Perpisahan meninggalkan luka yang cukup menganga bagi Galang dan Amara. Terlebih penyebabnya hanyalah masalah perbedaan prinsip.
Tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari hubungan mereka, apalagi setelah Amara memutuskan pergi ke Paris untuk melanjutkan kuliahnya.
Keduanya masih menyimpan perasaan untuk masing-masing, meski dua tahun telah berlalu. Dan tak ada di antara mereka yang mampu saling melupakan.
Namun intensnya pertemuan Galang dengan Clarra, yang merupakan rekan kerjanya membuat hubungan mereka mengalami perubahan. Apalagi ketika jarak semakin tercipta setelah Amara menutup semua akses komunikasi. Menjadikan Galang mengalami kegamangan.
Lantas siapakah yang akan menjadi pelabuhan hati Galang nantinya?
Happy reading.
Follow ig author @tiyanapratama untuk tahu info lebih tentang karya yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersikap Baik
🌺
🌺
Clarra duduk di pinggiran track lari sambil menenggak air minum yang di bawanya dari rumah.
Sebagian pakaiannya sudah basah karena keringat setelah dia berlari mengelilingi lintasan lari di stadion nasional di Jakarta itu. Dia berhenti setelah menyelesaikan sepuluh putaran, yang merupakan rekor terbarunya sejak beberapa bulan belakangan.
Ponselnya berdering seperti sebelumnya, dan dengan terpaksa dia mengangkatnya.
"Ya Ma?"
"Kamu yakin tidak mau ikut ke Malang? Kami bisa menunggumu kalau mau?" Vita kembali meyakinkan putrinya.
"Yakin, kan sudah aku bilang dari semalam?" Clarra menjawab.
"Sayang sekali, padahal saudara-saudara kita ingin sekali bertemu denganmu."
Yeah, yang benar saja. Mungkin maksudnya anak laki-laki dari saudara kita. Perempuan itu membatin.
Sudah bukan rahasia lagi, jika hal-hal semacam itu terjadi ketika mereka berkunjung ke kampung halaman sang ayah. Di mana para orang tua dan kerabat akan mengenalkan anak-anak mereka, terutama anak laki-laki kepadanya. Dari yang paling muda, sampai yang paling dewasa. Dan dari yang masih bujangan sampai duda beranak lima. Dan kesemuanya tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk menjodhkannya dengan dirinya. Dan itu cukup memuakkan.
Bagaimana mereka semua memandangnya dengan iba karena tak kunjung mendapatkan jodoh di usianya yang sudah matang, atau dengan harapan bahwa anak laki-laki mereka akan bersanding dengannya. Seorang wanita karier yang tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi dan beramah tamah dengan siapa pun yang bukan berasal dari dunia kerjanya.
Clarra juga terkadang di anggap sebagai pribadi yag sombong, dan itulah yang menyebabkanya jauh dari jodoh. Dan mereka tidak pernah mengetahui sisi lain dari dirinya, selain sebagai seseorang yang begitu sukses dengan prestasi gemilang bekerja di perusahaan raksasa seperti Nikolai Grup.
"Benar?"
"Benar Ma, pergilah saja dengan Papa. Liburan, habiskan waktu berdua."
"Kami bukan pengantin baru Cla." Vita terdengar tertawa.
"Memang bukan. Kalian kan pengantin lawas?" Clarra juga tertawa.
"Serius kamu benar-benar tidak akan ikut?"
"Serius Ma."
"Bukan karena ingin menghindari percakapan kita semalam kan?"
"Apa sih Mama ini? Sudah aku katakan kalau kasusnya aku tutup, jadi jangan bicarakan soal itu lagi. Stop Ma!"
Vita kembali tertawa.
"Itu cuma Galang, asistennya Dimitri. Mama juga pernah bertemu dia waktu ulang tahun pernikahannya Om Satria kan?"
"Iya iya, tapi tetap saja membuat Mama berharap lebih. Semalam itu Mama menyangka dia seseorang yang ...."
"Stop!" Clarra menghentikan ocehan ibunya. "Kalau Mama terus membicarakan Galang, aku akan marah kepada Mama selamanya. Aku tidak akan mau lagi bicara kepada Mama apa pun yang terjadi!" Perempuan itu mengancam.
