Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. Gadis Di Samping Kebun
Nama aslinya adalah Nurina Larasati, sebuah nama yang terdengar indah namun jarang disebut oleh siapa pun di Desa Sukamerta. Sejak kecil, orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Naya. Nama itu bukan sekadar panggilan singkat, melainkan pemberian langsung dari almarhum ibunya. Ibunya pernah berkata bahwa nama yang sederhana akan lebih mudah diingat, dan doa yang tulus tidak harus dibungkus dengan sesuatu yang rumit.
Bagi Naya, nama itu menyimpan kenangan yang tidak pernah pudar. Setiap kali seseorang memanggilnya, ia seperti mendengar kembali suara ibunya—lembut, penuh kasih, dan selalu menenangkan. Ibunya sering memanggilnya sambil tersenyum, terutama saat Naya kecil pulang bermain dengan kaki kotor dan baju penuh debu.
Ibunya juga pernah berpesan, bahwa hidup tidak selalu ramah, terutama bagi perempuan yang harus berdiri sendiri. Karena itu, ia berharap Naya tumbuh menjadi gadis yang kuat, tidak mudah menyerah, dan mampu menjaga dirinya dalam keadaan apa pun. Pesan itu tertanam kuat di hati Naya, bahkan setelah ibunya tiada.
Kini, nama Naya menjadi satu-satunya warisan yang selalu ia genggam erat. Di balik kesederhanaannya, nama itu mengingatkannya untuk tetap bertahan, sekuat apa pun hidup mencoba menjatuhkannya.
Desa tempat Naya tinggal bernama Desa Sukamerta, sebuah desa kecil yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Untuk mencapai desa itu, orang harus melewati jalan beraspal yang sudah banyak berlubang, lalu melanjutkan perjalanan melalui jalan tanah yang membelah hamparan sawah dan kebun warga. Jika hujan turun, jalan tersebut berubah licin dan berlumpur, membuat perjalanan terasa semakin panjang.
Di sepanjang jalan, pepohonan tumbuh rapat dan tinggi, seakan membentuk lorong alami menuju desa. Sawah terbentang luas dengan warna hijau yang menyejukkan mata, sementara rumah-rumah warga berdiri sederhana, berjajar rapi tanpa pagar tinggi. Sinyal telepon sering kali tidak stabil, bahkan menghilang sama sekali di beberapa titik.
Saat malam tiba, Desa Sukamerta berubah menjadi tempat yang sangat sunyi. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada lampu-lampu terang seperti di kota. Yang terdengar hanyalah suara jangkrik, katak dari pematang sawah, dan angin yang menyapu dedaunan. Kesunyian itu bagi sebagian orang terasa menakutkan, tetapi bagi Naya, justru itulah ketenangan yang selama ini ia kenal.
Di desa inilah Naya tumbuh, belajar mengenal hidup dari alam dan kesederhanaan. Sukamerta mungkin bukan tempat yang menjanjikan kemewahan, tetapi desa itu mengajarkannya tentang kesabaran, keikhlasan, dan arti pulang yang sesungguhnya.
Naya tinggal di sebuah rumah sederhana yang berdiri tepat di samping kebun miliknya. Rumah itu tidak besar, tetapi cukup untuk seorang diri. Dindingnya dari bata yang telah lama diplester, catnya mulai memudar dimakan usia. Di beberapa sudut, tampak retakan kecil yang dibiarkan begitu saja karena Naya belum sempat memperbaikinya. Atap rumah masih menggunakan genteng tanah liat yang terkadang bocor saat hujan turun terlalu deras.
Di bagian depan rumah terdapat teras kecil dengan sebuah bangku kayu tua. Bangku itu menjadi tempat favorit Naya untuk duduk di sore hari. Dari sanalah ia memandangi kebun yang terbentang luas di samping rumahnya. Kebun itu bukan sekadar tanah yang ditanami sayur-mayur, melainkan warisan terakhir dari kedua orang tuanya.
Di kebun itulah Naya menghabiskan sebagian besar hidupnya. Ia mengenal setiap sudut tanah, tahu bagian mana yang paling subur dan mana yang harus lebih sering disiram. Tanaman-tanaman tumbuh berbaris rapi—sayuran hijau di satu sisi, umbi-umbian di sisi lain. Setiap tanaman seolah memiliki cerita sendiri, sama seperti kenangan yang tertinggal di hati Naya.
Bagi Naya, rumah dan kebun itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya menyimpan kenangan tentang ayah dan ibunya, tentang masa kecil yang sederhana, serta tentang janji dalam hatinya untuk tetap bertahan menjaga apa yang telah ditinggalkan untuknya.
Kehidupan Naya berubah sejak kepergian kedua orang tuanya. Ayahnya meninggal lebih dulu karena sakit yang tidak sempat tertangani dengan baik. Jarak fasilitas kesehatan yang jauh dan keterbatasan biaya membuat pengobatan ayahnya terhenti di tengah jalan. Naya masih mengingat jelas malam ketika ayahnya menghembuskan napas terakhir, diiringi hujan yang turun tanpa henti dan doa-doa yang terucap lirih.
