NovelToon NovelToon
Dalam Derasnya Hujan

Dalam Derasnya Hujan

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Duda / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:98.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Gemintang Dahayu mampu bertahan menghadapi gosip. Ia mampu bertahan menghadapi kematian suaminya, Guntur Rimba Buana, orang paling kaya di daerahnya yang Tiga Puluh tahun lebih tua darinya. Tapi ia takut dan tidak akan sanggup menghadapi Raden Matahari Terbit Buana, putra suaminya.

Bertahun-tahun sebelum ia menikah, ketika ia dan Raden masih remaja dalam derai hujan pria itu memperkenalkan Gemintang pada cinta pertama yang menggetarkan. Lalu pria itu pergi, membuat hatinya hancur.

Tapi sekarang Raden kembali…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Flashback on.

"Hai," sapa Raden.

“Hai juga, sedang apa di sini?” tanya Gemintang.

“Memancing.” Raden memiringkan kepala ke arah tangkai yang mencuat di permukaan lumpur di tepi sungai. Tali pancing tampak bergetar di dalam air. Raden memang tidak telihat serius memancing. “Kau datang lebih awal dari pada kemarin.”

Wajah Gemintang memerah, ia memalingkan wajah dari pria dengan senyum yang amat menawan itu. Ia keluar rumah setengah jam lebih awal, karena kemungkinan Raden ada di hutan dan ia akan punya waktu untuk bercengkerama bersama pria itu.

Gemintang berusaha tampil sebaik-baiknya, ia memakai rok dan kaus yang terbaik yang ia miliki, ia juga menyisir rapi rambutnya, serta memotong kuku-kuku tangannya.

Setelah kemarin malam Raden menciumnya, ia tidak mengira akan berjumpa lagi dengan Raden. Sekarang Raden ada di sini, duduk di bawah pohon dengan mengenakan celana jins pendek dan kaus tanpa lengan. Raden kelihatan sangat percaya diri dan tampan seperti bintang film. Otot-otot tangan dan kakinya yang atletis tampak menonjol, membuat Gemintang terpesona.

“Aku meminta asisten rumah tanggaku membuatkan beberapa potong sandwich. Kau suka daging sapi asap?”

“Entahlah. Aku belum pernah mencobanya.”

“Hmm, sekarang kau akan mencobanya,” ucap Raden sambil tersenyum. Ia menggelar tikar di rumput dan meminta Gemintang duduk. Kemudian ia membuka keranjang dan menyodorkan sepotong sandwich yang dibungkus plastik pada Gemintang. Mereka mengobrol sambil makan.

"Daging asap ini enak sekali."

“Aku senang kau menyukainya.” Raden bersandar di batang pohon sambil mengunyah.

"Raden, apakah kau ikut membantu di pabrik ayahmu?"

“Aku sih mau saja membantu di pabrik,” jawabnya sambil menerawang. “Jika Daddy dan aku bisa sepakat dalam beberapa hal.”

Raden melirik Gemintang sekilas kemudian ia melanjutkan. “Ayahku tidak ingin menambahkan modal untuk pabriknya, ia sudah puas dengan apa yang didapatnya dari pabriknya sekarang. Padahal banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pendapatan, memperbarui, menjadikan tempat bekerja yang lebih nyaman buat para karyawan. Aku belum berhasil meyakinkannya bahwa bila ia menambahkan modal lagi ke pabriknya itu sekarang, nantinya ia akan memanen hasilnya dalam jangka waktu panjang.”

“Mungkin kau harus mengalah dalam beberapa hal pada awalnya.”

“Mungkin juga,” jawab Raden, ragu-ragu. Ia memasukkan tangan ke keranjang, mengeluarkan sekaleng minuman dingin. Ia mengedipkan mata pada Gemintang. “Aku ingin sekali minum bir dingin, tetapi takut tertangkap basah meminumnya bersama gadis di bawah umur seperti dirimu. Aku bisa dipenjara.”

Selesai makan siang Gemintang membantu Raden memasukkan makanan yang tersisa ke keranjang, kemudian ia bersandar di batang pohon, sementara Raden berbaring di sampingnya sambil menopang kepalanya dengan tangan. Ia memandangi Gemintang.

“Apa yang sedang kaupikirkan?” tanyanya.

Gemintang bertemu pandang dengannya. “Ibumu.”

“Mommy?” Nada terkejut dalam suara Raden tak bisa disembunyikannya.

“Aku ikut sedih mendengar beliau sudah meninggal, Raden. Ia perempuan yang sangat baik.”

“Kapan kau bertemu mommyku?”

“Aku melihatnya ketika beliau datang ke toko tempatku bekerja. Aku melihat beliau perempuan yang… yang paling elegan yang pernah kukenal.”

Raden tertawa. “Ya, memang. Beliau sangat memperhatikan penampilannya."

