NovelToon NovelToon
Bloody Marriage

Bloody Marriage

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Balas dendam. / Mafia / Balas Dendam / Persaingan Mafia / Tamat
Popularitas:6.5M
Nilai: 5
Nama Author: Alianna Zeena

Kenyataan menyakitkan, amarah mengalahkan kasih dan cinta. Enrique Norman Derullo dengan segala egonya, meninggikan amarah dan merendahkan mata hati. Pemimpin klan El Sinaloa itu enggan mengakui, bahwa seseorang yang ingin dia sakiti adalah penentu hidup dan matinya.

Silahkan baca Part 1 untuk melihat deskripsi dan gambaran novel.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alianna Zeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bloody Marriage 16

Vote sebelum membaca😘

.

.

Perlahan, Norman membuka pintu kamar Marc, memperlihatkan pria tua yang sedang memandang keluar jendela kecil. Menatap hutan lewat kamarnya yang menolak direnovasi, masih mempertahankan desain lama yang begitu suram dan menakutkan. "Kakek…."

"Norman, bagaimana keadaan El Sinaloa?"

"Semua berjalan sesuai yang kau inginkan, Kakek."

"Bagus, semuanya harus kuat supaya Van Allejov tidak dapat berkutik."

Norman hanya diam memandang pria yang duduk membelakanginya. "Aku akan membawa Malia keluar."

Pria itu berhenti mengetuk jendela dengan jemarinya. "Jangan terburu-buru, Norman. Ingat prinsip hidup kita, tidak ada yang perlu dihukum jika tidak bersalah, tidak ada alasan berdiri di sisi yang benar."

Norman masih diam. Mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Marc.

"Kita biarkan Malia membuat kesalahan."

Keterdiaman Norman melanjutkan kalimat Marc yang tertahan. "Aku benar bukan, Norman?"

"Ya, kau benar, Kakek."

"Aku selalu benar, tidak ada alasan kau bisa membangkangku."

"Sí, Kakek."

Marc tersenyum miring, dia mengisyaratkan agar Norman mendekat dengan jemarinya. Pemilik manik abu itu mendekat, berjongkok dan membiarkan Marc mengusap bahunya. "Dengar, Norman, akan kita buat neraka untuk Malia, mengerti?"

"Sí, Kakek."

"Sekarang pergilah, bawa dia menggirup udara segar dan biarkan dia bahagia sesaat."

Tanpa berkata, Norman keluar dari ruangan itu. Semakin jauh dia berjalan dari kamar itu, detak jantungnya mulai kembali normal, kepalan tangannya mulai melemah dan keringat dinginnya berhenti menakuti.

Dia naik ke kamarnya, menatap Malia yang sedang mengikat rambutnya sendiri, sambil sesekali mengambil anggur yang dibawa Norman.

"Kau sudah siap?"

Perempuan itu menengok, dengan senyuman indahnya. "Sí, apa kita benar-benar akan ke pantai?"

"Kau harus melihat keindahan Puerto del Marqués." Norman mengambilkan jaket untuk Malia kenakan. 

Manik itu bersinar, menatap suaminya penuh dengan rasa kebahagiaan. "Apa kita akan menginap di sana? Berapa lama?"

"Selama yang kau inginkan."

"Bisa aku menelpon Papaku di sana."

"Tentu," ucap Norman menggendong Malia, membawanya menuruni tangga.

Dan bagian favorit Malia saat Norman melakukan ini adalah mencium leher Norman, merasakan aroma maskulin suaminya, yang membuatnya merasa aman dan nyaman. 

Norman menurunkannya di mobil, mengikatkan tali pengaman padanya. "Jangan banyak bergerak."

"Baiklah."

Senyuman Malia tidak pudar saat mendapati Norman memasukan dua koper ke dalam bagasi. Dikiranya, mereka akan berbulan madu. "Apa kau sudah memberitahu Marc?"

"Sí, dia sudah tahu, tenang saja."

