Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-gara Mawar
Sevim menatap nanar pemandangan yang ada di depannya. Rosy bergelayut manja pada Ahimsa calon suaminya. Meskipun Ahimsa menarik paksa Rosy untuk mengikutinya, namun tetap saja membuat hatinya pilu. Cemburu? entahlah. Tapi yang pasti, Sevim merasa dicampakkan. Meskipun tadi dia berkata jika bisa pulang bersama sopir atau naik taksi. Itu hanya basa-basi saja, lain dibibir lain dihati. Sevim hanya mengetes Ahimsa saja, tapi calon suaminya lebih memilih pergi bersama kekasihnya. Tega. Dada Sevim terasa nyeri.
Tidak ingin berlama-lama meratapi nasibnya, Sevim meraih ponselnya bermaksud hendak menelepon sopir papanya untuk menjemputnya. Namun, saat menunggu teleponnya diangkat, Pak Adiguna sudah lebih dahulu menyapanya. Sevim langsung buru-buru berdiri dari duduknya di Sofa.
" Vim..kok disini, Himsa mana? Bukannya sekarang kamu diantar jemput sama dia?",
" Ehmmm.....Himsa tadi buru-buru kek..ada urusan sama temennya.."
" Terus kamu pulangnya gimana?"
" Ini mau minta dijemput sama sopir kek.."
" Kelamaan,, kasihan kamu. Sa..kamu tolong antar Sevim pulang, kamu bawa mobil kan?", pintanya kepada Harsa.
" Iya kek..", to the point, tanpa babibu Harsa langsung menjawabnya.
" Nggak usah kek, Sevim bisa tunggu.."
" Udah, nggak apa-apa, kamu biar dianter sama Harsa..",
Bukannya ingin menolak, tapi Sevim takut jika rasa kagumnya terhadap Harsa akan lebih daripada sekedar itu. Akan membuat masalahnya bertambah rumit nantinya.
Pendiam, cerdas dan tegas, pemuda itu masuk dalam kriteria pria idaman Sevim.
Berada di dekat Harsa seperti ini, membuat detak jantung Sevim menjadi tidak karuan. Apalagi, bisa memandangnya dengan jarak seperti ini. Sevim bahkan mencuri-curi pandang terhadap Harsa yang sedang berkonsenterasi mengemudi.
" Vim.., kita mampir dulu ya bentar..aku mau ambil pesenanku dulu..",
" Iya pak..",
" Panggil aja abang, sebentar lagi kan kamu jadi adik iparku..",
" Iya bang..",
" Kamu tunggu disini ya, aku cuma bentar kok. Apa kamu mau ikut turun?"
" Nggak bang , disini aja.."
Takut mamanya khawatir, Sevim segera menghubungi mamanya untuk mengatakan jika dia agak sedikit terlambat pulang kerumah.
" Buat kamu..",
" Aku..? hmmmm makasih bang.."
" Sama-sama.., mau ya nemenin aku bentar. Kita makan dulu.., ",
" Iya..",
Harsa mengajaknya makan di warung lesehan pinggir jalan. Tidak risih, apalagi malu padahal Harsa saat ini masih lengkap menggunakan setelan jasnya. Laki-laki itu dengan santainya memakan gado-gado yang dipesannya.
" Aku tau kok, tadi Himsa sama siapa.."
" Abang liat?"
" Liat.., untungnya kakek tadi lagi sibuk sama Hapenya. Kenapa kamu nggak terus terang aja sama kakek?"
" Nggak Bang.., biarin aja Himsa kayak gitu..",
" Nanti biar Abang yang bilang ke Aa",, seharusnya dia ngerti posisinya. Udah mau nikah tapi masih berhubungan sama Rosy.."
" Aku nggak apa-apa kok Bang..",
" Jangan gitu Vim,, gimanapun juga sebentar lagi kalian jadi suami istri...ya udah cepatan dihabisin makannya, habis ini abang anter kamu pulang..",
Harsa mengantarkan Sevim pulang kerumah. Di sepanjang perjalanan, Harsa dan Sevim juga banyak bercakap tentang pekerjaan mereka masing-masing. Ternyata selain memegang cabang perusahaan yang ada di KL, Harsa juga menemani adiknya yang sedang study di sana. Hyana, adik bungsu sekaligus putri satu-satunya tante Anin dan Om Galang.
