Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 Tanah tidak Bisa di Paksa
Tiga hari telah berlalu sejak Lian Yue menanam benih kedelai di belakang rumah. Setiap pagi, sebelum melakukan pekerjaan lain, ia selalu menyempatkan diri memeriksa tanah kecil itu.
Hari pertama, tidak ada perubahan. Hari kedua, masih tidak ada perubahan. Dan pada pagi ketiga, Lian Yue kembali berjongkok di depan petak tanah tersebut sambil menatap permukaannya dengan tatapan serius.
"Masih belum tumbuh."
Ia menusukkan jarinya perlahan ke tanah, lalu mengangkat sedikit permukaannya. Benih-benih yang ditanam tiga hari lalu masih berada di sana. Beberapa mulai membengkak karena menyerap air.
Namun belum ada satu pun yang benar-benar berkecambah.
Lian Yue mengerutkan kening dengan bingung, "Padahal tanahnya sudah jauh lebih baik."
Ia mengingat kembali semua yang telah dilakukannya. Tanah sudah diberi kompos, kelembapannya cukup dan letak benihnya tidak terlalu dalam. Air juga diberikan secukupnya. Secara teori, semuanya seharusnya berjalan dengan baik.
Namun kenyataannya, benih itu tetap diam. Seolah-olah sengaja menolak tumbuh.
Dari atas pagar bambu, seekor burung pipit memperhatikannya. ["Dia sedang marah kepada tanah."]
Burung pipit lainnya segera menyahut. ["Bukan. Dia sedang memandangi batu."]
["Mana ada manusia marah kepada batu?"]
["Manusia aneh bisa saja."]
Lian Yue menutup matanya sebentar. "Aku bisa mendengar kalian." ujarnya dengan lesu, bukan merasa terganggu dengan kehadiran mahkluk-mahkluk kecil itu, melainkan ia sedikit merasa kecewa dengan hasil yang ia dapat.
Kedua burung itu langsung diam. Beberapa detik kemudian...
["Lari!"]
Keduanya terbang terbirit-birit. Lian Yue yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, "Benar-benar..."
Ia hampir tertawa, melihat tingkah hewan-hewan kecil itu. Ia tak mengira melihat dan mendengar mereka bisa sedikit membuatnya rileks.
Namun setelah melihat kembali petak tanah di hadapannya, ekspresinya berubah serius. Kegagalan kecil ini justru membuatnya merasa lebih tertantang.
Setidaknya dunia ini masih mengikuti aturan. Tidak semua yang ia lakukan akan berhasil hanya karena dirinya adalah seorang transmigrator.
Kalau benih gagal tumbuh, berarti ada sesuatu yang salah. Dan tugasnya adalah mencari tahu apa. Bukan memaksa alam mengikuti keinginannya.
.
.
Setelah sarapan, Lian Yue membawa cangkul kecil menuju ladang utama. Sedangkan Han Zheng sedang memperbaiki pagar bambu yang roboh akibat angin semalam.
Melihat istrinya datang sambil membawa cangkul, ia segera berdiri. "Kenapa?" tanya Han Zheng ketika melihat raut wajah istrinya begitu merengut.
"Benih kedelai belum tumbuh."
Han Zheng mengerutkan kening. "Belum tumbuh?"
"Sudah tiga hari."
Pria itu berpikir sebentar. "Memangnya tidak normal?"
Lian Yue menggelengkan kepalanya, "Kalau tanahnya cukup lembap, seharusnya sudah mulai berkecambah."
Han Zheng menggaruk kepalanya, "Kalau begitu mungkin benihnya buruk."
Lian Yue terdiam. Kemungkinan itu memang ada, tapi ia kembali teringat wajah penjual benih di pasar. Benih kedelai tersebut memang dijual dengan harga lebih murah.
Apa mungkinkah karena kualitasnya rendah?
"Masuk akal." Lian Yue berdiri. "Aku akan memeriksanya."
Mereka kembali ke belakang rumah. Lian Yue mengambil beberapa benih yang belum tumbuh, lalu membelah salah satunya menggunakan ujung pisau.
Bagian dalamnya masih terlihat cukup baik. Tidak busuk atau pun berjamur. Namun setelah mencium aromanya, Lian Yue langsung menyadari sesuatu.
"Benihnya terlalu tua."
Han Zheng mendekat dan ikut berjongkok disamping istrinya, "Bagaimana kau tahu?"
"Baunya." Lian Yue menjawab singkat.
Ia tidak ingin menjelaskan bahwa di kehidupan sebelumnya, ia pernah menyimpan dan menguji berbagai macam benih untuk bertahan hidup.
Benih yang terlalu lama disimpan biasanya kehilangan daya tumbuh.
Namun...
"Ini bukan satu-satunya masalah." Lian Yue mengambil segenggam tanah. Kemudian ia meremasnya.
Tanah itu menggumpal terlalu padat, lalu ia menatap petak tersebut beberapa saat. "Tanahnya terlalu liat." ujarnya.
Han Zheng tampak bingung mendengar ucapan istrinya itu, "Bukankah tanah yang bisa menggumpal berarti bagus?"
