Diusianya yang baru menginjak 16 tahun, Bianca Rosaline terpaksa menikahi pria yang lebih tua 12 tahun dari dirinya. Semuanya terjadi ketika kedua orang tuanya dengan tega menjual dirinya pada lelaki asing.
Ditengah penolakannya, Bianca mau tak mau harus menemui pria itu—Alan Drax. Pria yang tanpa ragu membeli dirinya dengan harga mahal.
Dan ketika pertama kali bertemu, Bianca tak mampu mengalihkan perhatiannya saat iris hitam legam Alan menatapnya tajam. Sekalipun wajah pria itu tak menampakkan ekspresi apapun.
Note :: Kalo udah baca, jangan lupa ninggalin jejak yaahhh. Biar aku tau kalo kamu itu ada #eeaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyya Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi
Cathy hanya mampu mengepalkan tangannya kuat ketika merasa usahanya sia-sia. Ia sudah mempersiapkan yang terbaik untuk malam ini dari ujung rambut sampai ujung kakiknya. Dan semuanya ia lakukan hanya untuk Alan. Namun nyatanya, pria itu justru mengajak kekasihnya. Yang sialnya, jauh lebih menarik di mata Alan dibanding dengan dirinya.
“Ini sebagai ucapan terima kasihku karena kau telah mengajak Bianca makan siang bersama.” Cathy tersentak kaget di tempatnya seraya menatap Alan lekat. Tak salah lagi, pasti Bianca yang memberitahu Alan.
Sekilas, Cathy menatap Bianca dengan mata berkilat marah. Ingin rasanya saat ini ia menampar Bianca seraya memaki wanita tak tahu diri itu.
“Bukankah begitu?” Alan kembali berucap seraya menatap Bianca yang tengah tersenyum simpul.
“Thanks, Cathy.” Seru Bianca seraya tersenyum lebar.
Dalam hati, Bianca tak henti-hentinya menggerutu seraya mengucapkan nama Jimmy dengan penuh kekesalan. Padahal pria itu sudah berjanji padanya untuk tak memberitahu Alan. Dan nyatanya? Jimmy malah berkhianat. Tak bisa dibiarkan.
Awas saja!
Mereka bertiga makan malam bersama dalam diam. Sesekali, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring. Saat ini, Cathy menikmati makanan dipiringnya tanpa minat. Berbanding terbalik dengan Bianca yang terlihat begitu bahagia. Sial!
“Kau tahu, tadi aku bertemu dengan Stella.” Cathy kembali membuka suara ketika mendapatkan ide cemerlang.
“Stella?” Tanya Alan seraya membersihkan sudut bibirnya menggunakan ujung serbet.
“Temanku yang kukenalkan padamu waktu itu.” Cathy segera menatap Bianca seraya tersenyum licik. Ia akan melakuan apapun untuk membuat wanita itu pergi dari kehidupan Alan.
Bianca masih terdiam. Ingatannya kembali melayang pada foto yang Cathy tunjukkan padanya. Dan yakin jika Cathy sengaja melakukannya.
“Aku tak ingat.” Alan berujar tak acuh. Kini, ia beralih untuk menggenggam tangan Bianca lalu menautkan jari mereka.
“Sungguh? Padahal kalian pernah tidur bersama.”
Bianca sontak memejamkan kedua matanya sembari menghela napas pelan. Sebisa mungkin meyakinkan dirinya jika masa lalu Alan tak ada hubungan apa pun dengannya. Namun berapa kalipun ia mencoba, dadanya tetap sesak. Ada rasa sakit yang menghampiri hatinya. Dan ia tak menyukainya.
“Cathy.” Desis Alan seraya menatap Cathy tajam. Kedua matanya memancarkan aura yang tak bersahabat.
“Alan.” Panggil Bianca seraya menatap Alan dengan ekspresi tak nyaman. Sengaja ingin melihat reaksi pria itu.
Alan tersenyum kecil. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya pada pipi Bianca lalu mendaratkan satu kecupan mesra.
“Aku sengaja mengajak kalian makan malam bersama. Setidaknya, aku berharap, kalian bisa menjadi sedikit lebih akrab.” Alan berujar santai seraya menggoyangkan gelas berisi wine yang ia pegang.
“Jangan bodoh!” Cathy berucap lantang seraya menunjukkan ketidaksukaannya secara jelas.
“Aku hanya ingin kau akrab dengan kekasihku.”
“Kekasihmu? Lebih tepatnya, wanita simpananmu.” Bianca sontak menatap Cathy tajam lengkap dengan ekspresi tak terima. Seandainya saja wanita itu tahu jika ia dan Alan telah menikah, Bianca yakin jika reaksi Cathy akan jauh lebih parah.
“Katakan saja sesukamu.” Seru Bianca tak acuh. Ia lebih memilih untuk menikmati sepotong kue keju yang tersaji di depannya.
Secara tiba-tiba, Bianca bangkit dari duduknya lalu berdiri di samping Alan.
“Toilet.” Ucap Bianca ketika Alan menatapnya penuh tanya.
Sebelum benar-benar melangkah menuju toilet, Bianca segera melepaskan dua kancing atas kemeja yang Alan gunakan. Dengan sengaja ingin memperlihatkan pada Cathy bekas gigitannya yang masih tercetak jelas pada leher Alan.
