Eleonara, seorang gadis yatim piatu berusia 27 tahun yang hidup bersama Paman dan Bibinya. Kehidupannya bak roller coaster. Dia diombang-ambing oleh Paman dan Bibinya. Hingga suatu hari, dia kabur dari kehidupan yang sangat kacau itu. Kemudian dia ditolong oleh seorang nenek (Massima Harrison).
Massima Harrison mempunyai seorang cucu yang bernama Erlan Dallin Harrison yang berusia 33 tahun. Atas permintaan neneknya, Erlan harus menikah dengan Eleonara. Sementara, Erlan sendiri sudah mempunyai seorang kekasih, Shelly namanya.
Hingga suatu hari, kekasih Erlan mengandung. Erlan harus bertanggung jawab menikahinya.
Mampukah Eleonara dan Shelly tinggal di Mansion yang sama? Akankah Eleonara memenangkan cinta Erlan dan menjadi Ratu seutuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisy Arbia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen Erlan
Selain Mansion Erlan, Erlan memiliki sebuah apartemen. Letaknya lumayan jauh dari Mansion-nya.
Sebelum dan sesudah menikah dengan Eleonara, sebenarnya dia lebih sering pulang ke apartemen. Karena di apartemen ada seseorang yang selalu membuat Erlan bisa tersenyum bahagia.
Selama 3 tahun ini, Erlan tinggal bersama kekasihnya. Namanya Shelly. Shelly gadis muda yang saat ini berusia 25 tahun. Gadis yang mampu meluluhkan Erlan yang dingin dan kaku.
"Hai, sayang! Kau pulang kesini lagi? Kau terlalu merindukan ku sayang," goda Shelly.
"Iya, kau tau betul. Bahwa aku sangat mencintaimu, Shelly," ucap Erlan yang duduk di sofa tak jauh dari keberadaan Shelly.
"Kebetulan, hari ini aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Mau mencicipi?" tanya Shelly yang menuju ke ruang makan. Erlan mengikutinya dari belakang.
"Boleh aku peluk sebentar, sebelum aku mencoba makanan favoritku?" tanya Erlan yang dirinya saat ini mulai kacau. Apalagi memikirkan permintaan Grandma beberapa hari yang lalu.
"Kemarilah, sayang!" Shelly merentangkan tangannya tanda mau menyalurkan semangat untuk kekasihnya.
"Terima kasih, sayang!" ketika keduanya sudah tak berjarak. Pelukan sejenak mampu membuat pikiran Erlan kembali fresh.
"Jadi, makanan apa yang kau buat?" tanya Erlan setelah melepaskan pelukannya.
"Hanya ayam bakar dengan kentang goreng. Apalagi? Aku tidak terbiasa masak daging," balas Shelly sembari menyiapkan makanan ke piring Erlan.
"Lain waktu, buatkan sup daging. Aku mau mencoba masakanmu," pinta Erlan.
"Tentu, sayang. Ayo lekas dimakan, keburu dingin. Aku baru saja selesai membuatnya,"
Erlan mulai memakan masakan kekasihnya. Shelly adalah tempat ternyaman untuk pulang ketika suasana hatinya sedang tidak baik.
"Masakanmu enak. Sering-seringlah buatkan aku makanan. Supaya aku semakin betah berada disini,"
"Tanpa aku membuat makanan, apa kau tak nyaman berada di dekatku, sayang?" balas Shelly dengan muka memelasnya. Padahal selama ini, Shelly jarang masak. Hanya sesekali saja jika mood nya sedang baik.
"Tentu saja sayang. Semua tentangmu itu sangat istimewa. Malam ini, boleh aku meminta?" tanya Erlan.
"Tentu, sayang. Semua untukmu," jawab Shelly.
***
Keesokan pagi, Erlan terbangun dengan wajah yang berseri. Tetapi dia berusaha membangunkan Shelly yang ada disampingnya.
"Bangun sayang," Erlan menepuk pundak Shelly agar kekasihnya itu lekas bangun.
"Nanti saja, Erlan. Badanku remuk semua, kau terlalu bersemangat. Memangnya ada apa?" Shelly menjawab masih setengah memejamkan mata.
"Grandma memintaku memberikan cicit," Erlan perlahan berdiri dari bed-nya. Usaha untuk membangunkan Shelly agaknya sia-sia.
"What?" Mata Shelly langsung berbinar. "Itu artinya, kau bisa menikah denganku!" Shelly sangat bahagia.
"Aku belum tau, sayang! Agaknya rencana untuk kita menikah belum bisa terwujud untuk beberapa bulan ke depan," jawab Erlan dengan muka galaunya. Bahkan dia hendak masuk ke kamar mandi, tetapi Shelly mencegahnya.
"Tunggu, sayang! Sepertinya kita harus berjuang lebih keras lagi," Shelly tersenyum. Seperti yang Erlan duga, gadis itu pasti punya rencana yang sudah sangat matang sekali.
"Ada apa, sayang?"
"Kita bisa mewujudkan permintaan Grandma. Kau dan aku yang akan berjuang," jawab Shelly.
