Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 15
Bau lumut basah dan rembesan air tanah menyambut langkah mereka saat menuruni tiga puluh anak tangga batu terakhir menuju bagian dasar Kompleks Asrama Barat. Di bawah naungan bayangan tebing terjal yang menjulang tinggi, lorong ter bawah ini hampir tak tersentuh sengatan sinar matahari senja. Lentera-lentera batu yang menempel di dinding memancarkan pendar cahaya kuning redup, membiaskan bayangan panjang tiga anak yang berjalan melintasi lantai batu yang lembap.
Ruan Xi'er menghentikan langkahnya di depan persimpangan lorong bagian dalam, menatap pintu-pintu kayu kusam di sekelilingnya sambil bergidik tipis. "Gila, tempat ini rasanya seperti sarang kelelawar di dalam gua! Dingin sekali!"
"Di bawah sini aliran energinya memang lebih tipis karena tertutup tebing," kata Shen Jue sambil menyandarkan punggungnya santai di dinding batu. "Tapi justru karena sepi dan gelap, tidak akan ada orang-orang bising seperti Lu Fan yang mengganggu waktu istirahat kita."
Xi'er menoleh ke arah lorong khusus murid perempuan yang terletak sepuluh meter di sebelah kanan. Gadis itu menyesuaikan letak tas kainnya di punggung, lalu menatap Shen Jue dan Gongsun Zhi bergantian.
"Kamarku ada di ujung lorong sana," kata Xi'er sambil menyunggingkan senyum hangat. "Kalian berdua hati-hati, ya. Kalau ada senior atau murid kota yang coba-coba mengganggu malam ini, teriak saja dari jendela!"
"Tidak akan ada yang berani mengganggu," pungkasi Gongsun Zhi dengan raut wajahnya yang kaku.
"Selamat malam, Xi'er," sahut Shen Jue lembut sambil melambaikan tangannya pelan. "Istirahatlah yang cukup. Besok pagi kita masih harus menghadiri kelas teori pertama."
Setelah sosok Xi'er menghilang di balik belokan lorong perempuan, Shen Jue dan Gongsun Zhi melanjutkan langkah mereka menuju ujung paling dalam lorong laki-laki. Di sana, sebuah pintu kayu jati tua bersandarkan plat besi hitam berukir angka sembilan berdiri tegak dalam remang-remang cahaya lentera.
Shen Jue merogoh saku bajunya, mengeluarkan keping token besi berkarat yang tadi dipungutnya dari tanah, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci pintu.
Crik! Krik!
Engsel kayu yang sudah bertahun-tahun tidak dilumasi itu menderita nyaring saat pintu terdorong masuk. Hawa dingin yang pekat dan aroma debu kering seketika menyeruak keluar menyapa hidung mereka.
Ruangan di balik pintu itu berukuran sekitar empat kali lima meter. Tidak ada hiasan megah atau perhiasan seperti di lantai atas. Hanya ada dua dipan kayu berlandaskan papan tebal tanpa kasur, sebuah meja batu persegi yang berdebu di tengah ruangan, serta satu-satunya jendela kayu kecil yang menghadap langsung ke dinding tebing batu cadas di luar.
Gongsun Zhi melangkah masuk lebih dulu. Setiap ketukan sepatu linennya di lantai kayu menimbulkan bunyi derit halus. Ia melepaskan ikatan tali bahunya, lalu menurunkan Tombak Besi Hitam yang terbungkus kain hitam dari punggungnya.
Bruk!
Ujung gagang tombak itu mendarat di lantai batu, memicu dentuman rendah yang cukup berat hingga menggetarkan debu-debu halus di atas meja.
Shen Jue menutup pintu kayu di belakang mereka, memasang palang pengunci sederhana. Ia menepuk-nepuk debu yang menempel di ujung jubah abu-abunya, lalu melangkah mendekati jendela kayu untuk membukanya sedikit agar sirkulasi udara dingin dari luar bisa masuk menyapu aroma pengap ruangan.
Saat Shen Jue berbalik, ia sedikit tertegun melihat apa yang sedang dilakukan oleh teman sekamarnya.