"Tidak selalu." Lian Yue mengambil tongkat dan menggali lebih dalam. "Bagian atasnya lembap."
Ia menggali lagi. "Tapi bagian bawahnya terlalu padat. Air tidak bisa mengalir dengan baik."
Han Zheng mulai memahami. "Jadi airnya terjebak?"
Lian Yue mengangguk. "Benihnya bisa membusuk sebelum sempat tumbuh."
Han Zheng termenung, selama bertahun-tahun bertani, ia memang sering melihat tanaman mati setelah hujan deras. Namun ia selalu mengira penyebabnya adalah cuaca. Tidak pernah terpikir bahwa tanah di bawahnya juga memiliki masalah.
Lian Yue menatap petak kecil itu. "Kita harus memperbaikinya."
.
.
Siang itu, Lian Yue dan Han Zheng mulai bekerja untuk memperbaiki tanah ladang keluarga Han. Mereka tidak menggali seluruh lahan. Lian Yue hanya memilih bagian kecil terlebih dahulu.
Ia mencampurkan tanah dengan pasir kasar yang tersisa dari proses penyaringan air. Kemudian menambahkan daun yang sudah mulai membusuk dari lubang kompos.
Han Zheng mengikuti instruksinya.
"Jangan terlalu banyak." Seru Lian Yue yang di hadiahi pertanyaan polos dari suaminya.
"Kenapa?"
Lian Yue hanya bisa menghela nafas pasrah, "Kalau terlalu banyak kompos, tanah juga bisa menjadi terlalu panas."
Han Zheng mengangguk dengan patuh. Ia mulai terbiasa mendengar istilah-istilah aneh dari istrinya.
Setelah tanah dicampur, Lian Yue membuat beberapa alur kecil. Kemudian ia mengambil beberapa benih kedelai yang tersisa. Kali ini ia tidak langsung menanam semuanya.
Lima biji saja.
Ia menanamnya pada kedalaman yang berbeda. Satu dangkal. Satu sedikit lebih dalam. Tiga sisanya pada kedalaman yang menurutnya paling ideal.
Han Zheng memperhatikan dengan serius. "Istriku kamu menanam sesedikit itu?"
"Ini percobaan." sahut Lian Yue.
"Kalau gagal?"
Lian Yue tersenyum kecil, "Kita tahu apa yang harus diperbaiki."
"Kalau berhasil?"
Lian Yue tersenyum. "Baru kita tanam lebih banyak."
Han Zheng mengangguk. Entah sejak kapan, ia mulai menyukai cara berpikir istrinya. Tidak terburu-buru, tidak mempertaruhkan semuanya. Tapi selalu menyisakan jalan untuk mencoba lagi.
.
.
Sore harinya, Lian Yue kembali memeriksa lubang kompos. Aroma tanah tercium semakin kuat. Beberapa bagian daun sudah berubah warna menjadi cokelat gelap.
Lian Yue lalu mengaduknya perlahan. Dan seekor cacing tanah muncul di antara gumpalan kompos.
Lian Yue tersenyum. "Kau juga bekerja keras."
Dari balik daun, cacing itu menggeliat. Lian Yue tentu saja tidak yakin apakah cacing tersebut benar-benar bisa berbicara. Berbeda dengan burung, kelinci, atau tupai, suara cacing hampir tidak pernah terdengar.
Namun tiba-tiba...
["Gelap..."]
Lian Yue membeku. Arah pandangannya beralih, ia menunduk.
Cacing itu menggeliat lagi. ["Hangat..."]
Lian Yue berkedip. "Jangan-jangan..." bisiknya dengan ragu, lalu dengan hati-hati mendekatkan wajahnya.
["Tanah enak."]
Lian Yue spontan menutup mulut. Ia hampir tertawa. "Jadi kau juga bisa bicara?"
Cacing itu diam. Kemudian tubuh kecilnya menggeliat. ["Siapa?"]
"Aku."
["Siapa aku?"]
Lian Yue terdiam. Sepertinya percakapan dengan cacing jauh lebih sulit daripada dengan burung.
"Sudahlah." Ia memasukkan cacing itu kembali ke tanah. Namun dalam hati, sebuah pemikiran baru muncul.
Kalau ia bisa memahami hewan... Apakah kemampuan itu juga berlaku pada seluruh makhluk hidup? Tumbuhan? Serangga? Bahkan makhluk yang jauh lebih besar?
Meski tidak yakin, tapi bukankah itu sesuatu yang menarik untuk di uji...
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit penasaran terhadap kemampuan yang selama ini ia coba abaikan.
.
.
Tanpa terasa malam kembali tiba. Setelah makan malam, keluarga Han berbincang mengenai hasil panen.
Tuan Han menghela napas dengan lesu, "Kalau kedelai itu berhasil, kita bisa menyimpan sebagian untuk musim dingin."
Nyonya Han mengangguk.
"Dan kalau gagal?"
Ruangan mendadak sunyi. Lian Yue meletakkan mangkuknya. "Kita coba lagi."
Tuan Han menatapnya. "Sesederhana itu?"