Sepanjang perjalanan Malia tidak dapat berhenti tersenyum. Mereka melewati jalanan gelap yang dipenuhi oleh pepohonan. Hingga Malia mendapatkan ada siluet seorang pria bersenjata, senyumannya luntur. "Kenapa ada pria bersenjata di sini, Norman?"

"Mereka menjaga mansion."

"Mengelilingi? Dengan cara berada di dalam hutan?"

"Kakekku punya ketakutan tersendiri, dia menyewa orang agar tidak ada yang masuk ke jalan mansion secara sembarangan, hutan ini adalah kawasan pribadi. Dia berhak melakukannya."

Malia tahu Marc berhak melakukannya, tapi ini terasa menakutkan baginya. Membuatnya merasa ada hal janggal. Di malam yang gelap, dalam hutan yang rindang, terdapat pria bersenjata untuk menjaga mansion yang ada di tengah hutan. Membuat Malia bertanya-tanya ketakutan apa yang dialami Marc hingga dia seperti itu.

"Kenapa di mansion tidak ada sinyal?"

"Karena Kakek trauma akan masa lalu." Hanya itu yang Norman katakan, enggan menyebutkan kalau ponsel Malia saja yang tidak bisa digunakan di tempat itu.

Sampai akhirnya ponsel Malia berbunyi saat masuk ke jalan raya. "Aku mendapatkan ratusan pesan dan panggilan tidak terjawab dari Papa."

"Hubungi dia segera." 

Malia segera melakukan video call, hanya dalam hitungan detik sudah terangkat. "Papa?"

'Malia, kenapa kau tidak meninggalkan pesan? Apa yang terjadi? Kenapa ponselmu dan ponsel Norman tidak aktif? Aku hampir saja pergi ke Meksiko untuk melihat keadaanmu.'

Malia terkejut oleh runtutan kata. "Maaf, Papa. Aku tinggal di Puerto del Marqués bagian dalam hutan, tidak ada signal."

'Apa kau bercanda? Biarkan aku bicara dengan Norman!' wajah Don memerah melepuh.

"Tidak, Papa, Norman sedang mengemudi. Dia bisa tidak konsentrasi. Aku baik-baik saja, kami sekarang sedang menuju teluk dan menginap di villa."

'Malia, Papa tidak suka kau menghilang begitu saja. Ini tidak benar, Papa ingin bicara dengan Norman.'

"Papa." Malia mengatakannya dengan penuh penekanan. Dia menarik napas dalam sebelum mengatakan, "Aku bahagia."

Don memejamkan matanya, dia terlihat sedang menurunkan amarahnya di sana. 'Jaga dirimu baik-baik. Jaga putriku dengan baik, kau dengar aku, Norman?'

"Sí, aku akan menjaga istriku dengan baik, sangat baik."

'Bagus, kini setidaknya aku bisa tenang.'

****

Mata cokelat itu tidak bisa berhenti mengagumi keindahan teluk di luar jendela, menunggu Norman yang membawakan cemilan untuknya.

Mendengar pintu terbuka, Malia segera menengok. "Kau tidak membawa cemilan?"

"Ayo kita ke pinggir teluk."

"Kita sudah berada di pinggir teluk, Norman."

"Maksudku membiarkan tubuh kita menyentuh pasir."

Malia terkekeh, dia merentangkan tangannya membiarkan Norman membawanya keluar. Menuruni tangga kayu sebelum kaki telanjang pria itu menyentuh pasir. 

Malia menatap teluk, di mana terdapat bulan di atasnya. Malam yang cerah, banyak taburan bintang.

"Kau menggelar kain itu? Menyiapkan anggur?"

"Ya, aku melakukan ini untukmu."

Malia terkekeh, dia tertawa dan mencium pipi suaminya. "Gracias."

"Aku lakukan apapun untukmu."

