NovelToon NovelToon
5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian

Status: tamat
Genre:Cerai / Obsesi / Pengganti / Tamat
Popularitas:828.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: sayonk

Clarissa Binar, seorang wanita yang terus mengabdi pada suaminya. Mencintai suaminya meskipun lima ahun ini suaminya tidak menoleh padanya, hanya menoleh pada putranya Abra.

Namun dalam lima tahun ini dia harus dihadapkan kenyataan pahit. Tiba-tiba seseorang masa lalu dari Adam, suaminya datang dan membawa seorang anak berumur lima tahun.

Akankah Binar memaksa pernikahannya bertahan atau justru memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Rencana Seorang Istri

Binar menatap pantulan wajahnya di cermin dengan cermat, tangan kanannya kembali mengambil skincare dan memolesinya ke sebelah pipinya. Ia kembali memikirkan perkataan tadi dengan Ayu, yang ia hadapkan adalah wanita masa lalu suaminya dan sekarang juga memiliki seorang anak, ia takut kalau dirinya akan kalah dan membuat Abra di benci oleh Ayu. Entah selicik apa wanita yang ia hadapi? Hidupnya selama ini tak ada niatan untuk licik pada siapa pun.

"Aku tidak pintar berekting?" tanyanya pada diri sendiri. Kedua alisnya terangkat dan dahi mengerut. "Bagaimana kalau aku gagal? akan berdampak pada Abra, haih."

Dia mendesah pelan, ingin berteriak mengeluarkan kegundahan di hatinya.

Binar kembali berpikir keras, apa yang harus ia lakukan agar Adam tidak mudah mempercayai wanita itu? tapi masalahnya apa suaminya masih menyimpan rasa? kalau iya, maka akan sulit baginya.

Sekalipun suaminya berkata tidak, tapi ia tidak mudah mempercayainya. Ia tidak bisa menembus hatinya dan ragu pada hati suaminya.

Apa lagi mengingat perlakuannya dulu yang begitu dingin bagaikan sebongkah balok es, yang begitu datar bagaikan dinding. Hatinya sekuat baja dan tak tersentuh oleh siapa pun.

krek

"Sayang," sapa seseorang. Namun wanita di depan cermin itu tidak menyadarinya dan fokus dengan pikirannya yang berjalan kemana-mana.

Pria itu menggeleng, dia menyapu ruangan kamar istrinya, meskipun tidak seluas dengan kamarnya dulu, tapi ruangan ini sangat adem dan sejuk saat ia memasukinya dan merasakan ketenangan. Ia bersyukur karena bisa merasakannya lagi.

"Sayang," sapa Adam. Dia memegang kedua pundak Binar dan membuat wanita itu telonjak terkejut.

"Hah!"

"Apa?"

Binar langsung berdiri dan jantungnya berdetak lebih cepat, kemudian perlahan menghela nafas. Ia pikir siapa yang memegangi kedua pundaknya? dalam otaknya sudah berfantasi pada hal angker.

"Kau membuat ku takut saja," ucapnya sambil memegang dadanya. "Apa butuh sesuatu? apa Abra sudah tidur?" tanya Binar beruntun. Suaminya itu meminta untuk menemani Abra dan membuatnya tidur.

"Iya, Abra sudah tidur."

Di ambil kedua tangan Binar di samping pinggangnya, lalu mengelusnya dan tersenyum sambil menatap kulit putih Binar. Selama ini, kedua tangan inilah yang selalu mengurusi semua keperluannya, tanpa ada rasa lelah, wanita di hadapannya terus menjalankan kewajiban sebagai seorang istri.

Adam mendekat, dia mencium kening Binar begitu dalam dan begitu lama. Menangisi semua perbuatannya, ia beruntung Binar mau mempertahankannya. "Maafkan aku,"

"Aku terlalu menyakiti mu, tapi aku beruntung kau tidak pergi meninggalkan ku. Ya, walaupun aku berjuta-juta menyakiti mu."

"Aku mencintai mu, Clarissa Binar."

Adam mulai mengikis jarak, menarik tengkuk Binar. Hembusan hangat nafas Binar menerpa wajahnya. Nafasnya semakin memburu dan panas.

Binar mendorong tubuh Adam saat bibir Adam mulai mendekat. Dia pun berjalan ke arah lain dan memejamkan kedua matanya.

"Sayang, kenapa?" tanya Adam. Dia memeluk Binar dari belakang, mencium leher Binar dan menghirup aroma wangi tubuh Binar yang memabukkan.

"Kenapa menolak ku? kau belum siap?"

"Bukan begitu," ucap Binar.

