NovelToon NovelToon
SANDIWARA BERUJUNG CINTA

SANDIWARA BERUJUNG CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: marwa18

Demi uang, Keysa setuju berpura-pura menjadi kekasih pria kaya raya. Namun, jebakan ini seharusnya untuk sahabatnya. Kini, ia terperangkap di bawah kendali pria itu. Keysa harus memainkan peran yang bukan miliknya, sebelum rahasia pertukaran identitas ini menghancurkan mereka semua..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marwa18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 MALAM DAN HANGATNYA RUMAH

Hari sudah berganti malam ketika Kesya akhirnya sampai di rumahnya. Wajahnya terlihat lelah, kelelahan terpancar jelas dari setiap gerak tubuhnya yang lesu. dia membuka pintu dengan kunci cadangan, menjatuhkan tasnya sembarangan di sofa ruang tamu.

"Ayaahhh, bundaa" ucapnya pelan,

Belum sempat dia melangkah lebih jauh, sudah terdengar suara dari arah dapur.

"Iyaa,nak " sambut Ayahnya, Pak Bima muncul dengan koran sore di tangan, diikuti oleh ibunya , yang lagi mengeringkan tangan di celemek.

"Astaga, Kesya!" kata bu Ratih, langsung menghampiri putrinya.

"Kenapa kamu pulang selarut ini? Lihat wajah kamu, pucat sekali, nak"

Pak Bima meletakkan koran, tatapan matanya yang teduh penuh kekhawatiran.

"Lembur lagi, nak? Jam berapa kamu tidur semalam?"

Kesya cuma bisa menghela napas panjang, bersandar di pintu dengan mata terpejam. "Tadi malam Kesya enggak tidur, ayah, Bunda. Langsung masuk pagi. Terus tadi ada meeting mendadak sampai sore"

Bu Ratih langsung menarik tangan putrinya. "Ya ampun, Nak. Sudah, jangan cerita lagi. Kamu langsung naik, cuci muka, ganti baju. Malam ini kamu makan yang banyak, lalu langsung istirahat. Besok kan hari libur kamu, tidak ada alasan untuk bangun pagi"

"Iya, bun" jawab Kesya patuh, tenaganya terlalu lelah untuk membantah. dia naik ke kamar, melakukan ritual bersih-bersih diri dengan gerakan seolah tubuhnya terbuat dari timah.

Setelah Kesya terlihat sedikit lebih segar meski rasa ngantuk masih terasa di matanya mereka berkumpul di meja makan. Malam itu, suasana terasa hangat dengan wangi masakan bu Ratih dan candaan biasa dari Elzard, adik laki-laki Kesya yang baru duduk di bangku Sekolah dasar.

Di tengah kehangatan itu,bu Ratih bertanya tentang pekerjaan Kesya. Dan tanpa ditanya, cerita tentang Aksa mengalir gitu aja dari mulut Kesya, ditambah oleh rasa kesal yang masih panas.

"Pokoknya dia itu menyebalkan, Yah!" Kesya menumpahkan kekesalannya sambil mengaduk sup nya dengan sedikit kesal.

"Si manusia robot! Baru datang jam tujuh pagi ,udah buat pengumuman meeting dadakan jam satu siang. emangnya dia pikir kami ini gak punya batas lelah, apa?"

"Dia itu tipe gila kerja yang gak kenal kasihan" lanjut Kesya, nada suaranya penuh kekesalan

"Aku sampai melamun tadi di ruang rapat saking lelahnya. untung enggak sampai tidur sambil ngiler!"

Pak Bima tersenyum tipis, mendengar cerita putrinya dengan sabar. "Tunggu, tunggu. Jadi, karena kamu kesal, kamu sampai menjelek-jelekkan atasan kamu di depan kami?"

"Tentu saja!" kata Kesya,

"Dia pantas dijelek-jelekkan. Dia CEO yang gak manusiawi!"

Bu Ratih menggeleng pelan

"Sabar, Sayang. Dengarkan Ayah kamu. gini Nak, setiap pemimpin punya cara pandang dan tuntutan yang berbeda. Mungkin, Aksa ini melihat pekerjaan dan target lebih penting dari segalanya, apalagi ini proyek baru, kan?

"Betul kata Bunda kamu, Kesya" kata Pak Bima dengan nada bijak.

"Dalam dunia kerja, gak semua orang akan sesuai dengan kemauan kita. Kamu harus belajar memisahkan antara rasa kesal pribadi dan tuntutan profesional. Dia memang menyebalkan karena membuat kamu lembur, tapi mungkin, di matanya, dia hanya memastikan perusahaannya berjalan dengan sempurna. Kamu gak bisa menjelek-jelekkan seseorang hanya karena dia punya standar kerja yang tinggi"

Mendengar nasihat bijak dari orang tuanya, Kesya memang sedikit mereda sedikit emosinya, tapi tetap aja dia merasa belum puas.

"Pokoknya dia itu sombong, Yah! Dan angkuh! Dan"

"Tapi, tampan, kan, Kak?" sela Elzard dengan cengiran jahilnya, memegang dagu sambil melihat Kesya.

langsung, perdebatan Kesya terhenti.

"Tampan dari mana? Biasa aja!" kata Kesya cepat.

