Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segel Terbuka
"Argh!" teriak Rania.
Prang!
Sepulang dari pertemuan tadi, Rania mengurung diri di kamar. Ruangan yang semula rapi kini tampak seperti baru saja dilanda perang dunia—bantal terlempar, barang berserakan, dan cermin meja rias retak di sudutnya.
"Kenapa bisa jadi begini?" amarah Rania meledak.
Napasnya memburu, rahangnya mengeras, matanya menajam. Belum genap sebulan dia meninggalkan tanah air dan berpisah dengan Bara, pria itu sudah berubah.
Dulu, Bara sangat mudah didekati. Memang tidak semua orang—terutama wanita—bisa mendekatinya. Namun karena Rania mengenal Danny dan dari sanalah kedekatan mereka bermula, Bara perlahan membuka diri. Mereka bahkan bisa menjadi teman.
Tapi sekarang…
"Bahkan aku sudah tidak diperbolehkan memanggilnya Bara!" pekik Rania frustasi. "Argh!"
Clara yang baru saja pulang sekolah sampai tertegun mendengar teriakan kakaknya dari balik pintu kamar. Meski suara itu teredam, tetap saja cukup keras untuk membuatnya berhenti melangkah.
Clara belum pernah melihat sisi Rania yang seperti ini.
Tak ingin ketahuan menguping, Clara memilih menjauh dan masuk ke kamarnya sendiri.
Sementara itu, di tengah kegelisahan hati Rania, Ranti justru sedang sibuk mencari pembantu rumah tangga baru. Dia sudah benar-benar tidak tahan mengurus pekerjaan rumah seorang diri.
Dia memang mencintai Adrian—sangat. Tapi untuk urusan bersih-bersih dan pekerjaan domestik, itu cerita lain.
Karena itu, Ranti sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada putri kesayangannya. Sedangkan Adrian, memilih menghabiskan waktu di perusahaan—berpura-pura menenangkan diri, padahal pikirannya pun sama kalutnya.
Sementara Rania masih kalut dengan dirinya sendiri, Revo justru duduk sambil senyum-senyum tanpa alasan yang jelas. Danny sampai meliriknya curiga.
"Kenapa berhenti?" tanya Revo santai.
Saat ke restoran tadi mereka memang tidak menggunakan sopir, jadi Danny yang menyetir. Mobil terhenti di pinggir jalan.
Danny berbalik menghadap Revo yang duduk di kursi penumpang.
"Elu yang kenapa?" tanyanya sebagai sahabat.
Revo menaikkan sebelah alis.
Danny mendengus kesal. "Ini gue jadi curiga. Jangan-jangan elu udah buka segel nih."
"Semua minuman itu masih tersegel," jawab Revo tenang.
Danny menepuk keningnya sendiri. "Gue lupa, kosakata sahabat gue yang satu ini bener-bener negatif nol."
Revo menatapnya tajam. "Sepertinya aku perlu mengevaluasi IQ-mu."
"Apa hubungannya?" tanya Danny, sedikit tersentak.
"Negatif nol," sahut Revo singkat.
"Astaga!” Danny membenamkan wajahnya ke setir. “Itu cuma kiasan, Revo!"
Revo hanya menaikkan alis, seolah malas menanggapi.
Danny kembali duduk tegak. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Salah Revo juga—pria itu selalu membuat Danny jadi tukang kepo karena sering ditugaskan mencari informasi.
"Dengar ya, Revo, "kata Danny serius. "Gue nggak lagi ngomongin koleksi minuman alkohol yang nggak pernah elu sentuh padahal gue pengin banget nyicipin."
Revo tetap diam.
"Yang gue maksud…"Danny meliriknya tajam. "Elu udah buka segelnya Candy?"
Revo sontak terbatuk.
Danny menyipitkan mata. "Nah, kalau begini nih, gue tahu jawabannya."
"Sekarang jelasin. Kenapa elu senyam-senyum nggak jelas!"
Ujung telinga Revo sedikit memerah. Pikirannya melayang ke kejadian tadi malam—saat dia memindahkan Candy ke kasurnya… dan tanpa sadar menjadikannya guling alami.
Revo tampak gelisah sesaat. Namun, bukan Revo jika dia tak bisa mengendalikan diri.
"Bukan urusanmu," ujarnya tenang.
"Hm. Oke. Baik,," sahut Danny sambil mengangkat kedua tangan. "Suatu saat elu pasti butuh bantuan gue buat konsultasi."
Danny kembali menjalankan mobil. Anehnya, kini justru Revo yang mulai gelisah.
Satu menit berlalu.
Dua menit.
Lima menit.
"Oke," ujar Revo akhirnya. "Singgah ke toko ponsel."
"Untuk apa?" tanya Danny santai.
Berhadapan dengan Revo memang tidak mudah, jadi Danny sengaja memakai metode tarik-ulur—cara klasik yang biasa dipakai orang buat bikin lawan bicara terpancing.
