Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak untuk kelemahan
Pada akhirnya perkelahian semua selir di lerai pihak Ibu Suri Agung.
Di istana tempat Ibu Suri Agung Bao Yu berada. Keenam selir kekaisaran hanya bisa berlutut sembari menundukkan kepalanya mereka.
"Sebagai Selir Kekaisaran, pantaskah kalian bertindak begitu tidak tahu aturan. Berkelahi dan saling melawan dengan kata-kata tidak pantas. Selir Cheng, apa keluarga mu tidak memberikan didikan yang bagus?" Ujar Ibu Suri Agung Bao Yu tegas. Dia mengalihkan pandangan matanya ke pada Selir Zhang. "Kau juga. Selalu merebut hal yang bukan hak mu. Kalian telah membuat kekacauan di istana dalam."
Cincin giok hijau di jari manisnya di putar perlahan. "Mulai hari ini, jika aku mendengar keributan lagi. Akan aku buat kalian tidak memiliki tempat berdiam lagi di istana ini." Ibu Suri Agung Bao Yu bangkit dari tempat duduknya. Gaun hijau zamrud di tubuhnya jatuh menjuntai ke lantai.
"Baik, kami mengerti." Jawab semua Selir Kekaisaran.
"Kalian bisa pergi. Jangan pernah mengganggu ketenangan ku lagi," ujar Ibu Suri Agung Bao Yu. Wanita tua itu melangkah pergi menuju ke dalam ruangan kamar dengan sekat.
"Baik."
Semua Selir bangkit dari lantai. Mereka keluar dari ruangan kamar. Saling berpandangan penuh permusuhan. Meskipun begitu mereka tidak lagi memiliki keberanian untuk saling melawan.
Di dalam kamarnya, Ibu Suri Agung Bao Yu duduk di atas tempat tidur.
Dari belakang lemari baju yang cukup besar. Pria paruh baya keluar dari tempat persembunyiannya.
"Lakukan seperti yang aku perintahkan," ujar Ibu Suri Agung Bao Yu sembari menata gaunnya.
"Baik." Tuan Yu Wangyi memberikan hormatnya lalu melangkah pergi.
Dua pria muda masuk setelah semua tamu meninggalkan ruangan kamar itu. Suara Guqin mengalun kembali.
...Istana belakang...
Kaisar Xiao Chen masih berada di istana belakang bersama Selir Yu. Di antara ribuan daun yang berguguran. Mereka duduk tenang di kursi panjang.
Selir Yu memejamkan kedua matanya. Ia menikmati aroma dari bunga-bunga kecil yang mulai bermekaran.
Suara kicau burung terdengar tanpa jeda. Membuat suasana terasa lebih ringan dan segar.
Wanita itu membuka kedua matanya di saat rasa sakit menekan dadanya. Dia duduk dengan perlahan. 'Aku lupa meminta obat dari Tuan Yu.' Racun yang telah menyebar di tubuhnya membuat Selir Yu menahan rintihan rasa sakit.
"Kenapa?" Kaisar Xiao Chen juga ikut terbangun.
Selir Yu menggelengkan kepalanya. "Aku ingin ke kamar kecil." Tangan yang awalnya ada di dada turun menekan perutnya. Keringatnya berjatuhan. Getaran mulai terlihat di tangannya. Seketika ia sembunyikan tangannya itu di balik lengan panjang gaun yang ia kenakan. "Aaagghh... Aku tidak tahan lagi." Bangkit.
Wanita itu ingin berlari namun dirinya tidak mampu melangkah dengan cepat.
"Kau yakin hanya sakit perut biasa?" Tanya Kaisar Xiao Chen melihat ke arah istrinya.
Tanpa menolah Selir Yu berkata. "Jika kau menahan ku lebih lama. Aku tidak yakin akan mampu menahannya." Langkahnya di percepat. Meninggalkan Kaisar Xiao Chen yang masih ada di pulau kecil itu.
Dari kejauhan Pelayan Guyi juga melihat ada yang tidak beres dengan Selir Yu. "Ikuti aku." Dia berlari. Pelayan lain mengikuti.
"Baik."
Wajah cerah penuh semangat itu seketika luntur tergantikan rasa letih. Langkah kakinya telah terguntai dengan wajah semakin pucat. Langkahnya tetap di percepat sembari memegang pembatas jembatan. Untuk menegakkan tubuhnya.
"Selir Yu." Pelayan Guyi dengan sigap memegang tangan Selir Yu. Di saat wanita itu hampir tersungkur karena tidak mampu menahan rasa sakit di dadanya.
"Guyi, tetaplah bersikap biasa. Aku tidak ingin Yang Mulia curiga," tegas Selir Yu.
"Baik." Genggaman tangan Guyi semakin di perkuat. Empat pelayan lainnya memberikan jalan dan mengikuti setiap langkah dua wanita di depan.
Setelah Selir Yu meninggalkan istana belakang. Pria yang masih ada di pulau kecil itu tetap menatap kearah pintu utama. Dia tahu ada yang tidak beres dengan istrinya itu. Tapi dia berusaha menahan keinginannya untuk mengikutinya. Baginya jatuh cinta adalah larangan. Juga kelemahan yang akan membuat dirinya tidak lagi dapat bertahan di atas tahta.
