Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Bram
Mona merasa curiga melihat Dave yang seolah gelisah setiap hari. Pria itu terus menggigit kuku tangannya setiap kali merasa cemas. Dan badannya yang seolah tak bisa diam, membuat Mona tak tahan untuk menegurnya.
"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat cemas?" Tanya Mona yang sedikit terganggu dengan sikap Dave akhir-akhir ini.
"Tak ada, aku hanya memikirkan berkas perceraian yang sudah sampai di pengadilan," jawab Dave yang berbohong, karena dia sadar telah meninggalkan berkas itu di rumah Laura.
"Apa? Kau sudah menceraikan Laura?" Tanya Mona sumringah, namun seketika raut wajahnya berubah sendu menjadi rasa simpati pada Dave.
"Iya, aku tak bisa jika terus menggantung hubungan yang tak bisa di perbaiki. Aku benci dengan keangkuhan wanita itu."
Mona terlihat sedih mendengar kabar dari Dave perihal pernikahan dengan Laura yang sudah berakhir. Namun di balik topeng itu, tersimpan kebahagiaan yang tak bisa dia tunjukan.
"Padahal kau selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Sayangnya Laura tak pernah melihat kebaikanmu," ucap Mona yang berusaha menenangkan Dave dan mengambil hati pria itu sepenuhnya.
Tapi pikiran Dave justru terbayang pada kejadi malam itu, saat dia membabi buta memuaskan nafsu bejatnya pada Laura yang bahkan sudah tak berdaya. Dan kenyataan akan Laura yang sedang mengandung darah dagingnya sendiri yang akhirnya harus kehilangan nyawa oleh perbuatannya.
"Mona, bagaimana kalau kita pindah ke Bandung saja?" Ajak Dave yang ternyata takut pada ancaman Andreas yang akan menyeretnya ke jeruji besi.
"Ini sangat mendadak, tapi aku senang kalau kau akhirnya mau tinggal di kota kelahiranku."
Sementara di tempat lain, Andreas mendapat akses untuk masuk ke rumah Laura atas izin pemiliknya. Dia pun mengambil berkas perceraian yang Dave tinggalkan dan juga rekaman CCTV yang akan membuat hukuman pada Dave semakin berat.
"Kau akan membusuk di tempat yang pantas untukmu," gumamnya setelah membawa beberapa barang yang Laura minta.
Andreas menghela nafas panjang melihat darah kering di sepanjang jalan kamar Laura sampai ke depan pintu. Dia pun meminta pada supir dan pembantu Laura untuk tak menyentuh semuanya karena akan menjadi bukti yang memberatkan hukuman bagi Dave.
"Bagaimana bisa saat kejadian kalian tak mendengar teriakan majikan kalian?" Tanya Andreas yang merasa janggal karena tak ada yang membantu Laura sama sekali.
"Kami pulang ke kampung halaman sejak Jumat malam, dan baru sampai ke sini hari Senin malam. Nona Laura bilang ingin menyendiri dulu selama weekend dan beristirahat di rumah," ucap pembantunya yang di angguki oleh sang supir.
"Untung saja nona membuat kamar untuk kami terpisah dari rumahnya. Sehingga kami tak kebingungan saat pulang ke mari jika di rumah sedang tak ada siapa-siapa. Tapi kami tidak tahu jika nona Laura ternyata mendapat musibah."
Andreas akhirnya paham dan tak lagi menyalahkan para pembantu juga supir yang tak menyelamatkan Laura malam itu.
Dia pun segera menuju rumah sakit, dan memberikan semua bukti pada Bram.
"Terima kasih Andreas, kau selalu setia pada putriku," ucap Bram yang merasa kagum pada Andreas. Dia pun membuka map berisi berkas perceraian yang sudah di tanda tangani kedua belah pihak. Dan juga rekaman CCTV yang sudah dipindahkan filenya pada flashdisk.
"Aku tak siap jika harus melihat kengerian yang terjadi pada putriku malam itu. Tapi aku harus memastikan jika Dave melakukan perbuatan kejamnya setelah Laura menandatangani surat cerainya," ucap Bram yang mulai menyalakan video di laptopnya.