"Astaga! Baiklah Cla, baik. Mama hanya bicara. Begitu saja kamu mau marah?"
"Habisnya Mama menyebalkan!"
🥀 Flashback On 🥀
"Siapa yang mengantarmu pulang?" Tiba-tiba saja Vita muncul ketika Clarra baru saja masuk ke dalam rumah.
Putrinya itu berdiri merapatkan punggungnya di belakang pintu setelah masuk dengan terburu-buru.
"Mama bikin kaget!" Clarra bereaksi.
"Di mana mobilmu? Siapa yang mengantarmu pulang? Tidak mungkin ojek online memakai stelan jas, apalagi menggunakan motor seperti itu?"
"Mama ini apa? Mengintip ya?"
"Ayo jawab!"
"Tidak, itu bukan siapa-siapa. Hanya Galang."
"Galang?"
"Asistennya Dimitri."
"Kenapa dia mengantarmu pulang?"
"Mobilnya Papa tadi mogok, dan kebetulan dia lewat."
Vita memicingkan matanya. Ini pertama kalinya putri mereka pulang di antar seseorang hingga ke depan rumah mereka.
"Serius, aku tinggal di bengkel karena ada yang rusak."
"Ada apa ini?" Fahmi muncul dari dalam.
"Ini, Clarra di antar laki-laki."
"Apa?"
"Itu hanya Galang Pah, bukan siapa-siapa." Clarra mulai panik.
"Oh Galang." Sang ayah mengangguk-anggukkan kepala. "Galang itu siapa?" Namun kemudian dia bertanya.
"Asistennya Dimitri." Clarra menjawab.
"Apa Papa kenal? Kami sudah pernah bertemu? Sudah lama bekerja di Nikolai Grup?" Fahmi memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
"Papa ini apa sih? Sudah aku katakan itu cuma Galang! Astaga!" Sang anak melenggang ke arah tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.
"Kalian sudah kenal lama? Kenapa tidak di ajak masuk?" Dua orang tua itu mengikuti langkah putri mereka.
"Pah!" Clarra berhenti di tengah-tengah tangga kemudian berbalik.
"Kenapa?"
"Jangan berpikiran macam-macam. Sudah aku bilang dia hanya Galang. Asistennya Dimitri, dan dia hanya rekan kerjaku seperti halnya Pak Andra dan juga staff lainnya. Tidak ada yang spesial soal itu."
"Yang mengatakan dia spesial siapa? Papa kan hanya bertanya." ujar Fahmi, yang membuat sang anak terdiam.
"Jadi dia itu ...."
"Ah, aku lelah!" Clarra kembali memutar tubuh kemudian berlari ke kamarnya di lantai dua.
🥀 Flashback Off 🥀
Dan seperti halnya orang-orang itu, Mama dan Papa pun ternyata memikirkan hal yang sama. Hufftthhh! Clarra menghembuskan napasnya dengan frustasi.
***
Galang sudah berlari sebanyak lima putaran. Dan dia benar-benar memanfaatkan waktunya pagi itu. Bangun pagi-pagi sekali, kemudian memutuskan untuk lari pagi. Setidaknya akhir pekan itu dia tidak pergi ke mana-mana.
Namun di putaran ke enam dia malah mundur ketika ekor matanya menangkap sosok yang sepertinya dikenal.
Dan benar saja, seseorang tengah duduk di pinggiran lintasan. Sepertinya dia juga sudah berolah raga, sama seperti dirinya.
"Clarra?" Panggilnya, kemudian dia mendekat.
Perempuan itu mendongak, lalu memutar bola matanya sambil berdecak. Tiba-tiba saja dia merasa kesal.
"Ck! Kamu lagi, kamu lagi?" Dia mendengus.
"Dari sekian tahun kita bekerja bersama kenapa akhir-akhir ini aku sering bertemu denganmu diluar kantor? Aneh sekali?"
"Memangnya aku yang minta?" Galang berdiri di depannya.
"Apa maksudmu itu?"
"Entahlah, sepertinya salahku karena kita sering bertemu?" Galang menggendikkan bahu.
"Memang."
"Apa?"
"Kenapa sih kamu tidak bisa mengacuhkan aku saja? Setidaknya berpura-pura saja tidak melihatku meski kamu tahu aku ada di depanmu?"
Galang mengerutkan dahi.
