Laura Scarlett adalah seorang gadis yang tidak diinginkan oleh keluarganya, sehingga mereka membuangnya begitu saja sejak kecil, Laura scarlett tumbuh menjadi seorang gadis cantik ceria dan lembut dia di asuh oleh suami istri Johanson yang berasal dari estonia meskipun dia berasal dari British Utara yang kental.
Suatu hari ayahnya di serang sekelompok perompak, ketakutannya semakin nyata dan dia begitu benci dengan perompak, tetapi sayangnya nasib mempertemukannya dengan seorang perompak bernama Sean Nicholas Hoult bermata safir yang terang, seorang perompak yang membuat hatinya dan tubuhnya hanyut dalam gairah dan kesengsaraan.
Kisah perjalanan hidup dan cinta laura Scarlett bersama dengan pria yang membuat hidupnya sengsara tetapi juga mencintainya
Whisper of the Sea 2
Leona Lewstin adalah seorang gadis yang hidup di sebuah pulau hilang atau di sebut pulau berhantu oleh para bajak laut. Suatu ketika dia melihat seorang pria yang tidak sadarkan diri berada di bibir pantai, dia lantas menolong pria bernama Edmund Alexander, yang tidak sadarkan diri setelah ombak menggulungnya, apakah menolongnya adalah pilihan yang tepat bagi Leona?
Bijak dalam membaca, Warning !!! bukan bacaan untuk di bawah umur ya!!!
~Vote Coment and like di tunggu ya tmn2 readers, so author lebih semangat nulisnya☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vol 16
Sean Hoult bukan pria yang akan membiarkan kekalahan berdiri di hadapannya, dia akan berbuat apapun untuk mengambil miliknya kembali, dia perompak yang kasar, berambisi merebut semua yang menjadi miliknya, kuat tangguh bahkan dia bisa membuang segalanya demi meraih kembali kekuasaan yang pernah di milikinya. Dominan kata yang cocok buat sean Hoult wanita selalu menghampirinya tanpa diminta, dia adalah perompak yang tidak memperdulikan perasaan cinta, bahagia, dan kecewa dan hal remeh lainnya, dia hanya pria yang ingin merebut semuanya, bahkan dia bisa mengorbankan segalanya apapun itu.
Rembo berlari kencang menuju kapal, ingin memberikan informasi kepada sang kapten. Dia melompat ke dek kapal lalu mencari Sean.
"Kapten, dia datang. Pria yang mengincar wanitamu ada di toko roti sekarang". Lapor rembo.
"Kau sudah memeriksa latar belakangnya?" tanya Sean sambil menajamkan pisau belatinya.
"Dia adalah tuan muda dari keluarga besar bangsawan Alexander yang berasal dari British raya, namanya Edmund Alexander, putra sulung dari Grand Duke Alexander yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Empress dari Britania raya".
Sean bersiul, "benarkah? tapi ini membuat semuanya semakin menarik". Dia tersenyum licik, menyimpan belatinya di saku celananya, lalu memakai kemejanya.
"Kapten, apa yang akan kau lakukan? Dia bukan hanya Keluarga bangsawan saja, dia keturunan Duke dan masih memiliki hubungan keluarga dengan Empress, kita tidak boleh gegabah kapten". Kata Al dengan wajah serius memperhitungkan segalanya.
"Cih, kau akan tahu apa yang akan kulakukan Albert, dari pada kau memikirkan hal remeh ini, seharusnya kau lebih memperhatikan kapal yang sebentar lagi akan bersandar, sepertinya kapal barang itu juga mengalami kerusakan karena badai".
Sean lalu melompat melintasi hutan dan semak menuju desa Kaali, Serbuan ladang barley panjang membentang, sean hanya perlu melintasinya dalam beberapa jam dan sean akan tiba di ujung desa.
Sean melintasi ladang barley tidak begitu terburu-buru, dia mendengar suara aneh dari sebelah kiri tidak jauh dari tempatnya. Suara itu semakin dekat, Seseorang mendesah hebat meneriakkan nama seorang pria. Sean mulai mengikuti jejak suara wanita itu lalu mendapati seorang wanita paruh baya dengan makeup tebal dan bibir merah merona sedang duduk diatas tubuh seorang pria sambil bergerak-gerak kasar, sang pria meneriakkan namanya dengan kencang. "Lori..lori lebih cepat lori". Teriak sang pria.
