Dia ternyata dosenku sendiri. Dia menawarkan bantuan membayarkan semua hutang-hutangku saat harus membiayai pengobatan ibu.
Tapi aku tidak mau menerimanya begitu saja. Akhirnya diapun menawarkan sebuah penawaran yang membuatku sangat terkejut
Dia menginginkanku agar mau bersandiwara menjadi istrinya. Lalu apa yang harus aku lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Friska Nanda Raisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
salah paham 1
10 menit telah berlalu, tapi mas Rifan masih saja memelukku.
“Mas, ini udah 10 menit. Lepasin aku mas.” Ucapku
“Cepat sekali sih 10 menitnya. Kamu bohong kali.” Ucapnya
“Ngapain juga aku bohong mas. Lagipula, perutku udah lapar, aku mau makan. Emang mas ga lapar?” tanyaku
“Hmm.. Ya udah sana makan duluan. Nanti aku nyusul.” Sahut mas Rifan
“Ya udah, aku makan duluan ya.” Ucapku
“Hmm...” sahutnya singkat dan akupun langsung pergi keluar
Sementara didalam kamar, mas Rifan masih belum beranjak dari tempat tidur
“Haiz.. Hari ini aku kenapa sih? Kok sebegitu inginnya aku melakukan itu padanya?! Sedangkan dia sepertinya sudah ada yang dia suka.” gumam mas Rifan
“Ah.. Ya udahlah.” Gumamnya lagi sambil mengacak-ngacak rambut dan menyusulku untuk makan
“Mau makan pakai apa mas? Sini aku ambilkan.” Ucapku begitu dia sampai di meja makan
“Apa saja.” Sahutnya singkat
Setelah mendapat jawaban itu, akupun langsung mengambilkannya dan kemudian dia pun memakannya.
Tak selang berapa lama, HP mas Rifan berbunyi dan diapun langsung mengangkatnya.
Saat setelah selasai mengangkat telpon, mas Rifan meminta ijin padaku dan juga nenek untuk keluar menemui temannya.
“Ga boleh. Kamu selama tinggal di rumah nenek, ga boleh yang namanya keluar malam apalagi sampai tidur di luar.” Ucap nenek tegas.
“Ya nek, kok nenek gitu sih?! Ini kan penting.” Ucap mas Rifan.
“Pokoknya tidak, ya tidak. Titik. Ga ada penolakan.” Ucap nenek tegas
“Rupanya cucu sama nenek sama aja ya. Keras kepala.” Gumamku dalam hati saat melihat perdebatan mereka
“Nek.. Boleh ya..?!” rengek mas Rifan
“Tetep. Sekali Ga, ya ga.” Ucap nenek tegas
“Haizz... Klo begini caranya, nenek jadi ga nafsu makan.” Ucap nenek sambil menaruh peralatan makannya di atas meja makan
“Sayang, kamu lanjutkan saja makannya ya. Nenek mau ke kamar duluan.” Ucap nenek kepadaku
“Nenek emang udah kenyang?” Tanyaku
“Sudah kenyang banget gara-gara mas mu.” Ucap nenek sambil melirik kearah mas Rifan
“O ya udah klo begitu. Selamat tidur nenek.” Ucapku sambil tersenyum
“Iya sayang.” Sahut nenek dan kemudian nenekpun pergi
“Uh... Pinter banget ngerayunya.” Ucap mas Rifan
“Siapa juga yang ngerayu. Dasar, ga di kasih ijin kok sensinya keorang lain?!” gerutuku dan mas Rifanpun mendengarnya namun dia diam
“Eh ya mas, besok aku ga usah diantar ya ke kantornya.” Ucapku
“Kenapa memangnya?” tanya mas Rifan
“Karena ada temanku yang akan menjemputku.” Sahutku
“Ya udah. Asal jangan ketahuan nenek.” Ucapnya
“Siap bos.” Sahutku dan mas Rifanpun geleng-geleng sambil tersenyum
Ke esokan harinya, aku berangkat seperti biasa. Namun kali ini aku berangkat dari rumah nenek ke rumahku yang dulu. Masalahnya aku janjian dengan Reno disini. Secara dia ga tahu, klo aku sudah menikah.
Setelah sampai di sana, ternyata Reno belum datang.
“Untunglah dia belum sampai.” Gumamku lega sambil mengelus dada.
Kemudian akupun buru-buru berdiri di tempat kami janjian. Tak selang berpa lama, Renopun sampai.
“Hai Cill, kamu udah lama ya nunggunya?” tanya Reno
“Ga kok. Aku juga baru keluar.” Sahutku
“Ayo kita berangkat sekarang. Nanti keburu telat.” Ucap Reno
“Ayo..” sahutku
“O ya, cill. Kapan kita bisa makan berdua aja?” tanya Reno di perjalanan
“Jangan sekarang-sekarang ini deh Ren. Nanti begitu ada wakti luang, aku bakalan kasih tahu kamu.” Ucapku
“Oh begitu. Baiklah. Aku tunggu deh kabar dari kamu.” Ucap Reno
“Makasih ya Ren.” Ucapku
.
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa like dan comennt nya.. 🙏
.