seorang laki-laki berjas putih masuk ke dalam ruangan. Dari nafasnya yang memburu, terlihat jika dia baru saja berlari untuk sampai ke ruangan ini.
"Bagaimana?"
"Pasien adalah korban kecelakaan. Golongan darah AB negatif. Tekanan darah 145/90 mmHg. Perempuan berusia dua puluh lima tahun."
"Pasien kekurangan banyak darah. Karena benturan yang keras, satu ginjalnya mengalami pendarahan."
Bunyi monitor menambah ketegangan yang tercipta. Pram tampak fokus menangani Kanaya. Sadar jika pendarahan tak kunjung berhenti-- sejenak dokter itu memejamkan matanya kalut.
"Ini tidak akan mudah. Persiapkan ruang operasi." titahnya mutlak.
"Tapi, dok. Belum ada keluarga pasien yang datang untuk diminta tanda tangan persetujuan." jawab salah satu perawat.
"Saya yang akan bertanggung jawab. Siapkan saja ruang operasi sebelum semuanya terlambat." lugas Pram tanpa bisa dibantah.
"Baik."
.
.
Di sisi lain, Kalendra mengemudikan mobilnya bak orang kesetanan. Tak peduli dengan bunyi klakson pengendara lain yang merasa terganggu dengan aksinya tersebut. Bahkan laki-laki itu tak segan menembus lampu merah, tak peduli sekalipun hal yang dilakukannya sangat berbahaya untuk dirinya juga pengguna jalan lain.
Dadanya bergemuruh hebat. Jantungnya berdetak tak beraturan. Semakin liar saat bayangan-bayangan buruk menghantuinya.
"Tidak. Kau tidak bisa meninggalkanku, Kanaya."
Kenapa bisa seperti ini? Belum lewat satu jam dia berbicara dengan Kanaya lewat sambungan telepon. Lalu tiba-tiba dia mendapatkan kabar, mobil yang ditumpangi istrinya mengalami kecelakaan.
Seharusnya Kalendra tidak mengijinkan Kanaya keluar. Seharusnya dia tidak termakan bujuk rayu Kanaya yang ingin datang ke kantornya. Jika saja waktu dapat diputar, lebih baik Kalendra mendengarkan omelan Kanaya karena kekangannya daripada harus mendapatkan berita sialan seperti ini.
Sial. Semua ini terjadi salahnya. Kanaya dalam bahaya itu karenanya.
"Bodoh Kalendra, kau memang bodoh." geram laki-laki itu mengeratkan cekalannya pada setir kemudi.
Tak berselang lama, laki-laki itu tiba di rumah sakit tempat Kanaya ditangani. Memarkirkan mobilnya tak beraturan, Kalendra membuka pintu mobil kasar. Menutup benda itu kencang, lalu segera berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Ruang operasi.
Lampu di luar ruangan masih menyala terang. Menandakan dokter dan para rekannya masih berjuang menyelamatkan nyawa pasien.
Kalendra berdiri tegang di depan ruangan itu. Matanya tak berhenti menatap kaca yang tertutup oleh korden hijau. Keadaannya berantakan. Rambutnya acak-acakkan. Dan yang paling menonjol adalah, matanya yang memerah. Entah karena amarah atau...tangis yang tertahan.
Setengah jam berlalu, Kalendra sama sekali tak berpindah posisi. Masih setia mengintai jendela yang tertutup korden. Seakan, matanya dapat menembus apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Tiba saatnya ketika pintu terbuka, Kalendra tersentak. Dia langkahkan kakinya mendekati seorang laki-laki berseragam hijau yang tengah melepaskan masker.
"Katakan bahwa istriku selamat." lugas Kalendra menuntut adanya kabar baik.
Tatapan tajamnya seakan menjelaskan, jika jawaban sang dokter mengecewakan, maka hidup dokter itu akan dalam bahaya.
Pram--- untuk sejenak dia diam. Membalas tatapan Kalendra gamang. Di sisi tubuh, kedua telapak tangannya mengepal kuat.
"Operasi berjalan dengan lancar. Tapi, keadaan pasien belum bisa dikatakan stabil. Selama operasi, pasien sempat muntah darah sebanyak dua kali. Pendarahan pada ginjalnya terlalu parah. Kita hanya bisa berharap, tidak ada pendarahan susulan yang dapat mengancam nyawanya."
Rahang Kalendra mengencang. Giginya saling bergemelatuk. Gemuruh pada dadanya yang belum hilang, kini semakin jelas terasa. Hatinya tidak bisa tenang, malah semakin resah karena jawaban sialan dari laki-laki di hadapannya.
