• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Pagar Rumah dan Debar yang Tersisa
Melesat di atas motor sport hitam milik Angkasa membelah angin malam kota rasanya kayak lagi naik wahana halilintar tanpa pengaman. Eca terpaksa mencengkeram erat pinggang kokoh Angkasa dari belakang, menyembunyikan wajahnya yang masih memerah padam di balik punggung tegap cowok itu. Aroma wangi khas dari jaket kulit besar milik Angkasa—yang sekarang masih membungkus tubuh mungilnya—terus-menerus merayap masuk ke indra penciumannya, bikin jantung Eca nggak bisa diajak kompromi sepanjang jalan. Ini bener-bener situasi paling bikin salting sekaligus menegangkan yang pernah dia alami.
Setelah sekitar lima belas menit membelah kemacetan, motor sport itu perlahan melambat begitu memasuki area perumahan kelas menengah yang cukup sepi. Lampu jalanan di sekitar sini agak temaram, memberikan kesan sunyi yang menenangkan.
"Berhenti di depan pohon mangga itu aja, Kak! Jangan pas di depan rumah!" teriak Eca agak kencang dari balik helm full-face yang dia pakai, mencoba mengalahkan deru mesin motor yang ngebas.
Namun, bukan Angkasa namanya kalau menuruti perintah orang lain dengan mudah. Cowok itu justru dengan sengaja memutar gas sedikit lebih dalam, lalu mengerem motor gedenya dengan sangat mulus tepat di depan pagar besi bercat putih rumah Eca. Rumah bergaya minimalis yang lampunya menyala terang di teras depan.
"Heh! Kan gue udah bilang berhenti di dekat pohon mangga!" seru Eca panik begitu motor benar-benar berhenti sempurna. Dia buru-buru turun dari jok belakang yang tinggi dengan gerakan agak kikuk karena jaket kulit Angkasa yang terlalu besar di tubuhnya menghalangi pergerakannya.
Angkasa mematikan mesin motornya, melepas helmnya sendiri, lalu menatap Eca dengan sepasang mata elang yang memancarkan sorot mata penuh selidik ke arah bangunan rumah di depan mereka. "Gue nggak suka setengah-setengah kalau nganterin orang. Lagian, kenapa lo harus takut banget gue berhenti di depan rumah lo sendiri? Lo lagi nyembunyiin sesuatu dari orang tua lo, huh?"
Jantung Eca langsung berdesir tajam mendengar tebakan Angkasa yang super akurat itu. Aduh, cowok ini kenapa instingnya tajam banget sih kayak dukun! jerit Eca dalam hati penuh kepanikan. Kalau sampai orang tuanya keluar rumah sekarang, melihat Eca pulang malam dibonceng cowok tinggi bermotor sport mahal, sambil memakai jaket kulit cowok itu... habislah riwayat misi gerilyanya! Orang tuanya pasti bakal nanya macam-macam, dan rahasia kalau dia jadi asisten pribadi akibat numpahin kopi bisa terbongkar total.
"N-nggak ada! Gue nggak nyembunyiin apa-apa! Gue cuma nggak mau tetangga pada ngegosip liat cewek cupu kayak gue pulang bareng cowok bermotor gede kayak lo!" bela Eca cepat, berusaha mati-matian menstabilkan suaranya yang gugup. Dia buru-buru melepas helm full-face hitam di kepalanya, lalu menyodorkannya ke arah Angkasa dengan tangan sedikit gemetar. "Nih, helm lo. Makasih tebengannya."
Angkasa menerima helm itu dengan santai, menaruhnya di atas tangki motor. Namun, bukannya langsung memakai helmnya lagi dan pergi, cowok itu malah menurunkan standar motornya, lalu melangkah turun mendekati Eca. Langkah kakinya yang tegap mengikis jarak di antara mereka dalam sekejap, membuat Eca terpaksa mundur satu langkah hingga punggungnya nyaris membentur pagar besi rumahnya sendiri.
Suasana di depan pagar mendadak terasa begitu intens dan sempit di bawah temaram lampu jalan. Angkasa mencondongkan tubuh jangkungnya sedikit ke bawah, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Eca yang tersembunyi di balik kacamata tebalnya.
"Jaket gue belum lo balikin, Asisten," bisik Angkasa dengan suara yang sangat rendah, berat, dan terdengar begitu intim di keheningan malam perumahan.
Eca tersentak, wajahnya kembali menghangat seketika. "Oh... iya, sori, gue lupa," cicit Eca salting setengah mati karena lupa kalau dia masih memakai jaket kulit hangat milik Angkasa.
Eca buru-buru menurunkan resleting jaket itu dengan gerakan tergesa-gesa karena panik. Tapi sialnya, karena dia terlalu gugup dan terburu-buru, kain bagian dalam seragam abu-abunya malah tersangkut di rel resleting jaket besar itu. Resletingnya mendadak macet total, nggak bisa ditarik ke atas maupun ke bawah.
