NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Adik, Bukan Pacar

Cahaya layar menerangi wajah Narendra yang telah mengambil keputusan.

Ia menekan nama Kirana.

Sambungan baru diangkat setelah dering kelima.

"Mas Nara?" Suara adiknya parau. "Ini jam dua pagi. Ada kebakaran?"

"Kayaknya calon iparmu hilang."

Hening dua detik.

"Apa?"

Narendra menceritakan semuanya. Pesan makan malam yang ia tolak, pertemuan mereka sore tadi, kue strawberry, perubahan panggilan menjadi Mas Narendra, dan pintu yang ditutup sebelum ia sempat bertanya.

Kirana tidak menyela sampai ia selesai.

Lalu ia tertawa.

"Ana."

"Maaf, Mas. Tapi siapa yang dulu bilang pacaran itu buang waktu? Sekarang nada suara Mas kayak anak SMA kehilangan chat centang biru."

"Aku serius."

"Aku juga. Coba ingat. Mbak Sekar lihat Mas sama siapa malam ini?"

Narendra menatap kosong ke depan. "Sama kamu."

"Aku pakai gaun kuning. Kita jalan di depan restoran ramai. Aku pegang lengan Mas karena sepatu baruku bikin lecet." Kirana mengembuskan napas. "Dia mungkin lihat kita dan salah paham."

Narendra bangkit begitu cepat sampai lututnya membentur meja.

"Kenapa dia nggak tanya?"

"Karena status kalian apa?"

Pertanyaan itu membuatnya diam.

"Mas belum pernah bilang suka, kan?" lanjut Kirana. "Belum pernah minta dia jadi pacar. Kalau dia cemburu, dia bahkan merasa nggak punya hak buat marah."

Narendra memandang pintu unit Sekar yang tak terlihat dari tempatnya duduk. Potongan kejadian malam ini mendadak tersusun rapi.

"Jadi dia cemburu."

"Jangan senang dulu."

"Tapi dia cemburu."

"Astaga, otak pacaran." Kirana terdengar membalik tubuh di ranjang hotel. "Mas pernah menikah, lalu bercerai. Orang luar bilang Mas nggak bisa, lemah, nggak pernah dekat perempuan. Semua orang mengira Mas nggak punya kelemahan. Ternyata begitu suka seseorang, logika Mas langsung cuti."

Narendra tidak tersinggung. "Aku memang suka dia."

Kirana berhenti menggoda. "Serius?"

"Iya."

Satu kata itu rendah dan mantap.

"Kalau begitu dengarkan aku," kata Kirana. "Besok minta maaf. Tatap dia. Jelaskan aku adikmu. Jangan kirim bunga, jangan beli hadiah lagi, dan jangan bikin alasan panjang. Rendahkan ego Mas sedikit."

"Aku nggak punya ego kalau soal dia."

"Bagus. Berarti gampang."

Setelah telepon ditutup, Narendra memindahkan kue strawberry ke kulkas. Kali ini ia tidak mengeluarkannya lagi.

Ia mencoba tidur, gagal, lalu berdiri di depan lemari pakaian.

Jubah tidur jelas tidak pantas. Polo abu-abu membuatnya terlihat seperti hendak bermain golf. Kemeja putih terlalu resmi. Ia menggantinya dengan kaus putih polos, lalu kembali memakai kemeja, kemudian menggulung lengan sampai siku.

Pukul enam, ia membuat kopi dan tidak meminumnya.

Pukul tujuh, ia membuka pintu unit agar bisa mendengar saat Sekar keluar.

Kotak kue diletakkan di meja, bukan sebagai hadiah, hanya sebagai bukti kegagalannya semalam.

Pukul 08.26, terdengar bunyi kunci.

***

Sekar keluar dengan wajah pucat dan lingkar gelap di bawah mata. Ia sudah menyiapkan senyum netral untuk kemungkinan bertemu Narendra.

Senyum itu hilang ketika melihat pria tersebut berdiri di depan pintu, rapi tetapi jelas belum tidur.

"Pagi," kata Narendra.

"Pagi, Mas Narendra."

Narendra menelan perubahan panggilan itu. "Boleh bicara dua menit?"

"Aku harus kerja."

"Satu menit."

Sekar memegang tali tas lebih erat. "Soal apa?"

Narendra berdiri di tengah koridor, tidak mendekat. "Aku minta maaf karena tadi malam nggak menjelaskan urusanku. Perempuan yang bersamaku namanya Kirana. Dia adik kandungku."

Sekar berkedip.

"Adik?"