Gongsun Zhi sama sekali tidak mengeluh tentang kondisi ruangan yang kotor dan lembap tersebut. Anak bertubuh tegap itu sudah merogoh kain lap bersih dari dalam buntalan pakaiannya. Tanpa membuang waktu, ia mulai mengusap debu tebal di atas meja batu dengan gerakan menyapu yang sangat telaten dan bertenaga.
"Kau tidak istirahat dulu?" tanya Shen Jue sambil menyandarkan badannya di pinggiran meja batu yang baru saja disapu.
"Tempat ini kotor," jawab Gongsun Zhi singkat tanpa menghentikan usapan lapnya pada permukaan kayu dipan sebelah kanan. "Kalau tidak dibersihkan sekarang, debunya akan masuk ke saluran pernapasan saat kita tidur malam."
Shen Jue mengamati anak itu dengan sudut bibir terangkat tipis. Gerakan Gongsun Zhi saat mengelap kayu tidak asal-asalan; setiap usapan tangannya memiliki irama yang konstan dan stabil, memperlihatkan tingkat kedisiplinan diri yang sudah mendarah daging sejak kecil.
Setelah membersihkan dipan sebelah kanan sampai benar-benar bebas dari debu, Gongsun Zhi beralih ke dipan sebelah kiri di dekat jendela—dipan yang posisinya lebih hangat dan tidak terlalu lembap. Ia mengelap papan kayu dipan itu hingga bersih mengilap.
Setelah selesai, Gongsun Zhi memeras kain lapnya ke dalam wadah batu kecil dekat pintu, lalu menunjuk ke arah dipan dekat jendela tersebut.
"Kau tidur di situ," kata Gongsun Zhi dengan nada suara yang datar dan lugas.
"Kenapa bukan kau saja? Dipan dekat jendela itu posisinya lebih nyaman dan udaranya lebih segar," sahut Shen Jue heran.
"Tubuhmu kelihatan lebih kurus dan agak pucat. Dipan dekat sudut lorong sana terlalu lembap, tidak bagus untuk ketahanan fisikmu. Lagipula... tadi siang di pos istirahat dan di depan Senior Zhao, kau sudah membantuku bicara," kata Gongsun Zhi dengan matanya yang jujur dan kaku.
Shen Jue tertegun sejenak. Ia menatap anak bertubuh besar di depannya ini dengan pandangan yang sama sekali baru. Di balik pembawaannya yang teramat kaku, kedinginan bicaranya, dan wajahnya yang selalu bertekuk datar bagai batu pahatan, Gongsun Zhi memiliki hati yang sangat jujur, adil, dan penuh rasa tahu diri—sebuah kualitas moral yang teramat langka di tengah lingkungan petarung yang penuh kelicikan ini.
"Aku tidak berniat membantumu saat itu," sahut Shen Jue jujur sambil berjalan mendekati dipan dekat jendela. "Aku cuma tidak suka melihat orang-orang sombong yang berisik."
"Apapun alasanmu, hasilnya sama," balas Gongsun Zhi singkat sambil mendudukkan tubuh tegapnya di atas dipan sudut yang dingin.
Gongsun Zhi melipat kedua kakinya, duduk bersila dengan punggung yang begitu tegak bagai pilar besi. Ia merogoh sehelai kain khusus dari saku celananya, lalu mulai mengurai ikatan kain hitam yang membungkus senjata utamanya.
Satu per satu gulungan kain hitam itu terlepas, memperlihatkan wujud asli senjatanya.
Sebilah tombak panjang berukuran dua meter lebih berdiri anggun di dalam keremangan Kamar Nomor Sembilan. Batang tombak itu terbuat dari logam besi hitam pekat yang tidak memantulkan cahaya, bertekstur agak kasar dengan ukiran alur spiral halus di sepanjang genggamannya. Mata tombaknya berbentuk daun ganda yang tebal dengan mata pisau yang sangat tajam di kedua sisinya. Hawa dingin dan bobot murni menguar tebal dari permukaan logam tua tersebut.
Shen Jue duduk di tepi dipannya, menatap mata tombak itu dengan binar pemahaman seorang ahli tempa.
