NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Konfrontasi Terakhir

Hari keenam, Wisnu Marpaung duduk di dalam sel tahanan sementara dengan punggung menempel ke dinding.

Tidak ada lagi kemeja rapi. Tidak ada lagi wajah suami malang. Rambutnya kusut, matanya cekung, dan setiap kali suara kunci bergesekan di luar sel, bahunya tersentak seolah ada boneka yang kembali menutup wajahnya.

Raka berdiri di depan lorong sel bersama Kompol Yudha.

"Kamu yakin mau bicara dengannya?" tanya Yudha.

"Saya perlu menutup ini," jawab Raka.

Yudha menatapnya beberapa detik. "Ini bukan interogasi. Jangan memancing pengakuan baru tanpa petugas. Jangan memukul. Jangan menjanjikan apa pun."

"Saya tahu."

"Dan jangan pura-pura kamu tidak marah. Orang yang pura-pura tenang biasanya paling berbahaya."

Raka menghela napas. "Saya marah, Pak. Tapi saya tidak datang untuk itu."

Yudha membuka pintu lorong. "Lima menit. Dimas di ujung lorong. Aku di luar."

Raka masuk.

Wisnu mengangkat kepala. Saat melihat Raka, mulutnya bergerak seperti ingin mengejek, tapi kata-katanya tersangkut. Mungkin Mimpi Neraka telah membakar bagian yang dulu membuatnya berani merendahkan orang lain.

"Kamu," bisiknya.

Raka berdiri di luar jeruji. "Ya. Saya."

Wisnu tertawa pendek. Suaranya kering. "Datang melihat hasil kerjamu? Puas?"

"Tidak."

"Bohong. Semua orang puas. Mereka lihat saya jatuh. Mereka lihat saya muntah, menangis, mengaku. Mereka merasa suci karena menekan tombol HUKUM."

Raka menatapnya tanpa berkedip. "Mereka tidak membunuh Dewi. Kamu yang membunuh Dewi."

Wajah Wisnu mengeras.

Untuk sesaat, sisa kesombongan lamanya muncul seperti bara kecil di bawah abu.

"Kamu tidak akan mengerti," katanya. "Aku sudah berusaha menerima anak itu. Ratih selalu bilang Dewi hanya bayi. Tapi setiap kali Dewi menangis, semua perhatian pergi ke dia. Uang pergi ke dia. Rumah itu bukan rumahku lagi. Bagus masih mengirim uang, Ratih masih menyimpan foto masa lalu, lalu bayi itu menangis seolah aku tidak punya tempat di hidup siapa pun."

Raka mendengar kalimat itu sampai habis.

Itulah yang membuat dadanya lebih dingin daripada marah.

Bukan alasan besar. Bukan dendam berlapis darah. Bukan konspirasi rumit. Hanya seorang laki-laki kecil yang merasa egonya lebih penting daripada napas bayi.

"Jadi kamu membunuh bayi karena merasa kurang diperhatikan," kata Raka.

Wisnu mencengkeram jeruji. "Jangan bicara seolah kamu suci! Kamu cuma anak panti yang tiba-tiba sok jadi detektif. Kamu bahkan tidak tahu rasanya punya keluarga lalu merasa tersingkir!"

Lorong itu hening.

Dimas menoleh dari ujung lorong, tapi tidak bergerak.

Raka melangkah setengah langkah lebih dekat.

"Ya," katanya. "Saya anak panti. Saya tidak punya ayah yang menjemput, tidak punya ibu yang menunggu di rumah, tidak punya foto keluarga untuk dipajang. Saya tahu rasanya ingin punya tempat."

Wisnu terdiam.

"Tapi saya tidak pernah membunuh siapa pun karena kosong di dalam dada saya."

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Wajah Wisnu memerah, lalu pucat. Tangan yang mencengkeram jeruji perlahan turun.

"Mimpi itu..." suaranya pecah. "Aku masih merasa tidak bisa napas. Setiap kali aku memejamkan mata, benda itu turun lagi. Aku tahu dia takut. Aku tahu dia tidak mengerti kenapa orang dewasa melakukan itu."

"Dewi tidak punya kesempatan untuk mengerti."

Wisnu menunduk. Untuk pertama kali, ia tidak terlihat seperti sedang mencari jalan keluar.

"Aku salah," bisiknya. "Aku jahat. Aku pantas."

Raka menunggu beberapa detik.

Ternyata tidak ada kepuasan besar di dalam dirinya. Tidak ada musik kemenangan. Tidak ada rasa ringan. Hanya sebuah pintu yang akhirnya tertutup, dan bau busuk di baliknya masih menempel di tangan orang yang menutup.

