NovelToon NovelToon
Enam Tahun Jadi Nyonya Bramantyo

Enam Tahun Jadi Nyonya Bramantyo

Status: tamat
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Satu wanita banyak pria / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Autora Gabriela

Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.

Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.

Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.

Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.

Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

POV: Laras

Kugunting kolom sosial itu dan kusimpan di laci, bersama yang lain. "Kekuatan Sebenarnya di Balik Vitalis Farma," bunyi judulnya, di samping fotoku berbaju hitam, anggun, terkendali. Di bawahnya, seorang kolumnis menyebutku "calon tiang penyangga Bramantyo". Kubaca tiga kali, pelan-pelan, membiarkan tiap kata mengendap.

Butuh delapan belas tahun sampai aku tiba di sini. Dari gadis panti asuhan sampai perempuan yang disebut koran tiang penyangga. Tak ada yang membangun semua itu dengan menangis sungguhan. Yang membangunnya adalah menangis pada waktu yang tepat, untuk penonton yang tepat.

Dini, asistenku, masuk membawa kopi. Dini cekatan dan tahu diri, jenis orang yang tidak bertanya dan hanya menjalankan, persis yang kubutuhkan di dekatku.

"Dr. Kirana sedang naik ke sini," katanya, tegang. "Dia lewat resepsionis tanpa janji. Saya sudah bilang Ibu sedang sibuk, tapi..."

Ia tak sempat menyelesaikannya. Pintu terbuka.

Kirana masuk dengan map di bawah lengan dan wajah orang yang sudah tahu untuk apa ia datang. Kuletakkan cangkir dan, dengan refleks bertahun-tahun, kususun ekspresi yang tepat: terkejut lembut, secuil luka, tanpa permusuhan di depan asisten.

"Kirana, senang sekali melihatmu," aku memulai. "Duduk, kamu mau..."

"Penilaian proyek pamanku salah," ia memotong, dan membuka mapnya di atas mejaku. "Dua data di luar konteks, kesimpulan yang tidak sejalan, dan sistem keterlacakan yang kalian sebut 'tanpa inovasi', padahal itu kurancang sendiri enam tahun lalu. Sudah kuanalisis ulang. Risikonya rendah. Semuanya ada di sini."

Kulirik lembaran-lembarannya. Ia benar di setiap poin, dan itulah masalahnya. Kirana tak pernah menggertak dengan angka. Kalau ia bilang penilaian itu runtuh, ia runtuh, dan kalau aku bersikeras menahan, akulah yang akan terkena saat audit.

Maka aku mundur. Itulah yang dilakukan orang ketika arus melawannya: mundur sambil tersenyum.

"Syukurlah kamu membawa ini." Kututup map itu dengan lembut. "Pasti ada kekeliruan dari tim. Aku sendiri yang akan menilai ulang proyek pamanmu. Serahkan padaku."

Ia memandangku, menimbang apakah itu benar. Tidak benar, tapi akan tetap kuloloskan, karena menahannya lagi padahal buktinya ada di tangan perempuan itu adalah kebodohan, dan aku tidak bodoh.

"Bagus," katanya. "Aku akan mengawasi." Lalu ia pergi tanpa berpamitan.

Kopiku mendingin. Di luar, tenang. Di dalam, iri lama yang kukenal naik ke tenggorokan.

Kirana memiliki semua yang tak kupunya. Ayah seorang profesor, ibu yang hadir, nenek yang mewariskan formula dan kebun. Ia tumbuh dengan tahu bahwa ia dicintai, dan karena itu bisa mengambil kemewahan untuk lurus, untuk bertarung dengan wajah terbuka, untuk melepas sebuah proyek begitu saja dan tetap bersinar di tempat lain. Aku tak pernah punya kemewahan itu. Semua yang kudapat, kucabut dengan paksa.

Kupejamkan mata dan kenangan itu datang, seperti selalu datang ketika Kirana mempermalukanku dengan kelurusannya.

Tujuh tahun lalu. Usiaku dua puluh. Aku mencintai Rendra sejak kecil, dan ia pun mencintaiku, aku tahu, kurasakan pada diamnya, pada bantuan-bantuannya, pada caranya mengusap abu dari wajahku di api unggun. Tapi Eyang Kartika memanggilku ke kamar Raditya di suatu sore dan mengatakan tanpa basa-basi bahwa anak yatim tidak pantas untuk pewaris utama. Hanya pantas, paling jauh, untuk yang sulung, Raditya, yang jantungnya bermasalah dan harus segera menikah.

Aku menangis semalaman. Lalu berhenti menangis dan berhitung.

Kalau menolak, aku keluar dari keluarga dan kehilangan Rendra selamanya. Kalau menerima Raditya, aku tetap dekat dengan Rendra, di dalam rumah, dengan nama belakang, menunggu saatnya.

Raditya baik dan rapuh. Kudekati dia dengan sabar, kubiarkan dia bergantung padaku seperti orang bergantung pada obat. Ketika kusadari Eyang Kartika masih ragu, kudesak: satu malam, kehebohan kehamilan yang ternyata tidak terbukti, dan keluarga, demi menghindari skandal, mempercepat pernikahan.

Aku menikah dengan kakak yang tidak kucintai agar tak kehilangan rumah adik yang kucintai. Pada usia dua puluh, itu keputusan paling dingin yang pernah kuambil. Bukan yang terakhir.

Dan apa gunanya. Lebih dari setahun kemudian Rendra menikahi Kirana, orang asing, ilmuwan tanpa nama, dipilih tergesa ketika Eyang Kartika menuntut pewaris. Sementara aku tinggal di sisi Raditya, tersenyum di foto-foto, menyimpan di pembeku sebuah klinik di luar negeri satu-satunya jaminan yang tersisa padaku, menunggu hari ketika itu berguna.

Kini Raditya sudah mati. Dan aku, di mata dunia, hanyalah sang janda. Kata itu membuatku mual. Janda adalah orang yang menunggu, yang dihibur, yang keluar dari panggung untuk bab berikutnya milik orang lain.

Kubuka mata. Kusimpan lagi kenangan itu di tempat ia tinggal.

Aku tak akan lama menjadi janda. Seumur hidupku aku pilihan kedua, dari panti asuhan sampai pernikahan, dan aku lelah menjadi yang kedua dalam segala hal. Rendra milikku sebelum ia menjadi milik perempuan mana pun. Perusahaan itu sedang menjadi milikku. Tinggal gelarnya yang perlu kukembalikan.

Kuraih telepon dan menghubungi Rendra, membuat suaraku lelah sebatas yang pas.

"Rendra, bisa mampir nanti? Terjadi sesuatu dengan Eyang Kartika, dia akhir-akhir ini keras sekali padaku." Jeda, tarikan ingus. "Kadang aku berpikir seharusnya memang aku pergi saja. Hanya kamu yang membuatku merasa masih punya tempat di keluarga ini."

Di seberang, diamnya. Dan di dalam diam itu, kudengar rasa bersalahnya bekerja untuk kepentinganku, seperti biasa.

Sang janda akan menyimpan dukanya di laci, bersama guntingan-guntingan koran. Yang akan keluar dari sana adalah sesuatu yang lain. Aku akan kembali menjadi seorang Bramantyo, dengan gelar, dengan anak, dengan segalanya. Dan tak seorang pun, bukan Eyang Kartika, bukan Kirana, bukan angka-angka benarnya, akan merampas lagi dariku apa yang seumur hidup kucabut dengan susah payah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!