Satu seringaian kepuasan tercetak pada sudut bibirnya. Apalagi ketika kedua mata Cathy membulat tak percaya.
“Aku tahu jika kau kepanasan.” Ucap Bianca pada Alan sebelum tubuhnya benar-benar menghilang dari dalam ruangan tersebut.
Kepanasan?
Bahkan satu tetes keringat pun juga tak ada.
Batin Alan seraya tersenyum simpul. Salut atas apa yang Bianca lakukan.
***
Sepeninggal Bianca, Cathy masih tak membuka suara. Pikirannya terus berpusat pada bekas gigitan di leher Alan. Kedua tangannya mengepal. Seharusnya ia yang memberikan bekas gigitan tersebut pada Alan.
“Cathy.” Panggil Alan namun tak mendapatkan jawaban.
“Cathy!” Alan kembali memanggil wanita itu dengan nada tak bersahabat. Membuat Cathy tersentak kaget di tempatnya.
“Apa?” Tanya Cathy bingung.
“Kau pikir aku tak tahu apa yang kau lakukan pada kekasihku?”
“Memangnya apa yang telah kulakukan?” Cathy ikut bertanya seraya menatap Alan jengkel. Apalagi ketika menyebut Bianca sebagai kekasihnya. Cih!
“Selama ini, aku memilih untuk tak ambil pusing karena kau adalah sepupuku. Tapi kali ini, aku merasa jika apa yang kau lakukan sudah melewati batas.” Alan berucap datar namun sarat akan kemarahan. Terus berusaha menahan dirinya agar tak lepas kendali.
“Aku hanya berkata jujur.” Sanggah Cathy.
“Bukankah kau sendiri yang mengenalkan Stella padaku? Wanita itu yang menawarkan dirinya sendiri. Dan aku hanya bersikap baik dengan cara menerimanya.” Alan menyeringai kecil setelah berucap. Lalu tertawa kecil—seperti sedang mengejek.
“Kenapa harus Stella? Bukankah ada aku?” Cathy berucap tak sabaran seraya menatap Alan sedih.
“Karena kau adalah sepupuku.” Jawab Alan santai.
“Tapi aku tak peduli. Aku mencintaimu, Alan. Dan aku rela untuk memberikan apa pun padamu. Tubuhku sekalipun.”
“Haha.” Alan tertawa kecil ketika mendengar ucapan Cathy.
Dengan gerakan angkuh, Alan segera berdiri lalu berjalan menghampiri Cathy. Tubuh tingginya menjuntai di hadapan wanita itu sementara wajahnya tengah menunduk dan menatap Cathy datar.
“Buang obsesi tak masuk akalmu itu padaku. Cinta? Terlihat jelas jika kau tak mencintaiku dengan tulus. Yang kau inginkan hanyalah status sebagai Nyonya Drax dan hak untuk memiliki semua hartaku.”
Cathy hanya mampu mendongak menatap Alan dengan wajah yang bergetar takut. Tatapan Alan saat ini sangat mendominasi. Iris hitam legam pria itu telah lebih dulu memenjaranya di dalam sebuah ruangan sempit. Gelap. Dan tanpa pasokan udara.
Perlahan, Alan mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan dan membuat wajahnya berada di samping telinga Cathy. Lalu berbisik,
“Dan satu hal lagi, aku … sama sekali tidak tertarik dengan tubuh kotormu itu.”
Setelahnya, Alan melangkah pergi untuk menemui Bianca dan mengajaknya pulang bersama. Malam ini, ia ingin kembali merasakan kehangatan tubuh istrinya.
***
Cathy memarkirkan mobilnya secara sembarangan hingga akhirnya menabrak salah satu pot bunga milik ibunya yang tersusun rapi di halaman rumahnya yang tak terlalu besar.
“Brengsek!” Cathy mengumpat kesal seraya membanting pintu mobilnya. Lalu berlari memasuki kamarnya yang terletak di lantai satu. Rumahnya memang hanya bangunan berlantai satu.
“Sialan!” Cathy kembali mengumpat seraya melepaskan secara kasar high heels yang dipakainya. Melemparkannya ke sembarang arah dan mengenai lemari pakaiannya.
“Aku benar-benar akan menyingkirkanmu!” Teriak Cathy marah. Saat ini, ia tengah membayangkan wajah Bianca dan tak henti-hentinya mengutuk wanita itu. Yang dengan berani merebut Alan bahkan menodai tubuh pria itu.
“Kotor? Aku? Kekasihmu jauh lebih kotor.” Cathy kembali meracau tak jelas. Ucapan Alan tadi benar-benar telah membuatnya lepas kendali. Seandainya saja pria itu mau memilihnya, ia pasti tak akan menjadi seperti ini.
Ia bisa memberikan apa pun yang Alan inginkan. Wajah cantiknya. Tubuh seksinyalah yang selama ini membuat para pria bertekuk lutut di hadapannya. Termasuk Wilson. Ia juga bisa memuaskan Alan berkali lipat dari yang Bianca lakukan. Dibanding dengan wanita miskin itu, dia jauh lebih baik.
Bagaimanapun juga, ia harus mendapatkan Alan. Sekaligus memiliki semua yang pria itu punya.
btw makasih kakakk author..
senang dengan karyamu.💗