Disarankan untuk membaca novel My Perfect Boss ya...ini skuel ke 3 SIK + kelanjutan kisah cinta anak Micha dan Axelle.
Hubungan Krisna dan Fiona berubah sejak insiden penculikan yang terjadi pada Krisna saat usianya mencapai 15 tahun.
Seorang Krisna yang hangat, ramah dan ceria kini menjadi sosok yang jarang bicara, dingin dan sangat acuh bahkan terhadap keluarganya sendiri.
Namun ambisi dalam mengelola perusahaan papanya, Krisna sangatlah sukses dan mampu membuat perusahaan sang papa berkembang pesat.
Hingga satu keputusan Krisna pergi ke Los Angeles untuk mengurus cabang perusahaan barunya. Akan tetapi hal itu tidak menghalangi Fiona untuk terus berusaha mengejar cinta Krisna kembali.
Akankah Fiona mampu mengembalikan diri Krisna yang dahulu? Akankah rahasia penculikan itu mampu Fiona bongkar dari mulut Krisna?
Dan apakah kisah cinta mereka akan berakhir bahagia?
Cus kepoin yuk novel Author yang satu ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon may leni andiarsi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-Tiba..!!!
Fiona lalu membuka pintu apartemennya dia masih mematung melihat sosok yang kini sudah berada tepat di hadapannya.
“K..Kris..?!” Tenggorokan Fiona tercekat.
Fiona tidak percaya akan apa yang di lihatnya, Krisna dengan sendirinya datang ke apartemennya.
Tanpa basa basi Krisna lalu membalikkan badannya kembali dan berlalu pergi begitu saja. Fiona yang tadinya masih melamun segera menyadari dan mencoba untuk mengejar Krisna.
“Kris..tunggu..!! Hosh..hosh..hosh!” Nafas Fiona mulai tersengal karena kelelahan berlari mengejar Krisna.
Pada akhirnya Fiona tidak berhasil mengejar Krisna. Karena Krisna sudah berhasil menyebrangi jalan terlebih dahulu dan saat giliran Fiona lampu sudah berubah berwarna hijau.
“Mengapa Krisna pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Apa maksudnya, mengapa tiba-tiba dia datang ke apartemenku? Apa mungkin Krisna sudah mulai bisa luluh hatinya?”
“Tidak! Tidak! Jika benar, dia tidak mungkin lari dan pergi begitu saja.”
“Sudahlah, lebih baik aku akan kunjungi dia besok.” Ucap Fiona pada dirinya sendiri.
***
Keesokan paginya sebelum berangkat kerja, Fiona benar-benar menyempatkan dirinya berkunjung ke rumah Krisna. Akan tetapi di sana sudah sepi seperti rumah tak berpenghuni.
“Kris..buka pintunya. Aku tahu kamu pasti di dalam kan.” Teriak Fiona dari luar.
Meski sudah beberapa kali Fiona menekan bel ataupun mengetok pintu gerbang hasilnya tetap sama saja. Krisna tidak muncul sama sekali.
“Apa dia sudah berangkat kerja? Tapi ini masih pagi.” Keluh Fiona.
Dia mulai berjalan gontai, kembali ke apartemennya. Lalu memilih untuk segera berangkat bersama Lili untuk ke proyek resort.
Saat Fiona sudah tidak terlihat lagi di depan rumahnya, Krisna pun merasa lega seakan tadi dia harus menahan nafas. Takut-takut jika Fiona masih melihatnya di dalam rumah.
“Apa yang aku lakukan tadi malam?!”
“Sungguh bodoh!” Rutuknya sendiri.
Setelah merutuki akan tindakan bodohnya Krisna segera pergi dari rumahnya untuk pergi ke perusahaan.
Sedangkan Fiona sepanjang perjalanan menuju resort hanya melamun tentang apa yang terjadi tadi malam. Fiona sama sekali tidak bisa mencerna maksud Krisna yang tiba-tiba datang dan pergi begitu saja.
Lili yang sedang menyetir pun merasa heran karena Nonanya pagi-pagi sudah melamun.
“Nona! Nona Fio!” Panggilan Lili pun tak di dengar oleh Fiona.
“Nona Fio!!!” Lili sedikit berteriak, barulah Fiona terperanjat dari duduknya.
“Ada apa Li?! Mengagetkanku saja!”
“Maaf Nona, habisnya Nona pagi-pagi sudah melamun, Itu hal yang tidak baik Nona.” Celoteh Lili.
“Iya-iya aku tak kan melamun lagi.”
“Memangnya Nona sedang memikirkan apa?!”
“Bukan apa-apa Li.”
Lili pun hanya mampu menggelengkan kepalanya akan sikap Nona nya yang suka berubah-ubah itu.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang waktunya makan siang telah tiba. Fiona, Lili serta Mr. Charles makan siang bersama di dekat resort. Mereka sengaja tidak makan terlalu jauh dari tempat resort karena mereka harus segera membahas tentang konsep baru.
Fiona saat ini tidak boleh bermalas-malasan karena kontraknya dengan perusahaan Krisna mengharuskan resort ini selesai dalam kurun waktu satu tahun dan tentunya material yang di gunakan harus memenuhi standart yang tinggi.
Usainya makan siang Fiona serta Mr. Charles mulai membahas konsep terbaru mereka. Namun lagi-lagi Fiona harus kehilangan fokusnya saat melihat sosok yang di carinya tadi pagi sudah berada di sana.
“Oh iya, Nona Fiona, saya lupa memberitahumu bahwa salah satu investor kita Tuan Krisna akan berkunjung hari ini.” Ucap Mr. Charles.
“Tidak apa Mr. Charles, sangat kebetulan saya juga ada hal yang ingin di bicarakan dengan Tuan Krisna.” Mr. Charles pun hanya mengangguk paham.
Fiona lalu mendekati Krisna yang sedang fokus melihat proses pembangunannya. Krisna menyadari akan hal itu, namun dia bersikap dingin seperti biasanya.
“Maaf permisi, saya boleh berbicara dengan Tuan Kris saja sebentar.” Ucap Fiona sopan.
Krisna lalu memberi kode pada Anton untuk menjauh dari mereka berdua.
“Kris..semalam mengapa kamu datang ke apartemenku? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanya Fiona penasaran.
“Mungkin kamu berhalusinasi Fio, semalam aku tidak di rumah.” Kilah Krisna.
Fiona pun terdiam sejenak, apa benar apa yang di katakan Krisna bahwa dirinya sedang berhalusinasi karena terlalu rindu dengan Krisna. Tapi semalam benar-benar nyata bagi Fiona, kini Fiona di landa kebingungannya sendiri.
“Mungkin saja, ah..ya sudahlah. Maaf sudah menyita waktumu. Untuk konsep terbaru, aku sudah mengirimkan email padamu Kris. Semoga saja kamu suka dengan konsepnya.” Sahut Fiona sedikit lesu.
“Ok.” Hanya kata itulah yang keluar dari mulut Krisna.
Krisna lalu meninggalkan Fiona begitu saja di sana karena Krisna lebih memilih pergi menyusul sekretarisnya. Berdenyut nyeri hati Fiona, karena Krisna masih saja memperlakukannya dengan seperti itu.
Namun tak selang beberapa lama datanglah sosok pria tampan mendekati Fiona. Dan tiba-tiba mengajak Fiona untuk pergi dengannya.
Tidak ada penolakkan apapun dari Fiona, dia hanya patuh mengikuti langkah pria itu. Sedangkan Krisna yang melihat hal tersebut tentu saja merasa ada sesuatu yang sesak di dadanya. Dia hanya mampu meremas erat kepalan tangannya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...