Azkia dan Raffasya bagaikan tikus dan kucing yang tidak pernah bisa akur jika bersama. Kebencian Raffasya terhadap Azkia sudah tertanam saat masih duduk di sekolah dasar karena Azkia berhasil mengalahkan Raffasya yang saat itu sedang melakukan body shaming kepada Gibran, kakak kelas Azkia lainnya.
Dan setelah mereka dewasa, permusuhan itu tetap berlangsung. Azkia yang akhirnya menjalin asmara dengan Gibran terpaksa harus hidup dengan Raffasya karena suatu peristiwa buruk.
Akankah Azkia bisa bertahan dengan Raffasya atau memilih kembali bersama Gibran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jika Tom & Jerry Tinggal Bersama
Raffasya memperhatikan bangunan baru dua lantai di hadapannya. Bangunan yang sengaja dia bangun untuk cafe dan stasiun radio. Bangunan yang awalnya hanya berupa stasiun radio miliknya, Raff FM. Stasiun radio kaula muda ibu kota. Dia berencana membuat cafe yang juga bergabung dengan stasiun radio miliknya.
" Kira-kira berapa biaya lagi yang diperlukan, Bang?" tanya Raffasya kepada Dimas, yang menangani proyek pembangunan cafe & radio itu. Mereka berdua memasuki bangunan itu dan melihat-lihat bagian dalam dan juga lantai atas yang sebagian dipakai untuk siaran radio.
" Sekitar seratus jutaan lagi beres, Raf. Tinggal melengkapi interiornya saja," sahut Dimas.
" Minggu depan gue baru ada dana, Bang. Deposito gue baru jatuh tempo Minggu depan," ujar Raffasya. " Nggak apa-apa, kan?" tanya Raffasya seraya menoleh ke Dimas yang berdiri di sampingnya.
" It's Ok, Raf. Masih ada dana sisa di gue, kok." Dimas tidak mempermasalahkan apa yang Raffasya ucapkan.
" Oke, Bang. Nanti kalo depositi gue cair langsung gue transfer ke Bang Dimas."
" Selamat sore sobat muda Raff FM yang sekarang ini sedang beristirahat sambil selonjoran. Pas banget nih sama cuaca sore ini yang adem karena hujan baru saja mengguyur ibu kota tercinta ini Memang kalau cuaca seperti ini paling enak bersantai di kamar sambil dengerin radio, dengerin tembang-tembang yang easy listening kayak tembang satu ini."
Sebuah tembang Tetap Dalam Jiwa nya Isyana Sarasvati langsung terdengar bersamaan dengan suara penyiar radio berhenti berkata-kata.
" Lu suka dinding ruang siaran yang full kaca? Biar lebih akrab dan mudah menyapa para pengunjung cafe. Dan pengunjung cafe pun bisa melihat aktivitas penyiar."
" Gue suka banget, Bang." Raffasya memang menyukai ide dari Dimas.
" Next punya proyek apa lagi?" tanya Dimas yang mengetahui jika Raffasya adalah anak muda yang sangat berambisi dalam berbisnis.
" Gue kepingin bikin seperti ini tapi di dalam mall, Bang." Raffasya mengungkapkan keinginannya di masa mendatang.
" Kalau bikin proyek lagi jangan lupa hubungi gue, ya!"
" Sudah pasti, Bang! Tapi gue mesti nabung dulu, nih!" Raffasya terkekeh, karena biaya yang akan dikeluarkan tidaklah sedikit. " Oke deh, Bang. Gue cabut dulu, mesti nengokin La Grande," pamit Raffasya kepada Dimas.
" Oke, Raf. Sukses buat bisnis-bisnis lu!" Dimas menepuk pundak Raffasya.
Setelah berpamitan dengan Dimas, Raffasya pun berjalan turun ke bawah menuju motornya.
" Raffa ..!" Raffasya menghentikan langkahnya saat mendengar suara seorang wanita memanggilnya.
" Gladys? Ngapain kemari?" tanya Raffasya kepada Gladys, wanita yang belakangan ini dekat dengannya. Lebih tepatnya Gladys lah yang selalu berusaha mendekatkan diri ke Raffasya.
" Kamu ke mana saja sih, Raf? Aku itu hubungi HP kamu tapi nggak ada respon terus," gerutu Gladys.
" Gue sibuk!" ketus Raffasya.
" Sibuk apaan sih? Kamu itu 'kan bukan mahasiswa lagi, nggak kerja kantoran juga. Memangnya sibuk apa sampai nggak punya waktu buat aku?" keluh Gladys memprotes Raffasya yang dianggapnya tak mempunyai waktu untuknya.
" Dan lu juga mesti ingat, Dis! Lu juga bukan pacar gue, jadi berhentilah beranggapan seolah gue ini adalah cowok lu!" tegas Raffasya kemudian menaiki lalu menyalakan motornya kemudian tak lama meninggalkan Gladys sendiri.
" Raffa ...!! Iihhh, aku itu nyusulin kamu ke sini kenapa malah ditinggal?!" teriak Gladys kesal dengan mengumpat.