"Dia datang ke Jakarta untuk urusan riset. Jadwal penerbangannya berubah, jadi aku jemput. Sepatunya melukai kaki, makanya dia pegang lenganku waktu jalan."

Wajah perempuan bergaun kuning muncul di benak Sekar. Garis alis yang mirip. Cara Narendra mendengarkan tanpa ekspresi romantis. Keakraban yang hangat, tetapi tidak menggoda.

Semua petunjuk yang semalam ia abaikan kini tampak jelas.

"Kirana itu adik Mas?"

"Iya. Bukan pacar."

Panas merambat dari leher ke telinga Sekar. "Aku nggak pernah bilang mengira dia pacar."

"Benar." Narendra mengangguk patuh. "Aku juga nggak bilang kamu cemburu."

"Mas baru saja mengatakannya tanpa kata-kata."

"Maaf."

Sekar hampir kesal, tetapi melihat kemeja yang tidak dikancing rapi di bagian manset dan mata merah Narendra, kekesalannya kehilangan tenaga.

"Mas semalaman nggak tidur?"

"Tidur sebentar."

"Bohong."

"Aku latihan minta maaf."

Sekar menahan senyum. "Sampai pagi?"

"Aku lambat kalau urusannya penting."

Kalimat itu mendarat pelan, tepat di tempat yang semalam terasa kosong.

Narendra membuka pintunya sedikit lebih lebar. Di atas meja tampak kotak kue merah muda yang masih utuh.

"Kuenya masih ada," katanya. "Bukan untuk memaksa. Aku cuma nggak tahu harus diapakan."

"Mas makan saja."

"Aku nggak terlalu suka manis."

"Terus beli kenapa?"

Tatapan Narendra tidak bergeser. "Karena kamu suka."

Jantung Sekar berdegup sekali, keras sekali.

Ia menunduk melihat jam. "Aku benar-benar harus berangkat."

"Jadi kamu masih marah?"

Sekar melangkah menuju lift, lalu menoleh. "Nggak. Tapi lain kali kalau ada yang enak, ingat ajak aku, ya. Teman makan."

Kata terakhir sengaja ditekan. Narendra menerimanya tanpa protes.

"Malam ini?"

"Kalau Mas nggak ada urusan."

"Nggak ada. Semua urusan bisa menunggu."

Pintu lift terbuka. Sebelum masuk, Sekar melihat senyum Narendra yang tidak berhasil disembunyikan.

Ia baru sadar bahwa dirinya juga tersenyum.

Begitu pintu lift tertutup, ponsel Narendra bergetar.

Kirana: Selamat pagi. Calon ipar masih hilang?

Narendra membalas dengan satu kata.

Sudah ketemu.

Kirana mengirim tiga emoji tepuk tangan. Narendra memasukkan ponsel ke saku, mengambil kotak kue dari meja, lalu menitipkan separuhnya kepada petugas lobi. Separuh lain ia simpan untuk makan malam. Sekar sudah memaafkan, tetapi ia tidak ingin membuang sesuatu yang dibeli karena mengingat perempuan itu.

***

Hari itu Sekar menyelesaikan kebaya ungu muda pesanan seorang ibu lebih cepat dari jadwal. Pelanggan tersebut berputar di depan cermin dan tersenyum puas melihat jatuh kain di pinggang.

"Pas sekali, Mbak Sekar. Saya terlihat lebih muda."

"Karena warnanya cocok dengan kulit Ibu. Kalau bagian lengan terasa sempit, kabari saya."

Setelah pelanggan pergi, Bu Laksmi memperhatikan Sekar yang sudah tiga kali memeriksa jam.

"Ada janji?"

"Makan sama teman."

"Teman yang tinggal di seberang pintu?"

Sekar pura-pura sibuk melipat kain. Bu Laksmi hanya tersenyum dan tidak mengejar jawaban.

Menjelang sore, Sekar mengganti blus kerjanya dengan gaun biru tua buatannya sendiri. Potongannya sederhana, tetapi garis leher dan pinggangnya membuat tubuhnya tampak anggun.

Ia memandang diri di cermin.

Dua orang yang cocok, pikirnya, boleh mencoba maju satu langkah.

Di depan Sanggar, sedan hitam Narendra sudah menunggu. Fikri mengirim pesan terakhir bahwa jadwal malam dibatalkan, lalu Narendra memintanya pulang.

Narendra turun sendiri dan membukakan pintu penumpang.

Tatapannya berhenti pada gaun Sekar sedikit lebih lama.

"Mau makan apa?" tanyanya.

Sekar membungkuk masuk, matanya melengkung oleh senyum. "Kamu yang tentukan. Kamu kan lebih jago pilih tempat."

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!