Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 20
Pria botak berseragam itu menatap Rowena dari balik bahu pamannya. Matanya berbinar geli saat melihatnya berdiri di sana. Tubuhnya besar dan buruk rupa. Meski tidak terlalu jelas, Rowena tahu tubuh pria itu dipenuhi otot.
Dialah orang yang dikirim rumah sakit jiwa untuk menjemputnya.
Tidak, batin Rowena sambil menggeleng pelan ke arahnya.
“Masuk,” kata pamannya.
Panik langsung menghantam dadanya.
Rowena menoleh ke arah tantenya. Perempuan itu tampak lega. Rowena mungkin membenci paman dan tantenya, tetapi merekalah satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia. Dan mereka justru lega karena bisa mengurungnya.
Rowena berbalik dan berlari ke pintu belakang, meraih kunci mobilnya. Semuanya terasa mendesak. Ia memutari rumah, melompat masuk ke mobil, lalu langsung tancap gas, tak peduli apakah polisi atau raksasa itu mengejarnya.
Lari, katanya pada diri sendiri. Lari saja.
Jari-jarinya menyalakan radio dan menaikkan volumenya setinggi mungkin hingga pikiran-pikiran itu lenyap.
Tiga puluh menit kemudian, Rowena membelok keluar jalan utama dan memarkir mobil di depan sebuah 7-Eleven.
Jantungnya berdegup kencang. Langit sudah gelap gulita, bintang hampir tak terlihat. Dan di sanalah semua pikiran yang tadi ia tekan kembali muncul.
Darah.
Taring.
Kekuatan.
Otaknya membentuk kesimpulan yang absurd. Vampir tidak mungkin nyata, bukan?
Orang-orang keluar masuk 7-Eleven, menyesap minuman atau mengunyah camilan sebelum kembali ke mobil mereka. Mulut Rowena kering. Rasa lapar menggerogoti perutnya. Gusinya juga terasa gatal.
Dan semuanya terasa aneh.
Makan justru terasa seperti beban, dan makanan di tempat ini tidak pernah terasa enak. Satu-satunya yang terasa enak hanyalah darah Darcel.
Pikiran itu berputar di kepalanya, bercampur dengan pikiran-pikiran lain yang kini muncul ke permukaan.
Ember-ember darah.
Minum darah.
Pembunuhan.
Apa mungkin Darcel benar-benar vampir?
Rowena masuk ke toko sambil menggenggam uang kertas kusut dan koin yang ia ambil dari mobil. Matanya langsung tertuju pada mesin es serut. Sedikit gula dan es mungkin bisa membantu.
Jauh lebih baik daripada memaksa diri mengunyah keripik kentang yang renyah dan asin itu.
Ya Tuhan, keripik itu menjijikkan.
Beberapa detik kemudian, ia menunjuk gelas warna-warni di meja kasir. Pria di balik meja memandang gelas itu dengan ekspresi datar, menekan tombol di layar mesin kasir, lalu menyebutkan harga.
Ada sesuatu yang anehnya menarik dari pria itu. Rowena tidak tahu apa. Ia tidak tampan, tidak seksi, tidak tegap, tidak memiliki apa pun yang biasanya dianggap menarik. Ia hanya tampak seperti pria yang butuh mandi. Rambut berminyak, kulit kusam, lingkar hitam di bawah mata.
Namun lehernya.
Lekukannya bagus. Dan Rowena menyukai pemandangan arteri di leher itu yang berdenyut, mendorong darah.
Detak jantungnya semakin cepat dan keras. Ia memainkan uang kembalian di tangannya, membolak-balik koin. Jari mereka sempat bersentuhan saat Rowena menyerahkan uang.
Bau tubuh pria itu tidak sedap, masih tercium samar aroma keringat. Namun entah kenapa, Rowena justru condong ke depan dan menarik napas dalam-dalam, sementara perutnya berbunyi.
Perhatian pria itu kembali padanya saat bunyi itu terdengar. Alisnya terangkat.
“Mau struk?” tanyanya. Dan saat itu pula Rowena mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang ia lakukan.
“Tidak, terima kasih,” jawabnya sambil mengambil minuman itu.
Di pintu keluar, Rowena sempat menabrak seseorang. Ia bisa mendengar degup jantung orang itu.
Ia masuk ke mobil dan menutup pintu, memperhatikan orang-orang keluar masuk toko sambil minum. Rasanya sangat manis, tetapi anehnya justru membuatnya semakin haus dan lapar. Sangat lapar.
Jari-jarinya menekan giginya sendiri, mencoba merasakan apakah taringnya memanjang dan menajam.
Apa semua yang ia pikirkan ini benar?
Bayangan taring Darcel yang panjang muncul lagi di benaknya. Erangan pria itu saat darahnya diminum. Rasa panas yang menjalar di pembuluh darahnya.
Seumur hidup, Rowena tidak pernah mengalami halusinasi seperti ini.
Ia mengerang pelan sambil memukul-mukulkan kepalanya ke setir berulang kali hingga klakson mobil berbunyi lirih.
Ini gila.
Ia pasti gila.
Dan mungkin itu berarti ia seharusnya tidak terlalu percaya pada kesimpulan ini, tetapi ya, ia memang gila.
“Apa aku sekarang jadi vampir?” gumamnya sambil mengangkat kepala.
Dan saat itulah ia menyadari bahwa kasir 7-Eleven itu sudah mati. Bukan sekadar diam dan tidak bergerak, melainkan benar-benar mati.
Pria menjijikkan yang tadi baunya ia cium kini tergeletak di atas meja, berenang dalam genangan darah, mata dan mulutnya terbuka lebar.
Orang yang ia tabrak saat keluar juga tergeletak di jalan, darahnya menyebar luas. Rowena menoleh ke sekeliling dan melihat dua mayat lain di dekat pompa bensin.
“Sial,” bisiknya, akhirnya menerima bahwa semua ini nyata.
Dan ia baru saja membuat marah vampir pembunuh itu.
Tangannya buru-buru meraih kunci, tetapi pintu penumpang terbuka pada saat yang sama.
Dan tentu saja, Darcel.
Pria itu duduk dengan tenang di kursi sebelahnya, wajahnya datar. Penampilannya hampir sama seperti semalam. Kemeja berkancing, celana bahan, sarung tangan kulit. Sebuah pisau tergenggam di tangannya, masih berlumuran darah. Darah segar dari mayat-mayat yang berserakan di sekitar mereka.