Sean mendengus lalu bergumam. "Lori? bukankah dia pemilik toko roti di tempat Laura?" Suara gemerisik dari ladang barley membuat mereka berdua berbalik, tetapi sean sudah tidak ada di sana dia berlari begitu kencang menuju Laura. "Sial"! teriak Sean.
~
Laura betul-betul terperangkap, dia wanita yang tidak begitu gesit, meskipun dia gadis lemah tetapi diapun mempunyai keinginan kuat untuk melawannya. Edmund tersenyum miring memperhatikan gerak gerik Laura, membayangkannya bergerak-gerak liar di bawahnya membuat Edmund semakin tidak sabar ingin membawa Laura pergi dari tempat ini.
"Apa lagi yang kau pikirkan Laura? kau ingin lari?" dia tersenyum matanya berkilat tajam.
"Kau bisa lari kapan saja sayang, tapi.. sayangnya tubuhmu yang cantik itu akan terluka karena mereka yang mengejarmu tidak akan memperlakukanmu dengan lembut, tetapi jika kau datang padaku, aku akan memperlakukanmu selembut mungkin, pasrah menyerahkan dirimu seutuhnya tanpa perlawanan."
Laura menggertakkan giginya, dia begitu membencinya.
"Brengsek ! jangan mendekatiku". Teriak laura dengan pandangan benci. Dia tertawa keras meledek perkataan Laura, "brengsek? kau hanyalah wanita penggoda yang menjual tubuhmu pada Seorang perompak, cih jangan membuatku tertawa Laura, aku mendengar desahan dan teriakanmu di pantai kau pasti sangat menikmatinya". Pandangannya begitu hina menatap Laura.
Laura menahan amarahnya, sebentar lagi air mata yang ditahannya akan segera mengalir.
"Terserah apa yang kau katakan, tapi ingat ! aku sama sekali tidak Sudi di Sentuh olehmu". Laura mundur lalu lari dari pintu belakang, Suara umpatan terdengar dari Edmund dia mengejar laura, tidak perduli secepat apapun Laura berlari Edmund dengan mudah meraihnya.
Tubuhnya ditarik keras ke tubuh Edmund, teriakan-teriakan keras Laura membuat Edmund menutup mulutnya lalu menariknya kedalam hutan yang lebih dalam.
"MMPHHH.....
Edmund menyentak Laura hingga terjatuh di tanah, tubuhnya memberontak keras terkungkung di tubuh Edmund, meskipun dia pria terhormat dan seorang bangsawan yang memiliki prioritas tinggi dalam hal kesopanan tapi untuk urusan wanita dia suka bermain kasar menyiksa tubuh wanitanya hal itu membuat gairahnya semakin memuncak.
Laura terus memberontak, kedua tangannya dipegang erat oleh Edmund yang menindihnya, Laura berteriak minta tolong kepada siapapun tetapi dia berada di hutan yang sepi, hanya suara teriakan dan tangisnya yang pecah memenuhi keheningan di hutan yang gelap dan sepi itu.
Satu tamparan telak melekat di pipi laura, membuatnya berjengit kesakitan, memberikan jeda untuk Edmund yang kemudian melahap bibir Laura dan menciumnya dengan kasar. Edmund sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada Laura untuk bernapas di saat dia mencumbunya hingga dia jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri.
"Sial ! hanya ciuman seperti ini dan kau pingsan? sungguh tidak menarik." gumam edmund yang mulai membuka kancingnya satu persatu.
"Tunggu saja aku akan membuatmu terbangun, kau harus merasakan diriku Laura". Suara kecupan terdengar dari dalam hutan, hingga pakaian Laura nyaris hilang sama sekali.
Laura mulai bergerak-gerak di bawah tubuh Edmund, dia merasakan sensasi hangat dan basah di tubuhnya, "Bagus ! kau harus bangun Laura". bisiknya di telinganya, bergumam dan sesekali mengecupnya.
Suara langkah kaki di hutan membuat Edmund berbalik, rambutnya yang rapi kini berantakan selagi memaksa dan mencium Laura, kemejanya yang putih terbuka lebar hingga memperlihatkan tubuhnya. Dia tahu seseorang memperhatikannya, dia lalu tersenyum miring menerawangi hutan dari berbagai arah.
"Keluar !" seru edmund.
Sean berjalan dengan santai, dia bersiul tanpa merasakan beban apapun di pundaknya. "Siapa kau?" tanya edmund tenang.