Erlan sepertinya paham arahnya kemana, tapi saat ini yang dia pikirkan tentang statusnya sekarang. Apakah menikah dengan Shelly adalah solusi terbaik dari semua masalahnya? Atau malah akan berbuntut panjang?
Erlan langsung melanjutkan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini, dia malas untuk ke kantor. Dia ingin selalu berada di samping Shelly.
Shelly yang sedang berkutat dengan alat masaknya, dikejutkan kedatangan seseorang lalu memeluknya dari belakang.
"Sayang, lepas. Masakanku bisa berantakan kalau kau bermanja seperti ini," pinta Shelly.
"Diamlah! Aku masih rindu, sayang,"
"Kau tidak bersiap? Tidak ke kantor?"
"Aku libur hari ini. Biarkan Boy yang mengurusnya," Erlan masih pada posisinya, memeluk erat kekasihnya dari belakang.
"Sayang, kau jadi pemalas sekarang!" cibir Shelly. "Mana kekasihku yang katanya seorang Casanova yang gila kerja?"
"Bagaimana cara mewujudkan keinginan Grandma?" Erlan masih berpikir tentang keinginan Grandma.
"Kita buat sama-sama!" usul Shelly.
"Ngawur kamu! Mana bisa begitu sayang," Erlan melepaskan pelukannya, kemudian duduk di meja makan. Letaknya tak jauh dari dapur.
"Iya, berbuat dan berdoa. Se-simple itu kan, sayang?" Shelly memindahkan masakannya ke meja makan.
"Masak apa hari ini?"
"Hanya sandwich sederhana. Stok bahan di lemari pendingin sudah menipis. Mau belanja, belum dapat jatah bulanan," Shelly memproter Erlan. Karena selama hampir 2 bulan, debit card Shelly belum di isi sama sekali oleh Erlan. Erlan sedang mengurus istri sahnya.
"Maafkan aku, sayang! Aku tidak bermaksud melupakanmu. Tapi uangmu tidak sampai kekurangan, kan? Maksudnya sampai hari ini,"
"Ada. Sisa sedikit. Kau tidak sedang berselingkuh, kan? Sehingga kau melupakanku," Shelly mencoba menelisik keadaan Erlan.
"Mana mungkin aku berselingkuh. Beberapa bulan ini, aku lebih sering pulang ke apartemen daripada ke Mansion. Apalagi di Mansion ada El__" Erlan menutup mulutnya. Hampir saja keceplosan soal Eleonara, istri sahnya.
"Apa itu tadi, sayang. Kenapa kau berhenti? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Shelly duduk di meja makan di depan Erlan setelah dia mengambilkan segelas jus untuk masing-masing.
"Tidak ada. Maksudku, aku malas ke Mansion karena tidak ada kamu,"
"Ish, di meja makan masih bisa gombal. Lekas habiskan sarapanmu!" Shelly segera menyelesaikan sarapan paginya. Entah setelah itu dia mau kemana hari ini?
"Rasanya enak sekali, sayang," puji Erlan yang sudah selesai dengan sarapannya.
"Berterima kasihlah kepada Google. Dia yang selama ini membantuku," jawab Shelly.
"Ck, ku kira kau ahli memasak, sayang!"
"Aku ahli jika bersamamu!" balas Shelly membuat Erlan tertawa renyah.
"Tentu, sayang! Kau yang terbaik. Oh ya, apa rencanamu hari ini? Kau mau berbelanja?"
Erlan memang selalu memanjakan Shelly. Walaupun usianya jarak beberapa tahun, tapi Shelly tetap orang teristimewa dalam hidupnya.
"Boleh. Tapi isi dulu debit cardnya," kalau soal uang, Shelly juga gercep seperti urusannya dengan Erlan. Sama-sama cepat.
"Mau berapa?"
"Lima kali lipat dari biasanya, sayang!" perintah Shelly.
"Kau merampokku?" balas Erlan dengan tawa renyahnya.
"Kalau mau, sudah dari dulu aku merampokmu, sayang. Lalu aku kabur meninggalkanmu selamanya," jawab Shelly asal.
"Hemm, baiklah! Terserah kau saja," Erlan kemudian mengambil ponselnya untuk mentransfer sejumlah uang jatah bulanan Shelly.
Tring… Tring… Tring…
Notifikasi di ponsel Shelly berbunyi, menandakan jika Erlan tidak sedang bercanda.
"Ku kira, ini hanya candaan saja sayang. Ternyata kau serius memberikanku lima kali lipat dari biasanya. Kau tidak sedang meminta sesuatu, kan?"
"Aku hanya memintamu menyelesaikan solusi yang diminta Grandma. Jika masalah itu ada solusinya, semua permintaanmu akan aku penuhi, sayang," goda Erlan sembari memainkan ponselnya. Dia sengaja membuat Shelly menuruti semua perintahnya.
"Apapun untukmu, aku siap sayang. Apalagi hanya seorang cicit. Mari berjuang bersama!"
bingung gimana jln pikirannya
padahal sdh maju selangkah
dah.... lah ogeb betul padahal isteri sah😏😏😏😏😏😏😏😏
pakai acara balik ke rumah lagi hedeh