Ketika cinta telah menemukan tempatnya untuk berlabuh, tak ada siapapun yang mampu mengurai tautan yang terjalin antara dua insan manusia. Sesakit apapun hati yang tersayat karena luka, takdir tetap menjalankan kuasanya.
~Jangan melihatku dari apa yang nampak, karena tak semua yang indah memiliki kesempurnaan. Aku sangat mencintaimu, namun aku harus membangun benteng yang tinggi karena sakit yang telah kau ciptakan~ Aaliya
~Meski kau bukan yang pertama di hatiku, tapi aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Aku takkan pernah melepasmu dan membiarkanmu terbang begitu saja, karena hati ini telah kau genggam dan kaulah satu-satunya yang memiliki. Maaf maaf dan maaf yang mampu ku ucap~ Abian
Apa yang sesungguhnya terjadi antara Aaliya dan Abian? Silahkan baca dan nikmati karya ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega.ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Kelam (2)
"Kau bahagia?" Tanya Abian pada gadis yang sudah sah sebagai istrinya itu.
"Aku sangat bahagia," ucap Maysarin tersipu malu.
Ya, nama gadis itu Maysarin. Wajahnya seindah namanya, mata bening dan wajah mungil menandakan dirinya yang masih polos. Gadis itu terkejut saat seorang pria tampan yang menjadi idola tiba-tiba mendekatinya.
Dengan enteng dia mengajukan pernikahan sebagai bukti, nyatanya Abian menanggapinya dengan serius dan diwujudkan dalam waktu yg singkat.
Abian menyentuh gadisnya dengan lembut, ia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Maysarin adalah wanita pertamanya, cinta pertamanya dan sentuhan pertamanya.
"Aku mencintaimu, Maysarin," ucapnya berulang kali sesaat setelah malam pertamanya usai ia laksanakan.
Maysarin tersenyum sangat indah, "Aku juga mencintaimu."
Abian mencium pucuk kepala istrinya lembut, "Aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia."
Maysarin memeluk suaminya erat, meski malu tapi ia tak mampu membohongi diri jika Abian telah mengikat hatinya erat dan membuat dirinya melayang saat pria itu ada di atasnya.
"Kita akan berjuang bersama-sama, sayang," lanjut Abian.
Perjuangan dari nol, sungguh membutuhkan kerja keras dan pembuktian.
Hari-hari di awal pernikahan sepasang muda mudi itu sangatlah indah, bagaikan kicauan burung di pagi hari, sangat merdu. Abian mulai bekerja di sebuah kantor swasta yang bergerak di bidang pariwisata, sementara Maysarin tetap di rumah.
Bukan rumah mungkin disebutnya, karena hanya sebuah bangunan kecil yang memiliki dua ruangan dan harus membayar sewa tiap bulannya.
Dua bulan kemudian Maysarin meminta kuliah, Abian menyanggupi. Sebagai seorang suami, dia bertekad melakukan segala hal untuk kebahagiaan istrinya. Orang tua Maysarin hanyalah orang biasa, sehingga semua biaya kuliah Maysarin ia tanggung, tak mungkin memberatkan mertuanya karena ia bertanggung jawab atas segala hal pada diri Maysarin sekarang.
Dan tiga bulan setelahnya Maysarin dinyatakan hamil, sungguh berita yang luar biasa. Abian berpikir jika ibundanya mengetahui hal ini pasti akan sangat bahagia, namun tak mungkin. Sejak pernikahannya dengan Maysarin, ia tak pernah bertemu dengan keluarganya, semua menjauh kini.
"Menurut perkiraan bu bidan, bulan depan aku akan melahirkan, apakah kau sudah siapkan uang untuk biaya persalinan nanti?" Tanya Maysarin menghela nafas sejenak, "Uang semester pun belum terbayar, aku sampai tidak bisa mengikuti ujian tadi pagi," ucapnya kesal.
"Tenang sayang, aku akan berusaha."
"Sekeras apapun kamu berusaha, gajimu di kantor kecil itu tidak akan berubah. Kenapa kamu tidak mencari kantor yang lebih besar dan bisa menggajimu lebih tinggi."
Abian menatap istrinya nanar.
"Atau kau minta saja bantuan pada orangtuamu, bukankah mereka cukup kaya!" lanjut Maysarin.
Deg.
Abian terperangah mendengar kata yang dilontarkan istrinya itu.
"May, kita sudah berkomitmen untuk berjuang bersama-sama bukan? Kita akan membuktikan pada mereka jika kita mampu berdiri sendiri."
Tidak, bukan kita. Hanya Abian, dialah yang bersikukuh pergi dari orangtuanya, melepas semua fasilitas yang didapatkannya selama ini dan membuktikan jika ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
"Buktikan ucapanmu," jawab istrinya singkat.
Sementara Maysarin, ia tidak pernah bermimpi untuk hidup susah. Kehamilannya ia harap bisa meluluhkan keluarga Abian pada hubungan mereka, namun nyatanya Abian justru menutup rapat-rapat hal itu. Ia kesal, sungguh kesal.
Abian banting tulang demi memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya. Disamping bekerja ia juga berjualan apa saja, menjadi makelar jual beli motor, mobil ataupun tanah yang penting bisa menghasilkan uang.
Dia sangat menyayangi keluarga kecilnya, kehadiran seorang putra menambah semangatnya dalam bekerja. Abian pria yang akan melakukan segala hal demi kebahagiaan orang-orang yang dia sayang, dia gigih dan pantang menyerah. Meski dulu ia adalah anak yang manja, nyatanya kini ia tak pernah mengeluh.
Perjuangan hidupnya kini harus terjal, mampukah ia melewati semuanya?
.
.