Semoga berhasil batinnya

"Kenapa?" tanya Adam, ia membalikkan tubun Binar menatap ke arahnya, namun wajah cantik dan ayu itu menunduk. "Hem..."

"Ayu menghubungi ku,"

Binar melirik ke atas, mengintip wajah suaminya yang tak mampu ia baca. Entah kecewa, takut, atau senang. Dia pun kembali menatap ke bawah.

"Ayu? dia bilang apa?" tanya Adam. DIa menarik dagu istri yang di cintainya itu. "Apa dia mengatakan sesuatu?"

Binar mengangguk, mungkin mulai saat ini dia mengibarkan bendera untuknya sendiri. "Boleh aku jujur, terserah kau mau marah atau tidak."

Adam merasakan ketakutan di hatinya, ia menepis kecurigaan di dalam hatinya itu.

"Aku tidak tahu Ayu mendapatkan dari mana nomer ku, hah. Aku memiliki kesepakatan dengannya, bahwa aku memilih bercerai dan tidak mengganggu hubungan kalian lagi."

"Dan tadi, dia menghubungi ku. Kau ingat tadi ponsel ku berdering, dari Ayu. Dia memarahi ku karena menyangka kalau aku tidak menepati janji."

Binar menghapus air matanya, dia menatap wajah tampan suaminya. "Maafkan aku, aku sempat menyerahkan dirimu pada Ayu. Kalau kau mau bersamanya tidak apa-apa. Kita berpi .... "

Adam menghentikan ucapan Binar dengan jari telunjuknya. "Jangan mengatakannya lagi, hati ku sakit Binar. Semuanya salah ku dan aku tidak mempersalahkannya, tapi aku kecewa pada mu, kenapa kau tidak mengatakannya pada ku dan malah menyimpannya. Kau tahu, aku takut kau berubah pikiran lagi," jelas Adam sambil menggenggam kedua tangan Binar dengan erat.

"Maafkan aku, kau dulu mengabaikan aku demi Ayu, jadi aku pikir kau mencintai Ayu."

Hati Adam merasa teriris. "Itu kebodohan ku, aku membiarkan mu pergi."

"Tapi kelak, kalau kau masih mencintai Ayu, tolong katakan sejujurnya, aku tidak masalah dari pada harus bermain di belakang ku. Bagi seorang wanita, jujur lebih baik dari pada harua berbohong dan merasa dirinyalah yang paling di cintai."

Adam menarik tubuh Binar ke dalam pelukannya. Kedua air matanya menetes, ia begitu takut Binarnya akan pergi lagi karena kebodohannya. "Aku mencintai mu dan akan mencintai mu."

"Aku tidak akan berpaling, aku akan membahagiakan mu dengan Abra. Kalian cahaya dalam hidup ku."

"Aku akan memberikan pelajaran pada Ayu, entah bagaimana dia bisa menghubungi mu dan berkata kasar seperti itu."

"Tidak, Ayu ingin mendapatkan status. Menurutnya aku ancamannya."

"Seharusnya dia sadar, saat dia memilih pergi dan menyembunyikannya, berarti dia tidak mempercayai ku."

*Apa aku berhasil? batin Binar.

Aku harus berbicara dengan Ayu, dia tidak boleh bertindak lebih jauh lagi hanya karena ada Andra*.

1
Woro Hestiningsih
cerita nya menarik
faizha al-husna
good
Evy
Untuk binar mungkin obat tidur dan untuk suaminya obat perangsang.. Ayu ingin mencoba peruntungan dengan menjebak Ayah biologis anaknya..
Evy
Astaga... semoga Andra berterus-terang pada Papanya...dan tidak melakukan yang diperintahkan oleh mamanya..
Umun Munawaroh
Luar biasa
Siti solikah
lanjut
Siti solikah
dasar ibu ga tahu diri,malah menanamkan kebencian di hati anaknya
Siti solikah
nanti kalau ada ayu dan Andra jadi berubah lagi hatinya
Siti solikah
syukurin kau adam
Siti solikah
pergi saja yang jauh binar,mulai lah kehidupan baru ditempat yang baru
Siti solikah
duh laki2 macam Adam ini pantas di bumi hanguskan
Siti solikah
jadi pusing sendiri kan
Siti solikah
bagus
Siti solikah
bagus binar
Siti solikah
punya jantung tapi tak punya hati itu memang pantas untukmu adam
Siti solikah
bagus binar
Siti solikah
sedih thor
Soraya
karyanya👍
Soraya
Adam sama Binar salah harusnya dia nanya langsung sama Aldri soal obat itu
Soraya
Ayu slalu bilang mertua pdhl blm nikah aneh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!