"Jika sesuatu terjadi pada istriku, aku bersumpah akan menghancurkan rumah sakit ini." desis Kalendra rendah sarat akan ancaman.
Pram mengela nafas berat. Ia pejamkan matanya sejenak untuk mendinginkan otaknya yang hampir terbakar.
"Mungkin kau lupa, dia...juga berharga untukku. Kau tidak berhak mengatakan itu, setelah apa yang kau lakukan kepada kami."
Pram berujar tenang. Kemudian melangkahkan kaki menjauh dari sana. Meninggalkan Kalendra yang tengah mengepalkan telapak tangannya erat. Menahan diri agar tidak menghabisi dokter itu detik ini juga.
Pramudya Abraham. Mantan kekasih Kanaya.
.
.
"Tempat apa ini?"
Di alam bawah sadarnya, Kanaya tampak mengedarkan pandangannya merasa bingung. Bunga-bunga bermekaran di setiap penjuru. Kupu-kupu berterbangan, mengelilingi bunga untuk mencari nektar. Tanah yang dipijakinya ditumbuhi rumput hijau yang halus. awan tampak berkabut, tapi itu malah semakin mengesankan kehangatan.
Kanaya...merasa berada di negeri dongeng.
Ohh, ataukah dirinya berada di surga? Jika memang ini surga, berarti...tubuhnya di dunia aslinya sudah meninggal? Sudah dikubur?
Berjalan setapak demi setapak, harum bunga seakan mengikutinya. Hingga, kening perempuan itu mengernyit dengan mata yang menyipit, tat kala menemukan seseorang tengah duduk pada sebuah gubuk sederhana yang dihiasi oleh bunga.
Tampak orang itu tengah menulis dengan ditemani secangkir teh dan kudapan.
"Bi---Bi Ami?"
Kanaya tidak mungkin salah lihat. Orang itu adalah Bi Ami, pembantu di rumah Kalendra. Tetapi, kenapa bisa ada Bi Ami di sini?
Kebingungan Kanaya semakin menjadi kala orang mirip Bi Ami itu menoleh padanya, tersenyum lembut seolah menginginkan Kanaya mendekat padanya.
Kanaya berjalan mendekat. Harum bunga semakin menguar, terasa segar di indra penciuman Kanaya.
"Bi Ami? Kenapa Bi Ami ada di sini?" tanya Kanaya setelah sampai tepat di dekat Ami.
"Duduklah Nyonya, saya ingin mengatakan sesuatu yang penting."
"Hal penting?" beo Kanaya penasaran.
"Hal penting apa?"
Ami meletakkan pena yang ia gunakan untuk menulis, membalas tatapan Kanaya dengan senyum penuh arti.
"Tentang akhir kehidupan pertama yang tragis."
Deg. Kanaya sempat lupa caranya bernafas. Apakah maksud Bi Ami, kehidupan di dunia aslinya? Wanita paruh baya itu tahu jika Kanaya...adalah jiwa yang tersesat?
"Bi---Bi Ami tahu?"
"Saya lebih dari tahu, karena---" Ami menatap Kanaya penuh arti.
"Saya adalah pengendalinya."
"Hah?!"
Kanaya semakin tak mengerti. Apa maksud dari perkataan Ami.
"Maksud Bi Ami apa? Tolong jangan bermain teka-teki!"
"Nyonya, sebelum saya menjelaskan keseluruhannya, anda harus melihat ini."
Bi Ami menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya, kemudian hal yang tak pernah Kanaya sangka terjadi. Sebuah layar muncul di udara seperti sebuah televisi. Menampilkan gambar hitam putih bak sebuah film.
Tampak pada layar, dua orang remaja berbeda gender yang tengah berbicara serius di sebuah taman. Sang gadis tengah mengobati luka yang berada di wajah sang pemuda.
"Apa sangat sakit?" tanya remaja perempuan berseragam sekolah itu dengan ringisan tertahan.
Sang pemuda tampak tersenyum jenaka, "Awalnya sakit, tapi karena kau yang mengobati rasanya malah...candu. Seperti, aku rela terluka asalkan kau yang mengobati."
"Sinting!" ejek sang gadis, tak pelak dia tertawa geli mendengarnya.
"Serius! Sentuhanmu sudah seperti narkoba untukku."
"Kalendra, berhenti menggombal! Kau lupa ya, aku memilih kekasih."
Ya. Pemuda itu adalah Kalendra dan gadis di sampingnya adalah....Kanaya.