Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap di lembah kabut
Malam itu, rembulan menggantung pucat di atas Sekte Tian Long. Di tengah danau teratai yang tenang, Shang Zhi duduk bersila. Air di sekelilingnya membentuk riak kecil yang ritmis, selaras dengan napasnya yang dalam. Ia tengah menjernihkan akar spiritualnya, membiarkan energi alam yang murni mengalir masuk, membasuh setiap kotoran dalam pembuluh darah spiritualnya. Di bawah permukaan ketenangannya, ada kekuatan kuno yang berdenyut pelan, menunggu saat yang tepat untuk kembali terbangun.
Pagi harinya, suasana di gerbang belakang Sekte Tian Long terasa menyesakkan. Kabut putih yang tebal dan dingin merayap turun dari puncak Gunung Tian Long, menyelimuti rombongan kecil yang bersiap berangkat. Di depan, Shang Zhi berdiri dengan jubah abu-abunya yang sederhana. Wajahnya tenang, seolah ia hanya akan pergi berjalan-jalan di taman, bukan menuju wilayah berbahaya.
Di belakangnya, Lu Feng berjalan dengan langkah angkuh. Matanya yang licik sesekali melirik punggung Shang Zhi dengan kebencian yang sulit disembunyikan. Ia ditemani oleh empat murid senior para loyalis keluarga Lu yang memiliki reputasi sebagai pesuruh yang kejam.
Di kejauhan, dekat pilar gerbang, seorang gadis berdiri dengan tangan terkepal di dada. Yun Xi. Matanya yang jernih memancarkan kecemasan yang mendalam. Ia ingin sekali melangkah maju, ingin memperingatkan Shang Zhi bahwa ini adalah jebakan, namun aturan sekte begitu kaku. Sebagai murid tingkat atas, ia dilarang mencampuri urusan promosi murid baru.
Shang Zhi seolah merasakan tatapan itu. Sebelum sosoknya benar-benar ditelan oleh pekatnya kabut, ia menoleh sedikit dan memberikan anggukan kecil sebuah isyarat bisu yang mengatakan, "Semua akan baik-baik saja."
Lembah Kabut menyambut mereka dengan keheningan yang mencekam. Semakin jauh mereka melangkah, udara terasa semakin dingin dan lembap, menusuk hingga ke tulang. Kabut di sini bukanlah fenomena alam biasa; ia mengandung racun halusinasi ringan yang mulai menggelitik kesadaran.
"Tetap dalam formasi," perintah Shang Zhi. Suaranya rendah namun tegas, membelah kesunyian lembah. Indranya yang tajam telah menangkap getaran-getaran halus di balik semak-semak yang bergetar.
"Jangan sok mengatur, Shang Zhi!" cibir salah satu pengikut Lu Feng, seorang pemuda bertubuh kekar bernama Zhao. "Kami lebih senior darimu dalam hal pengalaman lapangan. Kami tahu cara menangani serigala-serigala lemah di sini. Urus saja dirimu sendiri."
Tiba-tiba, sebuah lolongan panjang yang memekakkan telinga memecah keheningan. Dari balik kabut yang bergulung, belasan pasang mata berwarna merah menyala muncul satu per satu.
"Serigala Api Tingkat 4!" teriak salah satu murid.
Makhluk-makhluk itu memiliki bulu hitam pekat sehitam arang, namun dari sela-sela taring mereka, percikan api menyembur keluar. Panas yang mereka pancarkan bertabrakan dengan udara dingin lembah, menciptakan uap panas yang menyesakkan.
"Serang!" teriak Lu Feng sambil menghunus pedangnya yang berkilau.
Pertempuran pecah seketika. Lu Feng dan anak buahnya bergerak dengan gerakan yang mencolok, menebas ke kiri dan ke kanan, memamerkan teknik pedang sekte mereka untuk menunjukkan dominasi. Di sisi lain, Shang Zhi bergerak seperti bayangan. Ia tidak banyak mengeluarkan tenaga; setiap ayunan tangannya sangat efisien, memukul mundur serigala-serigala itu dengan serangan titik saraf yang tepat tanpa membuang-buang Qi.
Pengkhianatan di Jantung Lembah
Setelah berhasil melewati kepungan pertama, mereka tiba di bagian terdalam lembah sebuah cekungan raksasa tempat Inti Kristal seharusnya berada. Namun, kabut di tempat itu mendadak menebal secara tidak wajar, berubah menjadi warna kelabu gelap.
Shang Zhi tiba-tiba berhenti. Ia merasakan getaran hebat dari bawah tanah, sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih kuat dari apa pun yang mereka hadapi sebelumnya.
"Ada yang salah. Tekanan ini... Mundur sekarang!" teriak Shang Zhi dengan nada yang jarang sekali terdengar mendesak.
Namun, alih-alih bergerak mundur, Lu Feng justru menghentikan langkahnya dan menyeringai lebar. Senyumnya penuh dengan kegilaan dan kemenangan. Dari balik sakunya, ia mengeluarkan sebuah bola hitam kecil yang mengeluarkan aroma tajam dan busuk.
Bom Penarik Binatang.
"Kau ingin kami mundur? Tentu, kami akan mundur," ucap Lu Feng dingin. "Tapi kau tetap di sini."
