Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Berusaha membaur
Agha lagi menikmati makannya dan sesekali melihat handphone miliknya, terlihat pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Nomor siapa lagi ini." Gumam Agha sambil melihat siapa pemilik nomor yang mengirim dirinya pesan, pas di lihat, tertera nama Syakila Almeera.
"Darimana dia bisa dapat nomor ku?." Tanya Agha entah sama siapa dan pesannya hanya di baca saja.
Agha gak mau mengambil pusing, dia melanjutkan makan siangnya dan langsung melaksanakan sholat Zuhur walaupun agak telat waktunya. Siap sholat Agha lanjut mengerjakan kerjaan, sangking larut dalam kerjaannya sampai waktu azan ashar berkumandang.
For your information
Aku spoiler dikit ke kalian, untuk kegiatan Agha kalian sudah tau kan terlalu monoton hidupnya, jadi yah kalau di tulis semuanya kalian bakalan bosan, makanya untung ada Syakila yang memberi warna di hidup Agha yah walaupun terkesan cuek dan gak peduli, tapi sebenarnya tuh Agha merasa tanggung jawab atas Syakila secara istrinya kan, jadi Agha tentu turuti kemauan Syakila selagi itu masih dalam batas yang Agha berikan dan Agha tuh baik terus perhatian cuman yah tertutup kesing cueknya dan trauma masa lalu nya aja. Ok balik ke cerita yah.
Sebelum pulang, Agha membalas pesan Syakila untuk menanyakan dia ingin di bawakan apa dan di jawab ingin makan martabak telur daging dekat pertigaan tak jauh dari pesantren Nurul Huda. Tak lama Agha sampai di tempat penjual martabak, langsung saja Agha memesan martabak keinginan Syakila.
"Bang martabak telur daging tiga, yang biasa dua."
"Ok siap A'a, mangga calik A'a." Mendengar kalimat abang penjual martabak membuat Agha memasang wajah bingung dan wajahnya bukan orang Indonesia.
'Bahasa apa itu?.' Batin Agha.
"Maaf, A'a nya bukan orang sini?." Ucap abang penjual martabak masih dengan logat Sunda.
"Bukan."
"Pantas atuh, silahkan duduk A'a." Agha hanya menganggukkan kepalanya dan duduk di bangku plastik bulat tanda sandaran.
Agha duduk menunggu sambil membuka handphone nya sebentar, sesekali menjawab pertanyaan abang penjual martabak.
"A'a asli mana?."
"Mix Inggris Indonesia bang."
"Ooh, pantas atuh warna rambut dan bola mata A'a beda. Ini acarnya dipisah atau gabung A'a?."
"Pisahkan aja."
"Siap, A'a nya baru pulang kerja?."
"Iya bang."
"Alhamdulillah, A'a nya tau sekarang tuh cari kerja susah."
"Iya, apalagi dengan berita yang beredar."
"Bener tuh A'a, banyak pembeli saya dan ada juga tukang ojek online yang duduk di sini cerita kena dampaknya."
"Emang besar bang dampaknya, apalagi banyak aksi demo dimana-mana."
"Bener tuh A'a, mana ada yang kehilangan nyawanya, serem atuh A'a, jaga kesehatan ya A'a kasihan yang lain membutuhkan sosok A'a sebagai atasan."
"Hmm? Tau darimana?."
"Siapa sih yang gak tau A'a, nama A'a Agha kan?."
"Bukan, nama saya Ucup."
"Hahaha, A'a bisa ngelucu juga. A'a gak tau apa nama A'a ada di mana-mana, apalagi setelah acara nikah nya A'a, selamat yah A'a."
"Bocor ke media, siapa yang upload ke media sosial bang?."
"Ada beberapa akun tidak resmi A'a, kebanyakan yang saya lihat di akun itu tampilkan berita artis, pengusahaan, YouTuber, banyak lagi lah A'a."