***
" Selamat siang, Bu. Ibu memanggil saya?" tanya seorang pria berambut cepak, berperawakan kekar dengan tato di lengannya saat memasuki ruangan direktur utama sebuah perusahaan leasing terkemuka.
" Siang, Tagor. Silahkan duduk!" perintah seorang wanita paruh baya yang langsung bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah ke arah sofa untuk berbincang dengan pria yang dia panggil dengan nama Tagor.
" Apa ada masalah, Bu? Ada nasabah yang membandel yang mesti saya tangani?" tanya Tagor kemudian setelah mendudukkan tubuhnya di sofa.
" Tidak, ini bukan masalah pekerjaan, Tagor." tepis wanita itu
" Memang ada masalah apa, Bu?" tanya Tagor penasaran karena bukan urusan yang bersangkutan dengan pekerjaan yang akan dihadapinya.
" Ini soal anak saya, Raffasya. Saya ingin kamu mengawasi dia. Apa saja yang diperbuat olehnya di luar sana dan siapa wanita yang sedang dekat dengan anak saya sekarang ini." Wanita yang ternyata adalah Lusiana, Ibu dari Raffasya itu menyebutkan tugas yang harus dilakukan oleh Tagor.
" Maaf, Bu. Ibu ingin saya mengawasi anak Ibu?" tanya Tagor, orang yang sudah lama ikut bekerja dengan Lusiana.
" Iya, sekarang ini dia sudah tidak melanjutkan kuliah. Bekerja di kantoran juga dia tidak mau. Saya khawatir dia akan terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif."
" Baiklah, Bu. Saya akan mengawasi anak Ibu." Profesinya sebagai bodyguard memang cocok untuk melakukan tugas yang diberikan Lusiana kepada Togar.
" Kamu juga cari tahu siapa wanita yang sedang dekat dengannya. Saya nggak ingin dia dekat dengan wanita nggak baik yang akan menjerumuskan Raffa apalagi kalau wanita itu matre."
" Baik, Bu! Saya akan laksanakan tugas yang Ibu berikan kepada saya," ujar Togar.
" Ya sudah, kamu bisa tinggalkan tempat ini sekarang." Lusiana meminta Togar meninggalkan ruangannya setelah memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh Tagor.
" Baik, Bu. Permisi." Tagor pun segera meninggalkan ruangan Lusiana.
Selepas kepergian Tagor, Lusiana langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomer seseorang. Dan setelah menunggu hampir dua menit panggilan teleponnya telah tersambung dengan orang yang dia tuju.
" Halo, Radit. Apa Mbak mengganggu pekerjaan kamu?" tanya Lusiana kepada sang adik, Raditya.
" Ada apa, Mbak? Ada masalah?" Raditya yang tahu jika kakaknya itu selalu sibuk bahkan hampir jarang menghubunginya merasa terkejut saat Lusiana kini tiba-tiba meneleponnya.
" Nggak, nggak ada masalah," tepis Lusiana cepat.
" Lalu ada angin apa Mbak telepon aku?" tanya Raditya setengah menyindir.
" Kalau anaknya kakak ipar kamu itu sudah punya pacar belum?" Lusiana mencoba mencari informasi seputar Azkia melalui Raditya.
" Siapa, Mbak?" tanya Raditya.
" Itu yang kemarin ikut dinner di pesta wedding anniversary kamu dan Amara." Lusiana memperjelas siapa yang dia maksud.
" Oh Azkia. Memangnya kenapa Mbak tanya Kia sudah punya pacar atau belum?" selidik Raditya yang berada aneh dengan pertanyaan Kakaknya soal Azkia.
" Kamu ini tinggal bilang sudah atau belum saja sudah banget! Pakai putar-puter segala!' protes Lusiana menggerutu membuat Raditya terkekeh mendapati Kakaknya yang merajuk itu.
" Kia itu setahuku sudah punya pacar, sih."
" Baru pacaran saja, kan? Belum sampai tunangannya?" Lusiana bersemangat mengorek informasi tentang Azkia dari adiknya.
" Ada apa sih, Mbak? Kok aku curiga ya, jangan-jangan Mbak punya rencana, nih!" tuduh Raditya kepada Kakaknya.
" Iya, Mbak memang punya rencana, tapi rencana Mbak ini bukan kejahatan, kok!" Lusiana menyangkal dan menegaskan kalau rencana yang ingin dia lakukan tidaklah membahayakan Azkia.
" Jangan bilang kalau Mbak ingin menjodohkan mereka!" Sepertinya Raditya sudah menebak maksud dari ucapan demi ucapan kakaknya itu.
" Memangnya kenapa kalau Mbak ingin menjodohkan mereka? Setidaknya Azkia itu dari keluarga baik-baik dan terpandang."
" Ya ampun, Mbak. Aku nggak bisa membayangkan jika Tom & Jerry itu tinggal bersama. Bisa-bisa ludes semua perabotan rumah." Raditya tergelak kencang membayangkan jika Kakaknya itu merencanakan perjodohan antara Azkia dan Raffasya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️