"Besi Hitam Dasar Laut," gumam Shen Jue pelan. "Senjata ini ditempa dengan teknik tempaan dingin sepuluh ribu kali ketukan. Bobotnya setidaknya empat puluh jin."
"Kau tahu nama bijih besi ini?" tanya Gongsun Zhi terkejut.
"Tahu sedikit," jawab Shen Jue santai sambil menyandarkan punggungnya di dinding kayu. "Besi jenis itu punya massa jenis yang sangat padat. Bagus untuk menahan benturan keras dan mematahkan senjata lawan, tapi kalau penggunanya tidak bisa menyatukan napas dengan poros berat tombak, bahu kanannya akan cepat mengalami kelelahan otot."
Gongsun Zhi terdiam cukup lama. Ia menunduk menatap pergelangan dan bahu kanannya sendiri. Apa yang dikatakan Shen Jue adalah masalah terbesar yang dialaminya selama dua tahun terakhir melatih jurus tombak keluarga. Setiap kali ia berlatih lebih dari dua jam, bahu kanannya selalu terasa pegal menyengat.
"Bagaimana... bagaimana cara menyatukan napas dengan poros tombak?" tanya Gongsun Zhi tiba-tiba. Suaranya tidak lagi terdengar kaku atau bertahan, melainkan dipenuhi oleh kerendahan hati seorang petarung yang haus akan petunjuk nyata.
Shen Jue menatap mata jujur anak itu. Tanpa beranjak dari tempat duduknya, Shen Jue memberikan penjelasan sederhana namun mendalam.
"Saat kau mengayunkan tombak seberat ini, jangan dorong bobotnya dengan otot bahu," jelas Shen Jue sambil memeragakan gerakan lengan dengan santai. "Biarkan pusaran energi di perut bawahmu yang menjadi jangkar. Tarik napas saat mata tombak bergerak naik, dan buang napas perlahan persis saat berat besi itu mencapai titik kulminasi tebasan. Biarkan gravitasi logam yang bekerja, ototmu cuma bertugas mengarahkan jalurnya."
Gongsun Zhi menyimak setiap patah kata Shen Jue dengan perhatian penuh. Ia memejamkan matanya sejenak, membayangkan aliran napas dan alur gravitasi yang dijelaskan oleh Shen Jue.
Anak bertubuh tegap itu berdiri dari dipannya. Ia menggenggam bagian tengah Tombak Besi Hitam-nya, lalu perlahan mendorong mata tombaknya maju ke depan dalam lintasan lurus yang amat pelan.
Ia menahan otot bahunya agar tetap rileks, mengalihkan seluruh tumpuan dorongan ke pernapasan perut bawahnya.
Ssswt!
Sebuah desiran angin yang sangat halus dan jernih terpecah di ujung mata tombak. Tidak ada derit kelelahan di bahunya, dan gerakan tombak berat itu terasa dua kali lebih ringan serta presisi daripada biasanya.
Gongsun Zhi menarik kembali tombaknya, menatap telapak tangannya sendiri dengan takjub yang tak tersembunyikan.
"Terima kasih atas petunjukmu, Shen Jue. Pengetahuanmu jauh melampaui instruktur di kelurahanku," puji Gongsun Zhi dengan nada penuh rasa hormat.
"Tidak perlu formal begitu. Kita berada di kamar yang sama, sudah seharusnya saling memberi masukan," sahut Shen Jue tersenyum tipis.
Gongsun Zhi mengangguk mantap. Ia mengikat kembali tombaknya dengan telaten, lalu berbaring di atas dipan kayunya dengan posisi terlentang yang sangat simetris dan rapi.
Kamar Nomor Sembilan perlahan kembali diselimuti oleh kesunyian malam. Hawa dingin yang berhembus dari celah jendela tidak lagi terasa membekukan. Di dalam ruangan lembap yang terisolasi dari kemegahan lantai atas tersebut, dua jiwa muda dengan latar belakang berbeda itu beristirahat dalam rasa saling percaya yang baru terbentuk secara alami.
Shen Jue memejamkan matanya, membiarkan energi jiwanya beristirahat sejenak untuk menyongsong hari esok yang dipenuhi tantangan di Akademi Canglan.