Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesona Torvald
Aku terkejut.
Si wanita kantin, Jenny, menatapku dengan ekspresi aneh, lalu meninggalkan gelas itu dan terhuyung mundur ke sudut entah di mana di belakang sana.
“Ih,” gumamku sambil menatap milkshake merah muda itu. Aku geleng-geleng kepala. “Vampir?”
Agnes kelihatan makin dongkol. Bibirnya tertarik jadi garis tipis.
“Minum,” katanya singkat sambil mengangguk ke arah gelas. “Habisin. Habis itu aku antar kamu ke dokter.”
Aku ingin bertemu dokter. Katanya dokter akan menjelaskan kenapa aku di sini. Mungkin aku juga bisa melaporkan si Agnes sekalian. Kalau tusukan kecilnya ke dadaku enggak ninggalin memar, mungkin aku bisa nusuk diri aku sendiri di tempat yang sama, lebih keras, terus menuduh dia untuk bertanggung jawab. Biar puas.
Aku angkat gelas itu dan menatap isinya dengan takut. Aku enggak tahu itu terbuat dari apa. Teksturnya kental dan menggumpal. Dan warnanya bukan merah. Dia bilang, “Milkshake merah.” Aku dengar jelas.
Tapi ini merah muda.
Aku langsung tersedak. Agnes keluarkan napas panjang. Dengan ragu, aku angkat bibir gelas ke mulut. Baunya pun naik duluan.
Cuma satu kata yang bisa menggambarkannya ... busuk.
Perawat itu cuma menonton tanpa ekspresi, terus kasih isyarat supaya aku cepat. Aku tarik gelas itu dari mulut. Dia malah mendesah kesal.
“Isinya apa sih? Perutku sensitif,” kataku sambil menepuk perutku yang hampir jungkir balik. “Terus, kayaknya ibu kantin tadi ngeludah di sini, deh. Dan pasti ada rambut di dalamnya.”
Aku taruh gelas itu di meja dan mendorongnya pelan menjauh.
“Oke,” kata Agnes dingin. “Jangan diminum kalau gitu. Aku antar kamu balik ke kamar dan aku bakal kunci sampai besok.”
“Berengsek!” keluhku.
Aku langsung menyambar gelas itu dan buru-buru menuang air menjijikkan itu ke mulutku.
Astaga.
Itu parah.
“ANJING! Brrrrbbbbbb!” teriakku sambil menyemburkan cairan merah kental itu ke seragam Agnes.
Matanya langsung membelalak kaget.
Pasien-pasien lain di bangsal mulai tertawa dan kegirangan, seperti sedang menonton hiburan gratis.
Aku menatap gelas itu, yang masih penuh dan geleng-geleng kepala.
“Aku enggak bisa,” rintihku.
Agnes kelihatan sangat marah. Otot di bawah matanya berkedut-kedut karena seragamnya kena cipratan minumanku.
Aku pun memaksa lagi menelan lebih banyak minuman itu, berharap saja hal itu bikin dia enggak marah sama aku. Aku enggak mau perawat yang nyebelin itu benaran benci sama aku dan merusak hidup aku selama aku di sini. Aku cuma ingin bertemu dokter dan tahu kapan aku bisa lanjutkan hidup normal aku.
Teksturnya kental, enggak rata. Aku pun merapatkan bibir dan menengadah, membujuk supaya cairan itu turun dan stay di tenggorokan. Tapi malah menyembur lewat hidungku dan lagi-lagi, sebagian menyembur mengenai seragam Agnes.
Aku langsung banting gelas ke meja, tapi gelasnya malah kepleset dan isinya tumpah ke mana-mana, lagi-lagi menuju ke seragam Agnes.
“Enggak,” rintihku dengan muka sedih.
Ya jelas, aku bakal masuk daftar hitam Agnes. Dia bakal datangi aku bawa palu sama tombak, tiap malam. Mungkin sambil menyuruhku senyum dan bilang terima kasih saat dia melakukannya.
