Desri Winandra, gadis yang dibayar menikahi lelaki lumpuh untuk melunasi hutang-hutang biaya pengobatan almarhum ayahnya.
Ternyata lelaki lumpuh itu Arkhan Ghani, dia tak lain CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Lelaki yang selama dua tahunan ini dia kagumi. Lelaki yang begitu dingin dan seolah bersikap tidak menyukainya.
Dibalik kisah hidupnya yang penuh lika-liku dan penderitaan yang selalu datang bertubi-tubi, Desri memiliki sikap tegas, baik, tulus dan penyayang.
Di dalam kisah mereka, kalian juga akan tertarik dengan beberapa karakter pendukung lainnya yang menjadi lakon utama pada diri mereka masing-masing. Terutama sang pengawal tampannya keluarga Arkhan.
Mampukah Desri melalui penderitaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Dapatkah dia memikat hati Arkhan yang dikaguminya selama dua tahun itu?
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NASI GORENG
Sudah beberapa hari setelah pernikahan Desri dan Arkhan. Rumah mewah itu pun telah kembali seperti semula, seluruh kerabat keluarga yang menginap telah berangsur-angsur pergi.
Hanya Desri yang tertinggal disana sebagai anggota baru keluarga Ghani. Entahlah. Entah benar-benar dianggap anggota keluarga baru sebagai menantu, ipar, nyonya atau pun sebagai istri Arkhan Ghani yang lumpuh itu. Tapi yang jelas, dia dianggap sebagai kakak ipar oleh Yuni tentunya.
Setiap hari Desri hanya menghabiskan waktunya berbicara dengan Yuni, dan terkadang sama para pelayan rumah megah itu apabila Yuni berangkat kuliah.
Untung saja Yuni bukan tipe gadis yang suka keluyuran bersama teman-temannya. Jadi, Desri tidak pernah merasa kesepian.
Dering alarm dari kamar Arkhan pun sudah bukan suatu yang asing lagi baginya.
Semenjak dia menikah dengan Arkhan, dia jarang sekali bertemu dengan suaminya itu. Bahkan bisa dihitung dengan jari saja. Bagaimana tidak? Apa-apa yang dibutuhkan Arkhan, selalu ada alarm yang memberitahukan. Dan yang boleh menyiapkannya, hanya mamanya saja.
Terkadang, sesekali Desri meminta Yuni untuk menemui suaminya itu dan dia akan mengintip dari balik pintu kamar Arkhan. Itu sudah membuat suatu hal yang paling membahagiakan baginya.
****
"Bibi masak apa pagi ini?" Tanya Desri yang tiba-tiba muncul di hadapan pelayan yang bertugas memasak di kediaman Ghani.
"Eh, nona Desri... Ini, Nona, Bibi masak sarapan untuk tuan Arkhan..." Jawab pelayan itu dengan ramah.
"Biar Desri saja yang masakin ya, Bik... Desri bosan. Yuni juga sudah berangkat kuliah dari tadi." Pinta Desri memelas kepada pelayan itu.
"Tapi, Non... Ini sudah tugasnya bibi, Non..." Elak sang pelayan dengan sungkan.
"Nggak pa-pa kok, Bik... Sekali-sekali bolehlah, Bik." Rengeknya memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangannya hingga sejajar dengan mulutnya.
"Tapi, Non..." Bantah pelayan itu lagi dengan sedikit takut.
"Ayo-lah, Bik... Tidak apa-apa Bik... Tidak akan ada yang marah kok Bik..." Desak Desri lagi sambil tetap memohon.
"Baiklah, Nona..." Akhirnya sang pelayan memberi izin kepada Desri untuk memasak sarapan pagi itu.
"Terima kasih, Bik..." Ucap Desri dengan senyuman yang sumringah.
Dua puluh menit berlalu.
"Uuuummm... Baunya enak sekali, Bik... Apa sarapan Arkhan sudah selesai, Bik...?" Tiba-tiba Nur datang dan menanyakan sarapan untuk putranya.
"Sudah, Nyonya... Maaf, Nyonya... Nasi goreng....." Belum selesai sang bibi mengutarakan penjelasannya, Nur sudah menarik sepiring nasi goreng di tangan pelayan itu.
"Nggak apa-apa, Bik... Pasti enak... Baunya saja sudah selezat ini, Apalagi rasanya." Sahut Nur sambil berlalu meninggalkan dapur.
Niat pelayan itu hendak memberitahu kalau yang membuatkan nasi gorengnya adalah Desri, karena memang Desri telah berlalu meninggalkan dapur sesaat sebelum Nur datang. Tapi Nur langsung pergi meninggalkan pelayan menuju kamar Arkhan.
"Sayang, sarapan yuk, Nak... Ini mama bawakan nasi goreng untukmu." Seru Nur setelah menarik gagang pintu kamar Arkhan.
"Nanti saja, Ma... Arkhan belum lapar..." Sahut Arkhan masih sibuk dengan lamunannya. Kakinya selonjor dan matanya menatap kosong ke depan.
"Arkhan, kamu jangan seperti anak kecil... Kalau makannya nanti, nasi gorengnya akan dingin." Bujuk Nur sambil menyodorkan satu suapan sendok nasi goreng ke dalam mulut Arkhan.
Dengan malas Arkhan memakannya. Matanya terbelalak. Kemudian dia minta disuapi lagi hingga seterusnya dan sampai tak tersisa sebutir remah pun.
"Ma, nasi gorengnya enak... Nanti Arkhan mau lagi ya, Ma..." Pintanya.
"Iya... Nanti mama minta bik Sri membuatkannya lagi untukmu, Nak..." Sahut Nur sambil mengusap lembut bibir Arkhan yang berminyak dan hendak bergerak meninggalkan Arkhan.
"Mama...." Panggil Arkhan lagi sambil menahan tangan Nur. Dia menatap lekat wajah mamanya. Nur yang terbawa suasana langsung kembali duduk di samping putranya itu.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Nur mengerutkan dahinya.
"Terima kasih, Ma... Arkhan tidak tau apa jadinya, jika Arkhan tanpa Mama..." Ucapnya sambil membenamkan kepalanya di dada wanita paruh baya yang sangat dicintainya itu.
Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar, Desri beranjak pergi sambil menahan isak tangisnya karna terlalu asik menguping sedari tadi.
Bagaimana mungkin aku berhenti mengagumimu, Arkhan Ghani? ~ Gumamnya dengan air mata yang telah banyak berjatuhan.
.
.
.
.
dulu iparku anemia , bukan amnesia biasa ada jenisnya jg , selalu operasi melahirkan anaknya ... Alhamdulillah selamat .
semoga ada keajaiban untuk Desri .
kasihan klo Desrinya metong .
perempuan utama baik begitu.
sementara ayah arkhan bisa aja sengaja di celakai jg , sama halnya seperti arkhan.
jodoh Yuni siapa ya .
rival atau Endro
kasihan jg si Endro .
apa maksudnya dengan mentari yang sama?🤔
enakan melawak aja ndro jangan ganti profesi🤭😁
kakak ipar idaman
menantu idaman.