NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Sepupu yang Mirip

Selina datang ke IGD sambil memeluk tas di depan perut.

"Nyeri lagi?" tanya Kayla.

Bik Mimin yang mengantarnya mengangguk cepat. "Sejak pagi tidak mau makan. Katanya mual."

Kayla membawa Selina ke bilik pemeriksaan. Tekanan darahnya stabil, tetapi nyeri ulu hati memburuk setelah beberapa hari kurang makan dan minum kopi.

"Saya sudah bilang kurangi kopi," kata Kayla.

"Saya hanya minum dua cangkir."

"Cangkir rumah atau cangkir kafe?"

Selina tersenyum lemah. "Dokter selalu bertanya terlalu rinci."

"Karena pasien selalu mengecilkan ukuran."

Kayla memeriksa perut, memastikan tidak ada tanda perdarahan atau perut akut, lalu meminta pemeriksaan penunjang seperlunya. Tiana memasang infus dan memberikan obat sesuai instruksi.

"Ibu pernah menjalani endoskopi?" tanya Kayla.

"Dua tahun lalu."

"Bawa hasilnya saat kontrol ke penyakit dalam. Kalau muntah darah, BAB hitam, pingsan, atau nyeri mendadak berat, langsung kembali."

Selina mengangguk, tetapi matanya terus memandang wajah Kayla.

"Ada yang salah?" tanya Kayla.

"Tidak. Kamu hanya sangat mirip seseorang."

Kayla teringat ucapan Tiana tentang Vanessa. "Siapa?"

Selina membuka mulut, lalu menggeleng. Ia tidak ingin menaruh harapan pada perempuan yang bahkan belum diperiksa hubungannya.

"Diri saya ketika muda," jawabnya jujur.

Kayla tertawa kecil. "Kalau begitu saya berharap tetap terlihat sebaik Ibu saat seusia Ibu nanti."

Mata Selina langsung basah.

Kayla berhenti menulis. "Ibu sakit lebih berat?"

"Bukan. Maaf."

Selina mengusap air matanya. "Saya pernah kehilangan anak perempuan. Sudah dua puluh lima tahun, tapi kadang rasanya seperti baru kemarin."

Kayla duduk di kursi sebelah ranjang. "Ibu kehilangan kontak dengannya?"

"Kami tidak tahu di mana dia. Mungkin dia bahkan tidak tahu kami mencarinya."

"Kalau dia hidup dengan baik, mungkin suatu hari dia akan cukup kuat mendengar kebenaran."

"Bagaimana kalau dia membenci kami karena terlambat menemukannya?"

Kayla terdiam. Ia membayangkan seorang anak dibesarkan di rumah lain, diminta membayar utang dan menyerahkan hidup demi keluarga yang tidak melindunginya.

"Kalau dia marah, biarkan dia marah dulu," katanya. "Jangan minta dia langsung memahami rasa sakit orang tua. Dengarkan rasa sakitnya juga."

Selina menutup mulut agar tangisnya tidak terdengar.

Tangannya terulur tanpa sadar. Kayla membiarkannya menggenggam jemarinya.

Perasaan hangat yang aneh menjalar di dada Kayla. Ia tidak mengenal Selina dengan baik, tetapi kesedihan perempuan itu terasa terlalu dekat.

Tiana masuk membawa hasil awal dan berhenti melihat mereka. Ia tidak berkata apa-apa sampai Selina dipindahkan ke ruang observasi.

"Sekarang kamu masih merasa kemiripan itu kebetulan?" bisiknya.

"Banyak orang bisa mirip."

"Tapi tidak semua orang menangis sambil memegang tanganmu."

"Dia sedang mencari anaknya. Jangan membuat cerita dari kesedihan pasien."

Tiana mengangguk. Kayla benar, tetapi keraguan di matanya tidak hilang.