“Beliau juga sangat cantik. Kalau boleh aku tahu, beliau meninggal karena apa, Raden?”

Raden mengamati tepi rok Gemintang, jarinya menelusuri sulaman pada pinggir rok itu. “Patah hati,” jawab Raden pelan.

Gemintang melihat kepedihan di wajah Raden, membuat perasaan Gemintang tersentuh. “Bagaimana bisa orang yang tinggal di rumah mewah seperti rumahmu patah hati?”

Raden tidak menanggapi pertanyaan Gemintang, ia malah balik bertanya. “Kau suka dengan rumahku?”

Mata Gemintang berbinar. “Itu rumah paling indah di dunia,” jawab Gemintang kagum dan Raden tertawa. “Yah, paling tidak, itu rumah paling indah yang pernah kulihat.”

Raden kelihatan terkejut. “Kau pernah masuk?”

“Oh, tentu tidak pernah. Tetapi aku sering melewati rumah itu. Aku suka berdiri memandanginya. Aku bersedia melakukan apa pun untuk bisa tinggal di rumah seperti itu.” Mata Gemintang menerawang jauh. “Kau mungkin berpikir aku sinting.”

Raden menggeleng. “Aku juga suka dengan rumahku. Aku juga tidak pernah bosan memandanginya. Suatu hari nanti akan kuundang kau ke rumah.”

“Adik perempuanmu cantik sekali. Aku pernah melihatnya dengan ibumu beberapa kali.”

“Namanya Laura.”

“Aku tak pernah melihatnya di sekolah. Apakah dia homeschooling?”

Raden mematahkan sebatang rumput dan menggigiti batangnya. Giginya rata dan putih sekali. “Ia bersekolah di Sekolah Luar Biasa. Ia tidak sepenuhnya terbelakang, tetapi perkembangan otaknya cukup lambat. Ia tidak bisa belajar secepat anak yang lain.”

“Aku… aku minta maaf… aku tidak bermaksud…”

“Hai,” ujar Raden sambil menarik tangan Gemintang. “Tidak apa‐apa. Laura gadis yang menakjubkan. Aku sangat mencintainya.”

“Beruntung sekali ia punya kakak laki-laki seperti dirimu.”

Kembali Raden menopang kepalanya dengan tangan dan melemparkan pandangan nakal pada Gemintang. “Begitukah?”

“Ya.”

Raden meraih tangan Gemintang, kemudian membaliknya dan diamatinya garis-garis tangan pada telapak tangan itu. Telunjuk Raden menelusuri tangan Gemintang mulai dari telapak sampai ke lekukan tangan yang paling sensitif. Sentuhan tangan Raden membuat sekujur tubuh Gemintang menggelenyar. Dadanya bergemuruh tak menentu. Ia heran merasakan *********** tiba-tiba menegang.

“Aku harus pergi,” ucapnya dengan napas memburu.

“Aku tidak ingin kau pergi,” sahut Raden dengan suara parau. Tatapannya perlahan bertemu pandangan Gemintang. “Aku berharap kita berdua bisa seharian di sini, seperti ini, mengobrol.”

Hati Gemintang berdedar. “Aku yakin kau punya banyak teman untuk mengobrol. Mereka bisa ngobrol denganmu, kan?”

“Mereka semua sangat suka bicara,” jawab Raden. “Tapi tak ada yang suka mendengarkan, seperti yang kau lakukan, Gemintang.”

Perlahan Raden berdiri, tangannya menepis rambut Gemintang ke belakang leher yang jenjang, kemudian menarik Gemintang merapat ke tubuhnya. Gemintang tidak menolak sedikit pun sampai akhirnya bibir Raden menyentuh bibirnya. Kedua terhanyut, saling mend*sah nikmat.

Bibir Raden sama lembutnya dengan malam kemarin, tetapi karena Gemintang memberi respons, Raden jadi langsung bergairah. Ciumannya makin lama makin panas.

Gemintang hanyut dalam arus hasrat menggebu Raden, jiwanya menggelora tidak menentu, terperangkap dalam gairah, keharuman tubuh, sentuhan tubuh Raden pada tubuhnya.

Menit berikutnya, Gemintang berbaring tertindih paha Raden yang telanjang, sementara Raden membungkuk di atas tubuh Gemintang. Lidahnya menjelajahi mulut Gemintang dengan penuh gairah sementara jari-jari Gemintang mencengkeram rambut Raden.

Raden mengangkat kepalanya, terengah-engah, lalu kembali menghujani Gemintang dengan ciuman hangat. Keresahan merayapi perasaan Gemintang. Kakinya bergerak-gerak meronta. Dadanya berdebar-debar. "Raden, aku takut," ucapnya polos.

Raden memejamkan mata rapat-rapat, kemudian menarik tubuhnya menjauh dari Gemintang. "Maafkan aku, Gemintang," ucapnya dengan penuh rasa salah.

