Yang Chen berjalan di jalan yang penuh dengan bahaya dan lautan darah. meski jalan yang ia lalui penuh dengan bahaya yang bisa sewaktu-waktu merenggut nyawanya namun ia tetap teguh menghadapinya. hal ini dilakukan untuk menjadi kuat demi melindungi apa yang berharga baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.O.B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12. dikejar
Pelelangan di buka oleh seorang wanita muda dengan wajah yang menarik perhatian banyak orang.
Wanita itu mulai memperkenalkan satu persatu item yang dilelang.
Yang Chen sangat takjub dengan semua item yang dilelang, di mulai dengan berbagai macam tumbuhan spiritual yang memiliki khasiat yang sangat bagus, ada juga berbagai senjata spiritual dari tahap spirit sampai tahap mistik.
Dan tentu saja harganya juga semakin mahal dengan kualitasnya yang tinggi.
Yang Chen sangat tertarik dengan senjata spiritual tahap mistik tapi harganya yang terbilang mahal bagi Yang Chen membuat ia tidak bisa memilikinya.
Tapi untung saja, bunga anggrek darah miliknya di beli dengan harga 6000 batu roh tingkat rendah sehingga ia bisa membeli sebuah pedang tahap spirit tingkat tinggi.
Berbeda dengan Yang Chen yang sangat antusias dengan berbagi item lelang, kakek Wu dan Ye Ting Yun sama sekali tidak tertarik dengan semua item itu. Seakan mereka sudah memiliki yang lebih baik dari semua item yang itu.
Hal ini membuat Yang Chen semakin penasaran dengan mereka berdua, tapi ia tetap memilih diam tidak bertanya.
Setelah beberapa saat akhirnya semua item lelang telah di perlihatkan semuanya, dan sebagian besar item itu telah terjual. Dengan demikian akhirnya pelelangan telah berakhir.
Yang Chen kemudian dibawakan senjata pedang yang telah ia beli di pelelangan.
" Yang Chen, setelah ini kamu akan kemana?" Tanya kakek Wu.
" Aku rasa aku akan kembali ke akademi pedang kembar karena sudah lama aku pergi." Jawab Yang Chen.
" Kalau begitu kita akan berpisah disini." Ucap kakek Wu.
Yang Chen mengepalkan tangannya sebagai tanda hormat dan berkata, " terimakasih atas semua bantuan kakek Wu selama beberapa hari ini, jika bukan bantuan anda mungkin aku sudah mati disungai itu."
" Jika ada kesempatan aku pasti akan membalas bantuan kalian." Ucap kembali Yang Chen.
" Haha, jika hari itu tiba aku akan mengandalkanmu." Ucap kakek Wu sambil tersenyum.
Setelah mengobrol sebentar, kemudian Yang Chen berbalik dan berjalan pergi.
" Ayo kita juga harus pergi menemui informan kita." Ucap kakek Wu sambil berjalan pergi.
Ye Ting Yun menatap punggung Yang Chen sebentar sebelum akhirnya ia berbalik dan mengikuti Kakek Wu.
Di sisi lain Yang Chen sedang menunggangi kuda dan bergerak dengan cepat. Yang Chen membeli kuda dengan sisa uangnya sehingga ia bisa kembali ke akademi lebih cepat.
Setelah berpergian bersama kakek Wu dan Ye Ting Yun menggunakan kuda membuat Yang Chen sangat tertarik dengan kuda. Kuda bisa berlari dengan cepat dan mudah ditunggangi sehingga sangat berguna dalam berpergian ke tempat yang jauh.
Saat melewati hutan, tiba-tiba saja Yang Chen menghentikan kudanya dan melihat sekitarnya dengan waspada.
" Siapa itu, cepat keluar." Teriak Yang Chen.
Dari tadi Yang Chen merasakan ada sesuatu yang terus mengikutinya sehingga ia berhenti dan memeriksanya.
" Cepat keluar!" Teriak kembali Yang Chen.
Tapi tidak ada yang menanggapi teriakannya.
" Apakah itu hanya perasaanku saja." Ucap Yang Chen yang mulai mengira itu hanya perasaannya saja.
Tapi baru selangkah kuda Yang Chen kembali bergerak, tiba-tiba sebuah anak panah langsung meluncur ke arahnya.
Untung saja Yang Chen bergerak cepat memutar badannya sehingga ia bisa lolos dari anak panah itu.
Tapi anak panah ke dua kembali meluncur sehingga memaksa Yang Chen harus melompat dari kudanya demi menghindari anak panah itu.
Kemudian dua orang menutupi seluruh tubuhnya dengan menggunakan pakaian hitam dan hanya memperlihatkan celah kecil di bagian matanya untuk melihat.
" Bocah, kamu memiliki takdir buruk. Karena kami diperintahkan untuk membunuh kamu." Ucap salah satu pria berbaju hitam.
" Siapa yang mengirim kalian?" Disini Yang Chen bertanya-tanya siapa yang mengirim dua orang ini untuk membunuhnya.
" Hehe kamu seharusnya bisa tahu, siapa yang telah kamu singgung baru-baru ini." Ucap pria lainnya berbaju hitam.
