Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 Menolak
Universitas Jakarta.
Di luar gerbang kampus universitas Jakarta, kampus bergengsi terasa lebih riuh dari biasanya. Para mahasiswa terlihat bahagia dengan tawa yang pecah tanpa beban.
Bagaimana tidak sore ini mereka merayakan hari wisuda mereka setelah perjuangan yang begitu panjang, setelah pagi banyak proses yang mereka lakukan di dalam aula. Para mahasiswa itu mengabadikan momen-momen bersama dengan mengambil berbagai foto sebagai kenang-kenangan.
Ada yang mengangkat toga tinggi-tinggi, ada yang berpose kaku sambil tertawa malu, ada pula yang sengaja meloncat di detik terakhir sebelum kamera berbunyi.
Ponsel berpindah tangan, sudut diatur ulang, dan kalimat yang sama diulang berkali-kali,
“Ulangi, tadi belum pas.” Mereka tidak lelah, seolah ingin menahan waktu agar sore itu tidak segera berakhir.
"Aluna...." suara lembut itu seketika membuat hening.
Gadis berusia 20 tahun yang tertawa lepas membalikkan tubuhnya, tawanya seketika hilang.
"Kak Jiya," ucapnya kembali tersenyum saat wanita berhijab tampak anggun membawa boucket bunga tersenyum kepadanya.
Wanita itu melangkah menghampiri Aluna.
"Selamat atas wisuda kamu!" ucap Jiya memberikan bucket bunga tersebut pada Aluna.
"Terima kasih. Kak," Aluna terlihat bahagia dihadiri wisuda oleh sang Kakak membuatnya memeluk Kakaknya itu.
"Ayo Aluna, ajak Kakak kamu untuk foto-foto!" salah satu temannya memanggil membuat Aluna menganggukkan kepala dan menggenggam tangan Jiya.
Jiya ikut bergabung dengan teman-teman Aluna yang ramah-ramah, senyum lebar kembali mereka berikan pada jepretan kamera yang sedang menanti.
Jiya melihat teman-teman Aluna dengan ekspresi tidak terbaca, senyum tipis yang dia torehkan.
Setelah acara wisuda selesai akhirnya Aluna dan Jiya berada di dalam mobil dengan sopir yang menyetir kedua gadis tersebut yang duduk di bangku belakang.
"Apa rencana kamu setelah lulus kuliah?" tanya Jiya.
"Aluna memiliki cita-cita untuk menjadi wanita karir. Aluna akan memasukkan lamaran pekerjaan di Perusahaan besar," jawabnya.
"Aluna, kita ini sebagai wanita dan wanita dikodratkan untuk berada di rumah, melayani suami dan memenuhi kebutuhan suami," sahut Jiya.
"Aluna memahami hal itu, tetapi seorang wanita juga berhak untuk meraih cita-citanya dan bukan hanya menjadi pelayan seorang suami. Aluna masih muda dan apa salahnya masa muda dijalankan untuk bekerja agar tidak ketinggalan," jawabnya dengan bijak.
"Tetapi bukankah kamu sudah pasti tahu bahwa Umi dan Abi sedang menjodohkan kamu," ucap Jiya.
Aluna menanggapi dengan datar.
"Kamu jangan lupa Aluna, keluarga kita adalah keluarga islami dan meski kamu salah satu orang yang tidak menaati peraturan dalam keluarga kita. Tetapi kamu tidak bisa menyangkal untuk menolak perjodohan itu," ucap Jiya mengingatkan.
"Aluna memiliki seseorang yang Aluna sukai. Kak Firman," jawabnya berterus terang.
"Tetapi Umi dan Abi tidak memberi restu untuk kalian berdua," ucap Jiya.
Wajah Aluna tampak begitu sedih. Bagaimana tidak, di saat usianya masih muda dan selama ini ada seseorang yang selalu mendukungnya, tetapi jelas dia mengetahui bahwa hubungan itu tidak ada restui.
"Kamu sebaiknya berhenti membuat Umi dan Abi marah. Kamu harus menerima takdir lahir dari keluarga yang seperti apa," ucap Jiya menggenggam tangan adiknya itu.
Aluna terdiam sesaat dengan perkataan itu.
******
Tidak lama mobil itu berhenti di kediaman rumah Aluna. Rumah mewah 2 lantai dan tampak terlihat terparkir beberapa mobil di sana.
"Kak. Apa ada tamu?" tanya Aluna.
"Memang ada, tamu untuk kamu," jawab Jiya tersenyum penuh maksud.
"Maksud Kakak bagaimana?" tanyanya kebingungan.
"Ayo turun!" ajak Jiya membuka pintu mobil terlebih dahulu.
Ketika Jiya sudah turun dari mobil tiba-tiba saja mobil tersebut melaju.
"Aluna!" panggil Jiya melihat adiknya ternyata tidak ikut turun.
"Astagfirullah Aluna, kamu benar-benar ya," ucapnya dengan geleng-geleng kepala.
Jiya memasuki rumah dan sesuai dugaannya di dalam memang sedang ada tamu.