Sevim memandang malas, ketika melihat Himsa yang sudah berdiri di depan teras rumahnya. Laki-laki itu nampak menyenderkan tubuhnya ke tembok dan raut mukanya tampak heran ketika melihat mobil Harsa. Sevim keluar dari mobil, disusul oleh Harsa yang juga keluar dari kursi kemudi.
" Kamu kok bisa diantar sama dia?"
Ahimsa cemburu, begitu melihat teman yang dimaksud Sevim ternyata adalah seorang laki-laki. Sevim tidak menggubris ucapan Ahimsa. Apa yang dilakukan Sevim belum seberapa jika dibandingkan dengan perbuatan Ahimsa yang meninggalkannya tadi.
" Bang.., makasih ya udah nganter Sevim pulang. Makasih juga bunganya.." , ucapnya dengan menggerakkan satu tangkai bunga mawar pemberian Harsa.
" Abang..", ucap Ahimsa.
" Sama-sama, abang pulang dulu ya Vim, salam buat om sama tante. Him, abang tunggu kamu pulang, kita perlu bicara.."
" Hmmmm...",
Sevim, langsung masuk ke dalam rumahnya begitu mobil Harsa hilang dari jangkauan pandangannya. Tanpa mempersilahkan atau mengajak Ahimsa untuk ikut masuk bersamanya.
" Se..tunggu Aa.."
Sevim masih diam, dia tidak menggubris ucapan Ahimsa. Dia malah langsung naik tangga menuju kamarnya. Sadar diikuti oleh Ahimsa, Sevim membalikkan badannya dan menghentikkan langkanya.
" Kenapa ngikutin aku?"
" Aku pengen ngomong.."
" Inikan udah ngomong..",
" Aku mau jelasin soal yang tadi.."
" Nggak perlu..semua udah jelas.."
" Please, kamu harus tau.."
" Oke..aku mau mandi dulu. Kamu tunggu aja di teras belakang.."
Sevim bergegas mandi karena masih ada Ahimsa yang menunggunya. Dengan menggunakan pakaian rumahan, dia menghampiri Ahimsa yang duduk lesu.
" Nih..minumnya..",
" Makasih Se.., kamu kemana aja sama bang Harsa..",
" Bukan urusanmu..",
" Jelas urusanku, kamu ini calon istriku se.."
" Iya..calon istri yang kamu tinggalin demi perempuan lain, gitu kan Him?"
" Aku nggak maksud kayak gitu, tapi tadi ada kakek. Aku nggak mau beliau liat Rosy ada di kantor..",
" Alasan kamu aja kan? demi Rosy kamu ninggalin aku. It's oke fine, pernikahan kita juga cuma sebuah perjanjian..."
" Kalo aku bilang, aku mau pernikahan sesungguhnya, kita mulai sama-sama, kamu mau?"
" Gimana sama Rosy? kamu masih berhubungan kan sama dia?"
Ahimsa diam.
" Oh..nggak perlu kamu jawab, aku udah tau jawabannya..",
" Aku punya alasannya Vim, kamu nggak perlu tau..",
" Terserah.."
" Kamu kemana aja sama bang Harsa?"
" Makan..",
" Makan apa dibeliin bunga?"
" Dua-duanya.."
" Seneng dikasih bunga?"
" Seneng..baru pertama kali aku dikasih bunga sama laki-laki.."
" Udah akrab ya sama bang Harsa..?"
" Udah, dia baik, ganteng, keren, perhatian , lembut kalo sama perempuan..",
Muka Ahimsa merah padam menahan marahnya. Bagaimana bisa calon istrinya itu berucap terus terang seperti itu di hadapan Ahimsa, calon suaminya.
" Aku bisa kasih kamu bunga yang lebih mahal dari yang bang Harsa kasih.."
" Iya..tapi sayangnya kamu nggak pernah punya inisiatif ngasih aku bunga..",
" Aku mau pulang.., pamitin sama om tante..", ucapnya berlalu meninggalkan Sevim.
" Seharusnya yang marah itu aku, bukan kamu!!", ucap Sevim sedikit berteriak. Namun, Ahimsa masih tetap melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan ucapan Sevim.
Ahimsa pulang kerumah dengan raut wajah kusut. Tidak ada tampang sumringah seperti biasa setelah bertemu dengan Sevim.