***
Laura terlihat pulih setelah beberapa hari di rawat. Bram yang tak pernah pulang dan selalu ada untuk Laura, menjadi penunjang kesembuhan bagi sang putri yang tak hanya sakit fisik, tapi juga luka bathin.
"Pa, wajah papa terlihat pucat dan kantung mata papa semakin terlihat jelas. Pulang saja, aku sudah cukup sehat untuk mengurus diriku sendiri."
Bram menggelengkan kepalanya, tangannya yang mulai keriput mengusap kepala sang putri dengan lembut.
"Kantung mataku terlihat karena sudah tua, kau tak perlu khawatir. Aku masih sangat kuat untuk merawatmu," ucap Bram yang membuat Laura merasakan dukungan moril dari ayahnya.
Bram menganggap ini sebuah harga yang harus dia bayar karena telah menikahkan putrinya dengan pria kejam itu.
Andreas mengintip kedekatan ayah dan anak itu lewat pintu yang sedikit terbuka sambil tersenyum. Baginya hal seperti itu tak pernah dia dapatkan dari ayahnya sendiri.
"Selamat sore, tuan Bram dan juga nona Laura," sapa Andreas yang bersikap sopan di depan Bram yang membuat Laura mengerutkan keningnya.
"Tumben kau memanggilku nona. Apa karena ada papa di sini?" Tanya Laura menyindir Andreas.
Bram terkekeh melihat Andreas yang kikuk, dia tahu jika pria itu tak berani melawan Laura.
"Nona, aku sudah menyerahkan salinan dari rekaman CCTV itu ke pihak berwajib. Dan mereka akan segera menangkap Dave atas perbuatannya," lapor Andreas yang di angguki Laura dan Bram.
"Aku harap kau tidak kasihan dan memaafkannya. Aku ingin kau menyetujui keputusanku untuk menangkap dan mengadilinya," ucap Bram yang tentunya di setujui Laura.
Andreas pun memberikan sebuah tas kecil yang berisi kotak coklat dari brand favorit Laura.
"Terima kasih, Andreas."
Andreas mengangguk, baginya melihat Laura yang kembali tersenyum adalah suatu anugerah setelah beberapa hari dia terlihat muram dan trauma.
"Bagaimana kalau hari ini kau makan malam dengan kami. Aku akan memesan makanan favorit Laura," ajak Bram yang tentunya membuat Andreas sangat senang. Dia pun mengangguk dan menerima tawaran tersebut.
Laura yang biasanya makan di ranjangnya, kini ikut duduk bersama ayahnya dan Andreas di sofa. Ketiganya makan dengan menu yang sama untuk menyenangkan Laura dengan makanan favoritnya.
"Bagaimana keadaan kantor, tidak ada kendala apapun?" Tanya Laura yang tiba-tiba teringat pada pekerjaannya.
"Tidak ada kendala apapun, semuanya aman dan terkendali. Kau tak perlu mengkhawatirkan kantor, fokuslah pada kesembuhanmu," jawab Andreas yang juga di setujui oleh Bram.
Bram yang sedari tadi menahan amarah setelah melihat video rekaman CCTV di rumah Laura, mulai bergerak untuk meminta anak buahnya mencari Dave.
"Sebelum kau di tahan di jeruji besi, kau harus mendapatkan hukuman dariku. Hukuman yang sesuai seperti yang kau perbuat pada Laura. Aku bersumpah Dave, tak hanya fisikmu yang hancur tapi juga seluruh hidupmu yang akan hancur," gumam Dave di liputi amarah atas kemalangan yang menimpa putri semata wayangnya.
Laura melihat ayahnya yang termenung namun dengan raut wajah tegang dan bersemu merah karena amarah.
"Pa? Kalau kau tidak menyentuh makananmu, maka aku yang akan menghabiskannya," canda Laura yang membuat Bram terkekeh.
"Kalau kau mau, habiskan saja sayang!"
🤣🤣
dan laura lah yg slm salah di matamu....
smoga sja setelah km tau knyataannya... gundikmu slm ini tak setia pdamu dan ank yg km sayangi slm ini trnyata bukan darah dagingmu... di msa mndatang km mnikah lgi... tak akn km mndptkn kturunanmu dan km jga tak akn bahagia dave🙄🙄