Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban Tak Bersalah
Pagi yang seharusnya menjadi awal dari harapan baru bagi Livia, justru menjadi hari di mana maut kembali mengasah taringnya. Di Bangsal Flamboyan, sebuah area yang lebih mirip asrama dengan taman kecil yang asri, Sheila Nandhita telah menyelesaikan perannya sebagai pasien yang bertaubat. Dengan ketenangan yang mengerikan, ia menyelinap keluar melalui pintu samping dapur yang terbuka saat petugas katering sedang sibuk menurunkan logistik.
Hanya butuh waktu lima menit bagi sang predator untuk mencapai jalan raya yang ramai.
****
Matahari mulai meninggi di atas kawasan Grogol. Yunita, seorang karyawati bank yang baru saja menyelesaikan sif malamnya, berdiri di tepi trotoar dengan wajah lelah. Ia sedang menunggu ojek daring, matanya terpaku pada layar ponsel tanpa menyadari bahwa maut sedang berdiri tepat di belakangnya.
Sheila, yang mengenakan daster pasien biru muda yang ia tutupi dengan jaket kusam hasil curian dari ruang loker suster, berdiri hanya satu meter di belakang Yunita. Matanya yang merah dan kurang tidur menatap punggung Yunita dengan kebencian yang acak. Baginya, setiap wanita yang tampak bahagia atau normal adalah penghinaan terhadap penderitaannya.
"Dunia ini tidak adil, kan?" bisik Sheila pelan, nyaris tak terdengar oleh deru mesin kendaraan.
Yunita menoleh, namun sebelum ia sempat bereaksi, Sheila memberikan dorongan yang sangat kuat dengan kedua tangannya tepat di punggung wanita malang itu.
"AAAKH!"
Tubuh Yunita terlempar ke aspal panas tepat saat sebuah truk tronton bermuatan semen melaju kencang dari arah kanan.
BRAKKK!
Suara hantaman logam dengan tubuh manusia itu terdengar begitu nyata, diikuti oleh bunyi decit rem yang memekakkan telinga. Tubuh Yunita terseret beberapa meter, tewas seketika di tempat kejadian. Massa mulai berkerumun, teriakan histeris warga pecah memenuhi udara.
Di tengah kekacauan itu, di balik bayang-bayang halte bus, Sheila Nandhita meledak dalam tawa. Ia menutupi mulutnya dengan tangan yang bergetar, namun tawanya tetap lolos melalui celah jemarinya. Sebuah tawa yang ganjil, melengking, dan penuh kemenangan.
"Satu per satu... semuanya akan jatuh," gumam Sheila. Ia segera meraih sebuah selendang batik usang yang ia temukan di bangku halte, melilitkannya ke kepala dan menutupi mulutnya. Dengan tatapan yang kini tersembunyi, ia menghilang di antara kerumunan orang yang sedang panik, menuju sasaran utamanya yang sebenarnya: Livia.
****
Sementara itu, di sebuah ruko kecil yang baru saja direnovasi di kawasan Tebet, aroma mentega dan gula karamel menguar dengan manis. Sebuah papan kayu bertuliskan "Livia’s Sweet Corner" dihiasi rangkaian bunga melati dan mawar.
Livia berdiri di depan pintu toko kecilnya dengan gaun berwarna peach yang cerah. Wajahnya tampak segar, meski ada sedikit kecemasan di matanya. Ayub berdiri di sampingnya, mengenakan kemeja batik yang rapi, tampak sangat bangga melihat wanita yang ia cintai akhirnya mewujudkan impiannya.
"Mbak, ini harinya. Semua kerja keras Mbak terbayar hari ini," bisik Ayub sambil menggenggam tangan Livia dengan erat.
"Terima kasih, Ayub. Kalau bukan karena dukunganmu, aku mungkin masih meringkuk di dalam apartemen," jawab Livia tulus.
Beberapa kerabat dan pelanggan setia dari pesanan daring hadir untuk menyaksikan peresmian sederhana itu. Livia mengambil gunting pita. Dengan sekali potong, pita merah itu jatuh, menandakan tokonya resmi dibuka. Tepuk tangan meriah terdengar, namun di seberang jalan, di antara deretan pohon tanjung yang rimbun, sesosok wanita berpakaian gelap dengan selendang menutupi separuh wajahnya sedang memperhatikannya.