"Aduh... kok macet sih," gumam Eca frustrasi, jarinya sibuk mengutak-atik resleting di bagian dadanya dengan panik.
Melihat kepanikan Eca yang makin menggemaskan dengan wajah memerah padam, Angkasa perlahan mengulurkan kedua tangannya. Jemari tangannya yang hangat menepis pelan tangan Eca dari resleting. "Diem. Jangan banyak gerak kalau nggak mau baju lo robek," perintah Angkasa lembut namun penuh penekanan yang mutlak.
Tindakan Angkasa sukses membuat Eca membeku di tempatnya berdiri seperti patung. Jarak mereka sekarang bener-bener dekat banget, hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Kepala Angkasa menunduk fokus membetulkan resleting yang macet tepat di depan dada Eca. Eca bahkan bisa merasakan hembusan napas hangat Angkasa yang teratur menyapu permukaan kulit lehernya, memberikan sensasi menggelitik yang bikin seluruh tubuhnya merinding kaku. Eca bener-bener menahan napasnya rapat-rapat, matanya melotot menatap helai demi helai rambut hitam Angkasa yang wangi angin malam. Jantungnya berdegup brutal luar biasa, bunyinya kayak mau kedengaran sama Angkasa saking heningnya suasana malam itu.
KREK.
Dengan satu sentakan jari yang jeli dan telaten dari Angkasa, resleting yang macet itu akhirnya berhasil dibetulkan dengan mudah. Angkasa menarik resleting itu ke bawah sampai terbuka sepenuhnya. Namun, setelah resletingnya terbuka, Angkasa tidak langsung menjauhkan tangannya. Kedua telapak tangannya perlahan bergerak naik, memegang kedua kerah seragam Eca dengan sangat lembut, merapikannya sedikit yang sempat terlipat berantakan akibat perjalanan motor tadi.
Mata elang Angkasa bergerak naik, menatap lekat-lekat langsung ke dalam bola mata Eca yang sedang membelalak salting di balik kacamata tebalnya. Sorot mata cowok itu malam ini terlihat sangat dalam, hangat, dan dipenuhi oleh ketertarikan posesif yang tidak bisa disembunyikan lagi.
"Besok pagi... jangan sampai lo telat semenit pun datang ke ruang OSIS, Alesya," bisik Angkasa pelan tepat di depan wajah Eca, suaranya terdengar serak-serak seksi yang sukses bikin lutut Eca mendadak lemas. "Dan inget pesan gue... jangan pernah berani masuk ke dalam mobil Reno lagi kalau lo nggak mau liat gue ngelakuin hal yang lebih nekat dari hari ini."
Eca cuma bisa mengangguk pasrah dengan gerakan sangat kaku, tenggorokannya mendadak kering kerontang saking salting-nya digituin.
Angkasa perlahan menarik kembali tangannya, menerima jaket kulit hitam tebalnya yang langsung dilepas Eca dengan gerakan kilat. Cowok itu memakai jaket kulitnya kembali, berbalik melangkah menuju motor sport-nya, lalu naik ke atas jok dengan gaya yang sangat menawan. Dia memakai helm full-face-nya, menghidupkan mesin motor yang menderu kencang memecah kesunyian malam, lalu melesat pergi meninggalkan area perumahan dalam sekejap mata.
Eca berdiri mematung di depan pagar selama beberapa detik, memegangi dadanya yang masih berdegup sangat kencang, berusaha menenangkan badai debar yang tersisa di hatinya. Wajahnya masih terasa panas membara. "Sialan... cowok itu bener-bener bahaya banget buat kesehatan jantung gue," gumam Eca pelan sambil mengacak rambut kuncir duanya dengan gemas bercampur kesal.
CEKLEK.
Suara pintu utama rumah yang terbuka membuat Eca langsung tersadar dari lamunannya. Dia menoleh panik ke arah teras. Ibunya melangkah keluar dengan daster rumahan sambil membawa sebuah wadah plastik, menatap Eca yang berdiri di depan pagar dengan heran.
"Eca? Kok baru pulang, Nak? Tadi itu suara motor gede siapa kok berisik banget di depan rumah?" tanya ibunya penasaran sambil berjalan mendekati pagar.
Keringat dingin Eca langsung mengucur deras. Misi gerilya menyembunyikan identitas asisten pribadinya dari orang tua resmi menghadapi ujian pertama yang sangat menegangkan! "Eh... itu... itu tadi temen sekelas Eca, Bu! Dia cuma anterin tugas kelompok yang ketinggalan!" bohong Eca buru-buru dengan suara yang sengaja dicopet lugu, sambil menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik punggung.