Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stabil
"Selamat siang bapak, ibu, apa kalian sedang bersantai?" Ucap Adit yang membuat Arumni dan Galih terlonjak dari duduknya.
Dua orang anggota Bintara itu hanya menatap keheranan, mereka belum tahu bahwa Arumni merupakan istri dari atasannya.
Demi mengurai suasana tegang, dan takut suaminya akan berpikir buruk tentang mereka, Arumni mencoba tenang dengan sedikit candaan. "Selamat siang, pak. Iya, kami sedang bersantai," jawab Arumni.
Galih pun cukup tegang, dan takut Adit akan marah pada Arumni.
"Saya sudah hampir selesai di sini, apa kalian juga sudah selesai berjualan?" Ucap Adit lagi.
"Sudah pak, alhamdulillah hari ini sangat laris sampai habis tak tersisa."
Adit menatap jam yang melingkar di tangannya, "alhamdulillah. Kalau begitu aku tunggu di warung makan 5 menit lagi, ya! kita makan siang bareng. Aku mau ngobrol sama pedagang yang lain dulu, sebentar."
Arumni dan Adit sedang bercanda dengan wajah serius, mereka tidak memberi kesempatan untuk Galih berkata-kata.
"Iya, pak!" katanya.
Adit menghampiri kios bu Neli, sementara Galih dan Arumni hanya mengamati dari tempat semula.
Mama Alin, dan bu Susi tampak sedang memperkenalkan Adit pada bu Neli. Mereka semakin menikmati obrolannya.
"Arumni, apa Adit akan memarahi mu?" Tanya Galih tiba-tiba.
Arumni tahu, suaminya itu hampir tidak bisa marah, cemburu bisa jadi, tapi emosinya sangat stabil. Namun melihat wajah tegang Galih, Arumni jadi kepikiran untuk sedikit bercanda. "Iya, mas. Mas Adit bisa marah besar pada ku, lihat saja dia nggak mau melihat kita di sini lagi, kan?"
"Aku minta maaf, ya. Aku—aku yang akan menjelaskannya nanti, jadi kamu jangan takut, ya?"
"Aku nggak tahu apa yang akan dilakukan oleh mas Adit padaku, di rumah nanti. Mungkin kamu sendiri paham bagaimana perasaan mas Adit." Arumni tak mampu menahan tawa, membuat Galih jadi bingung penuh pertanyaan.
"Kenapa malah tertawa?"
"Nggak apa, aku ke sana, ya." Arumni meninggalkan Galih sendiri di kiosnya, lalu menyusul suaminya yang sedang berada di kios bu Neli.
Galih kembali mengamati kios ibunya, berpikir apa yang kurang, sesekali melihat ke arah kios bu Neli, "sepertinya mereka aman-aman aja." Bisiknya mulai tenang.
Adit pergi dari sana, lalu Arumni kembali ke kios bersama mama Alin dan juga ibunya.
"Saya pamit dulu ya, bu Susi. Besok saya hubungi bu Neli dan bu Susi. Untuk pengiriman barang, bu Susi tidak perlu khawatir, pembayaran pun lebih mudah, bu Susi bisa COD atau transfer Bank. Pokoknya semua serba mudah, di jaman canggih ini," kata mama Alin saat mereka sedang menuju kios bu Susi.
"Terimakasih bu Alin, mudah-mudahan kerja sama kita bisa berjalan lancar." Kata bu Susi sambil memberikan kardus berisi oleh-oleh itu, "oh ya, ini ada sedikit oleh-oleh untuk keluarga bu Alin di Bandung."
"Jazakallah khair, terimakasih banyak, bu Susi." Ucap mama Alin.
"Aamiin, sama-sama bu Alin."
"Kalau begitu saya pamit dulu ya, bu Susi. Saya mau bersiap untuk perjalanan nanti malam." Katanya, "oh ya Arumni, tolong bantu mama bawakan barang-barang ini ke mobil, ya. Habis ini kamu bisa pergi sama Adit."
"Lho mama nggak ikut kita?"
"Nggak Arumni, mama mau nunggu Tya di rumah, kalian santai aja dulu."
"Arumni mau pergi sama Adit? Biar aku saja yang bantu bawa barang-barang tante," saut Galih.
"Terimakasih, Galih. Maaf ya, jadi merepotkan." Ucap mama Alin.
"Dengan senang hati, tante," kata Galih.
Arumni pergi ke tempat yang sudah Adit janjikan, lalu Galih membawakan barang-barang mama Alin sampai ke parkir mobilnya.
Bu Susi turut bahagia atas kedekatan keluarga mereka, "hati-hati bu Alin."
"Iya, bu Susi," jawab mama Alin, lalu pergi dari sana.
"Galih, gimana usaha mu, apa ada kendala?" Tanya mama Alin saat dalam perjalanan menuju parkir mobilnya.
"Alhamdulillah, tidak ada tante."
"Oh ya, ngomong-ngomong apa kamu masih belum ingin menikah lagi?"
Hening...
Mama Alin menyadari, mungkin pertanyaannya terlalu sensitif. "Maaf, tante tidak bermaksud—"
"Nggak papa, tante. Ibu juga setiap hari bertanya tentang itu." Ucap Galih sambil mengulas senyum.
Mama Alin pun tersenyum, "ibu mu benar, sebaiknya kamu segera mencari pasangan."
"Aku selalu memikirkannya, tante." Jawab Galih datar.
Mereka pun sampai di tempat parkir, Galih menyusun barang-barang itu ke dalam bagasi. "Hati-hati ya, tante. Semoga perjalanan tante ke Bandung berjalan lancar."
"Terimakasih, Galih." Ucap mama Alin lalu masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan Galih di sana.
* *
"Gimana rasanya?" Tanya Adit saat mereka sedang makan siang.
"Enak, lebih enak dari masakan ku sendiri." Katanya.
"Pertanyaan ku bukan tentang masakan ya, Arumni!" Tegas Adit, "kamu pasti tahu lah maksud ku."
Arumni masih mengunyah makanannya, ia tahu maksud suaminya itu, tapi apa salahnya sedikit bercanda, pikirnya.
"Selalu saja ada kesempatan untuk berduaan, atau kalian memang sudah janjian?"
"Nggak, mas, ini karena mama yang meminta lewat sana. Aku sama sekali tidak tahu kalau ibu akan mulai jualan lagi, apa lagi mas Galih, aku juga sama sekali nggak nyangka dia ada di sana." Kata Arumni.
"Iya, aku percaya. Tapi heran aja sih, kalian terus bertemu di mana pun tempat. Udah gitu selalu berduaan lagi, mama juga malah asyik bicara sama bu Neli."
"Dibuat biasa aja, mas. Sampai kapan pun juga kita akan selalu begini, yang penting antara aku sama mas Galih nggak ada apa-apa. Aku sudah anggap dia seperti kakak sendiri." Arumni menjelaskan.
"Iya, sayang... Aku mengerti." Balas Adit.
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/