Elzard tertawa. "Tadi di kantor katanya melongo, Kak. Kalau biasa aja, kenapa sampai melamun di meeting? Hayooo"

"Aku melamun karena mau tidur, Zard!" Kesya membela diri.

"Bukan karena dia tampan! Tapi, karena otak aku udah blank!"

Elzard gak menyerah. "Oke, oke. Tapi, kalau dibandingkan dengan aku, dia lebih tampan siapa? Lebih tampan dia atau aku?"

Kesya pura-pura berpikir sebentar lalu mengibaskan tangan dengan raut wajah seolah jijik.

"Tentu saja adik kakak yang lebih tampan, Elzard! Dia itu gak ada apa-apanya dibanding kamu. Jauh!

"Mungkin dia harus banyak-banyak bersaing sama kamu kalau mau dibilang tampan!"kata kesya

Elzard tertawa terbahak-bahak mendengar pembelaan ala Kesya yang melebih-lebihkan. Pak Bima dan bu Ratih ikut tersenyum melihat tingkah laku kedua anak mereka. Suasana meja makan kembali hangat, diisi oleh tawa dan cerita , melupakan beban pekerjaan dan CEO menyebalkan di kantor. Malam itu, Kesya kembali menemukan semangatnya dalam kehangatan keluarganya.

Menuju danau kenangan

Keesokan paginya, Kesya bangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih santai. Hari Sabtu adalah hari libur, dan dia berencana memanfaatkannya sebaik mungkin. Rencananya sudah bulat: menghabiskan waktu dengan Dila, sahabat sekaligus kakak.

Setelah menghubungi Dila, Kesya mengajaknya melakukan perjalanan singkat.

"Dila ,kita ke Danau yuk? udah lama banget kita enggak ke sana" ajak Kesya penuh semangat.

"Wah, ide bagus, Kesya! Danau tempat kita sering bolos saat les piano waktu kecil itu, kan?" jawab Dila dari telepon dengan tawa renyah.

Mereka pun sepakat.untuk pergi ke Danau.sebuah danau kecil yang tenang, letaknya gak terlalu jauh dari pinggiran kota, tempat yang selalu mereka kunjungi sejak kecil untuk mencari ketenangan.

Mereka memutuskan untuk naik transportasi umum, Bus Kota bernomor 17, yang selalu menjadi bagian dari kenangan masa kecil mereka. Perjalanan dengan bus terasa lambat, tapi justru itu yang membuat momen ini berharga.

Di dalam bus, mereka duduk di kursi belakang, kepala Kesya bersandar di bahu Dila. Mereka penuh canda tawa, mengenang hal-hal konyol yang pernah mereka lakukan. Mulai dari saat Kesya jatuh dari pohon mangga saat SMP, sampai kisah kencan pertama Dila yang berakhir memalukan

"Ingat enggak, waktu kita patungan buat beli es krim rasa durian yang ternyata enggak enak banget?" Dila tertawa lepas, menutup mulutnya.

"Astaga! Aku sampai sekarang masih trauma sama es krim durian" balas Kesya, ikut tertawa terbahak-bahak.

Mereka turun di pemberhentian terakhir, membeli dua batang es krim dan beberapa bungkus cemilan kesukaan mereka. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang menuju ke danau.

Saat tiba di tepian Danau itu, Kesya dan Dila langsung duduk di bangku kayu tua yang sudah menjadi 'milik' mereka sejak dulu. Pemandangan danau yang tenang, airnya yang memantulkan langit biru, dan udara segar langsung menghapus semua penat yang Kesya rasakan akibat lembur Aksa.

Mereka berdua menghabiskan waktu dengan cara yang paling sederhana dan paling bermakna. Mereka makan camilan, berbagi es krim, dan bercerita tanpa henti.

Dari cerita konyol di kantor Swastamita Karya, Kesya mulai bercerita tentang Aksa lagi tentu saja dengan keluhan, tapi kali ini sedikit berkurang rasa kesalnya. Dila mendengarkan dengan sabar, sesekali memberikan tanggapan yang menggoda.

Hingga pembicaraan mereka beralih ke masa depan, ke topik yang selalu menjadi bahan diskusi menarik bagi dua sahabat: tipe suami idaman.

"Kalau aku, ya Dil" ujar Kesya, melihat ke permukaan danau.

"Aku mau suamiku itu yang santai. Yang kerja keras.iya, tapi tahu waktu istirahat. Yang gak gila kerja sampai lupa caranya tertawa. Pokoknya kebalikan Aksa!"

Dila tersenyum, menyikut Kesya pelan. "Oh, jadi CEO menyebalkan itu udah jadi patokan, ya? Kalau aku,Kesya. aku mau yang penyayang, yang bisa jadi teman hidup sejati. Yang mendukung impian aku, sesederhana apapun itu"

Mereka tertawa.

Hidup mereka mungkin penuh drama dan penyamaran yang rumit saat ini, tapi di pinggiran danau ini, semuanya terasa sederhana, indah, dan tenang.

Sesederhana apapun tempatnya, jika dilewati bersama seseorang yang sangat penting, seperti Dila bagi Kesya, momen itu bisa menjadi lebih bermakna dan menenangkan jiwa. Kesya tahu, inilah yang dia butuhkan:seorang teman dan kehangatan sejati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!