Tepat di pinggir teluk, ditemani suara ombak pantai, mereka menggelar kain dengan ditemani anggur. Malia duduk di sana, membiarkan kakinya berselanjar dan menyentuh air. Sungguh menyenangkan merasakan semua ini. Penuh kedamaian, tidak ada yang memandangnya sebelah mata maupun berbisik tentang kekurangannya. Hanya ada kedamaian, dengan genggaman dari seseorang yang dicintainya.

"Apa kau suka?"

"Sangat."

"Kau ingin belajar melukis? Aku bisa mencari guru yang baik untukmu, supaya kau tidak bosan di rumah."

"Aku rasa tidak," ucap Malia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Aku belum terlalu menyukainya."

"Lalu apa yang kau sukai?" Tanya Norman memberikan ciuman di puncak kepala.

"Aku suka ballet……."

Nada suara Malia merendah, membuat Norman berani mengatakan, "Kau ingin melanjutkan pengobatan? Untuk kakimu?"

"Kau tahu kakiku takkan bisa berfungsi lagi sampai kapanpun. Apa kau keberatan?"

"Apa maksudmu?"

Malia menatap Norman, pria itu sejak tadi menatapnya datar. "Aku tidak bisa berjalan sampai kapanpun, Norman. Kau mungkin akan kesal denganku, jalanku lambat, aku tidak bisa berjalan di sampingmu dan dibanggakan untuk menemui temanmu."

Norman memindahkan Malia ke dalam pangkuannya, dia memberikan ciuman dalam hingga membuat Malia menciut merasakan sensasi yang baru-baru ini dia rasakan, dan membuatnya candu.

"Aku senang kau tidak bisa berjalan, Malia."

Perempuan itu menegang. "Kau senang?"

"Ya, karena aku bisa menahanmu bersamaku. Kau tidak akan bisa lari ke manapun, Malia. Kau harus tahu itu."

---

**Love

ig : @Alzena2108**

1
syalala
gila.. udah December 2025, tapi gue masih aja kesini ngecek kelanjutannya..
Cakittt banget di ghosting penulis favorit </3

Dear beloved Author, Zee. Hope u find your happiness. Even tho it's mean that this Novel will be stuck forever in this part 😭💔
Nur Amina
2025 kesini lg😑
Leslie Arief
ini apa ada edisi cetak yg uda tamat sperti la senorita edisi cetak? mohon info ya
Noppy Monica: ga ada mba. penulisnya udah hiatus sama sekali udah ga mau update kelanjutan novel ini
total 1 replies
Nunung Suwandari
kak Zee ayok kembali kalaupun pindah tolong kasih kami notif 😔
fi aja
baguss
trueNetizen
cerita Louis ko jadi komedi 😄, tp aku suka
Dwi Nasrul
sdh bbrp th lwt n jauh² kemari msh jg gantung gni crta nya....kapan kelar nya cobak???
sayur_kubuk
rawwwaww....
anggap aja Auman singa macan dan harimau wkwkwk
Dian Ariestia
mampir kesini di tahun 2025 ,tp ternyata Masi gantung dan belum ada kelanjutan ,are you okey kak Zee ?
Nayy
10 bunga,vote tapi jangan kelamaan up nya yaa
Nayy
up up up
Nayy
up up up kak
Meliana Siregar
perfect
Meliana Siregar
Tak terduga
☘️⃟🆑🍾⃝🎐⃟ͧC͠ʜᴀᷫғͧɪᷠɪ̽ɴⷡᴛᷧ͜ᴀͤ
ternyata dari dulu smpai sekarang masih menggantung cerita noorman dan maia... kak zee sambung lagi dong, kangen berat aku
ian: dsnini tidak ada kabar,di Ig juga tidak siapalah yang kenal sama zee
total 1 replies
Ana Akhwat
Akhir yang tidak jelas
Pipit Andayani
thor kt nya mau d lanjut d sini tp msh stuck aja ...
Nayy
sweruuuu....deg deg ser
ini subscribe kedua untuk genre mafia setelah only 200 day mr.mafia
good...segera up
Nayy
cuuus lanjut up
Nayy
thorrrr.....😭😭😭😭 kenapa bawang nya kebanyakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!