Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi bersama
"Mana Zhang?" Pie mencari keberadaan laki-laki bertubuh kecil.
"Belum datang." Ucap Fang.
"Kau sudah membeli minum?" Fang melirik ke arah kantong plastik hitam yang dibawa masing-masing oleh Ezti dan Pie.
"Tentu. Kau pikir ini batu?" Jawab Ezti.
"Hahaha. Kupikir kau membawa batu sialan." Fang tertawa hambar.
Ezti memutar bola matanya malas. Ia berjalan mendekat ke arah Sensei Qie dan yang lainnya.
"Pie? Kau sudah makan?"
"Huh? Ya. Sudah."
Pie menghampiri Ezti yang sedang mengobrol dengan Sensei Qie dan yang lain.
Fang menggaruk kepala yang tidak gatal mendapat sikap acuh Pie.
"Hoi, menunggu siapa?" Zhang datang dengan sepeda birunya.
"Menunggumu, sialan." Ucap Kei yang sedari tadi menyimak pembicaraan Sensei Qie.
"Hehehe, maaf. Aku tertidur."
"Ayo kita berangkat. Sebentar lagi Senpai Gwen datang.
"Let's gooo." Zhang menuntun sepedanya di barisan belakang. Fang menjajari langkah Zhang dengan raut wajah yang masih mengantuk.
"Apa kau terbangun sendiri atau dibangunkan?" Fang menatap lucu wajah Zhang yang seperti bocah lima tahunan.
"Dibangunkan oleh ibuku. Apa kalian sudah lama menunggu?"
"Aku tidak. Tapi Sensei Qie dan Kei yang lebih dulu di tempat.
"Benarkah? Aku merasa tidak enak." Zhang tersenyum miris.
"Jadwal besok kau yang menunggu kami."
"Aku tak janji. Kau tahu bagaimana kebiasaanku."
"Aku hanya asal bicara." Fang mengeluarkan ponsel dan mulai bermain game.
Pie meneguk air minum yang ia beli sebelum berangkat. Mereka sedang beristirahat setelah latihan satu sesi.
Ia mengambil ponsel di dalam tas dan terdapat pesan masuk dari Kim.
"Aku akan ikut menonton pertandingan. Guru olahraga mengatakan, siapapun boleh ikut."
Pie tersenyum membaca pesan dari Kim. Ezti yang melihat hal itu mendekati Pie.
"Oke."
"Ehem.. Dari ayang-ayang kuuh."
"Benar. Dia akan ikut menonton pertandingan minggu depan."
"Astaga, bucin." Ezti menyuapkan snack coklat ke dalam mulutnya.
"Kau jadi ikut?"
"Entahlah, aku sedang malas untuk ikut. Kau?"
"Aku ikut. Sekalian jalan-jalan ke kota." Pie menaikkan alisnya naik-turun.
"Siapa lagi selain dirimu?"
Pie menatap sekitar yang terdapat beberapa murid karate sedang istirahat dan mengobrol.
"Yang kutahu hanya tiga orang itu yang tidak ikut." Pie menunjuk tiga orang yang duduk berkumpul menyendiri.
Ezti mengikuti arah pandangnya.
"Oh. Banyak juga yang ingin menonton."
Pie mengangguk.
"Mungkin aku akan berhenti latihan."
Pie menatap Ezti serius.
"Aku lelah. Kau tahu setiap pulang latihan badanku pegal-pegal."
"Kurasa kau tak sendiri. Aku pun begitu."
"Benarkah? Kupikir tubuhku yang aneh."
"Sensei Gwen bilang, itu wajar."
"Sayang? Kau sedang apa?"
Kim menghampiri Pie yang seorang diri di dalam kelas. Sedari tadi Kim menunggu Pie di depan kelasnya, namun kekasihnya ini tak terlihat.
Caca hanya seorang diri berjalan ke arah kantin.
"Huh? Sedang duduk?"
Pie terlihat menyalin catatan ke buku yang lainnya. Kim mengenali tulisan tangan Pie.
"Buku siapa ini?"
"Caca."
"Ini tanggal hari ini, kenapa kau baru mencatatnya?"
"Uhm.. penglihatanku buram jika menatap papan tulis. Jadi aku meminjam catatan milik Caca."
"Buram? Kau sudah periksa ke dokter?"
"Nanti akan kuperiksa."
"Jangan menundanya."
Pie mengangguk, ia menatap Kim yang duduk di depannya.
"Ada apa kau kemari?"
"Bertemu denganmu. Aku menunggu di depan kelas tapi kau tak muncul. Jadi kususul kemari."
"Kau ingin ke kantin?"