"Assalamualaikum!" sapa Jiya.
"Walaikum Salam," sahut semuanya serentak.
Jiya dengan tersenyum menghampiri orang-orang yang ada di ruang tamu itu. Mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan kemudian tiga orang yang lebih tua pada tamu mereka.
Jiya menyatukan kedua tangannya pada seorang pria tampan yang duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya. Pria berkarismatik berkulit putih itu menanggapi dengan wajah datar.
"Di mana Aluna Jiya?" tanya Umi membuyarkan lamunan Jiya yang sejak tadi terus memperhatikan pria yang mencuri perhatiannya.
"Aluna tadi berpamitan jalan sebentar untuk merayakan wisudanya bersama teman-temannya," jawab Jiya terpaksa berbohong.
"Astagfirullah anak itu, bukannya langsung pulang terlebih dahulu dan sudah main pergi saja," gumam Abi dengan geleng-geleng kepala.
Sang istri mencoba untuk menenangkannya dengan menggenggam tangannya agar suaminya Abraham tidak terbawa emosi.
"Jiya kamu duduklah. Perkenalan ini keluarga Pak Hartono dan Bu Risma. Ini putra pertama mereka Ravindra Alanka," Umi Wulan memperkenalkan tamu mereka kepada putri pertama mereka.
"Ini calon suami Aluna," lanjut Abi.
"Lalu dimana calon menantu kami?" tanya Risma.
"Aluna sedang mengikuti acara makan-makan bersama teman-temannya. Ini hari wisuda Aluna," jawab Jiya.
Tampak kekecewaan terlihat dari kedua wajah calon mertua Aluna.
"Ini hanya pertemuan saja. Saya sedang membicarakan pernikahan ini kepada Aluna. Insyallah semua berjalan dengan lancar," sahut Abi membuat keluarga calon besannya mengangguk-anggukkan kepala.
Mereka berharap apapun yang dikatakan keluarga calon menantu mereka memang benar bahwa perjodohan itu berjalan dengan lancar.
Mata Jiya ternyata sejak tadi tidak lepas menatap Ravindra.
******
"Keterlaluan kamu Aluna. Kamu bisa-bisanya pergi begitu saja di saat calon suami kamu datang. Apa kamu tidak bisa menghargai orang yang ingin menikah dengan kamu?" Abi saat ini berdiri di depan Aluna yang menunduk duduk di sofa.
Ketika pulang kerumah Aluna habis-habisin dimarahi Umi dan Abinya karena sikap kecerobohannya.
"Kenapa Abi harus menjodohkan Aluna. Aluna baru saja lulus kuliah dan masih ingin mengejar cita-cita," ucapnya memberanikan diri.
"Cita-cita seorang wanita tetap pada kodratnya yaitu menjadi seorang istri. Sudah saatnya kamu menikah," tegas Abi.
"Aluna kamu sudah menjalankan pendidikan dengan baik, lulus dengan baik dan itu artinya tugas kamu untuk menuntut ilmu sudah selesai. Aluna menjadi seorang wanita tidak boleh serakah, dan harus mengikuti takdir kamu. Sudah saatnya kamu untuk menikah. Umi dan Abi sudah memilihkan calon suami yang tepat untuk kamu," lanjut Umi.
"Kamu jangan bertanya Aluna kenapa Kakak belum menikah. Kakak juga pernikahan yang sedang disiapkan oleh Abi," sahut Jiya.
"Baiklah! Aluna akan menikah, tetapi Aluna akan menikah dengan pilihan Aluna sendiri. Mas Firman adalah pilihan Aluna," ucapnya dengan tegas.
"Berhenti menyebut nama laki-laki itu. Laki-laki itu tidak pantas untuk kamu dan Abi sudah mengatakan kepada kamu jangan pernah menjalin hubungan lagi dengan dia. Di dalam keluarga kita tidak ada berpacaran dan kamu sudah melanggar hal itu. Kamu juga sudah dewasa dan sampai saat ini kamu tidak memakai hijab. Kamu tidak bisa melihat contoh dari Kakak kamu!" tegas Abi.
"Abi. Apa salah jika Aluna ingin menjadi diri sendiri, meraih cita-cita, meraih karir dan menentukan calon suami sendiri. Apa itu salah?" tanyanya dengan nada begitu lembut.
"Dalam ajaran Islam, seorang wanita yang baik hanya taat pada suaminya. Jangan pernah melewati kodrat kamu sebagai seorang muslim!" tegas Abi membuat Aluna terdiam.
Bersambung.....
...Hay para pembaca setia, terima kasih hari ini sudah mampir. Saya Author kembali membuat Novel baru, selalu besar harapan saya untuk novel ini agar di cintai para pembaca....
...Jangan lupa selalu tinggalkan jejak, like, koment, vote, subscribe dan pasti harus baca dari bab 1 sampai akhir....
...Jangan lupa ya untuk terus mengikutinya sedikit banyaknya yang kalian berikan merupakan semangat untuk saya.......
...Terimakasih.......