Sheila menatap Livia dengan tatapan yang bisa membakar kulit. Ia melihat bagaimana Ayub merangkul bahu Livia. Ia melihat senyum Livia yang tampak begitu damai.
"Tersenyumlah selagi bisa, Livia," desis Sheila di balik selendangnya. Ia tertawa tertahan, tubuhnya berguncang hebat di balik pohon. "Kue-kue itu akan segera terasa seperti debu di mulutmu. Aku akan memastikan peresmian ini menjadi hari pemakaman kebahagiaanmu."
Sheila meraba saku jaketnya, merasakan dinginnya bilah pisau lipat yang ia ambil dari tas milik Yunita setelah mendorongnya tadi. Ia terus mengawasi, menunggu kerumunan bubar, menunggu saat yang paling sunyi untuk menerkam.
****
Di Rumah Sakit Jiwa Grogol, suasana berubah menjadi neraka bagi staf administrasi dan tim medis. Attar Pangestu berdiri di tengah lobi dengan wajah yang merah padam karena kemarahan yang meluap-luap.
"BAGAIMANA BISA DIA KABUR?! SAYA SUDAH PERINGATKAN KALIAN SEMALAM!" teriakan Attar menggema di seluruh ruangan, membuat para perawat ketakutan.
Dokter Kusno datang dengan wajah pucat. "Pak Attar, kami benar-benar tidak menyangka. Dia memalsukan perilakunya dengan sangat sempurna—"
"TIDAK MENYANGKA?!" Attar memukul meja resepsionis hingga kaca di atasnya retak. "Nyawa orang terancam karena ketidakmampuan kalian! Kalian memindahkan iblis ke tempat yang longgar padahal saya sudah memohon untuk menguncinya!"
Attar meraih kerah baju Dokter Kusno, matanya berkilat penuh dendam. "Jika seujung kuku saja Livia terluka hari ini, saya bukan hanya akan menuntut rumah sakit ini hingga bangkrut, tapi saya sendiri yang akan menyeret kalian ke penjara karena kelalaian yang menyebabkan kematian orang lain! Kalian tahu wanita yang baru saja ditabrak truk di depan sana? Itu karena Sheila! Dan kalian adalah kaki tangannya!"
Attar menghempaskan Dokter Kusno, lalu segera berlari menuju mobilnya. Ia segera menghubungi nomor Livia, namun sial, ponsel Livia ditinggalkan di dalam toko karena ia sedang sibuk melayani tamu di area depan.
"Angkat, Livia! Angkat!" raung Attar di dalam mobilnya. Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan gila, melompati trotoar untuk menghindari kemacetan. Ia tahu, peresmian toko Livia adalah hari ini. Dan ia tahu, Sheila pasti akan menuju ke sana untuk merusak segalanya.
****
Di toko kue, acara peresmian hampir berakhir. Para tamu mulai pulang satu per satu. Ayub sedang sibuk di area belakang untuk merapikan sisa kotak kemasan, meninggalkan Livia sendirian di meja kasir sambil merapikan sisa-sisa bunga.
Suara bel pintu berdenting.
"Selamat datang di Livia’s Sweet..." Kalimat Livia terhenti.
Seorang wanita dengan selendang menutupi kepala dan mulutnya masuk dengan langkah yang sangat pelan. Aroma tubuh wanita itu... bau keringat, bau tanah, dan bau besi yang tajam. Livia merasa bulu kuduknya berdiri. Ingatannya langsung melesat ke malam di apartemennya.
"Maaf, kami baru saja akan tutup..." ucap Livia, suaranya mulai bergetar.
Wanita itu perlahan membuka selendangnya, menampakkan senyum miring yang penuh dengan liur dan mata yang melotot liar.
"Kenapa tutup secepat ini, Livia? Aku bahkan belum mencicipi kue kematianmu," suara Sheila melengking, mengisi ruangan ruko yang kecil itu dengan aura kegelapan yang kental.
Livia terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Di luar, suara deru mobil Attar mendekat dengan sangat kencang, sementara di dalam, Sheila sudah mengangkat pisau lipatnya yang masih menyisakan bercak darah Yunita.