Beberapa tahun kemudian, ibunya menyusul. Sejak saat itu, rumah yang selama ini terasa hangat berubah menjadi sunyi. Tidak ada lagi suara langkah di dapur, tidak ada lagi panggilan lembut yang menyebut namanya setiap pagi. Naya harus belajar menerima kenyataan bahwa ia kini benar-benar sendiri.
Banyak orang menyarankan agar Naya meninggalkan desa dan ikut kerabat ke kota. Mereka merasa Naya terlalu muda untuk menanggung hidup seorang diri. Namun, Naya memilih bertahan. Ia merasa, pergi dari rumah itu sama artinya dengan meninggalkan kenangan terakhir orang tuanya. Kebun dan rumah itulah satu-satunya harta yang ia miliki.
Hari-hari setelah itu tidak selalu mudah. Ada masa ketika Naya merasa lelah dan hampir menyerah. Namun setiap kali keraguan muncul, ia selalu mengingat pesan ibunya—bahwa hidup harus dijalani dengan sabar dan penuh keikhlasan. Dari situlah Naya belajar berdiri sendiri, menata hidupnya perlahan, dan menerima kenyataan tanpa banyak keluhan.
Sejak hidup sendiri, kebun menjadi bagian terpenting dalam keseharian Naya. Setiap pagi, bahkan sebelum matahari sepenuhnya terbit, ia sudah bangun untuk menunaikan salat Subuh. Setelah itu, tanpa banyak beristirahat, ia langsung bersiap menuju kebun yang terletak tepat di samping rumahnya. Udara pagi masih terasa dingin, embun menempel di ujung daun, dan tanah lembap oleh sisa hujan semalam.
Dengan langkah pelan, Naya menyusuri bedengan tanaman satu per satu. Ia memeriksa daun-daun yang mulai menguning, mencabut rumput liar, dan menyiram tanaman yang terlihat layu. Kangkung, bayam, dan sawi menjadi tanaman yang paling sering ia panen karena masa tanamnya yang singkat. Sementara singkong dan ubi dibiarkan tumbuh lebih lama, menunggu waktu yang tepat untuk diambil.
Semua pekerjaan itu ia lakukan seorang diri. Tangannya sering kotor oleh tanah, punggungnya terasa pegal, namun ia sudah terbiasa dengan kelelahan. Jika matahari mulai meninggi dan keringat mengalir di dahinya, Naya hanya berhenti sebentar, mengusap wajah, lalu kembali bekerja. Ia tahu, hasil dari kebun itulah yang akan membiayai kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Sesekali, saat duduk beristirahat di tepi kebun, Naya memandangi tanaman-tanaman itu dengan perasaan campur aduk. Ada lelah, ada syukur, dan ada doa yang ia panjatkan dalam hati. Baginya, bekerja di kebun bukan hanya tentang bertahan hidup, melainkan juga cara untuk menghargai warisan orang tuanya.
Naya hanyalah lulusan Madrasah Aliyah. Ia tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena keterbatasan biaya. Setelah lulus, ia langsung fokus membantu orang tuanya di kebun hingga akhirnya harus menjalani hidup seorang diri. Keputusan itu sempat membuatnya merasa berbeda dari teman-temannya yang melanjutkan kuliah ke kota.
Namun, Naya tidak pernah merasa rendah diri. Ia menerima keadaannya dengan lapang dada. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Baginya, ilmu tidak hanya didapat dari bangku sekolah, tetapi juga dari pengalaman dan kerja keras yang ia jalani setiap hari.
Penampilan Naya sangat sederhana. Ia lebih nyaman mengenakan pakaian longgar dengan warna-warna netral. Ia tidak terbiasa berdandan berlebihan atau memakai perhiasan mencolok. Sikapnya tenang, tutur katanya lembut, dan ia selalu berusaha menjaga batas dalam pergaulan.
Warga desa mengenal Naya sebagai gadis yang sopan dan tidak banyak bicara. Ia jarang terlibat dalam percakapan panjang, tetapi selalu siap membantu jika dibutuhkan. Kesederhanaan dan keteguhannya membuat banyak orang menghormatinya, meski tidak semua orang benar-benar memahami beban hidup yang ia pikul seorang diri.
Di Desa Sukamerta, Naya dikenal sebagai gadis yang jarang menimbulkan masalah. Ia tidak banyak bicara, tetapi selalu hadir jika dibutuhkan. Saat ada kegiatan gotong royong, pengajian, atau acara desa, Naya hampir tidak pernah absen. Ia lebih sering membantu di bagian belakang—menyiapkan minuman, membersihkan tempat acara, atau mengantar keperluan yang kurang diperhatikan orang lain.