Satu jam kemudian, nyeri Selina turun dan ia bisa minum sedikit tanpa mual. Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan perdarahan akut. Kayla tetap meminta Bik Mimin mencatat makanan serta obat yang dikonsumsi dan mengatur kontrol penyakit dalam.

Sebelum pulang, Selina menyerahkan kartu nama kliniknya.

"Kalau suatu hari kamu tidak sibuk, datanglah. Bukan sebagai dokter."

Kayla menerima kartu itu. "Sebagai pasien?"

"Sebagai seseorang yang ingin saya traktir makan."

"Kalau Ibu terus melewatkan makan, saya yang akan memilih menunya."

Selina tertawa. Untuk sesaat, wajahnya benar-benar tampak seperti ibu yang sedang berbicara kepada anak sendiri.

Pada waktu yang sama, Reyner berdiri di seberang sebuah toko keluarga Halim di Bekasi.

Ia tidak datang untuk mengambil sampel atau memotret diam-diam. Pengacaranya telah menemukan catatan usaha dan alamat keluarga yang sah diakses publik. Reyner hanya ingin memastikan keluarga itu benar-benar terkait dengan perempuan yang melahirkan di rumah sakit dua puluh lima tahun lalu.

Seorang laki-laki muda keluar membawa dua kardus mi instan. Karyawan memanggilnya Bryan.

Reyner membeku.

Bentuk mata Bryan, garis rahang, dan cara mengangkat alis saat menjawab seseorang mengingatkannya pada Vanessa.

Bukan kemiripan samar seperti Kayla dan Selina. Bryan dan Vanessa terlihat seperti saudara kandung yang tumbuh di rumah berbeda.

Reyner masuk sebagai pelanggan dan membeli sebotol air. Bryan melayaninya dengan sopan.

"Toko keluarga?" tanya Reyner.

"Punya orang tua saya."

"Sudah lama di sini?"

"Sejak sebelum saya lahir."

Di dinding belakang kasir terdapat foto keluarga. Rosa berdiri di tengah, diapit Vera dan Bryan. Di sudut foto lama, seorang bayi perempuan digendong Benny.

Reyner tidak mengambil gambar. Ia hanya mencatat tahun yang tercetak di bingkai promosi toko.

Setelah keluar, ia menelepon pengacara.

"Pastikan nama ibu yang ada di registrasi rumah sakit sama dengan pemilik usaha ini. Lewat catatan sipil atau dokumen pengadilan yang terbuka. Jangan hubungi keluarganya dulu."

"Baik, Pak Reyner."

Di ruang kru bandara sore itu, Reyner membuka foto gala Kayla dan Vanessa di layar laptop. Ia menaruhnya di samping foto muda Selina serta foto publik Bryan dari akun toko.

Empat wajah. Dua garis kemiripan yang berbeda.

Kayla menyerupai Selina.

Vanessa menyerupai Bryan.

Reyner menutup laptop ketika seorang kru lewat. Bukti visual belum cukup. Catatan rumah sakit juga belum cukup.

Namun untuk pertama kalinya, arah pertukaran bayi itu terlihat jelas.

Ia mengambil ponsel dan menghubungi Winston.

"Papa," katanya. "Kita perlu membicarakan tes DNA."

"Dengan siapa?" tanya Winston.

"Kayla dan Vanessa. Tapi bukan diam-diam. Kita harus punya dasar yang cukup untuk meminta persetujuan mereka. Aku tidak mau mengambil rambut, gelas, atau benda pribadi tanpa izin."

Winston terdiam, lalu menjawab, "Pastikan catatan Halim dulu. Setelah itu kita bicara kepada Mama. Jangan membuat harapan sebelum jalurnya kuat."

"Aku mengerti."

Reyner memandang layar laptop yang sudah gelap. Ia ingin berlari membawa kabar itu kepada Selina, tetapi seorang saudara yang baik tidak hanya menemukan. Ia juga memastikan orang yang ditemukan tidak kembali terluka oleh cara pencarian mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!