NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Perjanjian Pranikah

Nama lengkap Arya terdiri dari tiga kata.

Danendra Arya Prawira.

Keisha membacanya dua kali pada halaman identitas, lalu menatap laki-laki di seberang meja rapat kantor notaris.

"Akhirnya saya tahu nama Anda bukan hanya Arya."

"Anda tidak pernah bertanya lagi."

"Karena setiap kali ditanya, Anda menjawab seperti tersangka yang didampingi pengacara."

Ibu Notaris menahan senyum sambil merapikan dua bundel dokumen. "Sebelum kita mulai, saya perlu memastikan kedua pihak membaca dengan bebas, memahami akibatnya, dan tidak berada di bawah paksaan pihak lain."

Keisha hampir tertawa mendengar kata bebas. Waktunya sempit, Mama terancam dipindahkan, dan hidupnya sedang dikepung. Namun Arya tidak pernah mengancamnya untuk menandatangani.

"Saya mengajukan perubahan ini sendiri," katanya. "Saya ingin setiap klausul dibaca satu per satu."

"Tentu."

Bu Sukma mengikuti melalui panggilan video dari tablet. Salinan draf juga telah dibaca pengacara independen yang dipilih Keisha. Catatan koreksi memenuhi halaman.

Ibu Notaris membuka bagian pertama. "Perjanjian perkawinan ini mengatur pemisahan harta dan tanggung jawab utang. Harta sebelum dan selama perkawinan tetap berada pada pihak yang memperoleh. Utang pribadi tidak mengikat pasangan tanpa persetujuan tertulis."

"Tambahkan bahwa kewajiban Herman Sucipto dan Griya Anindita yang dibuat tanpa tanda tangan saya tidak menjadi tanggung jawab Arya," kata Keisha.

Arya mengangkat alis. "Anda sedang melindungi saya?"

"Saya melindungi diri agar suatu hari Anda tidak mengaku membayar utang keluarga saya lalu menagihnya."

"Masukkan," kata Arya kepada notaris.

Bagian berikutnya memuat daftar aset yang dibawa masing-masing pihak. Keisha hanya mencantumkan tabungan, kendaraan, hak profesional, serta kepentingan yang mungkin muncul dari hibah atau saham Anindita. Daftar Arya lebih panjang, tetapi beberapa kepemilikan ditempatkan melalui lampiran yang tidak dibuka rinci di ruang itu.

Keisha menunjuk satu halaman. "Kenapa bagian Anda memakai lampiran terpisah?"

"Karena asetnya lebih banyak," jawab Arya.

"Seberapa banyak?"

"Cukup untuk tidak mengambil milik Anda."

Bu Sukma berdeham dari tablet. "Icha, pengacara kita sudah memeriksa. Tidak ada klausul yang memberi Arya akses ke harta Bu Anin. Fokus pada hakmu."

Keisha mengangguk, meski nama Prawira dan daftar aset tertutup itu ia simpan dalam ingatan.

Ibu Notaris memindahkan dokumen. "Sekarang nota kesepahaman privat. Saya perlu menegaskan bahwa perceraian tidak bisa terjadi otomatis hanya karena tanggal berakhir. Untuk pasangan Muslim, proses tetap melalui Pengadilan Agama dan mengikuti hukum."

"Jadi klausul satu tahun tidak berlaku?" tanya Keisha.

"Bisa ditulis sebagai jangka kerja sama dan niat para pihak untuk mengevaluasi perkawinan setelah satu tahun. Tapi saya tidak akan menulis seolah pernikahan hangus otomatis. Jika ingin berpisah, tetap ajukan proses yang sah."

Arya mengetuk meja pelan. "Tulis bahwa tidak ada pihak yang boleh menghalangi proses tanpa alasan."

"Dan semua keputusan tetap sukarela saat waktunya tiba," tambah Keisha.

Ibu Notaris mencatat. "Baik."

Lampiran berikut mengatur kewajiban Arya membayar layanan medis Anindita langsung ke fasilitas kesehatan, menyediakan akses pada bantuan hukum independen, dan membiayai audit awal Griya Anindita. Keisha membaca nominalnya dengan teliti.

"Biaya audit bukan hadiah," katanya. "Jika ditemukan penyalahgunaan, hasil dan hak pemulihan tetap milik Mama atau saya sesuai hukum."

"Setuju."

"Tidak ada saham AnHome yang berpindah kepada Anda."

"Saya tidak menginginkannya."

"Tulis."

Arya menoleh kepada notaris. "Tulis."

Bu Sukma tersenyum tipis di layar. "Bagus. Jangan hanya karena akan jadi istri, kamu berhenti memeriksa angka."

"Justru karena akan jadi istri kontrak, semua angka harus jelas," jawab Keisha.