Tanpa ragu, Lu Feng melemparkan bola itu tepat ke arah kaki Shang Zhi.
Pufff..!
Asap berwarna ungu tajam meledak, menyelimuti tubuh Shang Zhi dalam sekejap. Bau itu sangat menyengat, sebuah feromon buatan yang dirancang khusus untuk memicu kemarahan paling liar dari binatang buas.
"Apa yang kau lakukan, Lu Feng?!" suara Shang Zhi terdengar dari balik kepulan asap ungu.
"Melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak awal untuk membersihkan sekte dari sampah sepertimu," sahut Lu Feng sambil melompat mundur bersama pengikutnya. "Selamat menikmati hidangan utamanya, Shang Zhi. Raja Serigala Api sudah lama tidak mencicipi daging murid jenius."
Dari kegelapan di depan mereka, muncul sesosok makhluk raksasa setinggi tiga meter. Bulunya tidak lagi hitam, melainkan merah membara menyerupai lava cair yang mengalir. Matanya adalah dua lubang api yang membakar. Inilah Raja Serigala Api, penguasa lembah yang kekuatannya setara dengan ranah Spiritual Core.
Lu Feng dan kelompoknya segera melesat pergi, tertawa saat sosok mereka menghilang di balik kabut. "Mari kita lihat apakah martabat dan bakatmu bisa menyelamatkanmu sekarang!"
Sang Penjinak Binatang Buas
Shang Zhi berdiri sendirian. Di sekelilingnya, puluhan serigala api tingkat rendah mulai mengepung, dipimpin oleh sang Raja yang menggeram rendah. Bau dari bom itu membuatnya tampak seperti mangsa yang paling menggiurkan di seluruh hutan.
Tanah di bawah kaki Shang Zhi mulai hangus. Panas yang dipancarkan sang Raja Serigala begitu hebat hingga oksigen di sekitarnya terasa menipis.
Grrrrr....
Raja Serigala itu menerjang dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi ukurannya. Taring raksasanya yang membara terbuka lebar, siap merobek leher Shang Zhi dalam satu gigitan.
Namun, Shang Zhi tidak menghindar. Ia tidak gemetar.
Saat taring itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, Shang Zhi memejamkan mata dan menarik napas dalam. Di dalam kesadarannya, ia melepaskan segel spiritual di punggungnya sedikit lebih lebar dari biasanya.
BOOM!
Aura berwarna emas bercampur ungu meledak keluar dari tubuhnya, menciptakan gelombang kejut yang membuyarkan kabut beracun di sekitarnya. Tekanan spiritual yang sangat kuno, berat, dan dominan memenuhi seluruh lembah. Itu bukanlah energi dari seorang murid luar yang lemah; itu adalah wibawa seorang Ancient Emperor yang pernah memerintah langit dan bumi.
Raja Serigala Api yang tadinya ganas tiba-tiba membeku di udara, lalu jatuh berdebam ke tanah. Tubuh raksasanya gemetar hebat hingga ke sumsum tulang. Insting purbanya, yang telah ada sejak zaman kuno, berteriak bahwa sosok di depannya ini bukanlah manusia biasa. Ini adalah penguasa mutlak dari segala makhluk bernapas.
Shang Zhi melangkah maju. Sepatunya menginjak tanah yang masih membara, namun ia tidak terluka sedikit pun. Ia mengulurkan tangannya yang ramping dan menyentuh moncong sang Raja Serigala.
"Tunduklah," bisiknya. Suaranya tenang, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Secara ajaib, monster mengerikan yang bisa menghancurkan sebuah desa dalam semalam itu menundukkan kepalanya dalam-dalam ke tanah. Ia merintih pelan, mengeluarkan suara rengekan seperti anak anjing yang meminta ampun. Serigala-serigala lain di sekelilingnya langsung menjatuhkan diri, bersujud di atas tanah yang dingin.
Shang Zhi mengusap kepala Raja Serigala itu dengan lembut. "Kau telah digunakan oleh manusia licik untuk tujuan yang hina. Jangan khawatir, aku tidak akan mengambil nyawamu hari ini."
Seolah mengerti, Raja Serigala itu membuka mulutnya. Dengan gerakan perlahan, ia memuntahkan sebuah kristal merah yang bersinar dengan cahaya yang menyilaukan Inti Kristal Api, sumber energinya yang paling berharga.
Shang Zhi mengambil kristal itu, lalu melirik ke arah jalur pelarian Lu Feng. Matanya yang biasanya tenang kini berkilat dengan cahaya dingin yang mematikan.
"Kau ingin aku mati di sini, Lu Feng?" gumamnya, suaranya dibawa angin malam yang kini terasa mencekam. "Sayangnya, kau baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu. Kau tidak hanya gagal membunuhku, tapi kau memberiku sekutu yang paling mematikan di tempat ini."
Shang Zhi melompat ke punggung Raja Serigala Api yang raksasa. Dengan satu perintah batin, binatang buas itu melesat seperti kilat merah, menembus kabut dan hutan. Ia tidak lagi menjadi buruan. Kini, ia adalah pemburu yang sedang mengejar mereka yang telah mengkhianatinya.
Bersambung....