"Tapi A'a nya tenang aja yang di tampilkan hanya hal positif atuh." Lanjut ucap abang penjual martabak.
"Selagi gak ganggu privasi saya, akan tutup mata."
"Bener tuh A'a, kalau udah ganggu privasi beh saya juga bakalan ngamuk."
"Jadi berapa bang?."
"Yang telur daging 26.000, yang biasa 15.000 jadi totalnya 108.000 A'a." Agha mengeluarkan uang merah selembar dan biru selembar dan memberikan ke abang penjual martabak.
"Ambil aja kembaliannya, rezeki abang."
"Hatur nuhun A'a, eh makasih A'a, semoga murah rezekinya, sehat terus sekeluarga dan sukses selalu ya A'a, aamiin."
"Aamiin, makasih juga doanya."
"Siap A'a, hati-hati di jalan A'a." Agha menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum kemudian masuk kedalam mobilnya langsung balik ke pesantren Nurul Huda.
Selama diperjalanan Agha menyetel lagu Bruno mars melalui head unit atau layar monitor di mobil, sesekali ikutan nyanyi, pas di putaran selanjutnya malah lagu rain and you lagi milik Lee Mu-jin kesukaan Alicia. Selama mendengarkan lagu itu, ingatan Agha tertuju tentang Alicia tanpa sadar airmata Agha jatuh.
"Eh, astaghfirullah." Ucap Agha sambil mengelap matanya menggunakan tissue.
Berulangkali Agha mengucapkan kalimat istighfar dan mengganti lagu, tak lama Agha sampai di pekarangan halaman rumah abi umi, setelah memarkir mobilnya Agha masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, udah pulang nak, duduk sini." Ucap abi yang sedang duduk di sofa ruang tamu bareng umi.
"Iya bi." Agha mencium punggung tangan abi dan umi setelah itu duduk di singel sofa sambil meletakkan martabak yang di belinya tadi.
"Kamu beli apa ini nak?." Tanya umi.
"Martabak pesanan Syakila umi."
"Banyak banget nak."
"Biar bisa makan bareng umi."
"Bentar umi panggil Syakila yah, mau suruh siapkan air mandi kamu."
"Gak usah umi, saya bisa sendiri."
"Gak, udah tugas Syakila, kamu tenang aja."
Setelah itu umi pergi, sementara abi dan Agha ngobrol tentang topik tentang pesantren dan kerjaan Agha, lebih tepatnya abi yang sering melontarkan pertanyaan ke Agha. Abi tau Agha sedang berusaha membaur dengan orang baru, jadi abi maklum dengan sifat Agha. Tak lama Syakila dan umi datang membawa piring, mangkok dan garpu untuk wadah dan makan martabak.
"A'a mau salam." Ucap Syakila disamping Agha dan mencium punggung tangan Agha lali duduk di sebelah umi.
"Makasih yah A'a udah belikan pesanan Kila."
"Sama-sama." Ucap singkat Agha dengan ekspresi yang di paksa ramah.
"Ini makan dulu A'a dan ini minumnya, sambil nunggu air nya." Syakila memberikan sepiring untuk Agha, kali ini Agha terima tidak seperti waktu selesai akad kemarin.
Mereka menikmati martabak tersebut tak lama datang Hamdan dan Ayu serta Khalid yang masih umur tiga tahun, mereka abang dan kakak ipar serta keponakan Syakila yang tinggal di sini membatu abi dan umi mengurus pesantren.
"Saya izin ke kamar mau mandi dulu udah gerah juga." Ucap Agha sambil berdiri diikutin dengan Syakila.
"Monggo nak, nanti kita sholat magrib berjamaah di masjid." Ucap abi.
"Iya bi." Setelah itu Agha berjalan ke arah kamar untuk mengambil baju ganti tapi di tahan Syakila.
"A'a ke kamar mandi aja dulu, untuk baju ganti nya Kila antar nanti, ini handuknya A'a."
"Hmm."