Pengawal Zhu Wan berlari menghampiri Kaisar Xiao Chen. "Yang Mulia." Memberikan surat rahasia.
Satu lembar surat itu bertuliskan.
'Hujan terus menerus terjadi tanpa henti. Membuat tanggul di beberapa kota mengalami kerusakan parah. Bahkan satu tanggul sudah mulai bocor dan sangat menghawatirkan. Kota Zhan Xu dalam bahaya.'
Kaisar Xiao Chen menyobek surat itu menjadi bagian-bagian terkecil.
"Yang Mulia, beberapa retakan di tanggul yang ada di beberapa kota telah di tambal. Namun hal ini juga belum bisa memastikan jika tanggul tidak akan jebol di saat hujan terus berkelanjutan. Untuk kota Zhan Xu sendiri. Tanggul yang bocor jauh lebih parah. Bahkan hampir membuat seperempat tanggul mengalami retakan sangat parah." Pengawal Zhu Wan menjelaskan.
Kaisar Xiao Chen berjalan menuju jembatan dengan langkah pelan. "Tiga hari, pastikan seluruh warga yang bisa terdampak jebolnya tanggul dapat di amankan. Tidak lama lagi. Para pejabat rakus itu sendiri yang akan menyetujui pembangunan besar-besaran. Untuk semua tanggul di beberapa kota yang telah mengalami kerusakan." Tatapan matanya sangat tajam dan dingin.
"Baik."
Kaisar Xiao Chen melangkah kembali menuju istana timur di ikuti pengawal setianya.
Di sisi lain.
Di halaman taman Lili.
Selir Yu berbaring dengan menekan rasa sakit di dadanya.
"Saya akan mengabari Tuan besar agar obat meredakan rasa sakit dari racun bisa segera di berikan." Pelayan Guyi menatap khawatir. Dia terus menyeka keringat di kening dan leher Selir Yu.
"Tidak ada gunanya." Suaranya menekan. Wajahnya semakin pucat. "Jika aku tidak berguna untuknya. Obat yang dia maksud tidak akan pernah aku dapatkan. Aaaaa..." Selir Yu terus merintih kesakitan. "Rasa sakit ini terlalu berlebihan. Bukankah aku hanya datang ke dunia novel. Tapi kenapa semua yang aku rasakan seperti dunia nyata."
"Selir Yu, saya tidak bisa hanya diam tanpa berbuat apa-apa." Tangan Pelayan Guyi bergetar karena takut terjadi hal yang tidak di inginkan kepada wanita yang ia layani. Dia bangkit berniat pergi.
Selir Yu langsung menahan pelayannya itu. Dengan sisa tenaga yang ia miliki. Dia menggenggam kuat pergelangan tangan pelayan Guyi. "Jangan pergi. Aku tidak ingin kelemahan ini semakin membuat dia menekan ku lebih dalam lagi. Hanya rasa sakit. Aku akan coba menahannya."
"Baik, baik. Anda harus beristirahat." Pelayan Guyi membantu Selir Yu ke posisi ternyamannya lagi.
Pelayan Nuan Nuan masuk. "Selir Yu, seseorang melemparkan ini di depan pintu kamar. Kami mengejarnya tapi tidak bisa menangkapnya. Sepertinya dia juga salah satu pelayan di istana." Memberikan bungkusan kecil yang cukup berat.
"Kau bisa membukanya. Aku tidak sanggup bergerak lebih banyak lagi," ujar Selir Yu.
"Baik."
Pelayan Nuan Nuan membuka bungkusan itu. Di dalam bungkusan ada satu butir obat dengan batu. "Ini! Selir Yu." Memperlihatkannya kepada wanita yang ada di atas tempat tidur.
Melihat itu tangan Selir Yu seperti kilatan yang langsung menyambar obat di tangan Pelayan Nuan Nuan. Dalam sekali tenggakan. Obat di telan.
"Selir Yu."
"Selir Yu."
Dua pelayan wanita itu terkejut.
"Muntahkan. Bagaimana jika itu racun." Pelayan Guyi menyodorkan telapak tangannya.
"Benar. Bisa saja ini jebakan." Pelayan Nuan Nuan semakin khawatir.
Setelah obat benar-benar tercerna. Rasa sakit perlahan menghilang. "Ini benar-benar obat racun yang aku butuhkan. Apa kabar racun ku yang telah kambuh begitu cepat menyebar? Dari sifat Tuan Yu. Tidak mungkin dia memberikan obat dengan cuma-cuma. Apa lagi tanpa aku memohon terlebih dulu." Menarik napas perlahan. Rasa lega ia rasakan. "Guyi, Nuan Nuan, cari tahu orang yang telah memberikan obat ini kepada ku. Dia pasti telah mengawasi ku sejak lama dalam kegelapan. Tidak ada pemberian tanpa imbalan. Teman atau musuh. Kita akan tahu setelah menemukannya."
"Baik."
semangat dan sehat terus kak 🤲
thanks Thor, lanjut