"Kalau kamu benar-benar tahu," kata Raka, "jangan tarik kembali pengakuanmu di pengadilan. Jangan buat Ratih mengubur Dewi dua kali."

Wisnu tidak mengangkat kepala. "Saya tidak akan tarik. Saya tidak mau mimpi itu kembali."

Raka berbalik dan keluar.

Di luar lorong, Yudha menunggunya.

"Dapat yang kamu cari?"

Raka menatap halaman pos yang terlalu terang. "Saya tidak yakin. Saya cuma tahu dia lebih biasa daripada yang saya bayangkan."

Yudha mengangguk pelan. "Kebanyakan pembunuh memang begitu. Itu bagian paling buruk dari pekerjaan ini."

Beberapa langkah dari pos, Ratih berdiri sendirian memegang amplop dokumen. Ia seperti ingin pergi, tapi saat melihat Raka, ia berhenti.

"Saya dengar kamu masuk menemui dia," kata Ratih.

"Iya."

"Dia bilang apa?"

Raka memilih kata dengan hati-hati. "Dia mengaku lagi. Dia tidak akan menarik pengakuan."

Ratih menutup mata. Air mata turun, tapi wajahnya tidak roboh seperti hari-hari sebelumnya. Ada sesSatu yang lebih tenang dalam kesedihan itu. Luka tidak sembuh. Hanya berhenti dibohongi.

"Terima kasih," katanya. "Kalau malam itu saya tidak masuk ke livestream kamu, mungkin semua orang masih bilang saya ibu gila."

"Ibu yang baik tidak pernah berhenti mencari anaknya," jawab Raka.

Ratih menangis tanpa suara. Raka tidak tahu harus memeluknya atau tidak, jadi ia hanya berdiri di sana, cukup dekat agar ucapan itu tidak terasa kosong.

Sore itu, Yudha memberi tahu mereka bahwa berkas awal sudah siap dikirim ke Polres Distrik Surya. Wisnu dan Marlina akan dipindahkan. Kasus Dewi tidak lagi bergantung pada keajaiban layar. Ia sudah menjadi perkara dengan saksi, barang bukti, pengakuan, dan rekonstruksi.

Sebelum Raka pergi, Yudha menyerahkan satu salinan ringkasan kronologi tanpa kop rahasia. "Bukan untuk disebar," katanya. "Untuk kamu ingat bahwa prosedur juga punya gigi kalau orang yang memegangnya tidak malas."

Raka menerima kertas itu. "Terima kasih, Pak."

"Jangan berterima kasih dulu. Kalau kamu terus menemukan kasus seperti ini, hidupmu tidak akan lebih mudah."

"Saya mulai paham."

Yudha mengangguk, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, "Dan kalau sSatu hari Hakim itu mengincarmu juga, pastikan kamu masih punya manusia di sekitarmu."

Raka tidak menjawab. Ia hanya melirik Kribo yang sedang mengeluh karena resleting tas macet.

Malamnya, di penginapan sempit yang mereka sewa dua hari terakhir, Kribo memasukkan charger, kabel data, dan pakaian kusut ke ransel.

"Besok pulang," katanya.

Raka duduk di tepi kasur, membuka Buku Penghakiman.

Halaman kosong muncul. Kali ini, tintanya tidak berlari liar. Ia menulis dengan pelan: Kasus #001: Pembunuhan Bayi Dewi. Pelaku utama Wisnu Marpaung. Pembantu pasca-kejahatan Marlina. Korban Dewi. Ibu korban Ratih Sari. Saksi rentan Jono dilindungi. Status hukum berjalan.

Stempel Hitam muncul tanpa suara.

Raka menekannya.

CAP.

【Kasus #001: Pembunuhan Bayi Dewi】

【Status: Selesai】

【Pengakuan formal tercatat. Rekonstruksi lengkap diterima.】

【Hadiah kasus akan diberikan setelah Tuan Rumah meninggalkan lokasi kasus dan kembali ke base.】

Kribo menatap wajah Raka. "Itu kabar baik atau kabar serem?"

"Dua-duanya."

Raka menutup buku dan berbaring menatap langit-langit kayu penginapan. Di luar, desa Batu Giok mulai kembali berbunyi: motor lewat, panci dari dapur pemilik rumah, orang-orang berbicara pelan tentang kasus yang akan mereka ingat bertahun-tahun.

Satu kasus selesai.

Raka tidak merasa lebih suci. Tidak juga lebih ringan. Ia hanya merasa pintu besar di depannya baru saja terbuka sedikit.

"Satu kasus selesai," bisiknya. "Berapa banyak lagi yang ada di luar sana?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!