" Jangan bilang itu dari kelompok itu." Yang Chen langsung terpikirkan seseorang. Mereka adalah kelompok Yan Zong dan Yan Yi yang mereka temui bersama kakek Wu dan Ye Ting Yun belum lama ini.
Tapi ia tidak mengerti, Yang Chen sama sekali tidak bicara dengan mereka jadi bagaimana bisa ia membuat mereka sangat tersinggung hingga mengirim dua orang pembunuh untuk membunuhnya.
" Apakah seorang pemuda bernama Yan Yi yang mengirim kalian?" Tanya Yang Chen.
" Itu benar, dengan begini kamu tidak akan mati dengan penasaran karena telah tahu siapa yang menginginkan kematianmu bocah."
Kedua pria itu kemudian memegang dua pisau pendek di tangannya dan bersiap menyerang Yang Chen dan pria lainnya juga bersiap dan memegang pedangnya.
Dari aura yang mereka keluarkan, keduanya berada di tahap spirit tingkat 5.
Merasakan kalau Yang Chen hanya di tahap spirit tingkat 4 membuat mereka dengan percaya diri bisa membunuh Yang Chen dengan mudah.
Merasa tidak ada jalan lain, ia harus melawan mereka.
Yang Chen kemudian mengambil pedang yang baru saja ia beli di pelelangan dan bersiap untuk bertarung.
Walaupun kultivasinya satu tingkat lebih lemah dari mereka berdua tapi Yang Chen tetap tenang dan tidak takut menghadapi mereka berdua.
Melihat pedang Yang Chen membuat mereka berdua tertarik dan berniat untuk memilikinya setelah membunuh Yang Chen. " Pedang yang bagus tapi sayangnya malah digunakan oleh anak selemah ini sungguh sangat disayangkan."
" Jika kalian ingin mengambilnya maka kalian harus berusaha lebih keras dan berhati-hati karena kalian bisa mati olehnya." Ucap Yang Chen.
" Sepertinya anak ini sudah gila, dalam keadaan seburuk ini, ia masih berbicara seolah ia bisa mengalahkan kita." Ucap pria berbaju hitam mengejek.
" Aku setuju, ayo kita selesaikan cepat tugas ini dan ambil semua hartanya." Ucap pria berbaju hitam lainnya.
Keduanya langsung menyerang Yang Chen dengan lincah dan gesit, Yang Chen juga tidak diam, ia juga bergerak dan langsung mengeluarkan teknik pedangnya.
Mereka bertukar serangan, dan bunyi senjata yang berbenturan menggema di udara.
Di tempat lain, ada tiga orang pemuda yang sedang makan di sebuah paviliun yang sangat indah baik dari luar maupun dalam.
Mereka adalah Yan Yi dan dua rekannya.
" Kenapa mereka belum datang juga? Kedua pembunuh bodoh itu sama sekali tidak tahu kalau waktu tuan muda Yan Yi sangat berharga, aku rasa kita harus memberi mereka pelajaran setelah ini." Ucap pemuda di sebelah kanan Yan Yi.
" Itu benar, tapi apakah kita tidak perlu memberitahukan tuan Yan Zong mengenai kita yang mengirim dua pembunuh untuk membunuh pemuda itu. Bukankah kita sudah diperintahkan untuk tidak berbuat sesuatu tanpa seizin tuan Yan Zong." Ucap pemuda di sebelah kiri Yan Yi.
" Kita tidak perlu melapor hal kecil seperti ini pada tuan Yan Zong, hanya masalah sekecil ini sama sekali tidak akan membuat misi kita terganggu."
" Itu benar tapi..." Ucapnya sambil melirik ekspresi Yan Yi yang masih santai meminum minumannya.
" Masalah sekecil ini tidak perlu diberitahukan pada tuan Yan Zong, kita bisa mengurusnya sendiri. Sedangkan untuk bocah itu harus mati." Ucap Yan Yi sambil mengingat kembali kedekatan Yang Chen dan Ye Ting Yun yang membuat ia kesal dibuatnya.
Kembali ke tempat Yang Chen, terlihat banyak pepohonan yang tumbang dan bebatuan hingga tanah di sana berlubang dan terpotong oleh sesuatu yang tajam.
Tempat itu mengalami rusak parah akibat pertarungan Yang Chen dan kedua pembunuh itu.
Tidak jauh disana ada satu sosok yang telah terbunuh dengan luka dilehernya yang terus mengeluarkan darah.
Sedangkan rakan lainnya masih hidup tapi ia terlihat sangat buruk.
Ia terbaring di tanah dengan luka di dadanya dan luka diperutnya yang hampir memotong tubuhnya.
" Ini tidak mungkin, bagaimana kamu bisa sekuat ini?" Ucap pria itu dengan wajah pucat tidak percaya.
Di sana Yang Chen sedang berdiri menatap pria itu dengan santai.
Yang Chen tidak banyak bicara, ia berjalan menuju pria itu dan langsung menebas lehernya.
" Sebaiknya aku harus segera pergi, sebelum ada orang lain lagi yang datang membunuhku." Yang Chen langsung melompat ke atas kuda dan memacu kembali kudanya menuju akademi pedang kembar.
Benahi dulu susunan kata dalam kalimat dan penggunaan kata. Pakailah bahasa Indonesia jangan pakai bahasa Inggris. Semoga karya novel ini meraih kesuksesan. Amiin 🤲