Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ENAM BELAS
Saat jam pulang kerja dan Pak Edo sudah meninggalkan ruangan, suasana kantor mulai lengang.
Sementara Mikhasa masih sibuk menandai beberapa map dengan stabilo, merapikan dokumen-dokumen sesuai kategori, lalu menulis catatan kecil di buku yang kecil.
Sekalipun posisi ini adalah “posisi titipan”, Mikhasa tetap berniat bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia tidak ingin terlihat bodoh di depan Axel atau di depan siapa pun.
“Berhenti bekerja.”
Suara bariton Axel memotong udara tenang itu seperti pisau. Mikhasa refleks berhenti menulis. Perlahan ia mendongak, dan mendapati Axel sudah berdiri di depan meja kerjanya.
Pandangan Axel yang fokus pada dirinya.
“Ini bahkan sudah akhir waktu kerja,” lanjut Axel sambil melirik jam di pergelangan tangan. “Kenapa kau masih mencatat tentang pekerjaan?”
Mikhasa menunduk. “Sebentar lagi. Saya hanya mencatat beberapa hal yang harus segera saya pahami,” gumamnya, kembali menulis.
Axel mendekat dalam tiga langkah pelan, suaranya rendah namun tegas. “Kau bisa mencatatnya besok.”
Tiba-tiba, sebuah tangan meraih pena dari jari Mikhasa. Cepat. Tegas. Tanpa permisi. Mikhasa membeku. Tangannya masih diam ditempat, memegang kehampaan. Ada rasa jengkel yang naik ke ubun-ubun, tapi ia menahannya mati-matian.
Axel duduk santai di sisi meja kerja Mikhasa menyandarkan sedikit tubuh ke tepi meja. Ia memainkan pena itu dengan dua jarinya, memutarnya seolah itu barang miliknya sejak lahir.
Mikhasa meliriknya tajam. Pria ini... benar-benar tidak punya konsep privacy. Baiklah. Pulang saja. Daripada makin gila. Ia memasukkan catatan kecil ke dalam tas, lalu mengambil tablet kerjanya. “Apakah ini boleh saya bawa pulang, Tuan Axel?”
Axel menoleh, pandangannya naik turun dari tablet lalu ke wajah Mikhasa. Ia mengangguk kecil.
“Boleh,” jawabnya santai. Senyuman nakal muncul di sudut bibirnya. “Bawa aku sekalian juga boleh.”
Mikhasa menatapnya seperti melihat alien.
“Serius, deh… ada ya orang narsis dan super pede kayak kamu?” Nada suaranya sudah tidak sopan lagi tapi Axel justru terlihat makin terhibur.
Axel mengangkat sebelah alis, masih memutar pena itu. “Ada,” jawabnya tenang. “Orangnya lagi duduk di samping kamu.”
Nada suara itu membuat tengkuk Mikhasa merinding sebelah, antara risih, sebel, dan… ya sedikit terintimidasi.
Ia cepat-cepat memasukkan tablet ke dalam tas. Satu hal yang harus ia pahami hari ini. Axel Mercier bisa membuat orang kehabisan kesabaran dalam waktu lima detik. Axel benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata.
“Silakan pulang,” ucap Axel sambil memutar pena yang tadi direbutnya. “Jangan kerja lagi. Aku nggak mau kamu kecapekan.”
“Terima kasih, Tuan,” balas Mikhasa setengah ketus, setengah sopan. Ia meraih tasnya, memeriksa isinya sebentar.
Axel memiringkan kepala, memperhatikan Mikhasa yang perlahan melangkah pergi.
“Tunggu,” katanya.
Langkah Mikhasa terhenti. Ia memejamkan mata sebentar. Semoga bukan permintaan aneh lagi…
“Apa lagi, Tuan?” tanyanya, menoleh perlahan.
“Kuantar pulang.”
Hening. Mikhasa menghela nafas. “Tidak. Terima kasih,” jawab Mikhasa cepat. “Saya naik taksi saja.”
Axel menatapnya seolah dia baru saja menerima penolakan yang sangat tidak masuk akal. “Tempat tinggal kamu jauhkan, Mikha."
“Justru itu. Tidak usah repot—”
“Kamu pikir, apakah aku repot nganterin kamu pulang?” potong Axel, mengangkat satu alisnya. “Aku cuma repot kalau kamu hilang di jalan.”
Mikhasa menatapnya, jengkel sekaligus bingung. “Saya bukan anak kecil, kenapa saya bisa hilang? Saya cuma pulang—”
“Bisa aja. Kamu orangnya suka mikir macam-macam. Apakah kau lupa pernah kabur dari restoran dan bahkan mengundurkan diri tiba-tiba dari perusahaan Luminary Dataworks?"
“HEY!”
Axel tersenyum, senyum kecil yang sangat jarang keluar dari pria dingin itu. “Santai, Sweetheart. Ayo pulang bersama."
Mikhasa menghela napas, menatap Axel tajam. “Kalau saya tetap naik taksi?”
Axel menatap balik. “Ku ikuti taksinya dari belakang.”
Mikhasa. “…”
Axel berdiri, menaruh pena milik Mikhasa kedalam saku jasnya, lalu melangkah mendekati wanita itu.
