NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Di Ruang Monitor, Nadya Meledak Marah

Tiga hari sebelum festival, Balai Seni Jakarta dipenuhi suara palu, kabel yang ditarik, dan potongan musik dari tiga panggung berbeda.

Vivi tiba dua jam lebih awal dari jadwal kelompoknya. Dua pengawal memeriksa jalur dari pintu masuk sampai ruang ganti. Pengawal perempuan membuka loker, ventilasi, kotak tisu, dan botol air sebelum Vivi masuk. Tiga anggota lain berjaga di pintu layanan, area auditorium, serta kendaraan.

Regina mengawasi seluruh proses dengan kedua tangan di pinggang.

“Saya tidak tahu harus merasa aman atau merasa kita sedang menjaga kepala negara,” katanya.

“Aku sudah mengatakan hal yang sama.”

“Suamimu mendengarkan?”

“Dia mengurangi lima orang yang mengekor menjadi dua orang di dalam gedung.”

“Kemajuan besar.”

Vivi tertawa kecil. Ia membuka tas latihan sendiri. Isinya hanya leotard hitam lama, rok putih sederhana, sepatu, handuk, serta satu kotak makanan tersegel.

Lucien asli tetap berada di rumah Gunawan. Segel kotak kaca telah difoto pagi tadi. Koper kerasnya belum dibuka, dan dua anggota keamanan mencatat setiap orang yang masuk ke lantai tiga.

“Aku tidak membawanya hari ini,” kata Vivi sambil menunjukkan foto kepada Regina.

Gurunya memperbesar gambar. Untuk beberapa detik, perempuan yang biasanya selalu punya koreksi itu tidak berkata apa-apa.

“Ini karya Lucien.”

“Sebastian memesannya setelah kami menikah.”

“Setelah kalian menikah?” Regina memperhatikan detail sulaman pada foto lain. “Padahal waktu itu kamu sudah hampir berhenti datang ke studio.”

Vivi mengangguk.

Regina mengembalikan ponsel. “Pria itu memikirkanmu lebih serius daripada yang kamu sadari.”

Kalimat tersebut tinggal di kepala Vivi saat ia mengganti pakaian.

Ia sudah tahu Sebastian menyukainya. Pelukan yang tidak mau lepas, buah setiap pagi, dan cara pria itu menerobos badai adalah bukti yang sulit disangkal. Namun gaun yang dipesan ketika Vivi bahkan tidak menari berarti perhatiannya telah ada dalam sunyi, jauh sebelum hubungan mereka menghangat.

Itu membuatnya tersentuh.

Juga sedikit takut.

Jika Vivi membalas terlalu banyak, apakah Sebastian akan menjadi lebih lembut atau justru semakin sulit melepaskannya?

“Jangan melamun,” tegur Regina dari luar. “Lima menit lagi uji cahaya.”

“Aku keluar.”

Vivi mengenakan pakaian lama dan memasukkan tas ke loker berkode. Ia sengaja membawa kostum yang tidak akan dipakai pada malam festival. Kalau seseorang mencoba merusaknya hari ini, Lucien asli tetap aman di rumah. Pada hari pertunjukan, koper akan dibawa langsung oleh pengawal perempuan, dibuka Vivi di ruang privat yang telah disapu ulang.

Ia tidak bisa mengandalkan masa lalu sepenuhnya lagi. Ia hanya bisa membuat setiap serangan menjadi lebih mahal dan lebih mudah dibuktikan.

***

Lampu panggung utama menyala satu per satu.

Balai pertunjukan belum dibuka untuk tamu. Hanya Regina, petugas panggung, tim cahaya, dan dua pengawal yang berada dalam jarak terlihat. Vivi berdiri di tanda putih bagian tengah, menunggu musik.

Nada piano memenuhi ruangan.

Pada delapan hitungan pertama, ia masih sadar pada kursi-kursi kosong. Setelah itu, tubuhnya mengambil alih. Lengannya terbuka seperti sayap. Ujung kaki menyentuh lantai tanpa suara. Setiap putaran membawa rok putih membentuk lingkaran tipis di bawah cahaya bulan buatan.

Ia melewati bagian yang dulu selalu membuat napasnya runtuh.

Satu lompatan.

Satu pendaratan.

Diam yang tepat sebelum nada terakhir.

Musik berhenti.

Beberapa teknisi yang semula sibuk dengan kabel ikut menoleh. Regina tidak tersenyum, tetapi matanya berkilat.

“Sekali lagi untuk transisi cahaya terakhir,” katanya. “Gerakanmu sudah benar.”