Ibu Notaris membuka halaman terakhir dan berhenti. "Bagian pengaturan rumah tangga ini sangat rinci."

Keisha membaca keras, "Para pihak menempati kamar terpisah. Tidak ada kewajiban hubungan intim. Setiap kontak fisik membutuhkan persetujuan dan dapat ditolak tanpa sanksi kontrak."

Arya bersandar. "Anda menulis kata terpisah dua kali."

"Supaya Anda paham."

"Saya paham sejak pertama."

"Pengalaman pertama kita tidak mendukung klaim itu."

Ibu Notaris menunduk pada dokumen. Bu Sukma menyipitkan mata dari layar. "Pengalaman pertama apa?"

"Kesalahan pemeriksaan rumah sakit," jawab Keisha cepat.

Arya hampir tersenyum. "Dokternya terlalu bersemangat."

"Pasiennya tidak bisa membaca nomor antrean."

"Kalian yakin mau menikah?" tanya Ibu Notaris akhirnya.

"Tidak," jawab mereka bersamaan.

Ruangan hening, lalu Bu Sukma tertawa paling keras.

"Setidaknya jujur," katanya. "Sekarang baca bagian pekerjaan dan nama baik."

Keisha membuka halaman lain. Mereka sepakat tidak mengumumkan isi kontrak, tidak memakai hubungan untuk merusak reputasi profesional, dan tidak menyebarkan masalah keluarga tanpa izin. Lamaran serta akad akan dijalankan resmi, tetapi resepsi pertama dibuat terbatas.

"Saya tetap bekerja setelah menikah," kata Keisha. "Jadwal jaga tidak boleh dibatalkan hanya karena keluarga Anda ingin saya hadir di acara."

"Kalau acaranya penting, kita bicara lebih dulu," jawab Arya.

"Bicara, bukan memerintah."

"Saya akan meminta."

"Dengan kalimat lengkap."

Arya menatapnya datar. "Tolong hadir."

"Itu dua kata."

"Sudah lengkap."

Ibu Notaris mengusap pelipis. "Saya tulis kewajiban koordinasi jadwal secara wajar. Tidak perlu mengatur jumlah kata."

Bu Sukma mengangkat satu jari di layar. "Tambahkan satu hal. Keisha harus bebas mengunjungi dan merawat Bu Anin kapan pun diperlukan. Tidak boleh ada keluarga suami yang menghalangi."

Arya menjawab sebelum Keisha. "Setuju. Dalam keadaan darurat, kewajiban terhadap Bu Anin didahulukan."

Keisha menoleh. "Bahkan kalau bertabrakan dengan acara keluarga Anda?"

"Bahkan kalau Bunda sedang melakukan serangan jantung palsu."

Keisha menutup mulut agar tidak tertawa. "Tulis persis seperti itu."

"Saya akan memakai bahasa yang lebih netral," kata Ibu Notaris.

Mereka juga membahas tempat tinggal. Keisha menolak pindah terlalu jauh dari rumah sakit. Arya menjanjikan rumah di Bandung dengan kendaraan yang bisa dipakai tanpa izin harian darinya. Biaya rumah tangga dibagi menurut lampiran, sedangkan kebutuhan pribadi tetap ditanggung masing-masing.

"Dan istilah keluar tanpa apa-apa harus dihapus," kata Ibu Notaris. "Secara hukum, yang kita atur adalah pemisahan aset dan tidak adanya klaim atas milik pasangan. Bukan mencabut hak dasar salah satu pihak."

"Saya setuju," kata Keisha. "Tidak ada yang dibuat miskin sebagai hukuman."

Arya mengangguk. "Masing-masing keluar membawa miliknya sendiri."

Setelah koreksi terakhir dicetak, Ibu Notaris meminta keduanya membaca ulang. Keisha menandatangani lebih dulu. Ujung pena sempat berhenti di atas namanya sebelum membentuk garis akhir.

Arya menandatangani di sebelahnya dengan gerakan tegas.

Dokumen dicap, disalin, dan dijelaskan untuk dibawa ke proses pencatatan perkawinan. Nota privat dibuat terpisah agar tidak mencampur klausul pribadi dengan pengaturan harta yang memiliki akibat hukum berbeda.

Keisha menerima bundelnya. Dada terasa lebih ringan karena biaya Mama aman, sekaligus lebih berat karena jalan keluar itu kini memiliki tanda tangan.

Arya masih melihat halaman evaluasi satu tahun.

"Kalau salah satu..." Ia berhenti.

Keisha menunggu. "Kalau salah satu apa?"

"Kalau salah satu tidak mau cerai nanti, bagaimana?"

Mata mereka bertemu.

Arya langsung menutup dokumen. "Tidak. Lupakan."

Keisha menunduk pada tanda tangannya sendiri, tetapi telinganya kembali panas.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!