Warga desa menghormatinya bukan karena ia kaya atau berpendidikan tinggi, melainkan karena sikapnya yang sopan dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Jika berpapasan di jalan, Naya selalu menyapa lebih dulu. Senyumnya sederhana, tetapi tulus.
Ketua RT Desa Sukamerta, Bu Sulastri, adalah salah satu orang yang paling memperhatikan Naya. Perempuan paruh baya itu sudah mengenal Naya sejak kecil. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Naya tumbuh menjadi gadis yang mandiri setelah kehilangan kedua orang tuanya. Dalam hati, Bu Sulastri sering merasa iba sekaligus kagum. Ia tahu, tidak semua orang mampu menjalani hidup sendirian dengan tenang seperti yang dilakukan Naya.
Sesekali, Bu Sulastri menanyakan kabar Naya atau sekadar mengirimkan makanan. Naya selalu menerimanya dengan penuh terima kasih, meski ia jarang meminta bantuan. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun, meski sebenarnya hidupnya tidak selalu mudah.
Suatu hari, ketenangan Desa Sukamerta sedikit terusik oleh kedatangan sebuah mobil berwarna hitam. Mobil itu melaju perlahan melewati jalan tanah desa, menimbulkan debu tipis yang membuat beberapa warga menoleh. Tidak biasa ada kendaraan seperti itu masuk ke desa mereka, apalagi berhenti tepat di depan rumah Bu Sulastri.
Beberapa anak kecil berhenti bermain dan memandangi mobil itu dengan rasa ingin tahu. Beberapa ibu yang sedang duduk di teras rumah saling berbisik, menebak-nebak siapa tamu yang datang. Tak lama kemudian, seorang pria muda turun dari mobil tersebut.
Namanya Aditya Wirawan, biasa dipanggil Adit. Ia adalah keponakan Bu Sulastri yang datang dari kota. Penampilannya terlihat rapi dan berbeda dari pemuda desa pada umumnya. Pakaian yang dikenakannya bersih dan tertata, sepatunya tampak mahal, dan raut wajahnya menunjukkan seseorang yang terbiasa hidup di lingkungan yang serba nyaman.
Adit datang ke desa bukan untuk berlibur. Kepada Bu Sulastri, ia hanya mengatakan bahwa dirinya ingin menenangkan pikiran. Masalah apa yang sedang ia hadapi, tidak pernah ia ceritakan secara rinci. Bu Sulastri pun tidak banyak bertanya. Ia hanya berharap kehadiran keponakannya tidak mengganggu ketenangan desa.
Hari pertama Adit di Desa Sukamerta berjalan biasa. Ia membantu Bu Sulastri membersihkan rumah, lalu berjalan menyusuri desa untuk mengenal lingkungan sekitar. Baginya, desa itu terasa sangat berbeda dari kehidupan kota yang selama ini ia jalani—sunyi, sederhana, dan jauh dari hiruk-pikuk.
Tanpa ia sadari, kehadirannya perlahan akan membawa perubahan. Sementara itu, Naya masih menjalani harinya seperti biasa, tanpa mengetahui bahwa seseorang dari dunia yang sangat berbeda telah datang dan akan menjadi bagian dari hidupnya.
Sore itu, matahari mulai condong ke barat ketika Naya masih berada di kebun. Ia memanen beberapa ikat bayam dan kangkung, lalu menatanya rapi di dalam keranjang bambu. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan yang basah. Bagi Naya, suasana seperti ini selalu menenangkan. Ia merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri saat berada di kebun.
Di saat yang hampir bersamaan, Adit berjalan menyusuri jalan desa. Langkahnya terhenti ketika pandangannya tanpa sengaja tertuju pada kebun di samping sebuah rumah sederhana. Di sana, ia melihat seorang gadis berhijab sedang bekerja dengan tenang. Gerakannya tidak tergesa, seolah ia menyatu dengan apa yang dikerjakannya.
Adit berdiri beberapa saat, tanpa benar-benar menyadari mengapa langkahnya terhenti. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang menarik perhatiannya—kesederhanaan yang jarang ia temui di kehidupan kota. Namun ia tidak mendekat. Ia hanya melanjutkan langkahnya, menyimpan pemandangan itu dalam benaknya.
Sementara itu, Naya sama sekali tidak menyadari kehadiran Adit. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri, menata rencana untuk esok hari dan berdoa agar hasil kebun cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Baginya, hari itu hanyalah hari biasa, seperti hari-hari sebelumnya.
Namun takdir sering kali bekerja dalam diam. Pertemuan yang belum terjadi, pandangan yang belum saling bertaut, perlahan mulai menenun benang cerita. Desa Sukamerta, yang selama ini sunyi dan sederhana, akan menjadi saksi awal dari perubahan yang tak pernah Naya duga sebelumnya.
Selamat siang cerita baru ya...
Tinggalkan jejak kalian like komen nya.