Lian Yue tersenyum. "Kalau satu cara gagal, bukan berarti semuanya gagal. Selama masih ada benih, masih ada tanah, dan masih ada tenaga untuk bekerja... kita masih bisa mencoba."
Tuan Han terdiam mendengar ucapan dari menantunya. Han Zheng pun menatap istrinya. Kalimat itu sederhana. Namun bagi keluarga yang selama bertahun-tahun hidup dalam kekurangan, kalimat tersebut terasa seperti sesuatu yang sangat besar.
Mereka terbiasa menganggap kegagalan sebagai akhir. Lian Yue justru menganggapnya sebagai petunjuk.
Setelah perbincangan singkat tentang hasil panen yang membuat semua orang cemas, mereka pun kembali ke kamar masing-masing dan tertidur. Sedangkan Lian Yue justru malah keluar rumah.
Ia berjalan menuju petak kecil di belakang rumah. Langit malam penuh bintang dan dia berjongkok sambil menyentuh tanah.
Hangat.
Namun kali ini ia tidak menggunakan kemampuan pemurniannya. Ia ingin membiarkan tanah bekerja dengan caranya sendiri.
"Kita lihat siapa yang lebih keras kepala." Lian Yue tersenyum kecil. "Benihnya atau aku."
.
.
Dari atas pohon jujube, burung pipit memperhatikannya. ["Dia bicara dengan tanah lagi."]
Burung lainnya mengangguk. ["Manusia memang aneh."]
Seekor burung tua yang baru datang kemudian bertanya. ["Apa yang dia lakukan?"]
["Menunggu benih tumbuh."]
Burung tua itu memiringkan kepalanya. ["Kalau begitu tunggulah."]
["Apa?"]
["Tanah tidak suka dipaksa."]
Lian Yue yang mendengar percakapan itu mendongak. "Tanah tidak suka dipaksa?"
Burung tua tersebut langsung membeku. ["Dia mendengar kita."]
Lian Yue tersenyum. "Terima kasih."
Burung itu segera terbang menjauh. ["Lari! Dia mendengar semuanya!"]
Tawa kecil Lian Yue terdengar di halaman. Sudah lama sekali ia tidak merasa penasaran terhadap hari esok. Di dunia lamanya, hari esok selalu berarti pertanyaan sederhana:
Apakah aku masih hidup?
Namun sekarang, hari esok berarti sesuatu yang berbeda. Apakah benih itu akan tumbuh?
Pertanyaan sederhana. Namun entah mengapa, Lian Yue menyukainya.
.
.
Keesokan paginya, sebelum matahari muncul sepenuhnya, Lian Yue kembali menuju halaman belakang. Ia berjongkok di depan lima benih kedelai yang baru ditanam.
Tidak ada apa-apa dan hal itu membuat Lian Yue menghela napas.
"Belum." Ia hendak berdiri ketika tiba-tiba melihat sesuatu.
Sangat kecil dan hampir tidak terlihat. Sebuah tonjolan mungil muncul dari permukaan tanah.
Lian Yue membeku. Ia menyingkirkan sedikit tanah menggunakan ujung jarinya. Sebuah kecambah putih kecil muncul dari bawah tanah.
Mata Lian Yue perlahan melebar. "Tumbuh..." pekikan tertahan di ujung tenggorokannya, saking senangnya matanya terasa sedikit kabur dan hangat.
Bukan hanya satu, dua, tiga. Dari lima benih yang ia tanam, tiga berhasil berkecambah. Dua lainnya masih diam.
Lian Yue menatap tiga kecambah mungil itu cukup lama. Senyumnya perlahan muncul. Bukan senyum lebar. Bukan pula kegembiraan berlebihan. Hanya senyum kecil seseorang yang akhirnya melihat hasil dari kesabaran.
Dari atas pohon, suara burung pipit terdengar.
["Dia tersenyum!"]
["Benihnya tumbuh!"]
["Manusia aneh berhasil!"]
Beberapa burung langsung beterbangan di atas halaman. Kicauan mereka terdengar riuh seperti sedang merayakan sesuatu.
Lian Yue mengangkat kepala. "Jangan berisik. Kalian akan membangunkan semua orang."
["Benihnya tumbuh!"]
["Benihnya tumbuh!"]
Lian Yue hanya bisa tertawa. Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu yang tumbuh pagi itu bukan sekadar tiga kecambah kecil.
Kesabaran juga mulai tumbuh dalam dirinya. Kepercayaan keluarga Han mulai tumbuh. Kepercayaan para penghuni hutan mulai tumbuh.
Dan perlahan...
kehidupan keluarga Han sendiri mulai tumbuh dari tanah yang selama bertahun-tahun dianggap tidak berguna.
Dua benih lainnya mungkin gagal. Tapi itu tidak masalah. Lian Yue tidak lagi menganggap kegagalan sebagai akhir. Karena sekarang ia tahu satu hal. Selama masih ada kesempatan untuk menanam kembali...
Harapan selalu bisa tumbuh untuk kedua kalinya.
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
bisa mendengar BHS binatang