Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Urusan di Pasar dan Puskesmas
Puskesmas Kecamatan jauh lebih ramai daripada yang dibayangkan Laras.
Ibu membawa balita demam, lansia menunggu pemeriksaan tekanan darah, dan beberapa perempuan hamil duduk di depan ruang KIA. Arya mengambil nomor antrean, mengurus verifikasi BPJS, lalu menyimpan semua berkas dalam map bening.
“Aku bisa pegang sendiri,” kata Laras.
“Nanti kamu lupa menaruhnya.”
“Mas baru mengenalku beberapa minggu.”
“Aku mengenal caramu menyelipkan kertas di antara buku.”
Laras tidak bisa membantah.
Seorang bidan memanggil namanya. Tekanan darah Laras normal. Berat badan dan ukuran perut sesuai usia kehamilan. Ketika alat Doppler ditempelkan, detak jantung bayi memenuhi ruangan.
Cepat, teratur, dan kuat.
Jari Arya yang memegang tepi kursi perlahan mengendur.
“Gerak janin baik,” kata bidan. “Tapi Ibu baru menempuh perjalanan jauh dan pernah merasa perut mengeras. Kurangi aktivitas berat, cukup minum, dan catat kalau kontraksi berulang.”
Ia menuliskan rujukan risiko pada buku KIA.
Bidan juga memeriksa kartu imunisasi, memberikan tablet tambah darah, dan menunjukkan halaman untuk mencatat gerakan janin. Laras diminta kembali sesuai jadwal atau lebih cepat jika ada keluhan.
“Jangan hanya mengandalkan perasaan,” katanya. “Simpan buku ini di tempat yang mudah dibawa. Kalau dirujuk, petugas rumah sakit perlu melihat catatannya.”
Arya memasukkan buku KIA ke bagian depan map, bukan ke dasar tas. Ia meminta Laras mengulangi empat tanda bahaya sampai keduanya mengingat urutannya.
Seorang ibu hamil di kursi sebelah tertawa. “Suaminya lebih tegang daripada pasien.”
Laras tersenyum. “Dia memang suka membuat laporan.”
Arya tidak membantah.
“Puskesmas ini bisa menangani persalinan normal, tetapi kami tidak punya NICU. Kalau ada tanda persalinan prematur, perdarahan, ketuban pecah sebelum waktunya, atau tekanan darah tinggi, Ibu harus segera dirujuk ke rumah sakit kabupaten.”
Arya langsung bertanya, “Berapa lama perjalanan ambulans?”
“Dalam cuaca baik sekitar satu jam lebih. Saat hujan atau longsor bisa lebih lama.”
“Nomor ambulans?”
Bidan menuliskannya, beserta nomor bidan desa.
Laras merasakan kecemasan mengendap di bawah tulang rusuk. Dalam cerita, kelahiran anak ini memang tidak mudah. Kini ia tidak memiliki keajaiban untuk menghapus risiko. Hanya persiapan, akses kendaraan, dan orang-orang yang mau bergerak cepat.
Arya memotret nomor darurat dan mengirimkannya ke grup keluarga. “Kita buat tas persalinan lebih awal.”
“Masih tiga bulan.”
“Bidan bilang lebih awal.”
Setelah dari Puskesmas, mereka berjalan ke pasar. Arya membawa seluruh tas, sementara Laras memegang buku kecil berisi anggaran.
Ia membeli minyak dan gula dari kios grosir, memilih beras yang sedikit lebih murah tetapi tidak berkutu, serta menawar sabun, benang, kancing, dan kain sisa. Bu Tatik benar: sayur menjelang siang turun harga.
“Tomat ini terlalu matang,” kata penjual.
“Cocok untuk sambal dan saus. Kalau saya ambil semua, berapa?”
Mereka sepakat pada harga rendah. Laras juga membeli ikan asin dan kacang yang tahan disimpan.
Di kios kain, pemilik toko mengenali gulungan yang dibawa penumpang mobil Pakde Karyo tadi. Laras bertanya apakah toko benar-benar menerima pekerjaan rumahan.
“Pasang kancing dan obras sederhana,” jawab pemilik. “Harus ada contoh hasil dulu. Kalau rapi, saya beri sepuluh potong. Bayar setelah dikembalikan.”
Laras meminta dua potong contoh, bukan sepuluh. Ia mencatat jumlah barang dan tanggal pengembalian di depan pemilik toko agar tidak ada perselisihan.
“Mbak teliti sekali,” komentar perempuan itu.
“Modal kami terbatas. Salah hitung satu potong saja terasa.”
Di kios bumbu, Laras menyimpan nomor penjual yang bersedia mengabari jika ada stok hampir jatuh tempo dengan harga miring. Ia tidak membeli membabi buta. Hanya barang yang bisa langsung diolah atau disimpan aman yang masuk daftar.
Arya mengikuti dari belakang, memindahkan kantong dari satu tangan ke tangan lain. Ketika lorong pasar menyempit, ia berjalan di sisi luar untuk melindungi perut Laras dari keranjang dan bahu pembeli.
Arya melihat daftar. “Kenapa ada kain?”
“Untuk memperbaiki pakaian dan mencoba pekerjaan kecil.”
“Kamu tidak boleh duduk menjahit sampai malam.”
“Belum mulai saja sudah dilarang.”
“Saya menetapkan batas.”
Laras mengangkat alis mendengar `saya` muncul lagi. “Mas gugup soal bayi?”
Arya mengambil kantong tomat. “Kita cari makan.”
Ia berhenti di penjual serabi dan membeli satu bungkus dengan taburan kelapa. Laras menatapnya.
“Aku tidak menulis ini di daftar.”
“Kamu melihatnya tiga kali.”
“Mas memperhatikan?”
Arya menyerahkan bungkusan. “Makan sebelum dingin.”
Di warung dekat pangkalan, Laras membuka buku kas. Uang yang mereka bawa masih cukup, tetapi biaya transportasi, sewa, obat, dan makanan akan menggerusnya cepat. Gaji Arya belum pasti selama status keluarga diperiksa. Mereka perlu pemasukan yang tidak bergantung pada nama Reksonegoro.
Pakde Karyo datang tepat waktu. Ia membantu mengikat barang, lalu menolak ketika Arya hendak membayar lebih.
“Bayar sesuai tempat duduk. Barang belanja bukan penumpang.”
Di perjalanan pulang, Laras menghitung ulang setiap pengeluaran. Ia memberi tanda pada kain dan perlengkapan jahit sebagai modal, bukan konsumsi.
Arya membaca dari samping. “Masih cukup?”
“Kalau disiplin.”
“Kalau tidak?”
“Kita cari pemasukan sebelum uangnya menipis.”
Mobil biru memasuki Girimulyo dengan belanjaan penuh dan satu map kehamilan yang kini terasa lebih berat daripada semuanya.
Hari-hari mereka memang bisa diatur dengan angka.
Namun kelahiran bayi itu memiliki batas waktu dan risiko yang tidak bisa ditawar seperti harga pasar.