Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Srak. Srak.
Suara cangkul yang mengikis tanah terdengar berirama di dalam Rumah Kaca Energi Murni.
Adit menyeka keringat yang menetes di ujung pelipisnya.
Meskipun cuaca di luar cukup terik, udara di dalam bangunan kaca ini terasa sangat sejuk dan menyegarkan.
"Luar biasa," gumam Adit pelan.
"Tanah di sini terasa jauh lebih gembur dan kaya nutrisi dibandingkan area luar."
Adit menunduk, membuka sebuah kantong kain kecil yang ia beli dari Toko Sistem Area Elit tadi malam.
Di dalamnya, terdapat sepuluh butir benih yang memancarkan pendar cahaya hijau keemasan.
[Item: Benih Melon Spiritual Kelas Atas.]
[Harga: 500 Poin Pengalaman per butir.]
"Harganya memang gila-gilaan," keluh Adit sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Tapi sistem menjamin rasanya setara dengan buah yang disajikan untuk para dewa."
Dengan hati-hati, Adit memasukkan benih-benih itu ke dalam lubang tanah yang telah disiapkan.
Satu per satu, sepuluh benih berharga itu tertanam rapi.
Ia kemudian meraih kaleng penyiram yang sudah diisi dengan air dari irigasi spiritual.
Byur.
Air jernih membasahi tanah yang baru ditanami tersebut.
Tiba-tiba, tanah di sekitar benih itu bergerak pelan.
Srett.
Sebuah tunas hijau kecil menembus permukaan tanah hanya dalam hitungan detik.
Mata Adit membulat melihat kecepatan pertumbuhan yang tidak masuk akal itu.
"Sistem tidak berbohong soal efek percepatan pertumbuhan 50% dari rumah kaca ini," gumamnya takjub.
"Dengan kecepatan ini, melon-melon itu akan siap panen dalam waktu kurang dari lima hari."
Di saat Adit sedang mengagumi tanamannya, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat.
"Adit! Kamu di dalam?"
Suara merdu Riana terdengar samar dari luar dinding kaca.
Adit segera berjalan ke pintu masuk dan membukanya.
Riana berdiri di sana, mengenakan blus putih elegan dan rok span hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna.
Nafas wanita cantik itu sedikit tersengal.
"Ada apa, Na? Tumben jam segini sudah mampir," sapa Adit sambil tersenyum hangat.
Riana tidak langsung menjawab. Ia mengangkat sebuah amplop tebal berwarna emas dengan segel lilin merah menyala.
"Undangan resminya baru saja tiba, Dit," ucap Riana dengan mata berbinar.
"Kita resmi mendapat satu slot stan di Pameran Kuliner Internasional Jakarta akhir pekan ini!"
Adit menerima amplop itu dan membuka isinya perlahan.
Matanya menyapu deretan tulisan elegan di atas kertas beraroma melati tersebut.
"Ini kesempatan emas kita, Dit," lanjut Riana antusias.
"Banyak investor asing dan pemilik jaringan restoran kelas atas yang akan hadir di sana."
"Jika kita bisa memukau mereka, kita tidak perlu bergantung pada distributor lokal lagi," tambah Riana.
Adit mengangguk setuju. Ia melipat kembali surat undangan itu.
"Bagus. Berapa banyak produk yang harus kita bawa?" tanya Adit.
Riana tampak berpikir sejenak.
"Untuk pameran sebesar itu, kita butuh setidaknya dua kuintal sayuran segar dan seratus kilogram daging ayam."
"Tapi itu belum semuanya, Dit," Riana menatap Adit dengan serius.
"Pameran itu punya sesi lelang bahan baku elit. Jika kita punya produk yang benar-benar istimewa, kita bisa langsung memenangkan pasar."
Mendengar itu, sudut bibir Adit tertarik membentuk senyum misterius.
Ia menoleh ke belakang, menunjuk deretan tunas hijau yang baru saja tumbuh di dalam rumah kaca.
"Tidak usah khawatir soal produk istimewa," ucap Adit dengan nada penuh percaya diri.
"Aku sedang menyiapkan kejutan kecil yang akan membuat seluruh koki di pameran itu bertekuk lutut."
Riana memiringkan kepalanya, menatap tunas kecil itu dengan penuh tanda tanya.
"Tunas apa itu, Dit? Sepertinya aku belum pernah melihat varietas tanaman seperti itu."
"Ini rahasia perusahaan untuk saat ini," goda Adit sambil mengedipkan sebelah matanya.
Riana hanya bisa mengerucutkan bibirnya gemas.
"Baiklah, Tuan Rahasia. Aku akan mengurus perizinan dan logistik transportasinya."
"Tolong siapkan semuanya dengan sempurna. Kita berangkat tiga hari lagi!" tegas Riana sebelum berbalik pergi.
Adit menatap kepergian Riana dengan perasaan campur aduk.
Antusiasme bercampur dengan sedikit ketegangan merayap di dadanya.
Ia tahu, Jakarta bukanlah medan pertempuran yang sama dengan Desa Sukamaju.
Di sana, ia akan berhadapan langsung dengan monster bisnis sesungguhnya, Hendra Wijaya.
"Tunggu aku, Ibukota," gumam Adit sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Aku akan tunjukkan pada kalian arti dari kualitas yang tak terkalahkan."
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.