Koordinator panggung menghampiri mereka sambil membawa lembar posisi. “Penutupan tetap di tanda tengah ini, Bu Regina?”

“Ya. Cahaya bulan turun tepat setelah Vivi berlutut.”

Vivi melihat ke atas. Enam lampu besar tergantung pada rangka hitam. Setelah kejadian di studio, benda apa pun yang berada di atas kepalanya terasa terlalu berat.

Pengawal perempuan menangkap arah pandangnya. “Tim kami sudah memeriksa sertifikat instalasi dan daftar kru. Pemeriksaan fisik kedua dilakukan besok setelah pemasangan selesai.”

“Apakah semua orang yang menyentuh rangka dicatat?” tanya Vivi.

Koordinator mengangguk. “Masuk area atas memakai kartu khusus. Setiap pergantian petugas ditandatangani.”

Regina menepuk lengan Vivi. “Kalau ada satu baut mencurigakan, kita pindahkan posisi akhir.”

“Jangan pindahkan hanya karena aku gugup,” jawab Vivi. “Periksa seperti seharusnya. Kalau aman, aku tetap di sini.”

Koordinator menandai lembar tersebut dan meminta Regina menandatangani posisi final. Salinannya difoto oleh pengawal. Prosedur itu memberi Vivi rasa kendali, meski ia tahu pemeriksaan hari ini tidak dapat menjamin apa yang dilakukan seseorang besok.

Pujian pendek itu lebih berharga daripada tepuk tangan panjang.

Vivi mengambil napas dan kembali ke posisi awal.

***

Di sebuah ruang monitor milik The Sweet Ballerinas, rekaman latihan Vivi diputar tanpa suara.

Gambar itu dikirim dari akun kamera uji milik seorang pekerja kontrak di Balai Seni. Sudutnya tidak sempurna, tetapi cukup untuk memperlihatkan setiap putaran dan pendaratan.

Nadya berdiri di depan layar dengan wajah kaku.

Tata duduk di meja kontrol, membuka dua jendela percakapan sekaligus. “Akses ini hanya sampai malam. Setelah itu kode kameranya diganti.”

“Dia seharusnya belum pulih.”

“Sudah hampir satu bulan sejak latihan dimulai.”

Nadya menoleh tajam. Tata langsung menunduk.

Di layar, Vivi mengakhiri gerakan dengan tubuh membungkuk, lalu mengangkat wajah ke cahaya. Tidak ada keraguan. Tidak ada tanda bahwa kamera, obat, dan penyerang pernah berhasil mematahkan keberaniannya.

Nadya menyapu gelas dari meja.

Kaca pecah di lantai.

“Wulan mengaku. Lelaki itu ditahan. Perusahaan pemasaran sedang diperiksa,” kata Tata hati-hati. “Kalau kita bergerak lagi, risikonya terlalu besar.”

“Kita?” Nadya tertawa tanpa senyum. “Tidak ada nama kita di transfer terakhir.”

“Belum.”

“Pastikan tetap begitu.”

Nadya memperbesar pakaian latihan lama Vivi. “Rusak kostum itu setelah dia selesai. Buat seolah tersangkut di loker.”

“Itu bukan kostum festival.”

“Aku tahu.” Jari Nadya mengetuk layar. “Aku ingin dia tahu bahwa kami masih bisa menyentuh barang-barangnya.”

Tata tidak bergerak.

“Dan malam pertunjukan?” tanyanya.

Nadya membuka gambar teknis panggung yang dikirim pekerja kontrak. Salah satu lampu berada tepat di atas tanda tempat Vivi akan menutup koreografi.

“Cari orang di kru yang punya utang. Tidak perlu menjatuhkannya saat gedung penuh. Buat pengunci itu gagal pada hitungan terakhir.”

“Kalau ada yang terluka parah...”

“Kita sudah punya orang yang akan disalahkan. Pekerja kontrak itu menerima uang dari rekening pribadinya sendiri. Setelah selesai, bayar dia untuk pergi.”

Tata memandang pecahan kaca di lantai. “Nadya, ini berbeda dari merusak gaun.”

Nadya mendekat sampai bayangannya menutupi layar.

“Dia mengambil guru yang seharusnya memilihku. Sekarang dia ingin mengambil panggung dan Mr. Kovalenko.”

“Itu tidak berarti...”

“Lakukan.”

Di monitor, Vivi memulai koreografi sekali lagi. Gerakannya tampak ringan, seolah tidak ada satu pun tangan kotor yang dapat menjangkaunya.

Kuku Nadya menekan telapak tangannya sampai meninggalkan empat lengkungan merah.

“Buat dia tidak pernah bisa menari lagi.”

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!