" Makasih bunganya ya sayang..", ucap mama Anin kepada Harsa, sambil meletakkan serangkain bunga lili segar yang sudah dipindahkan ke dalam vas bunga.
" Iya ma.., Him udah pulang?"
" Udah..",
" Muka kamu kenapa ditekuk gitu? Berantem sama Sevim?"
" Hmmmm, ada yang nyuri start dari Himsa..", ucapnya dengan melirik abangnya. Harsa sendiri tau jika adiknya marah, namun dia tetap bersikap biasa.
" Udah tenang aja, siapapun saingan kamu. Kamu yang bakal nikah sama dia. Lusa kalian prewedding ya, uda mama siapin.."
" Beda mah, saingan Himsa kali ini berat..",
" Emang siapa?"
" Tuh, laki-laki yang ada di samping Mama..",
" Siapa? Abang kamu maksudnya?"
" Iya..mama tanya aja sama dia.."ucap Himsa.
" Harsa tadi nganterin Sevim pulang ma..Himsa cemburu.."
" Kok bisa abang yang nganterin?"
" Mami tanya aja sama Himsa, kemana dia tadi sampe ninggalin Sevim di loby..", balas Harsa.
" Kemana Aa' tadi..?"
" Hmmmm, Himsa ada perlu mi.."
" Kamu yang salah, tapi kamu yang cemburu sama abang . Kalo nggak karena abang, Sevim pulangnya gimana? Seharusnya kamu terima kasih sama Abang karena udah mau nganterin calon istri kamu pulang, bukannya cemburu kayak gini.."
" Gimana nggak cemburu, abang ngasih Sevim...ah udah lah nggak usah dibahas. Mami nggak perlu tau..",
" Tuh kan, tiap diajak ngobrol pasti gitu, langsung oergi gitu aja. Mami belum selesai ngomong sama kamu..",
" Udah Mi..biarin aja. Nanti Harsa ngomong sama Himsa.."
" Emang kamu ngasih Sevim apa bang..",
" Mawar Mi..tadi waktu ambil bunga buat mami, nggak ada uang kembalian . Jadi ya udah, minta mawar aja. Harsa kasih ke Sevim..",
" Oh.., pantesan Himsa uring-uringan. Jangan naksir Sevim loh bang.."
" Nggak Mi..tenang aja..",
Ahimsa memilih menumpahkan kekesalannya dengan memukul samsak yang ada dihadapannya. Hanya benda mati itu yang selama ini menjadi pelampiasannya jika dia sedang marah ataupun kecewa.
" Kamu marah?"
" Nggak!!!",
" Abang tadi disuruh kakek anter Sevim, bukan kemauan abang sendiri.."
" Nganter tapi mampir ke toko bunga juga? Beliin dia mawar? ", ucapnya dengan menambah kekuatan tangannya memukul samsak dengan keras.
" Kamu cemburu..?",
Ahimsa yang mendengar ucapan abangnya langsung menghentikkan pukulannya. Dia memandang Harsa dengan tatapan tajam.
" Nggak..",
" Jangan bohong.., yang kamu rasain, nggak sebanding sama yang Sevim rasain Him.., gimana rasanya lihat calon suaminya pergi sama pacarnya..?"
" Himsa ada urusan penting sama Rosy bang.."
" Lebih penting dari Sevim..?"
" Iya.."
" Sebentar lagi Sevim itu jadi istri kamu, kalian nikah. Putuskan hubungan sama Rosy secepatnya.."
" Iya, Himsa tau.."
" So.., kamu udah lakuin itu..?"
" Belum.."
" Sevim gadis baik, jangan sampe abang rebut dia dari kamu. Abang masih punya cukup waktu untuk dapetin hati dia.." , ucapnya dengan menepuk punggung Himsa.
" Sial..", umpat Himsa yang menatap tajam Harsa.
Dengan santainya Harsa berlalu, meninggalkan Ahimsa yang sedang kesal. Ahimsa sepertinya harus berhati-hati dengan Harsa. Jangan sampai Harsa yang akan memenangkan hati Sevim. Apalagi, selama ini Mami juga sangat menyayangi Harsa, abangnya itu bisa membolak balikkan hati Maminya, termasuk perjodohannya dengan Sevim.
" Himsa nggak bakal biarin itu semua terjadi Bang. Sevim itu milikku..., hanya milikku..",
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl