NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Ledakan Sang Raja

Setetes cairan berwarna merah gelap jatuh menyentuh lantai geladak kapal perang yang terbuat dari kayu jati tebal.

Suara tetesan itu sangat pelan. Nyaris tidak terdengar di tengah deru angin lautan Grand Line. Namun bagi pemuda yang sedang duduk bersandar di antara puing-puing pagar pembatas, suara itu terasa bergema di dalam kepalanya.

Uchiha Madara menundukkan wajahnya. Poni rambut hitamnya yang panjang dan berantakan menutupi kedua matanya.

Napasnya terdengar berat dan putus-putus. Dada remajanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Udara yang masuk ke dalam paru-parunya terasa membakar, membawa serta aroma mesiu, darah, dan besi yang meleleh.

Di bawah telapak tangannya yang bertumpu pada lantai, berserakan serpihan logam berwarna abu-abu gelap. Itu adalah sisa-sisa dari sabit Kama miliknya. Senjata yang dia tempa sendiri dengan susah payah dari baja terkeras milik Germa 66, kini hancur berkeping-keping menjadi rongsokan yang tidak berguna.

Kelelahan material. Batas akhir dari sebuah logam buatan manusia saat dipaksa menahan tekanan pertarungan tingkat tinggi.

Madara menyadari kelemahannya saat ini. Tubuh fisik remajanya belum mencapai puncak perkembangannya. Tulang-tulangnya belum sekuat baja, dan kapasitas staminanya sangat terbatas untuk mengimbangi intensitas pertarungan melawan monster veteran yang telah berlatih puluhan tahun.

Luka sayatan melintang di dadanya berdenyut pelan. Pelindung dada merah kebanggaannya robek, gagal menahan secara penuh tebasan pedang berlapis Busoshoku Haki dari sang Laksamana Muda.

Keheningan sesaat menyelimuti lautan. Sebuah keheningan yang menjadi pertanda sebelum badai sorak sorai meledak.

“Kita berhasil!” teriak seorang prajurit Angkatan Laut di barisan depan.

Suara senapan laras panjang yang diangkat tinggi ke udara memecah kesunyian.

“Iblis itu telah tumbang! Senjatanya hancur!” sahut prajurit lainnya dengan suara bergetar karena kegembiraan yang luar biasa.

Gelombang kelegaan langsung menyapu ribuan prajurit elit Angkatan Laut yang memenuhi geladak tiga kapal perang raksasa tersebut. Keringat dingin ketakutan yang sebelumnya membasahi wajah mereka kini menguap, digantikan oleh euforia kemenangan.

Mereka berteriak kegirangan. Mereka saling memeluk satu sama lain. Mereka meneteskan air mata bahagia melihat monster yang sebelumnya menembus hujan peluru artileri tanpa luka, kini duduk tidak berdaya dengan darah menetes dari bibirnya.

“Keadilan telah menang!”

“Hidup Laksamana Muda Onigumo! Hidup Angkatan Laut!”

Paduan suara kemenangan itu bergema memenuhi langit siang yang cerah. Suaranya begitu keras hingga menggetarkan udara di sekitar mereka. Bagi para prajurit itu, pemandangan pemuda berarmor merah yang tertunduk lemah adalah bukti mutlak bahwa tidak ada kejahatan yang bisa lolos dari cengkeraman hukum dunia.

Di atas Kapal Bajak Laut Mugen yang berada agak jauh di belakang, pemandangan itu memberikan efek yang berkebalikan.

Nico Robin jatuh terduduk di atas lantai kayu ruang kemudi. Gadis arkeolog itu menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Mata biru gelapnya memancarkan keputusasaan yang sangat pekat. Ilusi tentang dewa pelindung yang tak terkalahkan hancur di depan matanya.

Vinsmoke Reiju mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Sang putri racun menahan napas, menolak untuk menerima kenyataan bahwa pria yang dia kagumi bisa dikalahkan oleh sekelompok prajurit berseragam.

Sementara itu, Monet, sang gadis salju, hanya bisa menangis dalam diam. Sayap putihnya gemetar hebat melihat sang pembebas terpuruk di ujung geladak musuh.

Di tengah kapal perang utama, Laksamana Muda Onigumo berdiri dengan postur yang sangat angkuh.

Delapan pedang hitam yang sebelumnya mematikan kini telah diturunkan. Enam lengan rambut laba-labanya perlahan menyusut dan kembali menjadi helaian rambut normal yang menempel di punggungnya. Dia hanya menyisakan dua pedang utama di kedua tangan aslinya.

Onigumo menarik napas dalam-dalam. Dia menghisap cerutunya hingga ujungnya menyala merah terang, lalu menghembuskan kepulan asap tebal ke udara.

Pria besar itu mulai melangkah maju.

Sepatu kulitnya berderap berat mendekati posisi Madara. Setiap langkahnya disambut dengan sorakan pemujaan dari ribuan anak buahnya. Dia menikmati momen ini. Momen di mana dia menginjak-injak harga diri seorang kriminal dan membuktikan superioritas Keadilan Absolut.

Onigumo berhenti tepat dua meter di depan Madara yang masih duduk bersandar.

Laksamana Muda itu menatap ke bawah. Dia melihat darah segar yang menodai lambang kipas di punggung jubah hitam pemuda itu. Dia melihat serpihan senjata yang berserakan tidak berguna.

“Inilah akhir dari kesombonganmu, Bocah Iblis,” ucap Onigumo dengan nada bariton yang dipenuhi oleh otoritas mutlak. Suaranya memotong sorak sorai para prajurit yang perlahan mereda untuk mendengarkan vonis sang komandan.

Onigumo mengangkat pedang di tangan kanannya. Mata pedang baja itu diarahkan lurus ke leher Madara.

“Kau terlalu mengandalkan kelincahan dan Haki Persenjataan dasar. Kau lupa bahwa di lautan ini, fondasi utama dari sebuah kekuatan adalah ketahanan fisik yang ditempa melewati neraka,” lanjut Onigumo memberikan ceramah terakhirnya.

Dia menatap wajah Madara yang masih tertunduk.

“Keadilan tidak akan pernah kalah oleh anak kemarin sore yang baru saja memegang senjata. Atas nama markas besar Angkatan Laut, aku menjatuhkan hukuman mati atas seluruh kejahatanmu di lautan North Blue.”

Sorakan para prajurit kembali meledak mendengar vonis tersebut. Mereka menuntut eksekusi segera dilakukan.

Namun, di bawah semua keributan itu. Di balik wajah yang tertunduk dan rambut hitam yang berantakan. Sebuah proses transformasi yang sangat mengerikan sedang terjadi di dalam ruang kesadaran Uchiha Madara.

Madara tidak mendengarkan sorakan para prajurit. Dia tidak memedulikan ceramah Onigumo.

Telinganya seolah menjadi tuli terhadap suara-suara luar.

Satu-satunya suara yang bergema di dalam kepalanya adalah suara detak jantungnya sendiri. Detak jantung yang perlahan berubah ritmenya. Dari detakan yang kelelahan, menjadi sebuah dentuman yang dipenuhi oleh kemarahan absolut.

Madara menatap telapak tangannya yang kosong.

Tubuh fisik remajanya memang telah mencapai batasnya. Jalur chakranya terasa panas dan kaku akibat penggunaan energi yang terlalu dipaksakan saat menangkis serangan monster veteran di depannya.

Tetapi, kekuatan seorang Uchiha Madara tidak pernah diukur hanya dari seberapa kuat tulang dan ototnya.

Harga dirinya. Kesombongannya. Eksistensinya sebagai sang hantu Uchiha yang pernah menari di atas mayat ribuan shinobi, menundukkan monster berekor, dan memandang rendah kelima kage terkuat di dunia lamanya.

Apakah eksistensi agung itu akan berakhir di sini? Di atas geladak kayu kotor ini? Diadili oleh seorang anjing penjaga berseragam putih yang berlindung di balik kata keadilan?

Sebuah perasaan muak yang luar biasa mendidih di dalam jiwa Madara.

Rasa muak yang membakar sisa-sisa kelelahannya menjadi abu. Darahnya seolah berubah menjadi magma panas yang mengalir di dalam nadinya.

'Kalian pikir... besi rongsokan dan keadilan palsu ini bisa menundukkanku?' batin Madara.

Kalimat itu bergema di kedalaman jiwanya. Bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan penolakan dari seorang raja yang menolak untuk berlutut.

Kekuatan fisik mungkin mengkhianatinya hari ini. Senjata logam buatan manusia mungkin hancur di tangannya. Tetapi jiwa dari seorang Uchiha Madara adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh hukum alam mana pun di dunia ini.

Tiba-tiba, suhu udara di sekitar geladak kapal perang itu anjlok secara tidak wajar.

Sorak sorai ribuan prajurit Angkatan Laut perlahan mereda. Mereka mulai merasakan ada sesuatu yang salah dengan lingkungan di sekitar mereka.

Angin laut yang sebelumnya berhembus sejuk kini berhenti bertiup. Udara terasa sangat diam, kaku, dan mencekik paru-paru.

Onigumo yang bersiap mengayunkan pedangnya seketika menghentikan gerakannya. Laksamana Muda itu mengerutkan dahi. Kenbunshoku Haki miliknya tiba-tiba menangkap sebuah sinyal bahaya yang sangat tidak masuk akal. Sinyal bahaya yang besarnya setara dengan letusan gunung berapi yang bersiap meledak di depan wajahnya.

“Apa yang terjadi?” gumam Onigumo pelan, matanya menyapu sekeliling.

Langit siang yang cerah mendadak berubah gelap.

Matahari seolah tertutup oleh sebuah tabir tak kasatmata. Awan-awan putih di atas mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar, berputar melingkar membentuk pusaran raksasa tepat di atas posisi kapal perang utama.

Kegelapan perlahan menelan lautan. Suasana berubah menjadi senja yang sangat kelam dan menakutkan.

“L-Langitnya... kenapa tiba-tiba menjadi gelap?” tanya seorang prajurit di barisan belakang dengan suara bergetar. Dia menjatuhkan senapannya ke lantai geladak tanpa dia sadari.

Di tengah keanehan alam tersebut, Uchiha Madara bergerak.

Pemuda itu tidak berdiri secara tiba-tiba. Dia bergerak dengan sangat lambat.

Madara mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Poni rambut hitamnya tersibak ke samping.

Mata hitam kelam Madara kini telah terbuka lebar. Tidak ada warna merah Sharingan di sana. Tidak ada tanda Tomoe yang berputar. Yang ada hanyalah sebuah kegelapan jurang tanpa dasar yang menatap langsung ke kedalaman jiwa setiap orang di kapal itu.

Tatapan itu bukanlah tatapan dari seorang manusia yang terdesak. Itu adalah tatapan dari seekor naga purba yang baru saja terbangun dari tidurnya dan mendapati semut-semut kecil mencoba menggigit sisiknya.

Sebuah tekanan spiritual yang sangat pekat dan berat mulai merembes keluar dari tubuh Madara.

Ini bukan sekadar hawa membunuh biasa. Ini juga bukan kepadatan energi dari Busoshoku Haki.

Ini adalah ledakan murni dari kehendak, dominasi, dan arogansi seorang raja yang menuntut dunia untuk tunduk padanya. Kekuatan spiritual yang hanya dimiliki oleh satu dari beberapa juta manusia yang ditakdirkan untuk berdiri di puncak dunia.

Haoshoku Haki. Haki Penakluk.

Tekanan itu tidak keluar dalam bentuk gelombang yang lembut. Tekanan itu meledak secara liar dan brutal dari pusat tubuh Madara.

Bum.

Suara ledakan udara yang sangat tumpul namun memekakkan telinga terdengar bergema ke segala penjuru lautan.

Dari tubuh Madara, menyembur sebuah aura spiritual yang memiliki warna visual yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Aura itu berwarna hitam pekat dengan pinggiran merah darah yang menyala terang.

Aura hitam kemerahan itu melesat ke atas, menembus langit dan menyapu seluruh area geladak dalam hitungan sepersekian milidetik.

Visualisasi dari kekuatan itu sangat mengerikan.

Gelombang udara bergetar sangat hebat hingga menciptakan distorsi optik. Pemandangan di sekitar kapal perang itu terlihat bergelombang seperti pantulan air di atas aspal panas.

Kayu geladak kapal perang yang sangat tebal dan kuat mulai mengeluarkan suara retakan keras. Papan-papan jati itu melengkung ke atas, patah, dan hancur menjadi serpihan kayu yang beterbangan ke udara. Tali-tali tambang putus dengan sendirinya. Kaca-kaca di ruang kemudi pecah berantakan menjadi bubuk kristal.

Crass. Crass.

Kilatan petir berwarna hitam legam tiba-tiba menyambar-nyambar liar di udara. Petir Haki itu tercipta dari pergesekan tekanan spiritual yang terlalu padat dengan molekul oksigen. Kilatan hitam itu menyambar tiang layar, menghancurkan besi baja, dan meninggalkan bekas hangus yang dalam.

Saat gelombang Haoshoku Haki itu menghantam ribuan prajurit Angkatan Laut, waktu seolah berhenti berdetak.

Sorak sorai yang sebelumnya memenuhi udara terhenti secara instan. Seolah-olah seseorang telah menekan tombol bisu pada seluruh dunia.

Para prajurit elit yang terlatih keras itu tidak memiliki kesempatan untuk bereaksi. Mereka tidak bisa berteriak. Mereka tidak bisa mengangkat senjata.

Tekanan spiritual dari sang raja menghantam langsung ke pusat kesadaran otak mereka.

Bagi mereka, itu terasa seperti sebuah gunung batu seberat jutaan ton mendadak dijatuhkan tepat di atas kepala mereka. Pikiran mereka dihancurkan oleh teror absolut yang tidak bisa dilawan oleh kemauan manusia biasa.

Mata dari ribuan prajurit itu membulat sempurna.

Pupil mata mereka menggulung ke atas, menyisakan bagian putih mata yang kosong dan mengerikan. Busa putih keluar dari sela-sela bibir mereka. Sistem saraf mereka mengalami korsleting total karena dipaksa menerima tekanan dominasi yang melampaui batas kewarasan.

Bruk. Bruk. Bruk.

Suara benda jatuh mulai terdengar susul menyusul.

Awalnya puluhan prajurit di barisan depan roboh ke depan, wajah mereka menghantam lantai kayu yang retak.

Kemudian, efek domino yang mematikan terjadi. Ratusan, dan akhirnya ribuan prajurit Angkatan Laut di ketiga kapal perang tersebut bertumbangan. Mereka berjatuhan tanpa daya seperti daun-daun kering yang disapu oleh angin musim gugur.

Suara senapan laras panjang yang terlepas dari genggaman dan berbenturan dengan lantai geladak menciptakan sebuah harmoni kehancuran yang sangat ritmis. Senjata-senjata itu kini tidak lebih dari sekadar besi tua yang berserakan di tanah.

Hanya dalam hitungan tiga detik, seluruh geladak dari tiga kapal perang raksasa itu telah berubah menjadi hamparan mayat hidup. Tidak ada satu pun prajurit rendahan yang mampu mempertahankan kesadarannya. Mereka semua pingsan dalam keadaan koma ringan akibat tekanan Haoshoku Haki yang sangat liar.

Bahkan di atas Kapal Bajak Laut Mugen yang berada cukup jauh, efek dari ledakan Haki itu masih terasa sangat menyengat.

Mantan kapten bajak laut dan seluruh krunya langsung memutihkan mata mereka dan pingsan seketika, tubuh mereka bertumpuk di atas geladak.

Monet dan Reiju jatuh berlutut, napas mereka terengah-engah. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi wajah kedua wanita mematikan tersebut. Mereka harus mengerahkan seluruh sisa tekad mereka hanya untuk tidak kehilangan kesadaran.

Robin menopang tubuhnya pada roda kemudi kayu. Dia menatap ke arah kapal perang utama dengan mata terbelalak dan tubuh gemetar hebat.

Gadis arkeolog itu pernah membaca tentang kekuatan legendaris ini. Kekuatan yang membedakan seorang raja dari manusia biasa. Haki Penakluk. Dan melihatnya dikeluarkan dengan intensitas brutal seperti ini oleh pemuda yang dia ikuti, membuat Robin menyadari bahwa dia benar-benar telah menaiki kapal yang akan mengguncang pondasi dunia.

Di atas kapal perang utama, suasana berubah menjadi sangat hening.

Tidak ada lagi nyanyian keadilan. Tidak ada lagi sorakan kemenangan. Hanya ada suara petir hitam yang masih menyambar pelan di udara, dan suara kayu yang berderit akibat kerusakan struktural yang masif.

Uchiha Madara berdiri perlahan dari posisi duduknya.

Jubah hitamnya dan pelindung dada merahnya berkibar pelan tertiup angin aura spiritualnya sendiri. Dia tidak lagi memedulikan luka di dadanya. Dia berdiri dengan postur tubuh yang sangat tegak, memancarkan keagungan seorang kaisar kegelapan.

Di hadapannya, Laksamana Muda Onigumo tidak pingsan.

Sebagai seorang veteran yang menguasai Haki Persenjataan dan Rokushiki, tekad mental Onigumo cukup kuat untuk menahan gelombang pertama dari Haoshoku Haki tersebut.

Tetapi, bertahan tidak berarti dia tidak terpengaruh.

Pria besar itu kini berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan.