Sean melengkungkan bibirnya, lalu menatap Laura yang terbaring di tanah tidak sadarkan diri. "Aku kesini ingin mengambil milikku." serunya.
"Milikmu? pemahaman melekat diwajahnya, "Seorang perompak eh!" dia lalu menatapnya dan Laura bergantian.
"Ya, wanita itu milikku kau menyentuh milik seseorang." kata Sean datar.
Edmund lalu tertawa keras, "Laura yang kau bilang milikmu itu, bagaimana kalau aku ingin membelinya?" tanya Edmund tersenyum miring, "Lagi pula kau sudah puas memilikinya." kata Edmund tanpa perasaan.
"Sayangnya aku tidak bisa, Laura sudah menjadi milikku dan akan terus menjadi milikku." Kata Sean tajam.
"Sebenarnya terlalu mudah mengatakan ini, tapi hanya aku sendiri bisa menghadapimu, meskipun begitu kau tahu orang-orangku tidak akan tinggal diam mereka tidak jauh dari sini, mereka akan mendengar pertarungan kita".
Sean menatapnya tajam begitupun edmund, "Cih, kau menang untuk hari ini." Edmund lalu berbalik meninggalkan Sean, kemudian dia berhenti, "Wanita itu, akan menjadi milikku." Dia tersenyum sinis kepada Sean lalu beranjak pergi menjauh.
~
Suara debur ombak dan burung-burung yang berkicau membuat Laura membuka matanya, beberapa luka di tubuhnya dan tanda merah berbekas di pipinya. "ugh, Sangat perih." gumamnya sambil memegang pipinya yang dikompres, dia mengambil kain yang ada di pipinya, lalu menatap tempatnya tertidur.
"Kapal? ini....kapal milik Sean."
Laura berdiri dan berjalan keluar pintu ke dek utama. Tidak ada seorangpun di sana, Sebentar lagi matahari terbenam menampakkan keindahannya, Laura memandangnya lalu terdiam dan merasakan hembusan angin laut menerpa tubuhnya yang ramping.
"Kau sudah sadar?" Suara tapak kakinya terdengar melangkah mendekati Laura menatapnya tajam, membuat Laura tertunduk salah tingkah.
"Aku sudah menyuruh orang-orangku menjauh dari kapal." gumamnya.
"Kenapa? tanya Laura. Sean mendekatinya lalu memeluk pinggangnya, kemudian berbisik dibibirnya.
"Aku tidak ingin di ganggu jika kita bercinta di dek ini, aku ingin tempat yang luas dan terbuka." Dia menjelajahi leher Laura dan menghirup wanginya.
Laura mendorongnya, matanya kemudian menggenang, dia menampar Sean. "Hanya itu yang kau pikirkan, kau tidak datang..kau tidak menolongku dengan cepat ketika brengsek itu mengejarku, yang kau pedulikan hanyalah tubuhku."
Sean tidak berbicara sama sekali, dia lalu berbalik menatap lautan.
"Kau pikir seorang perompak sepertiku memiliki perasaan kasih sayang, cinta untuk seorang gadis? jangan mengharapkan sesuatu seperti cinta dan bahagia dariku Laura, kau benar yang kubutuhkan hanyalah tubuhmu Laura, kau milikku tentu saja aku tidak akan membiarkan seorangpun menyentuhmu dan aku menginginkanmu sekarang." geramnya.
"Kau ! kau tidak ada bedanya dengan brengsek itu." Teriak Laura dia lalu berlari menuju anjungan kapal, dengan cepat sean mengejarnya tetapi Laura tanpa ragu menjatuhkan dirinya dari atas kapal terjatuh dan tenggelam di deburan ombak yang ganas.
GK suka juga sosok Sean klo kasar dng Laura ..dan gak suka dng kelakuannya yg setiap saat memakan Laura..hanya nafsu yg dikedepankan,apakah Krn dia laki2 pelaut Krn kalau pelaut rata2 wataknya kasar dan libidonya kuat harus ada pelepasan setia waktu
padahal cintanya buat Sean
seharusnya dia meronta jng terlena hampir sja si mut2 melancarkan rudalnya.
alah Laura kurang percaya pada cinta sendiri..sdh ditidurin Sean berkali2 masih sja mau dibuai si mut2..
seharusnya pastikan dulu klo Sean benar2. TDK mencintainya juga baru cari cinta yg lain.