"Beli cabai," jawab Revo datar.
"Hahaha!" tawa Danny meledak. "Mana ada toko ponsel jual cabai. Ternyata elu bisa ngelucu juga."
"Satu minggu," ujar Revo singkat.
Tawa Danny langsung terhenti. "Apanya yang satu minggu?"
"Cuti menikah," jawab Revo tanpa ekspresi.
"What?!" Danny hampir menginjak rem mendadak.
"Lima hari," sambung Revo makin santai.
Mata Danny membulat. Ingin rasanya membalas, tapi niat itu langsung dia urungkan. Dia tidak mau masa cutinya dipotong lagi—bisa-bisa tinggal nol hari.
Sepanjang perjalanan menuju pusat toko ponsel, Danny memilih diam. Rasanya aneh… dan sedikit menyeramkan.
Sebaliknya, Revo justru tampak menikmati keheningan itu.
Toko ponsel itu terang dan ramai. Danny langsung melangkah masuk dengan santai, sementara Revo berhenti sesaat di depan pintu, menatap etalase seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar ponsel.
"Lu mau ganti HP atau beli casing?" tanya Danny sambil melihat-lihat.
Revo masuk, tangannya langsung terangkat memberi isyarat pada pegawai. "Ponsel."
"Yang mana?" tanya pegawai itu ramah.
Revo terdiam.
Danny menoleh cepat. "Nah, ketahuan."
Revo melirik tajam.
Danny pura-pura batuk. "Maksud gue… spesifikasinya."
Revo menghela napas pendek. "Yang… mudah digunakan."
Pegawai itu tersenyum profesional. "Untuk orang tua atau hadiah?"
Revo refleks menjawab, "Had—"
Dia berhenti.
Danny langsung menoleh. "Hadiah?"
"Untuk… keperluan tertentu," sambung Revo datar.
*Hmmm," dengus Danny. "Keperluan tertentu yang namanya Candy?"
Revo menatap lurus ke depan. "Danny."
"Iya, iya. Gue diem."
Satu detik.
Dua detik.
"Tapi warna apa?"
Revo melirik etalase. Pandangannya berhenti di satu ponsel berwarna krem lembut.
"Yang itu."
"Oh," Danny mengangguk panjang. "Selera elu berubah ya. Biasanya hitam. Gelap. Kaku. Dingin."
Revo diam.
Danny nyengir. "Sekarang lembut."
Pegawai itu kembali bertanya, "Mau sekalian dipasangkan pelindung layar dan casing, Pak?"
“Iya,” jawab Revo cepat. Terlalu cepat.
Danny menaikkan alis. "Lengkap."
Revo meliriknya tajam.
Danny mengangkat kedua tangan. "Oke, oke. Gue cuma asisten cuti menikah."
Revo memalingkan wajah. Ujung telinganya kembali memerah—sedikit, tapi cukup.
Danny melihat itu. Senyumnya makin lebar.
Fix, pikirnya.
Segelnya udah kebuka. Dan isinya manis.
Perjalanan kembali ke mansion berlangsung lebih sunyi dari sebelumnya. Hanya suara mesin mobil dan gesekan ban di aspal yang menemani.
Danny menyetir dengan fokus. Atau setidaknya, berpura-pura fokus.
Di kursi penumpang, Revo duduk santai. Kotak ponsel yang baru dibeli tadi kini berada di tangannya. Jarinya berputar-putar di sudut kemasan, sesekali mengetuknya pelan, seolah benda kecil itu menyimpan sesuatu yang penting.
Plastik segelnya belum dibuka.
Tapi cara Revo memperlakukannya jelas bukan cara seseorang memegang barang elektronik biasa.
Danny melirik lewat kaca spion. Sekilas saja.
Lalu sekali lagi.
Alisnya berkerut tipis.
Revo membuka tutup kotak itu perlahan, mengeluarkan ponsel dengan hati-hati. Matanya menelusuri permukaannya, jari-jarinya menyapu layar yang masih gelap.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.
Senyum kecil.
Hangat.
Nyaris tak terlihat.
Danny menelan ludah. Gawat.
Revo kembali menutup kotak ponsel, menahannya di dada sejenak—singkat, tapi cukup untuk membuat Danny ingin menepuk dahinya sendiri.
“Bagus?” tanya Danny akhirnya, pura-pura santai.
Revo melirik singkat. “Hm.”
Jawaban satu suku kata itu diikuti senyum kecil yang kembali muncul.
Danny menghela napas panjang. "Elu sadar nggak sih," gumamnya, "dari tadi elu senyum sendiri kayak orang lagi jatuh cinta."
Revo tidak membantah.
Dia hanya kembali memandangi kotak ponsel itu, ibu jarinya mengusap sudutnya pelan.
Di luar jendela, mansion Luneth sudah mulai terlihat.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Revo merasa perjalanan pulang terasa… terlalu cepat.