"Ya. Kau tidak?"
"Aku menyelesaikan ini dulu."
"Kenapa tidak di rumah saja?"
"Ini sisa sedikit lagi."
"Oke, aku akan menunggumu."
Fang yang ingin masuk ke kelas melihat Pie bersama Kim memilih mengurungkan niatnya dan berbalik menuju kursi di koridor.
"Kau ingin cemilan? Aku bisa membelikannya untukmu."
"Tidak perlu."
Pie menyadari kegelisahan Kim.
"Jika kau ingin makan, pergilah ke kantin. Aku akan menyusul."
"Tidak. Aku akan bersamamu."
Pie menutup buku dan menyimpannya ke dalam laci meja.
"Apa sudah selesai?"
"Belum. Biar nanti saja, ayo ke kantin."
Kim tersenyum sembari mengikuti langkah Pie yang berjalan menuju pintu.
Mereka berjalan bersama sembari mengobrol ringan.
Hari yang ditunggu telah tiba..
Pukul 07.15 pagi, Pie sudah berada di halaman sekolah mengenakan pakaian kasual.
Dirinya sedang bersama beberapa teman karate berdiri menunggu guru olahraga datang dengan mobil yang akan membawa mereka ke kota.
Kim yang sedang jongkok di sisi Pie yang berdiri sembari menyilangkan tangan di dada.
Mereka semua terlihat keren dengan pakaian bebas. Beberapa pasang mata siswa yang bersekolah menatap bingung sembari mereka masuk ke gedung sekolah.
"Pak Sam bilang jam tujuh kita akan berangkat. Lihat sekarang sudah lewat 20 menit beliau belum juga datang." Kei berkeluh kesah diiringi oleh beberapa teman yang sudah bosan menunggu sedari tadi.
"Mungkin beliau sedang di jalan."
Kei tak menanggapi Sensei Qie, ia memilih jajan gorengan yang sudah mangkal di depan gerbang.
Sebuah mobil masuk ke halaman sekolah, dan Pak Sam keluar dari pintu sisi sopir.
"Semua sudah hadir?"
"Lebih baik, diabsen Pak." Usul Senpai Qie yang diangguki oleh Pak Sam.
Semua sudah terabsen dan masuk ke dalam mobil. Mereka berangkat dengan hati yang senang.
Fang duduk di dekat Pie yang terhalang Kim.
"Kau membawa camilan?"
"Tidak."
"Astaga, kenapa tidak? Apa tidak akan lapar di jalan?"
"Kurasa nanti kita akan singgah di suatu tempat."
"Begitukah?"
Pie mengangguk.
Perjalanan ke kota memakan waktu sekitar tiga jam. Mereka sempat singgah untuk membeli makanan atau ke toilet.
Beberapa anak terlihat mabuk kendaraan, sebagian yang lain terlihat mendengarkan lagu dengan menggunakan earphone, mengobrol, bercanda, dan bernyanyi.
"Bersandar padaku jika mengantuk." Kim menarik pelan kepala Pie ke bahunya.
"Ya. Kau tidak mengantuk?"
"Sedikit mengantuk, mungkin sebentar lagi akan tidur."
"Kita tidur saja."
"Ya."
Nyatanya Pie hanya memejamkan mata. Ia tak bisa tidur.
Mobil memasuki kawasan gedung yang sepi namun di area parkiran terlihat beberapa mobil dan sepeda motor terparkir rapi.
Di depan gedung beberapa bendera yang menandakan acara terpasang meriah beserta spanduk besar yang hampir menutupi bagian depan gedung.
Mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki area dalam gedung. Perlahan suara sorak-sorak ramai terdengar. Pak Sam mengarahkan tempat duduk yang seperti stadion. Terlihat di bawah sana sedang berlangsung pertandingan karate dari berbagai daerah.
Pie menatap ngeri pertandingan yang menurutnya berbahaya. Selama ini dirinya hanya bertanding dengan angin. Kalaupun duel, mereka tak benar-benar mengenai tubuh lawan.
Beberapa peserta ada yang mengalami cidera. Pie meringis melihat hal itu.
"Apa kalian akan bertanding seperti mereka?" Bisik Kim menunjuk para peserta yang bertanding.
"Aku tak tahu. Aku mengikuti ekskul ini hanya untuk menambah nilai dan untuk berjaga-jaga." Kedua mata Pie tetap fokus ke pertandingan yang berlangsung.
"Aku menyarankan kau tak perlu ikut pertandingan. Khawatir kau mengalami cidera seperti dia." Kim menunjuk peserta yang ditandu keluar area pertandingan.
Pie mengangguk setuju.