“Pilih yang mana?”
Mikhasa akhirnya menutup mata sebentar. Ini bukan memilih metode pulang. Ini lebih seperti memilih level stres mana yang lebih kecil.
“Baiklah. Anda antar saya pulang.”
Axel tersenyum puas. “Good girl.”
Mikhasa mendesis pelan. Dalam hati, satu hari bekerja aja udah bikin darah tinggi. Besok harus mulai minum vitamin deh.
🌿🌿
Mereka duduk berdampingan di kursi penumpang. Axel masih dengan stelan jas mahalnya yang rapi, Mikhasa dengan wajah lelah yang mencoba tetap terlihat profesional. Sopir mengemudi tenang melewati padatnya lalu lintas sore hari.
Mikhasa menatap keluar jendela. Ia menggigit bibir. Harus ngibulin Axel kemana? Tidak mungkin ia menyebut kontrakan aslinya. Pria ini… terlalu berbahaya. Axel terlalu nekat, terlalu seenaknya. Takut Axel tiba-tiba muncul lagi di depan pintu kontrakannya seperti malam itu di apartemen… tidak. Jangan sampai.
Dari spion dalam, sopir, Pak Darren, melirik Mikhasa sebentar, lalu ke Axel, lalu kembali fokus ke jalanan. Lampu merah sudah terlihat di depan sana.
“Maaf, Tuan,” ucapnya sopan. “Kemana saya harus mengantar Anda berdua?”
Axel yang sejak tadi sibuk chat dengan dokternya, segera mendongak lalu menoleh, pandangannya jatuh tepat pada Mikhasa.
“Di mana tempat tinggalmu, sweet heart?”
Nada itu… tenang, datar, dan tetap menyebalkan. Mikhasa menghela napas panjang. Ia memutar bola mata sebelum menjawab. “Apartemen Saffron Residence, daerah Eastwood District.”
Di dalam hati, ia berdoa semoga Axel tidak tahu bahwa itu alamat palsu atau lebih tepatnya apartemen temannya yang sudah pindah dari kota.
Sopir mengangguk sekali, profesional, lalu memutar setir ke arah kiri begitu lampu hijau menyala. Mobil melaju, memasuki area kota yang lebih padat.
Satu setengah jam dari tempat mereka sekarang.
Mikhasa menatap kembali jalanan yang bergerak pelan di balik kaca. 'Jangan sampai Axel tahu lokasi yang sebenarnya. Jangan sampai Axel tahu terlalu banyak tentang kamu, Mikha.' teriaknya dalam hati.
Tiba-tiba Mikhasa menguap kecil. Ia memejamkan mata sejenak lalu mengumpat pelan, “Sial… kenapa malah ngantuk.”
“Tidur saja,” ujar Axel tanpa menoleh, nada suaranya tenang namun memerintah. “Aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai.”
“Tidak akan,” sahut Mikha cepat. Ia duduk lebih tegak, seolah itu bisa mengusir kantuknya.
Axel tertawa, rendah, hangat, tapi menyebalkan. “Kau ini kenapa sih? Santai saja. Aku nggak bakal macam-macam.”
Mikhasa menoleh cepat. “Anda pikir saya percaya?”
Tatapan mereka bertaut sesaat, Axel tersenyum miring. Mikhasa mengerutkan kening.
“Kalau aku berniat macam-macam, aku nggak akan capek-capek mengantarmu pulang ... tapi kau sudah kubawa pulang dari tadi.”
“Axel Mercier?! Beraninya kau!!” Mikhasa akhirnya meledak juga, wajahnya memerah karena marah.
Axel hanya terkekeh puas, menikmati reaksi itu.
“Perjalanan dari sini ke apartemenmu hampir dua jam,” kata Axel sambil melirik kaca depan. Sebenarnya jaraknya hanya satu setengah jam, tapi dengan lalu lintas yang padat seperti itu, dua jam adalah kemungkinan besar. “Bagaimana kalau kita makan malam dulu? Baru nanti kau pulang.”
“Terima kasih tawarannya, Tuan. Tapi tidak perlu. Lebih baik saya segera pulang daripada berlama-lama dengan anda.”
Axel tersenyum lebar menerima penolakan itu, seolah Mikhasa adalah hiburan yang tak ia duga dan tak ingin ia lepaskan. Dia menatap Mikhasa lebih lama. Ada kelembutan di matanya, tatapan yang dulu hanya ia berikan pada Liora.
Ia rindu... Rindu pada kekasihnya yang kini telah tenang bersama bintang-bintang di angkasa.
"Sayangnya itu bukan tawaran tapi perintah," ucap Axel dan ia langsung menerima tatapan marah dari gadis itu.
“Dasar pria pemaksa!” kesal Mikhasa.
Axel terkekeh pelan. 'Tapi mereka adalah dua orang yang berbeda.' Tangannya terangkat, untuk diletakkan di atas kepala Mikhasa, mengusap rambut gadis itu lembut. “Dasar keras kepala,” ucapnya rendah.
Mikhasa menegang. Ia menepis tangan itu dengan cepat. “Jangan sentuh aku sembarangan!”