“Ke kamar! SE-KA-RAAAANG!” teriak Agnes.
Aku merasa ingin meledak karena ini enggak adil.
Minum racun itu atau dikurung di kamar?
Tempat apaan sih ini?
“Nah, Agnes,” sebuah suara laki-laki menyela. Mataku dan mata si perawat langsung melebar, kepala kami serempak menoleh ke pendatang baru.
Itu si cowok bertopeng Venom. Mantap. Bajingan paling seram yang pernah aku lihat ada di sini. Dia mungkin bakal menawarkan diri buat memotongku jadi potongan kecil dan masukkan ke milkshake.
Sikap Agnes berubah total, walaupun dia berusaha sok biasa. Ya Tuhan, bahkan dia takut sama cowok ini.
“Kembali ke tempat dudukmu,” katanya, tapi Agnes enggak berani menatap dia. Aku angkat alis, penasaran, dan bodo amat. Aku juga enggak akan menatap dia. Aku jelas enggak mau menarik perhatian seseorang yang suka pakai kulit ular di wajahnya.
Aku menoleh ke arah lain dan mencoba menebak apa yang sedang dilakukan Jenny, si ibu kantin. Mungkin sedang mencari cara mengubah paku berkarat jadi makanan.
“Dengar ya, biasanya aku enggak suka ngibarin titid gede aku!” kata cowok itu.
Kepalaku langsung menyentak ke belakang.
Bukannya menatap topeng Venom-nya, aku malah memperhatikan selangkangannya dan menebak-nebak ... mana lipatan kain, mana bekas titiddnya.
“Tapi hari ini aku pingin ngelakuin itu! Dia jelas-jelas berusaha ngelakuin yang kamu minta, dan ini ... hari pertamanya. Udahlah!”
Agnes kelihatan jijik dan terganggu. Si cowok bertopeng berdiri dengan tangan terulur di lekukan titiddnya, kepala sedikit miring, menatap Agnes.
Aku sempat mengamati dia. Dia pakai jins hitam ketat, hoodie, dan sepatu bot punk setinggi lutut, penuh gesper, kancing, dan tali sepatu.
Sarung tangan dari kulit, sama topengnya yang serasi, hitam pekat.
Dia jauh lebih tinggi dari aku. Jins nya membungkus paha sama bokongnya yang jelas banget kalau badannya berotot.
Gila.
“Oke,” katanya sambil gigit bibir. “Ikut aku Rowena, kita bakal urus semua dokumen kamu,” gumamnya sebelum balik badan dan pergi.
Alisku langsung terangkat.
Si cowok bertopeng itu menengok lagi ke arahku, dan aku menelan rasa gugup. Aku enggak mau dia melihat betapa dia membuatku deg-degan.
“Eh … iya, oke. Aku nyusul,” kataku ke Agnes.
Cowok itu cuma berdiri di situ dengan topengnya, dan aku terbengong.
"Rowena!"
“Iya-iya, oke,” celetukku cepat sambil mengejar Perawat Agnes.
“Dia enggak suka bunuh orang, kan?” tanyaku. Kayaknya dia menganggap itu lucu banget. Dia mendengus lalu kasih senyum tulus.
“Aku malah senang kamu berhasil narik perhatian Torvald,” katanya sambil berusaha mengelap muntahan milkshake aku yang nempel di pipinya. “Kamu bisa mati dalam seminggu.”
Mati?
Dia ingin aku mati?
Untung saja urusan tadi udah beres.
“Ya udah kalau gitu, Jalang.”
“Wow, aku enggak sabar lihat kamu dikuliti hidup-hidup.”
Mungkin Torvald bakal pakai kulit aku minggu depan, dan Perawat Agnes cuma akan tersenyum puas melihat koleksi topengnya bertambah satu.
Aku enggak mau ancaman itu terus menghantui kepalaku, jadi aku harus cepat-cepat menjadi enggak menarik buat orang seperti Torvald.
Dan aku juga perlu cari teman.