Raden membantu Gemintang berdiri, kemudian ia mendekap Gemintang erat-erat, membelai punggungnya, membisikkan kata-kata manis di balik rambutnya. “Maafkan aku, aku tidak akan pernah memaafkan diriku bila kau dipecat dari pekerjaanmu,” bisik Raden.

“Oh, ya ampun!” ujar Gemintang, sambil mendorong tubuh Raden menjauh.“Jam berapa sekarang?”

“Kau masih punya waktu bila pergi sekarang.”

“Sampai jumpa,” kata Gemintang sambil merapikan rambutnya.

Raden menggenggam tangannya. "Maaf untuk hal yang tadi, dan maaf juga karena nanti malam aku tidak bisa menjemputmu."

“Aku juga tidak berharap kau menjemputku, Raden,” jawab Gemintang polos.

“Aku ingin menjemputmu, tetapi ada yang harus ku kerjakan nanti malam.”

“Tidak apa-apa. Sungguh.” Gemintang mulai melangkah. “Terima kasih untuk makan siangnya.” Sambil berbalik, ia menghilang di balik pepohonan. Raden mengejarnya.

“Gemintang!” Raden memanggilnya dengan nada penuh wibawa, membuat Gemintang menghentikan larinya dan berbalik.

“Ya?”

“Aku tunggu kau besok. Di sini. Oke?”

Ekspresi Gemintang yang berseri-seri bersaing dengan kecerahan sinar matahari ketika ia tersenyum pada Raden. “Ya,” jawabnya.

Keesokan harinya mereka kembali bertemu, dan hari-hari selanjutnya, hampir setiap hari dalam beberapa minggu berturut-turut mereka rutin bertemu. Jika tidak ada kerjaan, Raden menjemput Gemintang di tempat kerjanya dan mengantarnya sampai ke belokan dekat rumah.

Gemintang memiringkan tubuh dan memandang bulan yang memancarkan sinarnya di antara dahan pepohonan di luar jendela. Betapa membahagiakannya hari-hari itu. Ia hidup dalam kegembiraan, Raden mengutarakan niatnya menempuh masa depan bersama Gemintang.

Gemintang menceritakan semua rahasia pribadinya, mereka sama‐sama mengungkapkan rahasia yang tak pernah diketahui orang lain.

Setiap jam yang lewati bersama sangat membahagiakan, tak peduli cuaca cerah atau hujan semuanya tetap membahagiakan.

Itulah hari yang paling indah dari pada hari-hari yang mereka lewati bersama.

Flashback off

Gemintang tersedu-sedan, dibiarkannya air mata membasahi pipinya. Sebetulnya ia ingin menangis untuk Guntur, tetapi air mata yang menitik turun justru untuk Raden.

1
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
Kok Guntur bgitu yaa..
kalea rizuky
guntur emang gendeng anak gk di bagi warisan hadehh bapak setan
kalea rizuky
ne aki aki uda mati masih aja nyusain
kalea rizuky
ini aku aki g mau ngalah sama anak pdhl. uda mau modarrr
Ersa
jackpot
Ersa
Luar biasa
Ersa
jgn2 Guntur tidak pernah menikahi Gemintang & juga tdk pernah menyentuh Gemintang 🤔
Ersa
mungkinkah Guntur menikahi Gemintang untuk melindungu raden atau Gemintang sendiri?🤔
Evelyne
ini yang selalu gw suka dari Irma... selalu keren kalo bikin cerita dengan alur cerita yang jelas...walau kadang ada alur balik nya...tapi itu tetap jelas agar terbuka latar belakang cerita ini... konflik nya gak di bikin ribet tapi tetap bikin penasaran...ok gw makin suka...👍
Irma: Terima kasih, aku rekomendasiin untuk baca yang Enough sampai selesai karena menurutku ceritanya lebih bagus.😊
total 1 replies
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahhh Rendy juga ternyata menaruh hati pada Gemintang😊
Onie Lestary
happy ending ❤
bunda DF 💞
bagus
༄⃞⃟⚡𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤☪️
lakukanlah raden karena raden junior ada disana
༄⃞⃟⚡𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤☪️
bener gemintang hamil nih
༄⃞⃟⚡𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤☪️
mungkinkah akan tumbuh raden junior
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
akhir yang manis untuk Ragem so sweet dah kalian😘😘😘😘
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
uwuuuu manisss sekali semoga bahagia selalu ya 😘😘
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
yuhuuu bener kan akhirnya ragem junior hadir anaknya kira2 dikasih nama siapa ya😄RAGEM aja kali ya 🏃🏃🏃
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶: nah pas kan
kan buat nya bersama2😄
total 2 replies
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶
nahloh gemi hamil nih kayaknya kok elus2 perut🙊
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Raden pergi tanpa menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!