Onigumo merasakan tekanan yang tidak masuk akal menekan kedua bahunya. Udara di sekitarnya terasa sangat berat, seolah dia sedang berada di dasar lautan sedalam puluhan ribu meter.

Dia mencoba menggunakan teknik Tekkai untuk memadatkan otot tubuhnya, tetapi teknik fisik itu sama sekali tidak berguna untuk menahan serangan yang menargetkan jiwa dan kesadaran.

Kedua lutut Onigumo mulai bergetar hebat. Kakinya tidak lagi mampu menopang berat tubuhnya sendiri di bawah tekanan spiritual Madara.

“A-Apa... ini...” rintih Onigumo dengan suara serak. Cerutu di mulutnya telah lama jatuh ke lantai tanpa dia sadari.

Keringat dingin membanjiri wajah kasarnya. Urat-urat menonjol di leher dan dahinya karena dia memaksa ototnya untuk menolak tunduk.

Namun gravitasi spiritual itu terus menariknya ke bawah. Dia merasa seperti sedang dipaksa untuk bersujud di hadapan dewa yang sedang murka.

Untuk mencegah dirinya jatuh berlutut secara memalukan di depan seorang kriminal, Onigumo mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Dia mengangkat pedang di tangan kanannya, dan menancapkan mata pedang itu dalam-dalam ke lantai geladak kayu.

Trang.

Onigumo berpegangan erat pada gagang pedang tersebut. Dia menggunakan pedang itu sebagai tongkat penyangga. Napasnya terengah-engah kasar. Dia menundukkan kepalanya, menatap lantai kayu dengan pandangan kosong dan penuh keputusasaan.

Dia, seorang Laksamana Muda markas besar, anjing penjaga Keadilan Absolut, dipaksa untuk membungkuk dan berpegangan pada sebilah pedang hanya agar tidak bersujud di hadapan seorang remaja.

Onigumo perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang merah karena menahan tekanan menatap lurus ke arah Madara.

“H-Haoshoku Haki...” bisik Onigumo, suaranya dipenuhi oleh teror yang murni. “Kekuatan raja penakluk... Kenapa iblis sepertimu bisa memiliki warna tertinggi ini di paruh awal Grand Line?”

Madara melangkah maju satu langkah.

Sandal kayunya berketuk pelan di atas lantai geladak yang telah retak berantakan. Suara ketukan itu terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis sesungguhnya.

Aura hitam kemerahan masih berpendar di sekitar tubuh Madara. Petir hitam menyambar kecil di ujung jarinya.

Mata hitam Madara menatap Onigumo dengan tatapan yang sangat kosong dan merendahkan. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak di wajahnya. Hanya ada ketenangan absolut dari seorang raja yang baru saja menunjukkan posisinya di dunia.

“Kau terlalu banyak bicara tentang keadilan, Serangga,” ucap Madara dengan nada bariton yang menggema di tengah kesunyian kapal perang tersebut.

Dia mengangkat tangan kanannya perlahan.

“Kalian memaksaku untuk menyadari keterbatasan tubuh ini. Tetapi kalian lupa satu hal. Kekuatan asliku tidak pernah terletak pada seberapa keras aku bisa mengayunkan sebuah besi murahan.”

Madara melangkah lebih dekat. Tekanan Haoshoku Haki-nya kembali meningkat secara spesifik, mengarah langsung dan terfokus pada tubuh Onigumo yang sedang berpegangan pada pedangnya.

Lantai geladak di sekitar Onigumo hancur menjadi bubuk kayu.

Sang Laksamana Muda mengerang kesakitan. Tulang-tulangnya berderit. Dia merasa paru-parunya akan meledak dari dalam. Teror kematian yang belum pernah dia rasakan sepanjang karier militernya kini mencekik lehernya dengan sangat erat.

“Sekarang,” bisik Madara, kata-katanya menyayat mental Onigumo bagaikan pisau es. “Mari kita lihat, apakah keadilan absolutmu bisa melindungimu dari kemarahan seorang Uchiha.”

Panggung telah dibersihkan. Ribuan penonton yang bersorak telah ditidurkan secara paksa. Langit mendung dan kilatan petir hitam menjadi saksi bisu. Saat ini, hanya ada satu penguasa mutlak yang berdiri di atas geladak kapal perang Angkatan Laut, bersiap untuk mengukirkan nama aslinya di lembaran sejarah lautan Grand Line dengan menggunakan darah keadilan itu sendiri.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!