Benar-benar perempuan yang aneh!
"Kamu ini kenapa sih? Sedang pms ya? Makanya marah-marah terus? Ini kan bukan sedang di kantor. Memangnya ada larangannya ya, kalau bertemu diluar kantor tidak boleh menyapa orang yang kita kenal?"
"Pokoknya jangan lagi bersikap ramah kepadaku!"
"Apa?"
"Bersikap saja seperti orang-orang kebanyakan. Yang acuh dan tidak berusaha mendekat selain karena alasan pekerjaan."
"Kenapa?"
"Tidak usah tanya kenapa, karena sejak dulu aku memang terbiasa begitu. Tapi tiba-tiba saja kamu bersikap baik kepadaku, dan itu rasanya aneh. Aku benci dengan perasaan seperti ini."
Galang menatap perempuan yang usianya lebih tua darinya itu.
"Apa aku sudah berbuat salah kepadamu? Makanya kamu bersikap seperti ini?" Lalu dia bertanya.
"Tidak. Hanya saja, berhentilah berbuat begitu. Karena aku tidak terbiasa."
"Kamu tahu, kenapa orang-orang bersikap acuh kepadamu? Dan mereka tidak ada yang berani mendekat? Bukan karena mereka tidak mau, tapi karena kamu yang memang sulit di jangkau. Kamu membuat mereka segan dengan sikapmu yang seperti ini. Kamu seperti sengaja membangun benteng yang tinggi agar orang lain tidak mendekat." Galang melipat kedua tangannya di dada.
"Aneh saja, padahal jika tidak seperti ini kamu adalah orang yang menyenangkan. Dan membuatku ingin berteman. Apalagi kita bekerja di tempat yang sama. Tapi hanya begitu saja tanggapanmu buruk sekali." Galang berbicara panjang lebar.
Kemudian mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya sebuah panggilan di ponsel Galang membuyarkan lamunan keduanya.
"Ya?" Pria itu menempelkan benda pipih tersebut di telinganya.
"...."
"Nggak bisa."
"...."
"Semalam kan gue udah bilang nggak bisa."
"...."
"Ya tetep aja, sekarang ini kerjaan gue banyak, mungkin sampai bula depan, jadi nggak bisa cuti. Mungkin lain kali."
"...."
"Asli."
"...."
"Hmm ...." Lalu percakapan di akhiri.
"Baiklah bu sekretaris, maaf sudah mengganggu waktumu yang sangat berharga itu, aku mau jogging lagi." Galang kemudian berjalan mundur.
Clarra tak menyahut, namun pandangannya tetap tertuju kepada pria itu, lalu dia memanggilnya saat Galang berbalik.
"Hey Galang?"
"Kamu memanggil aku?" Pria itu menoleh.
"Ya." Clarra menjawab.
"Mau apa lagi?"
"Kenapa kamu tidak pulang ke Bandung? Bukannya akhir bulan seperti ini kamu biasanya kamu selalu pulang?"
"Bukan urusanmu." Galang kembali berjalan.
Namun kemudian dia berhenti dan kembali memutar kepalanya.
"Sebenarnya semalam itu aku memang berniat langsung pulang ke Bandung. Tapi di jalan aku bertemu seseorang yang sepertinya butuh bantuan. Aku melihat keadannya yang ternyata memang sedang dalam kesulitan."
"Kami membicarakan banyak hal di bengkel saat mobilnya sedang di perbaiki, dan aku rasa dia orangnya menyenangkan. Aku bahkan sampai mengantarnya pulang ke rumah. Tapi sekarang hal itu jadi terasa menyebalkan. Kamu tahu kenapa?"
Clarra mengerutkan dahi.
"Sikapnya sangat buruk, bahkan kepada orang yang berusaha bersikap baik kepadanya. Sayang sekali, dia berbuat hal yang sia-sia." Pria itu menggelengkan kepala.
Dan tak lama kemudian dia pun pergi, meneruskan kegiatannya berlari mengelilingi lintasan bersama orang-orang yang semakin lama menjadi semakin banyak saja.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Jadinya harus gimana sih? Membingungkan 😂😂
Terserah kalian sajalah, yang penting like, komen dan hadiahnya dikirim terus.
lope lope sekebon 😘😘
kok ngegantung seehhh🙃
kok digantung sih...